Mobil mewah membawa Kirana menempuh perjalanan panjang dari gedung pernikahan menuju kediaman keluarga Kusumo—sebuah rumah megah bergaya kolonial modern di kawasan elit Surabaya, dikelilingi taman luas dan pagar tinggi yang membuatnya terasa lebih seperti benteng daripada rumah tinggal.
Ibu Endang berjalan di depan dengan langkah tegas, memandu Kirana masuk ke dalam rumah yang dipenuhi lukisan-lukisan mahal dan perabotan antik. Para pelayan membungkuk hormat setiap kali mereka lewat, namun tatapan mereka menyiratkan rasa penasaran—dan sedikit iba—melihat pengantin baru yang datang sendirian tanpa didampingi mempelai pria.
“Kamu akan tinggal di kamar sayap timur,” kata Ibu Endang setelah mereka sampai di ruang tengah, nadanya datar seperti sedang memberi instruksi kerja, bukan menyambut menantu baru. “Alvaro akan pulang malam ini. Bersiaplah untuk makan malam bersama pukul delapan.”
Kirana mengangguk kaku, mencoba menyembunyikan kebingungannya di tengah rumah asing yang begitu megah namun terasa dingin ini. Sepanjang sore, ia hanya duduk sendirian di kamar besar yang diberikan padanya, menatap keluar jendela yang menghadap taman luas, hatinya dipenuhi kecemasan tentang pria macam apa yang akan segera menjadi suaminya.
Pukul delapan malam, Kirana turun ke ruang makan dengan gaun sederhana yang telah disiapkan pelayan untuknya. Meja makan panjang sudah tertata rapi dengan hidangan mewah, namun hanya Ibu Endang yang duduk di ujung meja, wajahnya tegang menahan kekesalan yang jelas terlihat.
“Alvaro belum pulang,” kata Ibu Endang singkat, tanpa berusaha menyembunyikan kekecewaannya. “Silakan makan duluan.”
Makan malam itu berlalu dalam keheningan canggung. Kirana hampir tidak menyentuh makanannya, pikirannya dipenuhi pertanyaan yang tak berani ia ucapkan. Baru menjelang tengah malam, terdengar suara pintu depan terbuka, diikuti langkah kaki berat menuju tangga.
Kirana bergegas keluar kamar, penasaran ingin akhirnya melihat wajah suami yang selama ini hanya ia dengar namanya. Di ujung lorong, ia melihat sosok pria tinggi berjas kerja yang masih berantakan, wajahnya lelah dengan sorot mata dingin yang langsung menatap tajam ke arahnya begitu menyadari kehadirannya.
“Jadi kamu Kirana,” kata pria itu—yang pasti adalah Alvaro—suaranya penuh nada sinis yang menusuk. “Menantu pesanan ibu saya.”
“Saya—” Kirana mencoba bicara, namun Alvaro sudah memotongnya.
“Dengar,” Alvaro mendekat, matanya menyala oleh amarah yang jelas bukan ditujukan pada Kirana secara pribadi, melainkan pada situasi yang dipaksakan padanya. “Saya tidak pernah setuju dengan pernikahan ini. Saya bahkan tidak tahu apa-apa sampai semuanya sudah selesai diatur oleh ibu saya. Jadi jangan berharap saya akan bersikap seperti suami sungguhan.”
Kata-kata itu menghantam Kirana lebih keras dari yang ia kira, meski sejujurnya ia sendiri juga tidak menginginkan pernikahan yang dipaksakan ini. “Saya juga tidak memintanya,” balas Kirana, mencoba menahan getar dalam suaranya. “Saya menikah karena keluarga saya butuh pertolongan, bukan karena saya menginginkan hidup di rumah mewah ini.”
Alvaro menatapnya sejenak, ekspresinya sedikit melunak mendengar jawaban jujur itu, namun kemudian ia hanya mendengus dan berjalan melewati Kirana menuju kamarnya sendiri di sayap yang berbeda, meninggalkan Kirana berdiri sendirian di lorong yang sunyi.
Hari-hari berikutnya berjalan dengan pola yang sama—Alvaro pergi pagi-pagi sekali sebelum Kirana bangun, dan pulang larut malam setelah semua orang tidur, seolah sengaja menghindari setiap kesempatan bertemu dengan istrinya sendiri. Kirana menghabiskan hari-harinya sendirian di rumah besar itu, hanya ditemani beberapa pelayan yang bersikap sopan namun menjaga jarak, dan Ibu Endang yang terus mengawasinya dengan tatapan tajam penuh perhitungan.
Suatu siang, ketika Kirana sedang berjalan-jalan di taman belakang mencoba menghilangkan rasa sepi, ia melihat Bi Inem, pelayan senior yang sudah lama bekerja di keluarga Kusumo, sedang merawat tanaman anggrek dengan telaten.
“Bude sudah lama bekerja di sini?” tanya Kirana, mencoba memulai percakapan ringan.
“Sudah dua puluh tahun lebih, Nak,” jawab Bi Inem ramah, satu-satunya orang di rumah itu yang memperlakukannya dengan kehangatan tulus. “Saya sudah menyaksikan Tuan Alvaro tumbuh dari kecil.”
Percakapan itu membuat Kirana merasa sedikit lebih nyaman, dan ia mulai sering menghabiskan waktu di taman bersama Bi Inem, mendengarkan cerita-cerita kecil tentang keluarga Kusumo yang mulai membuka sedikit demi sedikit tabir misteri tentang suaminya yang begitu dingin dan tertutup.
Malam itu, setelah menghabiskan waktu panjang di taman, Kirana kembali ke kamarnya melewati koridor dekat ruang kerja Ibu Endang. Pintu ruangan itu sedikit terbuka, dan suara Ibu Endang yang sedang menelepon seseorang terdengar jelas dari celah pintu.
Kirana berhenti melangkah, terdorong rasa penasaran yang tak bisa ia tahan.
“Semua berjalan sesuai rencana,” terdengar suara Ibu Endang, nadanya penuh kepuasan yang dingin. “Kirana sudah resmi jadi menantu. Sekarang tinggal menunggu waktu yang tepat untuk memberitahu Alvaro alasan sebenarnya kenapa saya memilih perempuan sesederhana dia—bukan hanya soal kriteria yang saya sebutkan pada Pak Broto.”
Kirana menahan napas, mendekat sedikit lebih dekat ke pintu, jantungnya berdegup kencang.
“Ini bukan hanya soal mencari menantu biasa,” lanjut suara Ibu Endang, kali ini dengan nada yang jauh lebih serius dan penuh perhitungan. “Ini tentang memastikan sejarah lima tahun lalu tidak pernah terulang lagi. Kali ini, saya harus pastikan Alvaro tidak akan pernah bisa lari kembali ke masa lalunya.”
Kirana berdiri terpaku di balik pintu, pikirannya dipenuhi kebingungan dan kecemasan. Rencana apa yang sebenarnya sedang dijalankan Ibu Endang? Dan masa lalu seperti apa yang begitu ditakutkan wanita itu hingga rela mengatur pernikahan rumit seperti ini?
1 thought on “Menantu Pesanan Sang Konglomerat Bab 2”