Setelah Ibu Sulastri pergi dengan janji akan kembali membawa katalog gaun pengantin minggu depan, Bimo langsung mengurung diri di ruang kerjanya tanpa sepatah kata pun. Nadia berdiri termangu di ruang tengah, mencoba mencerna semua yang baru saja terjadi.
Resepsi besar-besaran jelas bukan bagian dari rencana. Kontrak mereka dibuat untuk berjalan diam-diam, jauh dari sorotan publik, agar perceraian dua tahun lagi tidak menjadi bahan gunjingan. Tapi ada hal lain yang lebih mengganggu pikiran Nadia—reaksi Bimo yang begitu ketakutan, jauh melampaui sekadar kekhawatiran soal logistik pesta.
Malam itu, Nadia memutuskan untuk mencari jawaban sendiri. Ia teringat surat-surat lama milik ayahnya yang tersimpan di kotak kayu tua di rumah masa kecilnya. Selama ini ia tak pernah benar-benar memeriksa isinya—hanya dokumen-dokumen bisnis pabrik yang menurutnya tidak penting.
Keesokan harinya, dengan alasan menjenguk ayahnya, Nadia kembali ke rumah lamanya di Kebon Jeruk. Setelah memastikan ayahnya sedang tertidur siang, ia menyelinap ke gudang kecil tempat kotak kayu itu disimpan.
Di antara tumpukan surat lama, tangan Nadia berhenti pada sebuah amplop coklat yang sudah menguning, bertuliskan nama “Wijaya Textile Corp” di bagian atasnya—perusahaan milik keluarga Bimo. Dengan jantung berdebar, ia membuka amplop itu dan menemukan sebuah surat perjanjian bisnis lama, ditandatangani oleh ayahnya dan seseorang bernama Wijaya Kusuma—yang setelah dicek lebih lanjut, ternyata adalah ayah Bimo yang telah meninggal beberapa tahun lalu.
Surat itu berisi perjanjian kerja sama dagang antara dua keluarga, ditandatangani lebih dari dua puluh tahun lalu. Namun yang membuat Nadia terpaku adalah satu klausul tambahan yang ditulis tangan di bagian bawah surat: “Sebagai penguat ikatan kedua keluarga, disepakati pula rencana perjodohan antara anak-anak kedua belah pihak apabila situasi bisnis di kemudian hari memerlukannya.”
Tangan Nadia gemetar memegang kertas itu. Perjodohan? Sejak dua puluh tahun lalu?
Ia segera menghubungi sahabatnya sejak kuliah, Rian, seorang jurnalis muda yang bekerja di media bisnis ternama dan dikenal jago menggali informasi. Nadia mengirimkan foto surat itu lewat pesan singkat, meminta bantuannya untuk menyelidiki lebih jauh.
Sementara menunggu balasan Rian, Nadia kembali ke rumah Pondok Indah dengan pikiran kacau. Malam itu, suasana di antara dia dan Bimo terasa berbeda—lebih tegang, namun juga entah kenapa lebih dekat. Bimo keluar dari ruang kerjanya lebih awal dari biasanya, dan untuk pertama kalinya mengajak Nadia menonton film bersama di ruang keluarga.
Duduk berdampingan di sofa besar, jarak di antara mereka perlahan menyempit—bukan secara fisik saja, tapi juga secara emosional. Bimo yang biasanya kaku mulai sesekali tertawa kecil menanggapi lelucon dalam film, dan Nadia merasakan kehangatan yang jarang ia rasakan sejak pernikahan kontrak ini dimulai.
Di tengah film, listrik tiba-tiba padam akibat badai yang mulai mengguyur Jakarta malam itu. Ruangan gelap total, hanya diterangi kilat sesekali dari luar jendela. Nadia yang terkejut refleks menggenggam lengan Bimo di sampingnya.
“Maaf,” bisiknya, hendak menarik tangannya kembali.
Namun Bimo justru menggenggam tangan itu lebih erat, tidak melepaskannya. Dalam kegelapan, Nadia bisa merasakan napas Bimo yang semakin dekat, wajahnya perlahan mendekat ke arahnya. Jantung Nadia berdegup kencang, separuh dirinya ingin mundur mengingat semua aturan yang Bimo tetapkan sendiri, namun separuh lainnya justru berharap momen ini tidak berhenti.
Tepat saat bibir mereka hampir bersentuhan, Bimo tiba-tiba tersentak mundur, seolah tersadar dari sesuatu. Ia berdiri cepat, menjauh beberapa langkah dengan napas memburu.
“Maaf,” katanya parau, suaranya penuh kekacauan emosi. “Saya… saya tidak boleh begini.”
Sebelum Nadia sempat merespons, Bimo sudah berbalik dan berjalan cepat menuju kamar kerjanya, menutup pintu dengan suara berdebam yang menggema di rumah yang gelap gulita itu. Nadia duduk terpaku di sofa, tangannya masih terasa hangat bekas genggaman Bimo, sementara pikirannya dipenuhi kebingungan antara kekecewaan dan kerinduan yang aneh untuk seseorang yang seharusnya hanya “kontrak” belaka.
Listrik menyala kembali beberapa menit kemudian, namun suasana rumah itu tetap terasa dingin dan canggung. Nadia akhirnya memutuskan naik ke kamarnya sendiri, pikirannya masih dipenuhi pertanyaan tentang surat perjodohan, tentang foto perempuan mirip dirinya, dan tentang perasaan aneh yang mulai tumbuh untuk suami kontraknya sendiri.
Ponselnya bergetar tepat saat ia hendak tidur. Sebuah pesan masuk dari Rian.
“Nad, kamu harus lihat ini sekarang. Ini bukan soal bisnis biasa.”
Di bawah pesan itu, terlampir sebuah foto—hasil pindaian dokumen resmi dari catatan sipil, memperlihatkan sebuah akta kematian dengan nama yang membuat darah Nadia serasa membeku: Alya Kusuma Wijaya, istri sah dari Bimo Wijaya.
Dan di bawah nama itu, tertera nama orang tua kandung Alya—nama yang sangat familiar bagi Nadia. Nama yang selama ini tak pernah sekalipun disebut oleh keluarganya sendiri.
Nama ibunya.
1 thought on “Novel Singkat: Istri Bayaran Sang Direktur Bab 3”