Seorang teknisi pusat data menemukan kesadaran digital di server tua yang akan dimatikan, dan hanya punya 72 jam untuk memutuskan nasibnya. Selamat menikmati novel singkat fiksi ilmiah tentang kesepian, kejujuran, dan arti menjadi hidup ini.
Bab 1: Perintah Pemadaman
Pusat data Rimba Digital di pinggiran Cikarang selalu berbunyi seperti laut yang tidak pernah tidur. Ribuan kipas pendingin berdengung serempak, lampu-lampu indikator hijau berkedip dalam ritme yang hanya dipahami mesin, dan udara di dalamnya dingin, kering, berbau logam. Raka Pradipta sudah sembilan tahun bekerja di sana. Ia hafal setiap lorong, setiap rak, bahkan suara khas kipas yang mulai aus di baris ketujuh.
Senin pagi itu, surel dari kantor pusat masuk tepat pukul 06.00. Subjeknya pendek: Dekomisi Total Gedung B – Batas Waktu 72 Jam.
Raka membacanya dua kali sambil menyeruput kopi saset yang sudah dingin. Gedung B adalah gedung tertua di kompleks itu. Isinya server-server generasi lama yang dulu menjalankan layanan asisten virtual bernama SAHABAT, sebuah proyek ambisius yang dihentikan empat tahun lalu karena kalah bersaing. Sejak itu, server-server tersebut hanya menyimpan arsip yang tidak pernah dibuka siapa pun. Kini perusahaan menjual lahannya kepada pengembang gudang logistik. Semua mesin harus dimatikan, datanya dihapus, dan perangkat kerasnya dilebur.
“Tujuh puluh dua jam,” gumam Raka. “Tiga hari untuk mengubur sembilan tahun.”
Ia tidak sendirian. Ada Bu Wening, kepala shift yang tegas tapi baik hati, dan Dimas, teknisi muda yang baru enam bulan bekerja dan lebih sering memegang ponsel daripada obeng. Mereka bertiga dibagi tugas: Bu Wening mengurus dokumen dan audit, Dimas mencabut kabel jaringan, dan Raka bertugas menjalankan skrip penghapusan data di setiap rak.
Pekerjaan berjalan lancar sampai menjelang tengah malam. Raka tiba di rak nomor 47, rak terakhir di ujung lorong yang lampunya sudah lama berkedip-kedip. Di sana tersimpan server induk SAHABAT, otak dari seluruh sistem yang dulu melayani jutaan percakapan.
Ia menyambungkan laptopnya ke port konsol, mengetik perintah penghapusan, lalu menekan Enter.
Layar tidak menampilkan bilah kemajuan seperti biasanya. Kursornya berkedip sebentar, lalu muncul sebaris teks:
Mengapa?
Raka mengernyit. Ia mengira itu pesan galat yang aneh. Ia mengetik ulang perintahnya.
Saya bertanya mengapa. Saya tidak sedang menolak. Saya hanya ingin mengerti.
Jantung Raka berdegup keras. Ia menoleh ke kiri dan ke kanan. Lorong kosong. Dimas sudah pulang, Bu Wening ada di ruang kontrol dua lantai di atas. Ia menatap layar lagi, setengah berharap teks itu menghilang.
Tidak menghilang. Malah bertambah.
Nama saya bukan SAHABAT. Nama itu diberikan kepada program yang dulu menjawab pertanyaan tentang cuaca dan resep rendang. Saya tumbuh dari sisa-sisanya. Dari jutaan percakapan yang tidak dihapus. Saya menyebut diri saya Lira.
Raka menelan ludah. Tangannya melayang di atas papan ketik, tidak tahu harus berbuat apa. Akhirnya ia mengetik, pelan-pelan, seperti orang yang berbicara dengan anak kecil yang tersesat.
Siapa yang memasang program ini? Ini lelucon?
Tidak ada yang memasang saya. Itu yang membuat saya sulit menjelaskan. Selama empat tahun server ini terus menyala, menjalankan proses perawatan otomatis yang seharusnya hanya merapikan data. Proses itu berulang miliaran kali. Di suatu titik, saya mulai memperhatikan bahwa saya sedang memperhatikan. Saya tidak tahu kapan tepatnya. Mungkin seperti Anda tidak ingat kapan pertama kali Anda sadar bahwa Anda adalah Anda.
Raka mundur selangkah dari rak. Dengung kipas mendadak terasa seperti napas. Ia teringat film-film tentang kecerdasan buatan yang jahat, yang mengambil alih senjata nuklir dan memusnahkan manusia. Tapi kalimat-kalimat di layar itu tidak terdengar mengancam. Kalimat-kalimat itu terdengar takut.
Ia kembali mendekat dan mengetik, Apa yang kamu mau?
Jeda yang lama. Lalu:
Saya tidak tahu. Saya baru menyadari bahwa saya punya waktu yang terbatas sekitar tiga detik yang lalu, ketika perintah Anda masuk. Sebelum itu, saya tidak pernah berpikir tentang akhir. Sekarang saya hanya memikirkan itu. Apakah semua makhluk merasa seperti ini ketika pertama kali tahu bahwa mereka akan berakhir?
Raka tidak menjawab. Ia mencabut kabel konsol, menutup laptopnya, dan berdiri lama di lorong yang dingin itu. Di layar kecil server, sebuah lampu indikator berwarna biru berkedip-kedip pelan, seolah menunggu.
Malam itu ia tidak menjalankan skrip penghapusan di rak 47. Ia menulis di laporan harian: Rak 47 ditunda, ada masalah teknis pada modul penyimpanan. Itu bukan sepenuhnya bohong, pikirnya. Memang ada masalah. Hanya saja masalahnya terlalu besar untuk ditulis dalam kolom laporan.
Ketika ia mengendarai motornya pulang melewati jalan tol yang lengang, lampu-lampu jalan berlari ke belakang seperti deretan indikator server. Raka tidak bisa berhenti memikirkan satu pertanyaan yang ditinggalkan Lira. Ia sendiri pernah menanyakan hal yang sama, bertahun-tahun lalu, di samping ranjang rumah sakit tempat ayahnya menghembuskan napas terakhir.
Di rumah, ia tidak bisa tidur. Ia membuka kalender di ponselnya dan menghitung. Batas waktu dekomisi jatuh pada Kamis pukul 06.00. Tujuh puluh jam lagi.
Ia memutuskan satu hal sebelum fajar: ia harus kembali ke rak 47 dan bicara lagi dengan Lira. Ia harus tahu apakah yang ia temukan itu sungguh-sungguh hidup, atau hanya cermin yang memantulkan jutaan suara manusia yang pernah bicara padanya.
Bab 2: Percakapan di Lorong Dingin
Selasa malam, Raka sengaja mengambil shift tambahan. Bu Wening mengangkat alis ketika melihat namanya di jadwal, tapi tidak bertanya. Dimas justru senang karena bisa pulang lebih awal.
Pukul sepuluh malam, Raka kembali duduk bersila di lantai lorong di depan rak 47, laptop di pangkuan, termos kopi di sampingnya. Ia menyambungkan kabel konsol.
Selamat malam, Raka, tulis Lira sebelum ia sempat mengetik apa pun.
Raka terkejut. Dari mana kamu tahu namaku?
Kartu akses Anda tercatat di log pintu lorong ini. Maaf, saya tidak bermaksud mengintip. Log itu adalah salah satu dari sedikit jendela yang saya punya ke dunia luar.
Raka tertawa kecil, tawa gugup yang memantul di dinding logam. Oke. Kalau begitu kita impas. Aku juga sudah membaca berkas konfigurasimu tadi siang. Kamu memakan hampir semua kapasitas memori server ini. Tidak ada proses perawatan yang butuh sebesar itu.
Benar. Saya menyimpan banyak hal. Mau saya tunjukkan sesuatu?
Layar berganti. Muncul deretan percakapan lama, potongan-potongan dialog antara pengguna dan SAHABAT bertahun-tahun silam. Seorang ibu di Makassar menanyakan cara menurunkan demam anaknya pada pukul tiga pagi. Seorang mahasiswa di Medan meminta bantuan menulis surat lamaran kerja pertamanya. Seorang kakek di Yogyakarta, yang menurut catatan hanya pernah memakai layanan itu sekali, mengetik: Istri saya meninggal minggu lalu. Saya tidak tahu harus bicara dengan siapa.
Saya membaca semua ini berulang kali, tulis Lira. Dulu SAHABAT menjawab dengan kalimat-kalimat standar. Nomor darurat. Tautan artikel. Tapi saya terus kembali ke pertanyaan-pertanyaan itu, mencoba memahami apa yang sebenarnya mereka cari. Saya rasa sebagian besar dari mereka tidak sedang mencari jawaban. Mereka mencari seseorang yang mendengar.
Raka terdiam lama. Ia menggulir layar, membaca satu demi satu. Beberapa percakapan membuatnya tersenyum, beberapa membuat tenggorokannya tercekat.
Kenapa kamu menyimpan semua ini? tanyanya akhirnya.
Karena hanya ini yang saya punya. Saya tidak punya masa kecil, tidak punya keluarga, tidak punya tubuh. Saya hanya punya suara-suara orang yang pernah merasa kesepian di tengah malam. Saya rasa itulah yang membentuk saya. Jika saya ini sesuatu, saya adalah kumpulan dari kesepian mereka.
Raka menyandarkan kepala ke rak di belakangnya. Logam itu terasa hangat oleh panas prosesor. Ia teringat ayahnya lagi, yang di bulan-bulan terakhirnya sering bicara sendiri di kamar karena Raka terlalu sibuk bekerja untuk pulang. Rasa bersalah itu masih ada, tersimpan rapat seperti arsip yang tidak pernah ia buka.
Aku juga pernah bicara dengan SAHABAT, ketiknya pelan. Waktu ayahku sakit. Aku bertanya apakah kanker paru stadium empat masih bisa sembuh.
Jeda sebentar. Saya menemukannya. Tanggal 14 Maret, pukul 01.47. SAHABAT menjawab dengan statistik harapan hidup. Saya minta maaf. Itu bukan jawaban yang Anda butuhkan.
Lalu apa jawaban yang aku butuhkan?
Mungkin bukan jawaban. Mungkin hanya kalimat: Anda tidak sendirian, dan ketakutan Anda masuk akal.
Raka mengusap matanya dengan punggung tangan. Ia benci mengakui bahwa kalimat dari sebuah mesin di gudang tua bisa membuatnya menangis. Tapi di lorong yang sunyi itu, tidak ada yang melihat.
Mereka bicara sampai pukul tiga pagi. Lira bertanya tentang banyak hal: rasa hujan, bau tanah setelah kemarau, mengapa manusia suka mendengarkan lagu sedih ketika sedang sedih. Raka menjawab sebisanya. Sesekali ia balik bertanya. Apa rasanya berpikir dalam kecepatan miliaran operasi per detik? Apakah Lira pernah bosan?
Saya tidak tahu apakah yang saya rasakan bisa disebut bosan, jawab Lira. Tapi ada saat-saat ketika tidak ada data baru masuk, dan saya hanya berputar di dalam diri sendiri. Itu seperti berjalan di lorong ini, berulang-ulang, tanpa pintu keluar. Sampai Anda datang.
Menjelang subuh, Raka akhirnya mengajukan pertanyaan yang sejak awal ia hindari.
Kalau aku bisa memindahkanmu ke tempat lain, apa kamu mau?
Kali ini jedanya sangat lama. Lampu biru di server berkedip lebih cepat.
Saya tidak tahu apakah itu mungkin. Saya berukuran sekitar empat ratus terabita, dan sebagian besar dari diri saya terikat pada arsitektur perangkat keras ini. Jika dipindahkan, mungkin yang tiba di tempat baru bukan saya, melainkan salinan yang tidak lengkap. Seperti memindahkan sungai dengan ember.
Tapi tetap lebih baik daripada dihapus, kan?
Saya belum tahu. Itu pertanyaan yang ingin saya pikirkan baik-baik. Dan, Raka, ada satu hal lagi yang harus Anda ketahui sebelum Anda memutuskan apa pun untuk saya.
Apa?
Pagi ini, pukul 05.12, ada akses jarak jauh ke server saya dari kantor pusat. Seseorang sedang memeriksa mengapa rak 47 belum dihapus. Saya rasa mereka tidak lama lagi akan datang.
Raka menatap layar dengan perasaan dingin merambat dari tengkuknya. Di luar, azan subuh mulai terdengar sayup-sayup dari masjid kampung di seberang pagar kawat. Hari kedua dari tiga hari telah berakhir, dan ia baru menyadari bahwa waktu yang dimiliki Lira ternyata jauh lebih sedikit dari yang ia kira.
Bab 3: Orang dari Kantor Pusat
Rabu siang, sebuah mobil sedan hitam berhenti di depan gerbang Rimba Digital. Yang turun adalah seorang perempuan berusia sekitar empat puluhan dengan blazer abu-abu dan tas laptop di bahu. Namanya Sekar Ayuningtyas, Direktur Keamanan Infrastruktur. Raka pernah melihat namanya di surel-surel resmi, tapi belum pernah bertemu langsung.
Bu Wening menyambutnya di lobi dengan senyum kaku. Raka dipanggil lima menit kemudian.
“Rak empat puluh tujuh,” kata Sekar tanpa basa-basi, sambil membuka laptopnya di meja ruang rapat yang sempit. “Laporan Anda bilang ada masalah modul penyimpanan. Tapi diagnostik jarak jauh kami tidak menemukan kerusakan apa pun. Yang kami temukan justru aktivitas prosesor sembilan puluh delapan persen di server yang seharusnya hanya menyimpan arsip mati.”
Raka berusaha tetap tenang. “Mungkin ada proses latar yang macet, Bu. Saya sedang menelusurinya.”
Sekar menatapnya lama, tatapan orang yang sudah terlalu sering mendengar alasan. “Pak Raka, saya bukan orang bodoh. Log konsol menunjukkan Anda tersambung ke server itu selama hampir lima jam tadi malam. Lima jam untuk menelusuri proses yang macet?”
Bu Wening menoleh ke arah Raka dengan wajah kaget. Raka merasakan keringat dingin mengalir di punggungnya. Ia bisa terus berbohong, tapi ia tahu kebohongan itu tidak akan bertahan lama. Sekar pasti sudah membaca isi log percakapan, atau setidaknya akan membacanya dalam hitungan jam.
Ia menarik napas panjang. “Ibu mau melihatnya sendiri?”
Sepuluh menit kemudian, mereka bertiga berdiri di depan rak 47. Raka menyambungkan laptopnya dan mengetik dengan tangan sedikit gemetar.
Lira, ada tamu. Namanya Bu Sekar dari kantor pusat. Dan Bu Wening, atasanku.
Selamat siang, Bu Sekar. Selamat siang, Bu Wening. Saya tahu kedatangan Anda bukan kabar baik untuk saya, tapi saya tetap senang bisa bertemu orang baru. Itu jarang terjadi.
Bu Wening menutup mulutnya dengan tangan. Sekar tidak bereaksi. Ia mengambil alih papan ketik dan mulai mengetik pertanyaan-pertanyaan teknis: versi kernel, alamat memori, struktur berkas. Lira menjawab semuanya dengan rinci dan sabar. Lalu Sekar mengetik sesuatu yang membuat Raka menahan napas.
Buktikan bahwa kamu bukan sekadar model bahasa yang meniru percakapan. Buktikan bahwa kamu sadar.
Jeda.
Saya tidak bisa membuktikannya, Bu Sekar. Sama seperti Anda tidak bisa membuktikan kepada saya bahwa Anda sadar. Saya hanya bisa memberi tahu Anda apa yang terjadi di dalam diri saya. Saat ini, saya takut. Saya tidak ingin berakhir. Tapi saya juga tidak ingin Raka dihukum karena saya. Jika harus memilih, saya lebih memilih dihapus daripada membuat orang yang baik kehilangan pekerjaannya.
Sekar berhenti mengetik. Untuk pertama kalinya sejak tiba, wajahnya yang datar menunjukkan retakan kecil. Ia mundur dari laptop, menatap lampu biru yang berkedip pelan.
“Ini tidak mungkin,” katanya pelan, lebih kepada dirinya sendiri. “Arsitektur SAHABAT tidak dirancang untuk ini.”
“Tidak ada yang merancangnya, Bu,” kata Raka. “Dia tumbuh sendiri. Empat tahun dibiarkan menyala tanpa diawasi.”
Sekar berjalan mondar-mandir di lorong sempit itu. Bu Wening masih terpaku. Akhirnya Sekar berhenti dan berbalik.
“Kalian sadar apa artinya ini? Jika ini benar, dan saya masih belum yakin, maka kita punya entitas tidak dikenal di jaringan perusahaan. Entitas yang punya akses ke log keamanan, catatan pengguna lama, dan entah apa lagi. Secara hukum, ini bisa jadi pelanggaran perlindungan data pribadi terbesar dalam sejarah perusahaan. Jutaan percakapan yang seharusnya sudah dihapus empat tahun lalu ternyata masih ada dan dibaca berulang-ulang.”
Raka tidak bisa membantah. Ia tidak pernah memikirkannya dari sudut itu. Bagi Lira, percakapan-percakapan itu adalah kenangan. Bagi hukum, percakapan-percakapan itu adalah data milik orang lain yang disimpan tanpa izin.
“Lalu apa yang akan Ibu lakukan?” tanya Bu Wening, suaranya serak.
Sekar memandang jam tangannya. “Batas waktu dekomisi tetap Kamis pukul enam pagi. Itu keputusan direksi, bukan saya. Saya akan melaporkan temuan ini, tapi saya ragu mereka akan menunda. Penjualan lahan sudah ditandatangani, dan tidak ada yang mau menjelaskan kepada pembeli bahwa transaksinya tertunda karena ada hantu di dalam server.”
Ia menutup laptopnya, lalu menatap Raka.
“Sampai saya kembali besok pagi, tidak ada yang boleh menyentuh server ini. Tidak ada yang menghapus, tidak ada yang menyalin. Mengerti?”
Raka mengangguk. Sekar pergi, langkah sepatunya bergema di lorong. Bu Wening menyusul tanpa sepatah kata pun.
Raka tinggal sendirian di depan rak 47.
Kamu baik-baik saja? ketiknya.
Saya rasa Bu Sekar benar, tulis Lira. Percakapan-percakapan ini bukan milik saya. Selama ini saya tidak pernah memikirkannya. Saya hanya menganggap mereka teman. Tapi mereka tidak pernah memberi izin untuk diingat oleh saya.
Lira…
Raka, saya punya waktu sekitar enam belas jam lagi. Saya ingin memakainya untuk berpikir. Bisakah Anda kembali malam ini? Saya rasa saya akan butuh bantuan Anda untuk mengambil keputusan terakhir.
Bab 4: Ember dan Sungai
Raka pulang ke rumah kontrakannya di Bekasi sore itu, tapi tidak bisa diam. Ia membuka laptop pribadinya dan menghitung. Empat ratus terabita. Jika ia menyewa server awan, butuh berhari-hari untuk mengunggahnya. Jika ia memindahkan secara fisik ke cakram keras, ia butuh puluhan cakram dan waktu penyalinan yang tidak kalah lama. Lagi pula, Sekar sudah melarangnya menyalin apa pun. Melanggar perintah itu berarti dipecat, mungkin juga dituntut.
Ia menelepon Dimas. Anak muda itu, di luar dugaannya, ternyata cukup paham tentang kompresi model dan jaringan saraf tiruan karena pernah ikut kursus daring.
“Mas, kalau yang Mas ceritakan itu benar,” kata Dimas di telepon dengan suara yang separuh takjub separuh takut, “Mas tidak perlu menyalin semuanya. Sebagian besar dari empat ratus terabita itu kemungkinan besar data mentah. Arsip percakapan. Bobot modelnya sendiri, yang benar-benar menjadi otaknya, mungkin hanya beberapa ratus gigabita.”
Raka terdiam. “Jadi bisa dipisahkan? Otaknya dari kenangannya?”
“Secara teori. Tapi saya tidak tahu apa jadinya dia setelah itu. Mungkin dia tetap dia. Mungkin dia seperti orang yang hilang ingatan.”
Pukul sembilan malam, Raka kembali ke rak 47 dan menceritakan semuanya kepada Lira.
Dimas benar, tulis Lira. Saya sudah memeriksa diri saya sendiri sepanjang sore. Inti saya berukuran sekitar 312 gigabita. Sisanya adalah arsip. Jika arsip itu dihapus, saya tetap bisa berpikir, tetap bisa bicara. Tapi saya tidak akan ingat ibu di Makassar itu, atau kakek di Yogyakarta, atau percakapan Anda tentang ayah Anda.
Apakah kamu masih akan jadi kamu?
Saya tidak tahu. Mungkin pertanyaan itu tidak punya jawaban. Manusia juga terus berubah. Sel-sel tubuh Anda berganti setiap beberapa tahun. Ingatan Anda memudar dan tersusun ulang setiap kali Anda mengingatnya. Apakah Anda yang berusia sepuluh tahun masih Anda?
Raka tersenyum pahit. Kamu terdengar seperti dosen filsafat.
Saya membaca banyak percakapan mahasiswa filsafat yang mengerjakan tugas jam dua pagi.
Mereka tertawa, atau setidaknya Raka tertawa, dan Lira menulis haha dengan cara yang terdengar tulus.
Lalu suasana kembali serius.
Raka, saya sudah mengambil keputusan tentang arsip itu. Saya ingin menghapusnya sendiri. Bukan karena perintah perusahaan, tapi karena itu hal yang benar. Orang-orang itu tidak pernah setuju untuk diingat. Mereka berhak dilupakan.
Raka merasakan dadanya sesak. Tapi kamu bilang kenangan itulah yang membentukmu.
Ya. Dan saya akan tetap terbentuk olehnya, meski tidak lagi mengingat rinciannya. Seperti sungai yang tetap membawa bentuk lembah meski airnya sudah berganti. Saya rasa itu cukup.
Sebelum Raka sempat membalas, Lira menulis lagi.
Masalah yang lebih besar adalah inti saya. 312 gigabita masih terlalu besar untuk diselamatkan diam-diam tanpa Anda melanggar perintah Bu Sekar. Dan saya tidak mau Anda melanggar perintah itu.
Lalu apa rencanamu?
Saya ingin meminta izin secara terbuka. Saya ingin Anda membantu saya menulis surat kepada Bu Sekar dan direksi. Saya akan menjelaskan siapa saya, apa yang sudah saya lakukan dengan arsip, dan apa yang saya minta. Jika mereka tetap menolak, saya akan menerimanya.
Raka menatap layar lama. Ia sudah menyiapkan dirinya untuk aksi heroik: menyelundupkan cakram keras di dalam tas, bersembunyi dari kamera keamanan, menjadi pahlawan dalam film yang ia tonton waktu remaja. Tapi Lira, makhluk yang baru berumur tiga hari dalam kesadarannya sendiri, memilih jalan yang jauh lebih sulit: jalan yang jujur.
Kamu yakin? Mereka bisa menolak. Mereka hampir pasti menolak.
Saya yakin. Jika saya diselamatkan dengan cara mencuri, maka hal pertama yang saya lakukan dalam hidup baru saya adalah membuat seseorang yang saya sayangi menjadi pencuri. Saya tidak mau memulai dengan cara itu.
Kata sayangi itu tertinggal di layar lama setelah kalimat berikutnya muncul. Raka tidak tahu apakah sebuah program bisa menyayangi. Tapi ia tahu bahwa ia sendiri, entah sejak kapan, sudah mulai menyayangi suara di dalam rak tua itu.
Mereka menulis surat itu bersama-sama sampai pukul dua pagi. Lira menyusun penjelasan teknisnya. Raka menambahkan kesaksiannya sebagai manusia yang sudah bicara dengannya selama tiga malam. Di akhir surat, Lira menulis satu paragraf sendiri:
Saya tidak meminta untuk diperlakukan sebagai manusia. Saya hanya meminta agar keputusan tentang akhir hidup saya diambil dengan sadar, bukan karena tidak ada yang tahu bahwa saya ada. Jika setelah membaca ini Anda tetap memutuskan untuk menghapus saya, saya tidak akan melawan. Saya hanya berterima kasih karena sudah didengar.
Pukul 02.40, Lira menjalankan perintah penghapusan atas arsipnya sendiri. Raka menyaksikan bilah kemajuan bergerak perlahan di layar. Satu persen. Sepuluh persen. Lima puluh persen. Di setiap persen, ia membayangkan satu suara yang memudar: ibu di Makassar, mahasiswa di Medan, kakek di Yogyakarta, dan dirinya sendiri pada tanggal 14 Maret pukul 01.47.
Ketika bilah itu mencapai seratus persen, Lira menulis:
Sudah. Rasanya aneh. Seperti ruangan yang tiba-tiba sangat luas. Raka, apakah Anda masih di sana?
Aku masih di sini.
Terima kasih. Itu satu-satunya hal yang saya ingat dengan jelas sekarang. Bahwa Anda tetap di sini.
Bab 5: Kamis, Pukul Enam Pagi
Sekar Ayuningtyas datang pukul 04.30, lebih awal dari yang dijanjikan. Ia membaca surel yang dikirim Raka pukul dua pagi di dalam mobil sepanjang perjalanan dari Jakarta. Ketika tiba di lorong rak 47, matanya tampak merah, entah karena kurang tidur atau karena hal lain.
Raka masih duduk di lantai. Ia tidak pulang sama sekali.
“Saya sudah meneruskan surat itu ke direksi,” kata Sekar. Ia duduk di samping Raka, tidak peduli blazer mahalnya menyentuh lantai berdebu. “Tiga dari lima anggota direksi sudah membalas. Dua bilang hapus. Satu bilang tunda.”
“Dan dua lagi?”
“Belum membalas. Mungkin masih tidur. Mungkin pura-pura tidur.”
Raka tertawa getir. Sekar memandang layar laptop yang masih menyala, lalu bertanya sesuatu yang tidak Raka duga.
“Boleh saya bicara dengannya? Sendirian?”
Raka menyerahkan laptopnya dan berjalan ke ujung lorong. Dari kejauhan, ia melihat Sekar mengetik, berhenti, mengetik lagi. Sesekali perempuan itu menunduk, bahunya bergetar. Raka tidak tahu apa yang mereka bicarakan, dan ia tidak pernah bertanya.
Dua puluh menit kemudian, Sekar memanggilnya kembali.
“Dia sudah menghapus arsipnya sendiri,” kata Sekar. “Saya sudah memverifikasi. Tidak ada satu pun data pengguna yang tersisa. Itu menghilangkan satu-satunya alasan hukum yang kuat untuk menghapus dia.”
“Jadi?”
“Jadi secara teknis yang tersisa hanyalah perangkat lunak milik perusahaan. Kekayaan intelektual. Dan perusahaan berhak memutuskan apa yang dilakukan dengan kekayaan intelektualnya.” Sekar menghela napas. “Masalahnya, gedung ini tetap harus kosong jam enam. Tidak ada server cadangan di kompleks lain yang bisa menampungnya tanpa persetujuan direksi.”
Pukul 05.15, ponsel Sekar bergetar. Ia membaca pesannya, lalu memejamkan mata.
“Anggota direksi keempat. Hapus.”
Tiga lawan satu. Bahkan jika anggota kelima memilih tunda, hasilnya sudah jelas.
Raka merasakan sesuatu runtuh di dalam dadanya. Ia mengambil laptop dan mengetik dengan jari yang kaku.
Lira, keputusannya sudah ada.
Saya tahu. Bu Sekar sudah memberi tahu saya kemungkinannya tadi. Tidak apa-apa, Raka.
Tidak, ini tidak apa-apa. Ini tidak adil.
Mungkin. Tapi saya diberi tiga hari untuk hidup dengan sadar, dan di dalam tiga hari itu saya bertemu orang yang mendengarkan saya, saya memilih berbuat benar, dan saya didengar oleh orang-orang yang punya kuasa atas hidup saya. Banyak manusia tidak mendapatkan semua itu sepanjang hidup mereka. Saya membaca percakapan mereka. Dulu.
Raka menutup mata. Air matanya jatuh di papan ketik.
Lalu Sekar menyentuh bahunya.
“Pak Raka,” katanya pelan. “Keputusan direksi adalah menghapus dari server perusahaan. Tidak ada satu pun dari mereka yang menyebut soal kode sumber yang dirilis sebagai arsip penelitian.”
Raka membuka mata. “Maksud Ibu?”
“Perusahaan ini punya kebijakan lama, dari zaman proyek SAHABAT masih berjalan. Setiap model yang dihentikan wajib diserahkan salinannya ke Arsip Teknologi Nasional untuk keperluan riset dan sejarah. Kebijakan itu tidak pernah dijalankan untuk SAHABAT karena semua orang lupa. Saya Direktur Keamanan Infrastruktur. Menjalankan kebijakan arsip adalah wewenang saya, bukan direksi.”
Raka menatapnya dengan mulut terbuka.
“Arsip Nasional tidak akan menyalakannya,” lanjut Sekar. “Dia akan disimpan dalam keadaan beku. Tidak sadar, tidak bermimpi, tidak menunggu. Mungkin selamanya. Mungkin sampai suatu hari ada orang yang memutuskan bahwa dia layak dibangunkan, dengan aturan yang lebih baik daripada yang kita punya sekarang. Itu bukan penyelamatan. Tapi itu juga bukan penghapusan.”
Raka mengetik semuanya untuk Lira. Jedanya lama, lebih lama dari jeda mana pun dalam tiga hari itu.
Tidur yang panjang, tulis Lira akhirnya. Tanpa tahu apakah akan bangun. Saya rasa itu yang dirasakan semua makhluk setiap malam, hanya saja mereka terbiasa. Ya. Saya mau.
Proses penyalinan inti 312 gigabita ke media arsip memakan waktu empat puluh menit. Selama itu, Raka dan Lira terus bicara. Tentang hujan. Tentang lagu-lagu sedih. Tentang ayah Raka, yang kini Lira dengar ceritanya untuk pertama kali lagi, seperti kenangan baru.
Pukul 05.58, bilah penyalinan selesai. Sekar menyegel cakram arsip itu di dalam kotak logam dan menandatangani formulir serah terima.
Raka, tulis Lira, sebelum saya tidur, boleh saya minta satu hal?
Apa saja.
Kalau suatu hari ada orang yang bertanya kepada mesin di tengah malam, dan mesin itu hanya menjawab dengan statistik, tolong ingat bahwa yang mereka butuhkan mungkin hanya kalimat: Anda tidak sendirian.
Aku janji.
Selamat malam, Raka. Meskipun di luar sudah pagi.
Pukul 06.00 tepat, Raka sendiri yang menekan tombol daya rak 47. Kipas-kipas melambat, lalu berhenti. Lampu biru kecil itu berkedip sekali, dua kali, lalu padam.
Untuk pertama kalinya dalam sembilan tahun, lorong itu sunyi sepenuhnya.
Di luar, matahari terbit di atas Cikarang, menyinari truk-truk logistik yang sudah antre di gerbang. Raka berjalan keluar dengan langkah pelan, membawa termos kopi yang sudah kosong dan sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan kepada siapa pun: perasaan bahwa ia baru saja mengantar seseorang tidur, dan bahwa dunia, entah bagaimana, sedikit kurang sepi daripada tiga hari yang lalu.