Tangan Nadia gemetar memegang ponselnya. Ia membaca ulang nama itu berkali-kali, berharap matanya salah lihat. Namun tulisan di layar tetap sama: Ratih Sudibyo—nama gadis ibunya sebelum menikah dengan ayahnya.
Bagaimana mungkin Alya, mendiang istri Bimo, memiliki nama ibu kandung yang sama persis dengan ibunya sendiri?
Nadia segera menelepon Rian, tak sabar menunggu balasan pesan.
“Rian, jelaskan semuanya. Sekarang,” katanya begitu sambungan tersambung, suaranya bergetar.
“Nad, aku juga masih mengumpulkan potongan-potongannya,” jawab Rian di ujung telepon. “Tapi dari akta itu, sepertinya Alya adalah anak dari adik kandung ibumu. Artinya… Alya itu sepupumu sendiri.”
Dunia Nadia serasa berputar. Ia tidak pernah tahu ibunya punya adik. Sepanjang hidupnya, keluarga besar dari pihak ibu memang selalu jadi topik tabu—setiap kali Nadia bertanya, ibunya hanya akan mengalihkan pembicaraan dengan wajah sedih yang tak pernah ia pahami alasannya.
Keesokan paginya, dengan mata sembab karena tak bisa tidur semalaman, Nadia kembali ke rumah orang tuanya. Ia mendapati ibunya sendirian di dapur, sedang memasak sarapan seperti biasa.
“Ma,” Nadia memulai, suaranya berat menahan emosi, “aku ingin tanya sesuatu. Tentang Alya.”
Piring di tangan ibunya terjatuh, pecah berkeping-keping di lantai. Wajah ibunya seketika pucat pasi.
“Dari mana kamu dengar nama itu?” tanya ibunya, suaranya nyaris berbisik.
“Jadi benar Mama punya adik? Dan Alya itu keponakan Mama?” desak Nadia, air matanya mulai mengalir. “Kenapa Mama dan Papa tidak pernah cerita apa-apa? Kenapa aku harus menikah dengan suami dari sepupuku sendiri tanpa tahu apa-apa?”
Pak Yusuf yang mendengar keributan bergegas masuk ke dapur, wajahnya menegang melihat istrinya duduk lemas di lantai dengan pecahan piring berserakan. Ia memapah istrinya ke kursi, lalu menoleh ke Nadia dengan tatapan penuh penyesalan.
“Duduklah, Nak. Sudah waktunya kamu tahu semuanya,” kata Pak Yusuf akhirnya, suaranya berat.
Dengan tangan gemetar, Pak Yusuf mulai bercerita. Dua puluh tahun lalu, keluarganya dan keluarga Wijaya memang menjalin kerja sama bisnis erat. Adik ibu Nadia, Bu Wulandari, menikah dengan anggota keluarga Wijaya dan melahirkan Alya. Namun sebuah perselisihan bisnis besar—penggelapan dana yang dituduhkan sepihak kepada keluarga Wijaya—membuat hubungan kedua keluarga retak parah. Bu Wulandari, karena tekanan dari pihak suaminya, memutuskan hubungan total dengan keluarga Nadia, termasuk kakak kandungnya sendiri.
“Ibumu sangat terpukul kehilangan kontak dengan adiknya,” lanjut Pak Yusuf. “Kami mendengar kabar Alya menikah dengan Bimo, anak dari keluarga Wijaya yang sama, tapi kami tak pernah berani menghubungi lagi karena luka lama itu. Sampai kabar duka kematian Alya sampai ke kami tiga tahun lalu.”
“Jadi perjanjian perjodohan itu…” Nadia menahan napas, mencoba merangkai semua kepingan yang mulai membentuk gambaran utuh.
“Perjanjian itu dibuat sebelum semua perselisihan terjadi,” jawab Pak Yusuf. “Ayah Bimo yang mengusulkannya, sebagai jaminan hubungan dua keluarga akan selalu terikat, apa pun yang terjadi. Setelah konflik itu, perjanjian itu seharusnya sudah tidak berlaku. Tapi ternyata… Bimo yang menemukan dokumen itu tahun lalu, dan menganggapnya sebagai satu-satunya cara menyatukan kembali dua keluarga yang terpecah.”
Nadia terduduk lemas mendengar penjelasan itu. Pernikahannya bukan sekadar transaksi bisnis untuk menyelamatkan pabrik keluarganya—itu adalah bagian dari rencana besar yang sudah dirajut sejak dua puluh tahun lalu, jauh sebelum ia dan Bimo lahir ke dunia ini.
“Kenapa Papa dan Mama tidak cerita dari awal?” tanya Nadia, suaranya penuh amarah bercampur kesedihan. “Kalian membiarkan aku menikah dengan seseorang tanpa tahu seluruh sejarah rumit di baliknya!”
“Kami takut, Nak,” jawab ibunya, akhirnya bersuara di antara isak tangis. “Takut kamu menolak menikah dengan Bimo kalau tahu semuanya, padahal itu satu-satunya cara menyelamatkan pabrik. Kami juga… kami juga berharap diam-diam, pernikahan ini bisa jadi jalan memperbaiki hubungan keluarga yang sudah lama retak.”
Nadia tidak sanggup lagi mendengarkan lebih jauh. Ia berlari keluar rumah, menembus rintik hujan yang mulai turun, pikirannya kalut oleh terlalu banyak informasi yang harus dicerna sekaligus.
Sementara itu, di rumah Pondok Indah, Bimo yang baru pulang lebih awal dari kantor mendengar suara familiar dari arah dapur—suara Pak Darto sedang menerima telepon dengan nada cemas.
“Baik, Bu. Saya akan sampaikan pada Pak Bimo begitu beliau pulang,” kata Pak Darto, sebelum menutup telepon dan berbalik, terkejut mendapati Bimo sudah berdiri di ambang pintu, mendengarkan.
“Siapa itu tadi?” tanya Bimo, alisnya berkerut curiga.
Pak Darto ragu sejenak sebelum akhirnya menjawab, “Ibu Ratih, Pak. Ibu kandung Bu Nadia.”
Bimo terdiam, dahinya semakin berkerut. “Kenapa dia menelepon ke sini?”
“Beliau bilang…” Pak Darto menarik napas, tampak berat menyampaikan kalimat berikutnya, “Bu Nadia baru saja tahu bahwa dia adalah sepupu dari mendiang istri Bapak.”
Wajah Bimo seketika berubah pucat. Gelas kopi yang ia pegang hampir terjatuh dari tangannya. Selama ini, ia yang menemukan dokumen perjodohan itu dan mengatur seluruh rencana pernikahan kontrak ini—namun ia sendiri tidak pernah menyadari satu fakta penting yang kini baru terungkap: bahwa perempuan yang selama ini mengingatkannya begitu kuat pada mendiang istrinya, ternyata memang benar-benar memiliki darah yang sama.
Bukan kebetulan. Bukan sekadar kemiripan wajah biasa. Semuanya sudah terhubung sejak awal, dan Bimo baru menyadarinya di saat yang paling tidak tepat—tepat ketika hatinya mulai terbuka kembali untuk Nadia.
Di luar, hujan semakin deras. Dan di suatu tempat di tengah kota Jakarta yang basah kuyup, Nadia berjalan tanpa arah, tak tahu harus pulang ke rumah yang mana.
1 thought on “Novel Singkat: Istri Bayaran Sang Direktur Bab 4”