Skip to content

Baca Novel Singkat Di sini

Menu
  • Home
  • Pilihan Novel
    • Romansa
    • Fiksi Ilmiah
    • Petualangan
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Terms and Conditions
Menu
NOVEL SINGKAT Menantu Pesanan Sang Konglomerat

Menantu Pesanan Sang Konglomerat Bab 1

Posted on August 13, 2026

Matahari sore menyinari hamparan sawah kering di sebuah desa kecil di kaki Gunung Wilis, Jawa Timur. Kirana, 24 tahun, berjalan pulang dengan cangkul di pundak, wajahnya lelah namun berusaha tersenyum untuk menyembunyikan kekhawatiran yang menggerogoti hatinya sejak berminggu-minggu terakhir.

Panen padi tahun ini gagal total—kekeringan panjang membuat sawah keluarga mereka retak-retak, sementara utang ke rentenir kampung, Pak Marno, terus menumpuk bunga setiap bulannya. Sesampainya di rumah, Kirana mendapati ayahnya, Pak Slamet, duduk lesu di teras dengan wajah pucat, sementara ibunya menangis diam-diam di sudut dapur.

“Ada apa, Pak?” tanya Kirana cemas, meletakkan cangkulnya dan bergegas menghampiri ayahnya.

“Pak Marno datang tadi,” jawab Pak Slamet dengan suara bergetar, matanya menerawang kosong. “Kalau minggu depan kita belum bisa bayar, sawah dan rumah ini akan disita. Bapak sudah tidak tahu harus cari uang dari mana lagi, Nak.”

Kirana terduduk lemas mendengarnya. Sawah dan rumah itu adalah satu-satunya yang tersisa dari warisan kakeknya—kehilangan semua itu berarti keluarganya akan benar-benar kehilangan tempat berpijak.

Malam itu, saat Kirana masih terjaga memikirkan jalan keluar, terdengar suara mobil mewah berhenti di depan rumah mereka yang sederhana—sesuatu yang sangat jarang terjadi di desa terpencil itu. Seorang pria berpakaian jas rapi turun dari mobil, memperkenalkan diri sebagai Pak Broto, utusan dari keluarga Kusumo, salah satu keluarga konglomerat properti paling berpengaruh di Surabaya.

“Saya ke sini mewakili Ibu Endang Kusumo,” kata Pak Broto setelah dipersilakan duduk, suaranya formal dan terukur. “Beliau sedang mencari calon menantu untuk putra tunggalnya, dan setelah melalui pencarian panjang, nama Nona Kirana masuk dalam pertimbangan khusus beliau.”

Kirana dan kedua orang tuanya saling pandang, bingung bercampur curiga. “Maaf, Pak, tapi kami sama sekali tidak mengenal keluarga Kusumo,” kata Kirana hati-hati. “Kenapa tiba-tiba nama saya bisa masuk pertimbangan?”

“Ibu Endang memiliki kriteria khusus,” jawab Pak Broto tanpa menjelaskan lebih detail. “Perempuan sederhana, jujur, berasal dari desa, dan belum pernah terekspos gaya hidup kota besar. Nona Kirana memenuhi seluruh kriteria itu berdasarkan penelusuran kami.”

Pak Broto kemudian membuka tasnya, mengeluarkan sebuah dokumen tebal. “Sebagai bentuk keseriusan, keluarga Kusumo bersedia melunasi seluruh utang keluarga Bapak Slamet kepada Pak Marno, ditambah modal usaha untuk keluarga di sini. Sebagai gantinya, Nona Kirana bersedia menikah dengan putra Ibu Endang, Alvaro Kusumo.”

Kirana berdiri tegang, menggelengkan kepala kuat-kuat. “Ini tidak masuk akal, Pak. Saya bahkan tidak pernah bertemu orang yang namanya Alvaro itu. Bagaimana mungkin saya menikah dengan orang asing begitu saja?”

“Saya paham keberatan Nona,” kata Pak Broto tenang, seolah sudah terbiasa menghadapi penolakan semacam ini. “Tapi pertimbangkanlah baik-baik. Tawaran ini tidak hanya menyelamatkan rumah dan sawah keluarga Nona, tapi juga masa depan yang jauh lebih baik dari kehidupan di desa ini.”

Setelah Pak Broto pamit dengan janji akan kembali tiga hari lagi menunggu keputusan, suasana rumah Kirana dipenuhi keheningan berat. Pak Slamet tak sanggup menatap putrinya, sementara ibunya menangis dalam diam di dapur.

“Bapak tidak akan memaksa kamu, Nak,” kata Pak Slamet akhirnya, suaranya penuh penyesalan. “Ini keputusanmu sepenuhnya.”

Malam itu, Kirana tidak bisa tidur. Ia berjalan keluar rumah, duduk di bawah pohon mangga tua tempat ia sering bermain sewaktu kecil, menatap langit penuh bintang sambil menimbang-nimbang keputusan yang akan mengubah seluruh hidupnya.

Ia teringat wajah ayahnya yang semakin renta dimakan kekhawatiran, ibunya yang diam-diam menangis setiap malam, dan sawah warisan kakeknya yang menjadi satu-satunya kebanggaan keluarga mereka. Di sisi lain, ada ketakutan besar menikahi orang yang bahkan namanya baru ia dengar malam itu—pernikahan tanpa cinta, tanpa saling mengenal, hanya berdasarkan transaksi.

Tiga hari kemudian, dengan hati yang berat namun sudah bulat, Kirana memberikan jawabannya kepada Pak Broto yang kembali datang sesuai janji.

“Saya bersedia,” kata Kirana pelan, meski suaranya bergetar menahan air mata. “Tapi saya punya satu syarat. Saya ingin bertemu calon suami saya sebelum pernikahan, walau hanya sekali.”

Pak Broto terdiam sejenak, tampak ragu. “Akan saya sampaikan permintaan Nona kepada Ibu Endang. Namun saya harus jujur, keputusan akhir sepenuhnya ada di tangan beliau.”

Seminggu kemudian, utang keluarga Kirana lunas sepenuhnya, dan persiapan pernikahan mulai berjalan cepat tanpa banyak penjelasan. Namun permintaan sederhana Kirana untuk bertemu calon suaminya terlebih dahulu tidak pernah terwujud—setiap kali ia bertanya, Pak Broto hanya memberikan jawaban berputar-putar bahwa “Tuan Alvaro sedang sangat sibuk dengan urusan bisnis di luar negeri.”

Hari pernikahan tiba lebih cepat dari yang Kirana bayangkan. Ia berdiri di depan cermin besar di sebuah ruangan mewah di Surabaya, mengenakan gaun pengantin indah yang dipilihkan tim khusus dari keluarga Kusumo, jantungnya berdegup kencang bercampur ketakutan yang tak bisa ia jelaskan.

Prosesi akad nikah berlangsung dalam skala kecil namun sangat formal, hanya dihadiri keluarga inti dan beberapa saksi penting. Kirana duduk gugup menunggu calon suaminya memasuki ruangan, matanya terus mengarah ke pintu masuk dengan perasaan campur aduk.

Namun ketika pintu akhirnya terbuka, bukan seorang pria yang muncul untuk duduk di sampingnya sebagai pengantin pria—melainkan seorang wanita paruh baya berwibawa dengan pakaian mewah, yang kemudian duduk di kursi kosong yang seharusnya diisi mempelai pria, sambil tersenyum tipis penuh arti kepada Kirana.

“Selamat datang di keluarga kami, Kirana,” kata wanita itu, yang segera dikenali Kirana sebagai Ibu Endang Kusumo dari foto-foto yang pernah ditunjukkan Pak Broto. “Alvaro tidak bisa hadir hari ini. Tapi jangan khawatir—pernikahan tetap akan sah, dan kamu akan segera bertemu dengannya di rumah nanti.”

Kirana terpaku, jantungnya berdegup kencang menyadari kenyataan pahit yang baru saja terungkap: ia baru saja menikah secara sah dengan seorang pria yang bahkan tidak hadir di pernikahannya sendiri.

LANJUT BAB 2

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Novel Terbaru

  • Menantu Pesanan Sang Konglomerat Bab 7
  • Menantu Pesanan Sang Konglomerat Bab 6
  • Menantu Pesanan Sang Konglomerat Bab 5
  • Menantu Pesanan Sang Konglomerat Bab 4
  • Menantu Pesanan Sang Konglomerat Bab 3

Arsip

  • August 2026
  • May 2026
  • December 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025

Kategori

  • Fiksi Ilmiah
  • Petualangan
  • Romansa

Tentang Kami

Tentang Kami

aksi cinta dan kehilangan cinta dan pengorbanan Cinta dan Takdir cinta lintas dimensi cinta pertama cinta segitiga cinta sejati Cinta Terlarang cinta yang terlupakan dunia paralel Eksperimen Rahasia identitas ganda Ilmuwan kehilangan kisah cinta kisah cinta emosional kisah cinta menyedihkan kisah cinta sedih kisah cinta tragis konspirasi Menantu Pesanan Sang Konglomerat Misteri novel emosional novel fiksi ilmiah Novel Romantis Novel Singkat Istri Bayaran Sang Direktur pengkhianatan Pengorbanan Pengorbanan Cinta penjaga waktu perjalanan waktu Petualangan realitas paralel reinkarnasi romansa Romansa Cinta romansa tragis Romantis Romantis gelap romantis tragis teknologi canggih thriller thriller psikologis Thriller Waktu

Genre Favorit

  • Fiksi Ilmiah
  • Petualangan
  • Romansa
©2026 Baca Novel Singkat Di sini | Design: Newspaperly WordPress Theme