Skip to content

Baca Novel Singkat Di sini

Menu
  • Home
  • Pilihan Novel
    • Romansa
    • Fiksi Ilmiah
    • Petualangan
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Terms and Conditions
Menu

Novel Singkat: Istri Bayaran Sang Direktur Bab 7

Posted on August 12, 2026

Kata-kata itu menggantung di udara, membekukan segala kehangatan yang baru saja tumbuh di antara mereka beberapa menit sebelumnya. Nadia menatap Bimo, mencoba mencari makna di balik ekspresi wajahnya yang sulit dibaca.

“Berakhir?” Nadia mengulang pelan, suaranya nyaris tak terdengar di tengah lorong hotel yang mulai sepi. “Secepat itu?”

“Dua tahun sejak tanggal pernikahan kita,” jawab Bimo, matanya masih menatap layar ponselnya seolah tak percaya pada waktu yang berjalan begitu cepat. “Aku… aku bahkan tidak sadar sudah sedekat ini harinya.”

Hari-hari berikutnya, dengan krisis perusahaan yang mulai mereda dan komite investigasi yang terus mendalami keterlibatan Tante Melinda, kesibukan menyita seluruh waktu Bimo. Nadia, di sisi lain, mendapati dirinya berada dalam posisi yang aneh—sudah bebas secara hukum, namun tidak benar-benar merasa bebas secara hati.

Pabrik keluarganya sudah sepenuhnya pulih berkat modal yang diberikan sesuai kontrak awal, karyawan-karyawan lama kembali bekerja dengan tenang, dan ayahnya sudah bisa tidur nyenyak tanpa dibayangi ancaman kebangkrutan. Secara teknis, tugas Nadia sebagai “istri bayaran” telah selesai dengan sempurna.

Namun setiap kali ia melihat kursi kosong Bimo di meja makan, setiap kali ia melewati ruang kerja tempat mereka pernah begadang menyusun strategi bersama, ada kekosongan yang terasa jauh lebih besar dari sekadar kehilangan tempat tinggal mewah.

Bimo pun sama gelisahnya, meski ia menyembunyikannya di balik kesibukan kerja yang berlebihan. Setiap malam sepulang kantor, ia mendapati dirinya berharap melihat Nadia menunggu di ruang tengah seperti kebiasaan yang tanpa sadar sudah terbentuk selama dua tahun terakhir. Namun kali ini, Nadia sudah kembali ke kamarnya sendiri, mengemasi barang-barangnya perlahan, bersiap untuk hidup baru yang telah lama direncanakan sebelum semua kekacauan ini dimulai—merantau ke Bandung untuk mengambil alih cabang bisnis tekstil keluarga yang baru dirintis di sana.

Suatu pagi, tanpa pemberitahuan panjang, Nadia memutuskan waktunya telah tiba. Ia meninggalkan sepucuk surat singkat di meja ruang tengah, berpamitan pada Pak Darto dan Bu Inah yang selama dua tahun ini menjadi keluarga keduanya, lalu memesan taksi menuju Bandara Soekarno-Hatta.

Di dalam mobil menuju bandara, Nadia menatap keluar jendela, menyaksikan gedung-gedung Jakarta yang perlahan menjauh. Ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa ini adalah keputusan yang tepat—memulai hidup baru, jauh dari segala kerumitan emosi yang tak pernah benar-benar terselesaikan dengan Bimo.

Namun jauh di lubuk hatinya, ia tahu ada bagian dari dirinya yang berharap sesuatu yang lain terjadi.

Di kantor Wijaya Group, Bimo baru saja keluar dari rapat penting ketika Pak Darto meneleponnya dengan suara panik yang jarang sekali ia dengar dari asisten setianya itu.

“Pak Bimo, Bu Nadia… dia sudah pergi. Meninggalkan surat, dan sepertinya menuju bandara sekarang.”

Bimo terpaku sejenak, dunia di sekelilingnya seolah melambat. Selama ini ia terlalu sibuk menyangkal perasaannya sendiri, terlalu takut mengulangi luka yang sama seperti kehilangan Alya, hingga tak pernah benar-benar mengatakan apa yang sesungguhnya ia inginkan.

Tanpa berpikir panjang, ia berlari keluar dari kantornya, mengabaikan tatapan bingung dari sekretarisnya, langsung menuju mobil dan melaju secepat mungkin menembus kemacetan Jakarta menuju bandara.

Di ruang tunggu Bandara Soekarno-Hatta, Nadia duduk sendirian menunggu panggilan boarding, matanya sesekali basah meski ia berusaha menahan diri. Pengumuman penerbangannya mulai terdengar dari pengeras suara, dan ia bangkit perlahan, menyeret koper kecilnya menuju gerbang keberangkatan.

Tepat saat ia hendak menyerahkan tiketnya kepada petugas, sebuah suara familiar memanggil namanya dari kejauhan, membelah keramaian bandara.

“Nadia!”

Ia menoleh, dan mendapati Bimo berlari melintasi ruang tunggu, napasnya terengah-engah, jasnya berantakan seperti baru saja melewati perjalanan tergesa-gesa. Beberapa pengunjung bandara menoleh penasaran melihat adegan yang tampak seperti film drama itu.

“Bim? Kenapa kamu di sini?” tanya Nadia, terkejut, jantungnya berdegup kencang antara kaget dan harapan yang tak berani ia akui.

Bimo berhenti tepat di hadapannya, mengatur napas sejenak sebelum akhirnya bicara, suaranya kali ini tidak lagi dingin dan terkendali seperti direktur yang selama ini ia kenal, melainkan jujur dan penuh emosi yang lama terpendam.

“Jangan pergi,” katanya sederhana, namun sarat makna. “Aku tahu kontrak kita sudah berakhir. Aku tahu kamu bebas sekarang, tidak ada lagi yang mengikatmu padaku. Tapi aku… aku tidak ingin kamu pergi.”

“Bim, kamu bilang jangan pernah jatuh cinta padamu. Itu aturan pertamamu,” Nadia berusaha bersuara tegar meski air matanya mulai tak terbendung.

“Aku tahu,” Bimo tersenyum kecil, senyum getir penuh penyesalan. “Tapi aku yang justru melanggar aturanku sendiri. Aku jatuh cinta padamu, Nadia. Bukan pada bayanganmu tentang Alya, bukan pada perjanjian bisnis lama, bukan pada kontrak yang mengikat kita. Aku jatuh cinta pada caramu berjuang untuk keluargamu, pada keberanianmu membela aku di depan seluruh pemegang saham, pada caramu memasak dengan sungguh-sungguh meski aku tak pernah bilang aku menyukainya.”

Ia mengambil sesuatu dari saku jasnya—bukan cincin mewah seperti dalam pernikahan formal mereka dulu, melainkan sebuah kunci kecil.

“Ini kunci rumah Pondok Indah,” katanya, menyerahkannya pada Nadia dengan tangan yang sedikit gemetar. “Aku tidak akan memintamu menikah lagi karena kontrak, karena bisnis, atau karena perjanjian dua puluh tahun lalu. Kali ini, aku hanya ingin bertanya sederhana: maukah kamu memilih untuk tinggal, bukan karena terikat, tapi karena kamu juga menginginkannya?”

Nadia menatap kunci kecil di tangannya, lalu menatap wajah Bimo yang untuk pertama kalinya benar-benar terbuka tanpa topeng kedinginan yang selama ini menjadi perisainya. Air matanya akhirnya tumpah, namun kali ini bukan air mata kesedihan.

“Aku juga jatuh cinta padamu, Bim,” bisiknya akhirnya, senyum bercampur tangis haru menghiasi wajahnya. “Bukan karena kontrak. Bukan karena kasihan. Tapi karena pria yang aku lihat berjuang untuk perusahaannya, yang akhirnya berani jujur tentang lukanya, adalah pria yang aku ingin habiskan waktu bersamanya—bukan karena terpaksa, tapi karena aku memilihnya.”

Panggilan boarding terakhir untuk penerbangannya terdengar dari pengeras suara, namun Nadia hanya tersenyum, menyerahkan tiketnya kembali kepada petugas dengan permintaan pembatalan, sebelum akhirnya membiarkan Bimo memeluknya erat di tengah keramaian bandara—dua orang yang awalnya disatukan oleh kontrak dan keterpaksaan, namun akhirnya memilih untuk bersama karena cinta yang tumbuh nyata dari perjuangan, kejujuran, dan kepercayaan yang mereka bangun bersama.

Enam bulan kemudian, di sebuah taman kecil yang syahdu di kawasan Bogor, jauh dari hiruk pikuk publikasi dan sorotan bisnis Jakarta, Bimo dan Nadia menikah kembali—kali ini dalam prosesi sederhana yang hanya dihadiri keluarga terdekat dari kedua belah pihak. Ibu Ratih dan Ibu Sulastri, yang akhirnya berbaikan setelah bertahun-tahun keretakan keluarga, duduk berdampingan sambil menitikkan air mata haru menyaksikan pernikahan yang kali ini benar-benar lahir dari cinta, bukan dari perjanjian bisnis dua puluh tahun silam.

Pernikahan ini bukan lagi tentang kontrak, bukan pula tentang menyelamatkan pabrik atau perusahaan. Ini tentang dua hati yang sempat terluka dan tersesat, namun akhirnya menemukan jalan pulang—satu sama lain.

TAMAT

1 thought on “Novel Singkat: Istri Bayaran Sang Direktur Bab 7”

  1. Pingback: Novel Singkat: Istri Bayaran Sang Direktur Bab 6 - Baca Novel Singkat Di sini

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Novel Terbaru

  • Novel Singkat: Istri Bayaran Sang Direktur Bab 7
  • Novel Singkat: Istri Bayaran Sang Direktur Bab 6
  • Novel Singkat: Istri Bayaran Sang Direktur Bab 5
  • Novel Singkat: Istri Bayaran Sang Direktur Bab 4
  • Novel Singkat: Istri Bayaran Sang Direktur Bab 3

Arsip

  • August 2026
  • May 2026
  • December 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025

Kategori

  • Fiksi Ilmiah
  • Petualangan
  • Romansa

Tentang Kami

Tentang Kami

aksi cinta dan kehilangan cinta dan pengorbanan Cinta dan Takdir cinta lintas dimensi cinta pertama cinta segitiga cinta sejati Cinta Terlarang cinta yang terlupakan dunia paralel Eksperimen Rahasia identitas ganda Ilmuwan kehilangan kisah cinta kisah cinta emosional kisah cinta menyedihkan kisah cinta sedih kisah cinta tragis konspirasi Misteri novel emosional novel fiksi ilmiah Novel Romantis Novel Singkat Istri Bayaran Sang Direktur pengkhianatan Pengorbanan Pengorbanan Cinta penjaga waktu perjalanan waktu Petualangan realitas paralel reinkarnasi romansa Romansa Cinta romansa tragis Romantis Romantis gelap romantis tragis sci-fi emosional teknologi canggih thriller thriller psikologis Thriller Waktu

Genre Favorit

  • Fiksi Ilmiah
  • Petualangan
  • Romansa
©2026 Baca Novel Singkat Di sini | Design: Newspaperly WordPress Theme