Skip to content

Baca Novel Singkat Di sini

Menu
  • Home
  • Pilihan Novel
    • Romansa
    • Fiksi Ilmiah
    • Petualangan
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Terms and Conditions
Menu

Novel Singkat: Istri Bayaran Sang Direktur Bab 2

Posted on August 7, 2026

Nadia buru-buru meletakkan bingkai foto itu kembali ke dalam laci, menutupnya rapat, dan melangkah mundur beberapa langkah tepat sebelum Bimo muncul di ambang pintu. Jantungnya masih berdegup kencang saat pria itu menatapnya curiga.

“Kamu sedang apa di sini?” tanya Bimo, suaranya tajam.

“Maaf, saya… tersesat mencari kamar,” jawab Nadia gugup, berbohong sebisa mungkin. “Rumah ini besar sekali, saya belum hafal arahnya.”

Bimo menatapnya lama, seolah mencoba membaca kejujuran di balik kata-katanya, sebelum akhirnya melangkah masuk dan menutup pintu ruang kerjanya sendiri. “Kamar kamu di lantai dua, ujung lorong kanan. Pak Darto akan menunjukkan besok pagi.”

Malam itu Nadia tidur dengan pikiran dipenuhi pertanyaan. Siapa perempuan dalam foto itu? Mengapa wajahnya begitu mirip dengannya?

Hari-hari berikutnya berlalu dengan kekakuan yang perlahan mencair. Pak Darto, asisten pribadi Bimo yang sudah bekerja untuknya selama bertahun-tahun, ternyata orang yang ramah meski awalnya terlihat kaku menjaga privasi rumah tangga majikannya. Dari obrolan-obrolan kecil dengannya sambil sarapan, Nadia mulai mengumpulkan kepingan informasi tentang suaminya.

“Pak Bimo dulu tidak seperti ini,” kata Pak Darto suatu pagi, sambil menuang kopi untuk Nadia. “Dulu beliau ramah, sering tertawa. Berubah drastis sejak… ya, sejak kejadian itu.”

“Kejadian apa, Pak?” tanya Nadia hati-hati.

Pak Darto terdiam sejenak, seperti menyesal sudah membuka topik itu. “Bukan hak saya untuk cerita, Bu Nadia. Sebaiknya tanyakan langsung ke Pak Bimo, kalau memang sudah waktunya.”

Nadia tidak memaksa, meski rasa penasarannya semakin membesar. Ia mulai memperhatikan detail-detail kecil di rumah itu—foto keluarga yang hanya menampilkan Bimo seorang diri di setiap sudut, tak ada jejak perempuan lain selain di laci yang ia intip malam itu. Ada kekosongan yang terasa sengaja diciptakan, seolah seseorang bekerja keras menghapus jejak masa lalu dari rumah ini.

Suatu sore, Nadia menemukan Bimo duduk sendirian di teras belakang, menatap kolam renang dengan pandangan kosong, segelas wiski belum tersentuh di tangannya. Untuk pertama kalinya, Nadia melihat sisi lain dari pria yang selama ini terlihat begitu dingin dan terkendali—sisi yang rapuh dan kesepian.

“Boleh saya duduk?” tanya Nadia pelan, memberanikan diri.

Bimo tidak menjawab, tapi juga tidak menolak. Nadia mengambilnya sebagai izin dan duduk di kursi sebelahnya. Mereka duduk dalam diam cukup lama, hanya suara jangkrik dan gemericik air kolam yang mengisi kesunyian.

“Kamu pasti bertanya-tanya kenapa saya seperti ini,” Bimo akhirnya bicara, suaranya lebih lembut dari biasanya. “Dingin, kaku, seperti tidak punya perasaan.”

Nadia diam, membiarkan Bimo melanjutkan jika ia mau.

“Saya pernah punya alasan untuk tersenyum setiap hari,” lanjut Bimo, matanya masih menatap kolam. “Tapi itu sudah lama sekali.”

Ia tidak melanjutkan lebih jauh, dan Nadia tidak berani mendesak. Namun momen itu—singkat dan rapuh—membuat sesuatu di dalam hati Nadia bergeser. Untuk pertama kalinya sejak pernikahan kontrak ini dimulai, ia melihat Bimo bukan sebagai direktur dingin yang membelinya dengan uang, melainkan sebagai manusia yang menyimpan luka mendalam.

Hari-hari berikutnya, hubungan mereka perlahan mencair. Bimo mulai sesekali makan malam bersama Nadia, meski percakapan mereka masih terbatas pada hal-hal ringan. Nadia mulai belajar memasak beberapa masakan kesukaan Bimo dari Bu Inah, kepala pelayan rumah, dan diam-diam merasa senang saat melihat Bimo menghabiskan makanannya tanpa komentar—sebuah tanda kecil bahwa masakannya diterima.

Namun kedamaian rapuh itu tak berlangsung lama.

Suatu sore, sebuah mobil mewah berhenti di depan rumah, dan seorang wanita paruh baya berpakaian elegan turun dengan langkah percaya diri, diikuti dua orang asisten yang membawa banyak tas belanja bermerek. Nadia yang sedang menyiram tanaman di halaman depan langsung dihampiri wanita itu dengan senyum lebar yang terasa dibuat-buat.

“Jadi kamu Nadia, menantu baruku!” ucap wanita itu dengan nada teatrikal, memeluk Nadia yang kaget tanpa sempat merespons. “Aku Ibu Sulastri, ibu Bimo. Cantik sekali kamu, pantas Bimo langsung memilihmu!”

Sebelum Nadia sempat menjelaskan situasi sebenarnya, Bimo keluar dari rumah dengan wajah tegang melihat kehadiran ibunya yang tak terduga.

“Ma, kenapa tiba-tiba datang tanpa kabar?” tanya Bimo, nada suaranya waspada.

“Memangnya ibu perlu izin untuk bertemu menantu sendiri?” Ibu Sulastri tertawa ringan, lalu merangkul lengan Nadia dengan erat, seolah sudah mengenalnya bertahun-tahun. “Lagipula, ibu datang membawa kabar gembira!”

Bimo dan Nadia saling pandang, sama-sama tidak tahu apa yang akan dikatakan wanita itu selanjutnya.

“Ibu sudah mengumumkan ke seluruh keluarga besar dan relasi bisnis,” lanjut Ibu Sulastri dengan bangga, “bahwa resepsi pernikahan kalian akan diadakan besar-besaran bulan depan! Ibu sudah booking ballroom hotel terbaik di Jakarta, undangan sudah mulai dicetak, bahkan she sudah menghubungi wedding organizer paling terkenal!”

Wajah Bimo seketika pucat. Nadia merasakan genggaman tangan Ibu Sulastri di lengannya semakin erat, sementara pikirannya berkecamuk. Resepsi besar-besaran? Ini bukan bagian dari kontrak. Ini bisa menghancurkan seluruh rencana mereka untuk bercerai diam-diam dua tahun lagi tanpa perhatian publik.

“Ma, ini tidak bisa—” Bimo mencoba menyela, namun ibunya sudah terlanjur bersemangat menjelaskan detail rencana resepsi yang tak seorang pun di antara mereka minta.

Nadia menatap Bimo, mencoba mencari petunjuk tentang apa yang harus mereka lakukan. Namun yang ia lihat di wajah suaminya bukan hanya kepanikan karena rencana ibunya—melainkan sesuatu yang lebih dalam, seperti ketakutan yang sudah lama tersimpan tiba-tiba terancam terbongkar ke permukaan.

LANJUT BAB 3

1 thought on “Novel Singkat: Istri Bayaran Sang Direktur Bab 2”

  1. Pingback: Novel Singkat: Istri Bayaran Sang Direktur Bab 1 - Baca Novel Singkat Di sini

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Novel Terbaru

  • Novel Singkat: Istri Bayaran Sang Direktur Bab 5
  • Novel Singkat: Istri Bayaran Sang Direktur Bab 4
  • Novel Singkat: Istri Bayaran Sang Direktur Bab 3
  • Novel Singkat: Istri Bayaran Sang Direktur Bab 2
  • Novel Singkat: Istri Bayaran Sang Direktur Bab 1

Arsip

  • August 2026
  • May 2026
  • December 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025

Kategori

  • Fiksi Ilmiah
  • Petualangan
  • Romansa

Tentang Kami

Tentang Kami

aksi cinta dan kehilangan cinta dan pengorbanan Cinta dan Takdir cinta lintas dimensi cinta pertama cinta segitiga cinta sejati Cinta Terlarang cinta yang terlupakan dunia paralel Eksperimen Rahasia identitas ganda Ilmuwan kehilangan kisah cinta kisah cinta emosional kisah cinta menyedihkan kisah cinta sedih kisah cinta tragis konspirasi Misteri novel emosional novel fiksi ilmiah Novel Romantis Novel Singkat Istri Bayaran Sang Direktur pengkhianatan Pengorbanan Pengorbanan Cinta penjaga waktu perjalanan jiwa perjalanan waktu Petualangan realitas paralel reinkarnasi romansa Romansa Cinta romansa tragis Romantis Romantis gelap romantis tragis teknologi canggih thriller thriller psikologis Thriller Waktu

Genre Favorit

  • Fiksi Ilmiah
  • Petualangan
  • Romansa
©2026 Baca Novel Singkat Di sini | Design: Newspaperly WordPress Theme