Nadia tidak bisa tidur semalaman. Ia terus menelusuri laporan keuangan yang berhasil ia kumpulkan, mencatat setiap kejanggalan yang ia temukan di selembar kertas—pola penjualan saham minoritas yang terjadi dalam waktu berdekatan, semuanya mengarah pada satu entitas investasi asing yang belakangan mulai aktif membeli saham Wijaya Group secara diam-diam.
Pagi harinya, dengan mata sembab namun pikiran yang tajam, Nadia memberanikan diri mengetuk pintu kamar kerja Bimo—sesuatu yang sudah lama tidak ia lakukan sejak pertengkaran mereka.
“Bim, aku perlu bicara. Ini penting,” katanya, suaranya tegas meski hatinya masih menyimpan luka dari kata-kata dingin Bimo beberapa hari lalu.
Bimo membuka pintu dengan wajah lelah, kantung matanya menghitam karena kurang tidur. “Kalau ini soal kita, Nadia, aku sedang tidak punya energi untuk—”
“Ini bukan soal kita,” potong Nadia cepat. “ini soal perusahaanmu. Kamu akan dijatuhkan dari posisi direktur utama tiga hari lagi.”
Bimo terdiam, matanya menyipit. “Apa maksudmu?”
Nadia menyerahkan laptopnya, menunjukkan seluruh data yang telah ia kumpulkan semalaman. Bimo membaca dengan cepat, wajahnya berubah semakin tegang setiap detik. Ia mengenali beberapa nama pemegang saham yang disebutkan—orang-orang yang selama ini ia anggap sekutu.
“Ini… ini tidak mungkin,” gumam Bimo, meski matanya jelas menunjukkan ia mulai memahami betapa gawatnya situasi ini. “Siapa yang mengatur semua ini?”
“Aku belum yakin sepenuhnya,” jawab Nadia, “tapi pola pergerakan saham ini terlalu terkoordinasi untuk kebetulan. Seseorang yang punya akses dan pengaruh kuat di dalam perusahaan pasti terlibat.”
Ekspresi Bimo berubah, sesuatu seperti kesadaran pahit melintas di wajahnya. “Tante Melinda,” gumamnya pelan, hampir tak percaya pada kesimpulannya sendiri.
Tiga hari berikutnya berlalu dengan kesibukan luar biasa. Bimo dan Nadia—untuk sementara mengesampingkan konflik pribadi mereka—bekerja sama siang malam mempersiapkan pembelaan untuk rapat pemegang saham. Nadia menggunakan pengalamannya membantu ayahnya mengelola pabrik, menyusun presentasi data yang jelas dan meyakinkan, sementara Bimo menghubungi kembali para pemegang saham lama yang loyal untuk memastikan dukungan mereka.
Malam sebelum rapat besar, mereka berdua duduk di ruang kerja Bimo, dikelilingi tumpukan dokumen dan grafik yang menempel di seluruh dinding. Untuk pertama kalinya sejak pertengkaran mereka, suasana di antara mereka terasa alami kembali—bukan karena masalah mereka sudah selesai, melainkan karena mereka berjuang bersama untuk sesuatu yang lebih besar.
“Nadia,” kata Bimo pelan, memecah keheningan setelah berjam-jam bekerja. “Terima kasih. Untuk semua ini. Kamu tidak harus membantuku setelah cara saya memperlakukanmu kemarin.”
Nadia menatapnya, masih menyimpan sedikit luka di hatinya, namun juga tak bisa menampik bahwa melihat Bimo berjuang dengan sungguh-sungguh membuka kembali ruang untuk pengertian. “Kita berdua sama-sama korban keadaan, Bim. Kita hanya perlu saling percaya, bukan saling curiga.”
Bimo mengangguk pelan, matanya menatap Nadia dengan cara yang berbeda dari sebelumnya—bukan lagi bayangan Alya yang ia lihat, melainkan Nadia seutuhnya, dengan segala keberanian dan kecerdasan yang telah ia tunjukkan selama krisis ini.
Hari rapat pemegang saham tiba dengan ketegangan yang bisa dirasakan di udara ballroom hotel tempat pertemuan itu diadakan. Tante Melinda duduk di barisan depan dengan senyum penuh kepercayaan diri, didampingi David Lim dan beberapa perwakilan investor asing lainnya.
Ketua dewan membuka rapat dengan agenda utama: mosi tidak percaya terhadap Bimo Wijaya sebagai Direktur Utama, dengan tuduhan kelalaian manajemen akibat masalah pribadi yang mengganggu fokus kepemimpinannya.
Saat giliran pembelaan tiba, alih-alih Bimo yang maju sendirian seperti rencana awal, Nadia berdiri di sampingnya, memegang laptop berisi seluruh data yang telah mereka susun bersama.
“Sebelum Bapak dan Ibu sekalian memutuskan mosi ini,” Nadia memulai dengan suara tegas dan jelas, mengejutkan seluruh ruangan yang tidak menyangka istri direktur akan ikut bicara dalam forum bisnis formal ini, “izinkan saya menunjukkan sesuatu yang mungkin belum semua orang di sini ketahui.”
Layar besar di depan ruangan menampilkan grafik pergerakan saham yang telah Nadia susun—menunjukkan dengan jelas pola pembelian saham terkoordinasi oleh entitas asing yang terhubung dengan rekening pribadi yang, setelah ditelusuri lebih dalam oleh Rian dan tim investigasinya, ternyata terhubung langsung dengan Tante Melinda.
Gemuruh bisik-bisik memenuhi ruangan. Wajah Tante Melinda yang tadinya penuh percaya diri kini memucat, matanya melirik panik ke arah David Lim yang tampak ingin menghilang dari tempat duduknya.
“Data ini menunjukkan bahwa krisis kepercayaan terhadap manajemen bukan disebabkan oleh kelalaian Direktur Utama,” lanjut Nadia, suaranya semakin mantap, “melainkan hasil manipulasi terencana oleh pihak internal yang berusaha menjual kepentingan perusahaan kepada investor asing demi keuntungan pribadi.”
Ketua dewan, yang selama ini dikenal netral, menatap tajam ke arah Tante Melinda, meminta klarifikasi. Namun wanita itu tak sanggup memberikan jawaban yang meyakinkan, hanya gumaman tak jelas sebelum akhirnya memilih keluar ruangan diikuti David Lim, meninggalkan tatapan mencurigakan dari seluruh pemegang saham yang hadir.
Rapat berakhir dengan mosi tidak percaya dibatalkan secara bulat, dan sebagai gantinya, dewan direksi sepakat membentuk komite investigasi internal untuk menyelidiki lebih jauh keterlibatan Tante Melinda dalam upaya pengambilalihan tersembunyi ini.
Setelah rapat usai, di lorong hotel yang mulai sepi, Bimo menghampiri Nadia yang masih terengah-engah menahan tegang dari presentasinya. Untuk pertama kalinya, Bimo menatap Nadia bukan dengan kekakuan atau kecurigaan, melainkan kekaguman yang tulus.
“Kamu luar biasa,” kata Bimo, suaranya penuh emosi yang sulit ia sembunyikan. “Aku… aku salah menilaimu selama ini. Kamu bukan bayangan Alya. Kamu Nadia—dan aku baru sadar, sejak lama aku sebenarnya jatuh cinta padamu, bukan pada kemiripanmu dengannya.”
Jantung Nadia berdegup kencang mendengar pengakuan itu. Namun sebelum ia sempat merespons, ponsel Bimo bergetar keras di saku jasnya. Ia mengangkatnya dengan alis berkerut, dan wajahnya seketika berubah serius mendengar suara di ujung telepon.
Setelah menutup panggilan, Bimo menatap Nadia dengan ekspresi yang sulit dibaca—campuran antara kelegaan dan kegelisahan baru.
“Itu dari pengacara,” kata Bimo pelan. “Dia bilang, secara hukum, masa kontrak pernikahan kita… resmi berakhir hari ini juga.”
1 thought on “Novel Singkat: Istri Bayaran Sang Direktur Bab 6”