Beberapa minggu berlalu sejak malam pengungkapan yang mengguncang seluruh keluarga Kusumo. Ibu Endang, yang selama ini dikenal sebagai wanita tegas dan penuh kendali, kini menjalani hari-harinya dengan lebih banyak diam, menanggung beban penyesalan yang tak lagi bisa ia sembunyikan di balik topeng kewibawaannya.
Suatu sore, Ibu Endang meminta bertemu dengan Melati secara pribadi di kantor Melati Capital, sebuah pertemuan yang membutuhkan keberanian besar dari kedua belah pihak. Kirana dan Alvaro turut mendampingi, berdiri di belakang sebagai saksi atas momen yang telah lama tertunda ini.
“Saya tidak berharap kamu memaafkan saya,” kata Ibu Endang, suaranya bergetar namun tulus, jauh berbeda dari sikap dinginnya yang biasa. “Tapi saya harus mengatakan ini langsung padamu, Melati. Saya menyesal sudah menghancurkan hidup keluargamu demi ambisi bisnis saya sendiri. Tidak ada alasan yang bisa membenarkan apa yang saya lakukan.”
Melati menatap Ibu Endang lama, matanya masih menyimpan luka yang belum sepenuhnya sembuh, namun juga ada kelegaan yang tak terbantahkan setelah mendengar pengakuan tulus yang telah lama ia nantikan. “Saya butuh waktu untuk benar-benar memaafkan, Bu Endang. Tapi setidaknya, sekarang saya tahu kebenarannya, dan nama baik keluarga saya bisa dipulihkan.”
“Saya akan membuat pernyataan publik resmi, mengklarifikasi bahwa tuduhan penggelapan dana terhadap keluargamu dulu adalah fitnah yang saya rancang sendiri,” kata Ibu Endang, tekadnya sudah bulat meski itu berarti mempertaruhkan reputasinya sendiri. “Keluargamu berhak mendapatkan kembali nama baik yang telah dirampas dariku.”
Setelah pertemuan emosional itu, dalam perjalanan pulang, Alvaro yang duduk di samping Kirana di dalam mobil tampak lebih tenang dari yang pernah Kirana lihat selama ini—seolah beban berat yang selama bertahun-tahun ia pikul akhirnya mulai terangkat.
“Bagaimana perasaanmu?” tanya Kirana lembut, memperhatikan perubahan raut wajah suaminya.
“Lega,” jawab Alvaro jujur, menatap keluar jendela mobil yang melintasi jalanan Surabaya yang mulai temaram menjelang senja. “Tapi juga aneh. Selama lima tahun saya menyimpan amarah pada Melati karena mengira dia yang meninggalkan saya. Sekarang setelah tahu kebenarannya, rasanya seperti bertahun-tahun kemarahan itu tidak lagi punya tempat untuk bersandar.”
“Apa itu berarti kamu masih mencintainya?” tanya Kirana pelan, memberanikan diri menanyakan hal yang sejak lama ingin ia ketahui, meski hatinya sendiri takut mendengar jawabannya.
Alvaro menoleh menatap Kirana, ekspresinya lembut namun penuh kejujuran. “Saya pikir, apa yang saya rasakan sekarang lebih ke rasa syukur bahwa Melati akhirnya mendapatkan keadilan, dan rasa lega karena bisa melepaskan amarah yang selama ini memenjarakan hati saya sendiri. Tapi cinta yang dulu saya rasakan pada Melati… itu adalah cinta dari lima tahun lalu, milik Alvaro yang berbeda dari saya sekarang.”
Ia terdiam sejenak, menatap Kirana dengan sorot mata yang berubah, lebih hangat dari yang pernah Kirana lihat sebelumnya. “Yang saya rasakan sekarang, justru tumbuh dari kamu, Kirana. Dari caramu tetap berdiri di samping saya meski kamu punya semua alasan untuk pergi. Dari ketulusanmu yang tidak pernah menuntut apa pun dariku, bahkan ketika kamu tahu kamu hanya dianggap ‘pengganti’ oleh ibu saya.”
Jantung Kirana berdegup kencang mendengar pengakuan itu, namun ia masih menahan diri, tidak ingin terburu-buru percaya pada kata-kata indah setelah semua kekacauan yang telah mereka lewati bersama. “Mas tidak perlu mengatakan itu hanya untuk membuat saya merasa lebih baik.”
“Saya tidak mengatakannya karena kasihan padamu,” Alvaro menggenggam tangan Kirana dengan lembut, matanya menatap penuh ketulusan. “Saya mengatakannya karena ini kebenaran yang baru saya sadari sepenuhnya belakangan ini. Kirana, saya ingin memulai pernikahan kita dari awal—bukan lagi sebagai kewajiban yang dipaksakan ibu saya, melainkan sebagai pilihan yang benar-benar saya inginkan sendiri.”
Air mata haru menggenang di mata Kirana, seluruh ketakutan dan keraguan yang selama berminggu-minggu ia simpan perlahan mencair mendengar ketulusan dalam kata-kata suaminya. “Saya juga ingin itu, Mas,” bisiknya, senyum bahagia menghiasi wajahnya untuk pertama kalinya sejak pernikahan mereka dimulai. “Bukan karena utang keluarga saya sudah lunas, atau karena situasi memaksa kita bersama. Tapi karena saya juga, entah sejak kapan, sudah benar-benar jatuh cinta pada Mas Alvaro yang sesungguhnya—bukan sosok dingin yang saya temui pertama kali, tapi pria yang berani jujur tentang lukanya, dan berjuang memperbaiki kesalahan keluarganya.”
Enam bulan kemudian, di desa kecil tempat Kirana dibesarkan, keluarga besar Kusumo dan keluarga Pak Slamet berkumpul untuk merayakan pernikahan ulang Alvaro dan Kirana—kali ini bukan pernikahan formal penuh protokol seperti sebelumnya, melainkan perayaan sederhana namun penuh kehangatan di bawah pohon mangga tua tempat Kirana dulu menimbang keputusan besar dalam hidupnya.
Ibu Endang, yang kini telah memulihkan hubungan baiknya dengan Melati—yang justru menjadi mitra bisnis baru keluarga Kusumo dalam beberapa proyek sosial pemberdayaan desa—turut hadir dengan mata berkaca-kaca, menyaksikan putranya akhirnya menemukan kebahagiaan sejati yang tidak lagi dibangun di atas kebohongan atau paksaan.
Di bawah rindangnya pohon mangga, disaksikan keluarga dan orang-orang terkasih, Kirana dan Alvaro saling menatap dengan senyum tulus—dua hati yang awalnya dipertemukan oleh keterpaksaan dan kebohongan, namun akhirnya memilih untuk saling mencintai karena kejujuran, kesabaran, dan keberanian menghadapi kebenaran bersama-sama.
TAMAT
1 thought on “Menantu Pesanan Sang Konglomerat Bab 7”