Malam berikutnya, ruang makan besar keluarga Kusumo dipenuhi ketegangan yang bisa dirasakan di udara. Ibu Endang telah memerintahkan para pelayan menyiapkan hidangan terbaik, berusaha menampilkan kesan bahwa keluarganya baik-baik saja meski jelas terlihat dari raut wajahnya bahwa ia sedang menahan kepanikan luar biasa.
Tepat pukul tujuh malam, suara mobil berhenti di halaman depan. Kirana yang duduk di samping Alvaro merasakan tubuh suaminya menegang, matanya terpaku ke arah pintu masuk dengan campuran emosi yang sulit ia sembunyikan—kerinduan, ketakutan, dan luka lama yang belum sepenuhnya sembuh.
Pintu terbuka, dan sosok yang masuk membuat seluruh ruangan terdiam. Melati berdiri di ambang pintu dengan penampilan yang jauh berbeda dari lima tahun lalu—balutan setelan kerja elegan, sikap tubuh penuh percaya diri, dan aura kepemimpinan yang tak bisa disembunyikan. Wajahnya masih sama cantiknya seperti dalam foto yang Kirana temukan, namun kini ada ketegasan baru yang tak pernah ada sebelumnya.
“Selamat malam,” sapa Melati dengan senyum tipis yang sulit diartikan, matanya sejenak bertemu pandang dengan Alvaro sebelum beralih ke arah Ibu Endang. “Terima kasih atas undangannya, Bu Endang. Sudah lama sekali kita tidak bertemu.”
Ibu Endang tersenyum kaku, berusaha menjaga sikap ramah meski tangannya yang memegang gelas terlihat sedikit gemetar. “Silakan duduk, Melati. Senang sekali kamu bisa hadir.”
Melati mengambil tempat duduk yang telah disiapkan, tepat berhadapan dengan Alvaro dan Kirana. Suasana makan malam itu terasa sangat berbeda dari formalitas bisnis biasa—setiap kata yang diucapkan seolah menyimpan makna tersembunyi, setiap tatapan penuh dengan sejarah yang belum terselesaikan.
“Saya dengar kamu sudah menikah, Alvaro,” Melati akhirnya membuka percakapan, menatap Kirana dengan tatapan menilai namun tidak bermusuhan. “Selamat. Istrimu terlihat baik.”
“Terima kasih,” jawab Alvaro kaku, suaranya jauh dari nada hangat yang biasa ia gunakan. “Saya juga dengar perusahaanmu sedang aktif berinvestasi di beberapa anak perusahaan kami.”
Melati tersenyum tipis, matanya berkilat penuh perhitungan. “Benar. Sebenarnya, kedatangan saya malam ini bukan sekadar kunjungan sosial biasa.” Ia meletakkan sendoknya, menatap lurus ke arah Ibu Endang yang duduk kaku di ujung meja. “Perusahaan saya baru saja menyelesaikan akuisisi dua puluh delapan persen saham anak perusahaan properti Kusumo Group yang sedang mengalami kesulitan modal.”
Ibu Endang tersedak mendengarnya, wajahnya seketika pucat pasi. “Itu tidak mungkin. Kami tidak pernah menerima penawaran resmi apa pun dari perusahaan investasi manapun untuk saham itu.”
“Karena saya membelinya bertahap dari beberapa pemegang saham minoritas yang sudah kecewa dengan manajemen belakangan ini,” jawab Melati tenang, namun ada nada dingin yang tersembunyi di balik kata-katanya. “Sah secara hukum, Bu Endang. Dan dengan kepemilikan sebesar itu, saya sekarang punya hak suara signifikan dalam menentukan arah perusahaan itu ke depannya.”
Alvaro menatap Melati tajam, mencoba memahami motif di balik langkah bisnis yang begitu terencana ini. “Kenapa kamu melakukan ini, Melati? Setelah lima tahun menghilang tanpa kabar, tiba-tiba kembali dan langsung menyerang bisnis keluarga kami?”
Untuk pertama kalinya sejak kedatangannya, ekspresi tenang Melati sedikit retak, menunjukkan kilatan amarah yang selama ini terpendam rapat. “Menyerang? Alvaro, kamu bahkan tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi lima tahun lalu, kan? Kamu percaya begitu saja pada tuduhan yang dilemparkan pada keluarga saya, tanpa pernah mencari kebenaran sesungguhnya.”
“Saya sudah mencoba mencarimu—” Alvaro mencoba membela diri, namun Melati memotongnya dengan tegas.
“Mencari saya setelah keluarga saya sudah hancur, setelah ayah saya jatuh sakit karena malu ditipu tuduhan palsu, setelah kami terpaksa pindah dan memulai semuanya dari nol?” suara Melati mulai meninggi, matanya berkaca-kaca namun ia menahan diri untuk tidak menangis di depan mereka semua. “Saya baru enam bulan lalu menemukan bukti bahwa seluruh tuduhan penggelapan dana itu palsu—direkayasa dengan sangat rapi oleh seseorang yang punya kepentingan besar memisahkan kita berdua.”
Seluruh ruangan terdiam. Kirana merasakan jantungnya berdegup kencang, menyadari arah pembicaraan ini mulai mengarah pada sesuatu yang jauh lebih gelap dari sekadar konflik bisnis biasa.
“Siapa yang merekayasa tuduhan itu?” tanya Alvaro pelan, suaranya bergetar antara takut dan perlu tahu kebenaran yang selama ini tersembunyi darinya.
Melati menatap lurus ke arah Ibu Endang, yang kini duduk membeku dengan wajah sepucat kertas, tangannya mencengkeram erat tepi meja seolah mencari pegangan agar tidak roboh.
“Tanyakan pada ibumu sendiri, Alvaro,” kata Melati akhirnya, suaranya dingin dan tegas. “Karena saya sudah punya semua bukti yang saya butuhkan untuk membuktikan bahwa Ibu Endang Kusumo sendiri yang merancang seluruh fitnah itu, demi memisahkan kita berdua lima tahun lalu.”