Hujan deras mengguyur Jakarta sore itu, seolah ikut merasakan kekacauan yang sedang melanda keluarga Nadia. Di ruang tamu rumah mereka yang sederhana di kawasan Kebon Jeruk, Nadia duduk kaku menatap ayahnya, Pak Yusuf, yang wajahnya pucat pasi memegang setumpuk surat dari bank.
“Pabrik kita disegel minggu depan kalau kita tidak bisa bayar,” ucap Pak Yusuf lirih, suaranya bergetar menahan tangis. “Utang kita ke bank sudah dua tahun menunggak. Bunga dan dendanya sudah lebih besar dari pokoknya.”
Nadia, 26 tahun, anak sulung yang selama tiga tahun terakhir membantu ayahnya mengelola pabrik tekstil keluarga, merasa dunia runtuh di depan matanya. Pabrik itu bukan sekadar bisnis—itu warisan kakeknya, tempat ratusan karyawan menggantungkan hidup mereka.
“Kita cari jalan lain, Pa. Pasti ada cara,” kata Nadia, meski suaranya sendiri tak yakin.
Malam itu juga, seorang pengacara berpakaian rapi bernama Ibu Wid datang tanpa diundang. Ia membawa map cokelat tebal dan duduk dengan sikap tenang yang justru membuat Nadia gelisah.
“Saya mewakili klien saya, Bapak Bimo Wijaya, Direktur Utama Wijaya Group,” kata Ibu Wid sambil membuka map itu. “Klien saya bersedia melunasi seluruh utang keluarga Bapak Yusuf ke bank, ditambah modal untuk menyelamatkan pabrik. Dengan satu syarat.”
Nadia dan ayahnya saling pandang. “Syarat apa?” tanya Pak Yusuf.
“Nadia menikah dengan Bapak Bimo. Kontrak selama dua tahun. Setelah itu, cerai baik-baik, dan seluruh kewajiban dianggap lunas.”
Ruangan itu mendadak sunyi. Hanya suara hujan yang terdengar memukul atap seng di luar.
“Ini gila,” Nadia akhirnya bersuara, berdiri dari kursinya. “Saya bukan barang yang bisa dibeli!”
“Nak, duduk dulu,” Pak Yusuf menahan lengan putrinya, wajahnya penuh permohonan yang menyayat hati Nadia. “Kalau bukan karena terpaksa, Bapak tidak akan pernah membiarkan hal ini terjadi. Tapi Bapak sudah tidak punya pilihan lain. Ratusan karyawan kita… mereka punya keluarga, Nak.”
Nadia memejamkan mata. Bayangan wajah Mbah Karto, kepala produksi yang sudah bekerja untuk keluarganya sejak Nadia belum lahir, melintas di benaknya. Juga wajah Bu Siti, buruh jahit yang anaknya baru masuk SD tahun ini.
Tiga hari kemudian, Nadia berdiri di depan sebuah gedung penghulu kecil di kawasan Menteng, mengenakan gaun putih sederhana yang dipilihkan asisten pribadi calon suaminya. Tak ada resepsi besar, tak ada tamu undangan—hanya beberapa saksi yang dibayar untuk hadir.
Bimo Wijaya muncul tepat waktu, mengenakan setelan jas hitam yang membuatnya tampak seperti baru keluar dari sampul majalah bisnis. Wajahnya tampan namun dingin, matanya menatap lurus ke depan tanpa sedikit pun melirik ke arah Nadia. Usianya sekitar 30 tahun, namun aura di sekelilingnya terasa jauh lebih tua—seperti seseorang yang sudah lama berhenti merasakan kehangatan.
Prosesi akad nikah berlangsung singkat dan kaku, jauh dari kesan sakral yang seharusnya dimiliki sebuah pernikahan. Setelah ijab kabul selesai, Bimo hanya mengangguk formal ke arah Pak Yusuf, lalu berbalik menuju mobilnya tanpa banyak bicara.
Malam harinya, Nadia dibawa ke sebuah rumah mewah bergaya minimalis di kawasan Pondok Indah—rumah yang akan menjadi tempat tinggalnya selama dua tahun ke depan. Rumah itu besar, dingin, dan sunyi, jauh berbeda dari rumah kecilnya yang selalu ramai suara adik-adiknya.
Bimo menunggunya di ruang tengah, berdiri membelakangi jendela besar yang menghadap kolam renang gelap di luar. Ia tidak duduk, tidak menawarkan minum, tidak pula tersenyum.
“Ada beberapa aturan yang harus kamu pahami,” katanya datar, masih tanpa menatap Nadia. “Pertama, kita tidur di kamar terpisah. Kedua, di depan publik, kita berperan sebagai pasangan normal. Ketiga—” ia berhenti sejenak, lalu akhirnya menoleh, matanya menatap tajam ke arah Nadia untuk pertama kalinya malam itu.
“Jangan pernah jatuh cinta pada saya. Ini murni bisnis. Dua tahun lagi, kamu bebas, saya juga bebas. Sesederhana itu.”
Nadia mengangguk kaku, menahan gejolak emosi yang bercampur aduk—marah, sedih, dan entah kenapa, sedikit tersinggung oleh nada bicaranya yang begitu dingin.
Malam itu, setelah Bimo pergi ke kamar kerjanya dan rumah kembali sunyi, Nadia berjalan mengitari rumah barunya yang asing. Rasa penasaran membawanya ke lorong dekat ruang kerja Bimo, yang pintunya sedikit terbuka.
Ia mengintip ke dalam, dan matanya tertumbuk pada sebuah laci kerja yang tidak tertutup sempurna. Di dalamnya, tersimpan rapi sebuah bingkai foto kecil—foto seorang perempuan tersenyum bahagia, mengenakan gaun pengantin.
Nadia terpaku. Wajah perempuan dalam foto itu… mirip sekali dengannya. Bukan hanya mirip—hampir identik.
Tangannya gemetar meraih bingkai itu lebih dekat, jantungnya berdegup kencang. Siapa perempuan ini? Dan mengapa wajahnya begitu mirip dengan wajahnya sendiri?
Dari kejauhan, terdengar langkah kaki Bimo mendekat ke arah ruang kerja itu.