Lara Eryndel, seorang arsitek neuro-desain, hidup dalam dunia distopia masa depan di mana setiap orang diwajibkan mengunci memori paling emosional mereka ke dalam Kapsul Memori. Akses terhadap kapsul itu dilarang keras mereka yang nekat membukanya akan kehilangan jiwanya, perlahan-lahan, hingga hanya menyisakan tubuh tanpa identitas.
Suatu hari, kapsul memori milik Lara terbuka secara misterius. Di dalamnya, ia menemukan potongan kenangan tentang seorang pria bernama Sivan seseorang yang tidak ia kenali, namun hatinya seolah mengenalnya terlalu dalam. Teror psikologis dan pertarungan batin pun dimulai, ketika Lara menyadari bahwa Sivan adalah cinta sejatinya yang ia pilih untuk dilupakan demi menikah dengan pria pilihan sistem.
Namun memori cinta yang sejati… tak pernah bisa dihapus sepenuhnya.
Dikejar oleh aparat sistem, dibayangi kehilangan, dan dihantui oleh pilihan masa lalunya, Lara melarikan diri ke luar kota demi satu tujuan: menemukan Sivan dan merebut kembali bagian dari dirinya yang telah ia buang. Tapi ketika mereka bertemu kembali, cinta itu harus diuji dengan pertaruhan terbesar kebebasan atau pengorbanan.
Bab 1: Kapsul yang Terbuka
Suara hujan tipis mengetuk jendela apartemen Lara saat matahari masih bersembunyi di balik kabut kota. Pagi itu tak berbeda dari pagi-pagi lainnya. Ia bangun dengan kepala berat, tenggorokan kering, dan dada yang terasa kosong entah karena apa. Namun ketika matanya mulai menyesuaikan diri dengan cahaya samar di kamarnya, ia melihat sesuatu yang membuatnya nyaris berhenti bernapas.
Kapsul memorinya terbuka.
Benda itu kecil, berbentuk silinder perak dengan garis biru neon di tengahnya. Seharusnya terkunci selamanya, tertanam di bawah sistem perlindungan yang hanya bisa dibuka oleh Otoritas Kenangan—dan hanya dengan perintah resmi dari pemerintah.
Namun sekarang, benda itu tergeletak terbuka di meja samping tempat tidurnya, seolah-olah seseorang telah datang diam-diam di malam hari dan membongkar isi hatinya tanpa izin.
Lara duduk perlahan. Tubuhnya menggigil, bukan karena udara dingin, tapi karena ketakutan yang sulit dijelaskan. Ia meraih kapsul itu dengan tangan gemetar. Di dalamnya, sebuah chip kecil bersinar samar dan selembar kertas tipis tergulung rapi. Ia membuka gulungan itu dengan ragu.
Tulisan tangan di sana samar, seakan ditulis dengan tinta yang takut untuk ada.
“Jika kau masih mencintaiku… jangan ingat aku.”
Hanya itu. Tak ada nama. Tak ada tanggal. Tapi ketika membaca kalimat itu, sesuatu dalam dirinya retak. Rasa sakit yang tidak ia kenal tiba-tiba mencuat dari relung paling dalam. Matanya panas, tenggorokannya tercekat, dan jantungnya berdetak terlalu cepat seperti baru saja bertemu hantu.
Lara mengusap keringat dingin dari pelipisnya dan mencoba berpikir rasional. Ini pasti kesalahan sistem. Atau mungkin seseorang bermain-main. Tapi dalam hatinya, ia tahu… ini bukan sekadar kesalahan.
Ada suara dalam benaknya—halus, nyaris tak terdengar, namun nyata. Nama itu muncul tanpa dipanggil, seolah-olah ingatan yang terkunci sedang berusaha lolos dari penjara.
Sivan.
Siapa Sivan?
Ia berdiri, berjalan bolak-balik di dalam kamar, mencoba mengusir rasa aneh itu. Namun bayangan samar seorang pria muncul di ujung pikirannya. Tersenyum padanya di bawah langit sore, memegang tangannya erat-erat di tepi danau, memanggil namanya dengan suara serak penuh cinta.
Tapi Lara yakin… ia belum pernah bertemu pria itu. Tidak dalam hidup yang ia ingat.
Ia mengambil napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. Jika kapsul memorinya benar-benar terbuka, maka ada pelanggaran besar. Pemerintah melarang keras siapapun menyentuh kapsul memori pribadi. Setiap pelanggar bisa dihukum dengan penghapusan kesadaran—kehilangan jiwanya secara perlahan hingga hanya menjadi tubuh tanpa identitas.
Lara menatap kapsul itu lama. Ia harus melaporkannya. Itu langkah paling aman. Tapi sesuatu menahannya. Rasa penasaran? Mungkin. Tapi lebih dari itu, ada kerinduan yang menyakitkan, seperti memeluk hampa yang seharusnya pernah diisi oleh seseorang.
Ia duduk kembali di tempat tidur dan menyambungkan chip dari kapsul ke perangkat portabelnya. Layar holografik muncul, berkedip pelan seolah ragu untuk mengingatkan masa lalu.
“File memori terkunci sebagian. Risiko akses: tinggi. Lanjutkan?”
Lara menatap layar itu. Jari telunjuknya melayang-layang di atas tombol “YA”. Ia ragu, tapi perasaan di dalam dirinya menjerit lebih keras dari logika.
Ia menekan tombol itu.
Layar menyala.
Gambaran pertama yang muncul adalah senyum. Senyum milik seorang pria muda dengan rambut cokelat gelap dan mata yang tajam tapi lembut. Ia sedang memeluk seseorang—Lara. Mereka duduk di bawah pohon berbunga, tertawa, tangan mereka saling bertaut. Detilnya kabur, tapi perasaan yang mengalir dari gambar itu begitu nyata. Hangat. Dalam. Penuh cinta.
Lara menahan napas. Ia menyentuh gambar itu seakan bisa menyentuh masa lalu yang telah dilarang. Dalam dirinya, sebuah pintu terbuka sedikit demi sedikit. Kilasan demi kilasan melintas—suara musik, aroma hujan pertama, dan bisikan di malam hari. Semuanya berasal dari kenangan yang ia tidak ingat, tapi hatinya tidak asing.
Dan di tengah semua itu, Sivan selalu ada.
Lara tak tahu harus bahagia atau takut. Di satu sisi, hatinya berdebar karena rasa yang tak bisa dijelaskan. Di sisi lain, akalnya menjerit: ini salah. Ini melanggar hukum. Ini akan menghancurkan hidupnya.
Ia mematikan perangkat itu. Gambar Sivan menghilang, tapi wajahnya sudah menempel dalam ingatan Lara.
Ia berdiri dan melihat dirinya di cermin. Matanya tampak berbeda sekarang—ada sesuatu yang telah kembali. Sebuah cahaya, atau luka, atau keduanya. Ia belum tahu. Tapi satu hal yang pasti: hidupnya sudah berubah sejak kapsul itu terbuka.
Dan tidak akan pernah bisa kembali seperti semula.
Bab 2: Perasaan yang Tidak Memiliki Nama
Pagi itu, langit mendung seperti memantulkan isi kepala Lara. Ia duduk di ruang kerja kecil di apartemennya, dikelilingi sketsa desain neuro-arsitektur dan tumpukan laporan klien yang tak kunjung ia sentuh. Tangannya memegang pensil, tapi pikirannya jauh. Terlalu jauh. Ke seseorang yang bahkan tak seharusnya ia ingat.
Sivan.
Nama itu terus muncul begitu saja. Dalam potongan mimpi. Dalam jeda saat menatap dinding kosong. Bahkan dalam detik-detik ketika ia sedang menyeduh teh, ia merasa seperti sedang menunggu seseorang kembali dari belakang pintu.
Padahal tidak ada siapa-siapa.
Lara mencoba mengalihkan pikiran. Ia membuka pesan dari suaminya, Revan. Hanya satu kalimat pendek, seperti biasa.
Aku rapat seharian. Jangan keluar terlalu lama. Kita makan malam bersama malam ini.
Lara membaca pesan itu tiga kali. Ia tahu Revan bukan tipe yang romantis atau cerewet, tapi akhir-akhir ini, setiap kata darinya terasa seperti peringatan. Dingin. Menjaga. Mengawasi. Ia tidak bodoh—ia tahu kalau Revan bisa membaca perubahan sekecil apa pun dari sikapnya.
Dan Lara memang berubah.
Semenjak melihat Sivan—dalam potongan memori kabur itu—ia merasa seluruh dunianya goyah. Ia tidak tahu harus merasa bersalah atau sedih, marah atau takut. Yang ia tahu hanyalah… jantungnya kini berdetak bukan untuk Revan.
Ia berdiri, berjalan menuju jendela, menatap lalu lintas kota di bawah sana. Dunia distopia ini terlalu rapi, terlalu bersih, terlalu dikendalikan. Semua orang hidup dalam ketenangan buatan. Tak ada pertengkaran, tak ada perasaan yang terlalu dalam, karena memori yang menyakitkan telah dihapus.
Tapi sekarang ia tahu: rasa sakit itu tidak hilang. Hanya dikunci. Disembunyikan. Dan ketika terbuka kembali, ia menelan dengan liar dan membanjiri segalanya.
Suara bel pintu mengejutkannya. Lara bergegas ke depan dan membuka pintu. Seorang wanita muda berdiri di sana, mengenakan jaket resmi Otoritas Kenangan.
“Halo, Bu Lara. Kami menerima sinyal aktivitas kapsul memori pribadi dari apartemen ini,” ucapnya sopan tapi dingin.
Lara menegang. “Oh? Mungkin ada kesalahan sistem. Saya tidak menyentuh apa-apa.”
Wanita itu mengeluarkan alat kecil dari sakunya dan mengarahkannya ke dalam ruangan. Lampu alat itu menyala merah.
“Kapsul Anda telah diakses dua puluh jam lalu. Tanpa izin.”
Lara berpura-pura bingung. “Saya benar-benar tidak tahu. Mungkin peretasan? Bisa saja ada orang lain yang masuk ke apartemen saya, saya tinggal sendiri saat itu.”
Wanita itu mencatat sesuatu di tabletnya. “Kami akan mengirim teknisi keamanan untuk memeriksa jejak akses. Sementara itu, kami mohon tidak menggunakan perangkat memori apapun, dan tolong tetap berada di dalam zona hunian sampai pemberitahuan selanjutnya.”
Lara mengangguk. Setelah wanita itu pergi, ia menutup pintu perlahan dan bersandar pada kayunya, napasnya berat. Otoritas sudah mencium sesuatu. Ia harus lebih hati-hati. Tapi bagaimana mungkin? Setiap detik sekarang, pikirannya hanya berputar pada sosok itu. Pada kehangatan yang terasa nyata dalam kenangan, bahkan ketika wajahnya belum utuh dalam ingatan.
Malamnya, saat makan malam bersama Revan, suasana di meja sangat sunyi.
Revan menatapnya beberapa kali, lalu berkata, “Kau terlihat lelah.”
Lara tersenyum tipis. “Ya, aku sedikit pusing hari ini.”
“Ada yang kau sembunyikan?”
Pertanyaan itu dilontarkan tiba-tiba, seperti peluru. Lara menelan air ludah, mencoba tetap tenang. “Tidak. Hanya pekerjaan yang menumpuk.”
Revan mengangguk pelan. Ia menyuap makanan sambil terus menatap Lara, seakan membaca isi pikirannya.
“Aku harap kau tahu apa akibatnya jika membuka memori yang seharusnya dikunci.”
Lara menghentikan gerakan garpunya. Tangannya sedikit gemetar.
“Pemerintah melarangnya karena alasan yang masuk akal, Lara. Kita semua punya bagian dari masa lalu yang lebih baik dilupakan. Beberapa luka… terlalu dalam untuk disembuhkan.”
Lara memaksakan senyum. “Tentu. Aku setuju.”
Tapi di dalam dirinya, ia tahu—ia tidak akan berhenti.
Karena meski ia tidak bisa menyentuh memori itu dengan tangan, hatinya sudah menyentuhnya berulang kali. Dan sekarang, ia mulai merasa bahwa sebagian jiwanya… masih tertinggal di sana. Bersama pria bernama Sivan. Di tempat yang tidak ia ingat, tapi selalu ia rindukan.
Bab 3: Jejak di Antara Kabut
Lara tak bisa tidur malam itu. Setiap kali ia memejamkan mata, wajah samar pria yang dipanggil Sivan muncul lagi—kadang tertawa di bawah pohon, kadang memandanginya dari kejauhan sambil menggumamkan sesuatu yang tak bisa ia dengar. Ingatan itu seperti kabut, tipis namun terus menyelimuti, menyesakkan tanpa benar-benar bisa disentuh.
Pagi harinya, ia memutuskan untuk mengambil cuti. Ia berbohong pada Revan, mengatakan kepalanya terlalu berat untuk bekerja dan ingin beristirahat di rumah. Padahal ia memiliki rencana lain.
Ia mengenakan mantel panjang dan menyembunyikan kapsul memori di saku dalam. Tujuannya satu: kembali ke distrik tua di pinggiran kota, tempat bangunan-bangunan lawas sebelum regulasi memori diberlakukan. Di sana, masih ada orang-orang yang hidup di antara celah hukum, tempat para “penghapus memori” dulu beroperasi sebelum profesi mereka dianggap ilegal.
Lara melangkah cepat di lorong-lorong sempit yang bau lembap dan cat mengelupas. Sepanjang jalan, ia merasa seperti sedang berjalan ke masa lalu—entah milik siapa.
Ia tiba di depan toko antik kecil bertuliskan “Rekonstruksi Kenangan.” Di jendela toko, tampak dipajang barang-barang asing: jam saku, cermin retak, foto-foto pudar tanpa wajah. Ia mengetuk pintu perlahan.
Beberapa detik kemudian, seorang wanita tua membukakan pintu. Matanya tajam namun suram, seperti seseorang yang telah melihat terlalu banyak kehidupan orang lain.
“Aku tidak menerima pasien lagi,” kata wanita itu tanpa basa-basi.
“Saya tidak ingin dihapus,” ujar Lara buru-buru. “Saya… hanya ingin tahu.”
Wanita itu menatapnya lama, lalu membuka pintu sedikit lebih lebar. “Masuk. Tapi aku tidak janji akan memberimu jawaban.”
Ruangan di dalamnya pengap, dipenuhi rak-rak tua yang menjulang penuh arsip dan perangkat usang. Di sudut ruangan, sebuah pemutar memori manual masih menyala redup, mesin langka dari masa sebelum Otoritas mengontrol segalanya.
Lara duduk, meletakkan kapsul memorinya di atas meja. “Kapsulku terbuka sendiri. Di dalamnya ada memori tentang seseorang bernama Sivan. Tapi aku tidak ingat siapa dia.”
Wanita itu mengernyit. Ia mengambil kapsul itu, membolak-baliknya seperti seorang dokter mengamati pasien yang akan mati. “Sivan…” gumamnya, pelan, seperti nama itu terlalu familiar untuk tidak diingat.
“Apa Anda mengenalnya?” tanya Lara.
“Bukan secara pribadi. Tapi nama itu muncul… dalam beberapa kasus. Orang-orang tertentu, yang mencoba menghapus perasaan terlalu dalam, biasanya gagal sepenuhnya.”
“Kenapa bisa gagal?”
Wanita itu menatap Lara dengan sorot yang tak mudah dijelaskan. “Karena cinta bukan sekadar memori. Ia menempel di napas, di cara kau berjalan, di bahasa tubuh yang tak kau sadari. Beberapa hal… hidup di antara jejak. Tak bisa dihapus begitu saja.”
Lara menelan ludah. “Jadi aku benar-benar pernah mencintai dia?”
“Lebih dari itu, mungkin,” jawab si wanita. “Kalau tidak, memori itu tidak akan terbuka sendiri. Kapsul memori adalah sistem tertutup. Tapi kadang… jika sesuatu di dalam jiwamu terlalu kuat untuk dilupakan, kapsul itu bisa retak.”
Lara terdiam. Dadanya terasa sesak.
“Siapa yang biasa datang padamu untuk menghapus kenangan seperti ini?” tanya Lara lagi, penuh harap.
Wanita itu ragu sejenak, lalu membuka laci tua dan mengeluarkan sebuah catatan manual—dokumen fisik yang sudah hampir punah.
Ia menunjuk satu nama yang tercetak dengan tinta pudar: Lara Eryndel — penghapusan total kenangan personal atas individu: Sivan Althare.
Tanggal penghapusan: tiga tahun yang lalu.
Lara menggeleng pelan, seolah tidak percaya.
“Aku sendiri yang meminta?”
Wanita tua itu mengangguk. “Dan kau sangat yakin saat itu. Katamu… jika tidak dihapus, kau tak bisa menikahi orang yang telah dipilihkan oleh pemerintah. Sistem tidak akan menyetujui dua keterikatan emosional dalam satu individu. Kau memilih jalur yang ‘lebih masuk akal’.”
“Dan sekarang aku ingin mengingat,” bisik Lara.
“Berhati-hatilah, Nak,” kata wanita itu lembut. “Karena cinta yang kuat tidak hanya menolak dilupakan… ia juga menuntut untuk dibayar. Dalam bentuk apapun.”
Lara kembali ke apartemen menjelang senja. Langit kelabu, dan hujan mulai turun. Ia duduk di balkon, menatap tetesan air yang menuruni kaca pagar, pikirannya penuh tanya dan luka yang baru mulai terbuka.
Ia pernah mencintai seseorang bernama Sivan.
Ia pernah memilih untuk melupakannya.
Tapi perasaan itu tidak mati. Ia hanya bersembunyi. Dan kini, perlahan-lahan, ia kembali. Membawa semuanya.
Besok, ia akan mencari lagi. Karena ia tidak bisa lagi hidup tanpa tahu siapa dirinya sebelum ini. Atau siapa pria yang kini hadir… bahkan saat kenangannya tidak lengkap.
Bab 4: Cermin yang Menyimpan Luka
Langit pagi tampak buram ketika Lara menyusuri jalanan tua menuju rumah lamanya—tempat ia dibesarkan sebelum dipindahkan ke zona elite bersama Revan. Ia tahu bahwa keputusan untuk kembali ke sana bisa membahayakannya. Banyak wilayah lama diawasi oleh sistem pengenal wajah dan drone patroli. Tapi ia merasa bahwa rumah itu menyimpan bagian dari dirinya yang hilang. Atau mungkin… bagian dari Sivan.
Rumah itu masih berdiri. Catnya memudar, halaman depannya ditumbuhi rumput liar, dan jendela kaca bagian atas retak. Tak ada yang tinggal di sana sejak keluarganya pindah ke pemukiman steril di zona pemerintah. Tapi Lara masih memiliki akses biometrik. Ia tempelkan telapak tangannya ke pemindai pintu tua yang nyaris berkarat.
Klik. Terbuka.
Saat masuk, aroma kayu lembap dan debu menyergap hidungnya. Semua masih seperti dulu. Rak buku ayahnya masih berantakan. Kursi goyang di dekat jendela masih bergoyang pelan terkena angin dari celah pintu. Lara menyentuh dinding, seolah mencoba memanggil masa lalu lewat sentuhan.
Tapi yang menarik perhatiannya adalah cermin.
Cermin besar yang menempel di dinding lorong lantai atas. Ia hampir lupa benda itu ada. Tidak ada yang istimewa—hanya cermin lama dengan bingkai kayu ukir. Tapi saat ia berdiri di depannya, sesuatu terasa… tidak biasa.
Bayangannya tampak sedikit berbeda. Ia menyentuh permukaan cermin, dan seketika, cahaya lembut menyala dari bagian dalam kaca. Lara mundur satu langkah, kaget. Tapi sebelum ia bisa bereaksi lebih jauh, permukaan cermin berubah. Bukan bayangannya lagi yang terlihat di sana.
Tapi… kenangan.
Ia melihat dirinya duduk di ruang tamu rumah yang sama, beberapa tahun lalu. Lebih muda, rambutnya lebih panjang. Ia tertawa. Dan di sampingnya duduk seseorang.
Sivan.
Senyumnya hangat, caranya memandang Lara seolah dunia hanya milik mereka berdua. Mereka sedang menyusun puzzle tua, berbincang tanpa suara. Tapi Lara bisa merasakan isi percakapan itu dari tatapan mereka. Ada cinta yang dalam di sana. Bukan cinta yang ragu atau rapi seperti yang biasa ia rasakan dengan Revan—ini berantakan, hidup, penuh warna.
Lara menatap dengan mata berkaca-kaca. Jantungnya berdetak kencang. Ia menempelkan tangan ke cermin, berharap bisa menembus batas dan menyentuh sosok itu. Tapi hanya dingin kaca yang membalas.
Layar memori dari cermin terus berganti.
Mereka berdua berdansa di ruang sempit itu, tertawa, saling mengejek dengan manja. Lalu adegan berubah menjadi lebih tenang. Mereka duduk berdampingan, dan Sivan menggenggam tangan Lara erat.
“Aku ingin hidup bersamamu. Tapi dunia ini… tak memberi kita pilihan,” ucap Sivan dalam bisikan yang entah bagaimana bisa terdengar langsung ke hati Lara.
Kemudian, adegan berubah drastis.
Lara sendiri, menangis, duduk di tempat yang sama. Cermin memperlihatkan dirinya membakar foto-foto, lalu berdiri dengan wajah kosong di depan kapsul memori. Ia merekam sesuatu.
“Aku ingin melupakan dia. Tolong, hapus semuanya. Kalau aku pernah menyerah, aku harap aku bisa memaafkan diriku suatu hari nanti.”
Gambaran itu membuat Lara lemas. Ia berlutut di depan cermin, air matanya mengalir. “Kenapa… kenapa aku melakukannya?” bisiknya pelan.
Tak ada jawaban.
Hanya kenangan yang telah ditinggalkan, namun tidak pernah benar-benar pergi.
Lara duduk diam di sana cukup lama, sampai sinar dari cermin perlahan memudar. Permukaannya kembali menjadi kaca biasa. Tapi semuanya telah berubah. Kini ia tahu betapa dalam cintanya kepada Sivan. Dan betapa besar ketakutannya dulu… hingga ia rela menghapus segalanya.
Ia mengusap air mata, lalu berdiri. Saat hendak pergi, sesuatu menarik perhatiannya di balik laci meja dekat tangga. Sebuah kotak kecil, terkunci. Ia memaksa membukanya dan menemukan sepucuk surat, ditulis dengan tangan yang sangat ia kenal kini—tulisan Sivan.
“Kalau suatu hari kau ingat aku lagi, artinya hatimu tidak pernah lupa. Dan jika kau membaca ini, maka mungkin kita masih punya waktu. Aku di tempat terakhir kita bermimpi pergi bersama.”
Tak ada tanggal. Tak ada lokasi spesifik. Tapi Lara tahu pasti—itu danau kecil di ujung distrik tua, tempat mereka sering bicara tentang kabur dari dunia yang membatasi cinta.
Ia genggam surat itu erat.
Kali ini, ia tidak akan lari. Tidak akan lupa. Dan tidak akan menyerah sebelum menemukan Sivan.
Karena cinta yang sejati, bahkan setelah dihapus… tetap mencari jalannya untuk kembali.
Bab 5: Revan yang Menyadari
Malam turun dengan sunyi yang ganjil. Kota masih terang, tapi terasa dingin dan tak bernyawa. Lara duduk di sisi ranjangnya, menatap amplop yang berisi surat Sivan, yang kini tersembunyi di bawah bantal. Di dalam kepalanya, satu pertanyaan terus berputar: apakah Sivan masih menunggunya di danau itu?
Pintu kamar terbuka pelan. Revan masuk, mengenakan kemeja kerja yang masih rapi, wajahnya lelah tapi matanya tajam. Ia menatap Lara yang diam seperti patung.
“Kau tak kerja hari ini,” ucapnya datar.
“Aku butuh waktu sendiri,” jawab Lara, menghindari tatapannya.
Revan duduk di sisi tempat tidur, terlalu dekat. “Lara, aku tahu.”
Suara itu membuat dada Lara menegang. Ia perlahan menoleh.
“Aku tahu kapsul memorimu terbuka,” lanjut Revan. “Dan aku tahu siapa yang kau lihat di dalamnya.”
Lara terpaku. “Kau… mengawasi aku?”
“Aku melindungimu,” jawab Revan, cepat dan tenang. “Sejak kita menikah, aku pastikan tak ada ancaman pada pikiranmu, termasuk dari masa lalu yang sudah kita sepakat untuk buang.”
“Aku tidak pernah menyepakati itu,” desis Lara. “Kau dan sistem yang membuatku memilih. Aku hanya menyesuaikan diri.”
Revan menghela napas panjang. “Aku paham ini membingungkan. Tapi Lara, apa kau tidak ingat betapa hancurnya kau waktu itu? Saat kehilangan dia?”
Lara memicingkan mata. “Jadi aku benar-benar mencintai Sivan?”
“Lebih dari yang seharusnya,” jawab Revan, tanpa ragu. “Kau tidak bisa hidup tanpanya. Tapi dunia ini tidak membiarkan dua jiwa terlalu lekat jika tidak di bawah kendali. Kau tahu itu. Emosi yang berlebihan mengacaukan kestabilan masyarakat. Pemerintah menawarkan pilihan, dan kau… kau memilih untuk melupakan. Agar bisa hidup normal. Bersamaku.”
“Normal?” Lara tersenyum getir. “Aku merasa seperti hidup dengan setengah napas. Setengah jiwaku entah di mana. Dan sekarang aku tahu… dia yang membawanya pergi.”
Revan menatapnya lama. Ada kesedihan dalam sorot matanya, bukan kemarahan. “Aku mencintaimu, Lara. Dan aku tahu aku bukan pilihan hatimu saat itu. Tapi aku tetap menunggumu… berharap kau akan mencintaiku juga, suatu hari.”
Lara menunduk. Kata-kata itu menusuk, karena ia tahu Revan tidak pernah kejam. Ia hanya bagian dari sistem. Sama seperti dirinya dulu—berusaha menyesuaikan diri, mengikuti aturan, membuang bagian terdalam yang dianggap membahayakan.
“Kalau begitu,” gumam Lara, “biarkan aku menyelesaikan yang belum selesai. Aku ingin tahu apakah aku masih punya cinta itu. Bukan hanya dari kapsul. Tapi dari diriku sendiri.”
Revan menggenggam tangan Lara. Hangat dan berat. “Kalau kau pergi menemuinya, kau tak akan bisa kembali ke kehidupan ini.”
“Bukankah aku memang tak pernah benar-benar hidup di dalamnya?” bisik Lara.
Hening menyelimuti kamar. Revan akhirnya melepaskan genggamannya. Ia bangkit, berjalan pelan ke arah pintu. Tapi sebelum keluar, ia menoleh.
“Tempat terakhir kalian bermimpi pergi bersama… danau musim gugur. Aku sudah tahu sejak dulu. Tapi aku berharap kau tak akan ingat lagi.”
Lara menahan napas.
Revan melanjutkan, “Jika kau pergi, aku akan menghapus semua datamu dari sistemku. Tapi kau harus tahu—dunia luar tidak seperti sini. Tak ada perlindungan. Tak ada ketenangan. Hanya kebebasan… dan kekacauan.”
Lara menatapnya dengan mata basah. “Mungkin kekacauan itu lebih jujur daripada kebahagiaan yang dibuat-buat.”
Revan tak menjawab. Ia hanya mengangguk pelan, lalu keluar meninggalkan Lara dalam sunyi yang baru. Untuk pertama kalinya sejak lama, Lara merasa tidak marah pada Revan. Ia hanya sedih, karena cinta yang baik tidak selalu bisa jadi cinta yang benar.
Malam itu, ia berkemas. Tak banyak yang ia bawa. Hanya baju hangat, kapsul memorinya, dan surat Sivan. Ia memandangi apartemen terakhir kalinya, lalu melangkah keluar ke dunia yang selama ini membelenggunya dengan kenyamanan.
Ia tahu, mulai sekarang, semuanya tak bisa dibatalkan.
Karena satu langkah menuju danau itu… adalah satu langkah menuju hati yang dulu pernah ia tinggalkan.
Bab 6: Memoar Terlarang
Angin pagi menusuk kulit saat Lara menginjakkan kakinya di wilayah utara distrik tua. Daerah itu nyaris terlupakan—tak ada iklan digital, tak ada drone patroli. Hanya jalan setapak yang berlumut, pohon-pohon kering, dan suara air yang mengalir jauh dari pusat kota. Di kejauhan, terlihat danau kecil yang tenang—seperti lukisan musim gugur yang terdiam dalam waktu.
Lara berdiri di tepi danau, jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya. Tempat ini persis seperti dalam potongan memori yang sempat ia lihat di cermin rumah lamanya. Ada bangku tua yang setengah tenggelam oleh dedaunan gugur. Ada pohon maple besar dengan batang yang tampak seperti pernah dipeluk seseorang terlalu sering. Dan ada ukiran nama di salah satu akar pohon: L & S.
Ia menyentuh ukiran itu dengan ujung jarinya, dan sensasi aneh menjalar dari kulit hingga ke dada—hangat, namun menyakitkan. Seolah cinta itu masih tertinggal di sana. Seolah kenangan itu tak pernah sepenuhnya pergi.
Lara duduk, membuka kapsul memorinya sekali lagi. Kali ini, ia tidak ragu. Ia menancapkan chip ke pemutar manual yang ia bawa dari toko kenangan, dan layar kecil menyala.
Rekaman bergerak. Wajah Sivan muncul—lebih jelas daripada sebelumnya. Matanya menatap kamera dengan dalam, seperti menatap Lara di masa depan.
“Halo, Laraku,” ucapnya lirih, “jika kau melihat ini, berarti kau memilih untuk mengingat.”
Lara terisak pelan. Ia tidak menyadari betapa suara itu telah ia rindukan, bahkan sebelum ia tahu siapa pemiliknya.
“Aku tahu sistem akan membuatmu memilih antara aku atau hidup aman. Dan aku tahu, saat itu, kau harus bertahan. Tapi aku tidak pernah menyalahkanmu,” lanjut Sivan. “Kita tumbuh di dunia yang tidak memberi tempat untuk cinta yang terlalu jujur.”
Gambaran berganti. Kini Sivan dan Lara muda duduk berdampingan di danau yang sama, tangan mereka saling bertaut. Mereka berbicara tentang melarikan diri. Tentang hidup di luar sistem. Tentang membangun dunia kecil mereka sendiri.
Namun Lara yang muda tampak ragu.
“Aku takut,” katanya dalam video. “Takut kehilangan semua yang sudah kita bangun.”
Sivan mencium dahinya. “Yang kita bangun bukan di dunia luar. Tapi di sini.” Ia menyentuh dada Lara dalam video, tepat di atas jantung. “Di tempat ini, kau tahu segalanya tentang aku. Dan aku tahu segalanya tentangmu. Bahkan jika kau menghapus aku… hatimu akan tetap mengingat.”
Layar bergetar, lalu mati.
Lara menarik napas dalam-dalam. Air matanya mengalir, tapi tak lagi karena kebingungan. Kini ia tahu segalanya. Ia tahu kenapa perasaannya tidak pernah cocok dengan hidupnya yang sekarang. Ia tahu kenapa kebahagiaan bersama Revan terasa kosong. Karena cinta sejatinya telah dikubur hidup-hidup oleh keputusan yang dibuat dalam ketakutan.
Ia berdiri, menatap danau yang tenang. “Sivan… di mana kau sekarang?”
Suara langkah tiba-tiba terdengar di belakangnya. Lara menoleh cepat, jantungnya berdebar kencang.
Tapi bukan Sivan.
Seorang pria paruh baya mendekat. Wajahnya asing, tapi ia membawa sesuatu di tangannya—sebuah pemutar memori kuno.
“Maaf,” katanya pelan. “Kau Lara, bukan?”
Lara mengangguk, bingung.
“Ini dititipkan padaku oleh seseorang… bertahun-tahun lalu. Ia bilang, jika seorang wanita datang ke danau ini dan mengenalkan dirinya sebagai Lara, aku harus memberikannya padanya.”
Lara menerima pemutar itu dengan tangan gemetar. Pria itu membungkuk sopan, lalu pergi tanpa menoleh kembali.
Dengan tangan bergetar, Lara menyalakan perangkat itu.
Wajah Sivan kembali muncul. Kali ini lebih lelah, lebih tua, tapi tatapannya tetap hangat.
“Aku tak tahu kapan kau akan datang. Atau apakah kau akan datang. Tapi aku harus percaya. Karena saat aku mencintaimu, aku tidak mencintai kenanganmu. Aku mencintai jiwamu. Dan jiwa tidak bisa dihapus.”
Ia berhenti sejenak, lalu melanjutkan.
“Aku di utara, di luar pagar kota. Zona tak terdata. Tempat para penolak sistem tinggal. Jika kau benar-benar ingin tahu siapa dirimu yang sebenarnya… carilah aku. Tapi hanya jika kau siap meninggalkan segalanya.”
Lara menggenggam perangkat itu erat, seolah tak ingin kehilangan suara itu lagi.
Di matanya, bukan hanya air yang mengalir.
Tapi seluruh hidupnya dulu, sekarang, dan kemungkinan masa depan—mulai menemukan arah.
Ia tak punya jawaban atas semuanya, tapi satu hal kini pasti: ia tidak akan kembali ke kehidupan semu itu. Karena memoar terlarang itu… telah menjadi satu-satunya kebenaran yang ia miliki.
Bab 7: Sistem yang Mengincar
Langkah kaki Lara menyusuri rel kereta tua yang terbengkalai, menuju arah utara—wilayah yang disebut sebagai Zona Tak Terdata. Ia telah meninggalkan apartemennya, melepaskan seluruh identitas legalnya, membuang kartu akses, dan mematikan chip pelacak dari bawah kulit tangannya. Dalam sistem, Lara Eryndel telah hilang. Dalam kenyataan, ia baru mulai hidup kembali.
Malam mulai turun. Udara di wilayah utara jauh lebih dingin dan sunyi. Di kejauhan, hanya cahaya redup dari pemukiman liar yang katanya menjadi tempat persembunyian mereka yang menolak kendali sistem. Lara menarik jaketnya lebih rapat. Tak ada jalan untuk kembali, tidak sekarang. Tidak setelah ia mendengar suara Sivan, tidak setelah ia tahu siapa dirinya sebelum semua ini.
Namun dunia yang ia tinggalkan tidak akan membiarkannya begitu saja.
Di pusat pengawasan Kota Tingkat Satu, seberkas cahaya merah berkedip di panel peringatan. Operator sistem membaca log aktivitas yang mencurigakan dari perangkat ilegal: pemutar memori manual telah diaktifkan di wilayah utara. Namanya muncul dalam catatan—Lara Eryndel. Status: tidak terdeteksi sejak 36 jam terakhir. Kode: Pelanggar Kategori III.
Pemerintah tidak akan membiarkan siapa pun mengakses kembali memori terlarang, apalagi mencoba keluar dari sistem kendali. Unit pencari khusus segera dikerahkan. Mereka adalah tim tanpa identitas, tanpa wajah, hanya disebut sebagai Pembersih. Jika seseorang mengakses sesuatu yang seharusnya dikunci, tugas mereka hanya satu: hapus. Dengan cara apapun.
Sementara itu, Lara telah mencapai batas gerbang logam tua yang menandai perbatasan kota. Gerbang itu berkarat dan penuh simbol peringatan. Dilarang Masuk. Bahaya Biologis. Wilayah Tak Terkontrol. Tapi bagi Lara, peringatan itu hanyalah bayangan lama untuk menakut-nakuti orang agar tetap tinggal di dalam pagar.
Ia menekan tombol di sisi gerbang, seperti yang dikatakan Sivan dalam memorinya. Tombol itu tersembunyi di balik batu. Pintu logam berderit dan terbuka perlahan.
Seseorang berdiri di seberang. Seorang pria bertudung, memegang alat pengenal manual. “Nama?” tanyanya.
Lara ragu sejenak. “Lara.”
Pria itu mengamati wajahnya beberapa detik sebelum mengangguk. “Kau sudah ditunggu.”
Ia membawanya menyusuri lorong gelap menuju tempat yang tak ada dalam peta manapun. Perkampungan kecil tersembunyi di balik reruntuhan—dibangun dari logam bekas dan potongan kaca, tapi penuh kehidupan. Anak-anak tertawa, orang dewasa berdiskusi. Tidak ada layar besar, tidak ada suara komando dari speaker. Hanya manusia… yang menjadi manusia.
Lara hampir tak percaya. Ini seperti dunia dari masa lalu yang ia pikir sudah punah.
Namun ketenangan itu tidak bertahan lama.
Salah satu penjaga masuk dengan napas tersengal. “Tim Pembersih menuju ke arah sini. Mereka mendeteksi aktivitas pemutar memori ilegal. Kita harus pindah.”
Lara merasa darahnya mengalir lebih cepat. “Mereka mengejarku.”
“Bukan hanya kau,” jawab pria bertudung itu. “Siapa pun yang tahu tentang ‘memori terlarang’ akan dianggap berbahaya bagi keseimbangan sistem. Mereka tidak akan berhenti sampai semuanya hilang.”
Lara menatap ke arah pemukiman, melihat seorang anak perempuan tertawa sambil bermain bola. Dalam dunia yang dikendalikan sistem, anak-anak seperti itu akan dibentuk, dilatih, dan dikondisikan sejak dini untuk tidak merasakan terlalu banyak. Di sini, mereka bebas. Tapi mereka juga dalam bahaya.
“Bawa mereka semua keluar lewat jalur barat,” perintah pria itu kepada kelompoknya. “Aku akan membawa Lara ke tempat yang dijanjikan.”
“Ke Sivan?” tanya Lara cepat.
Pria itu mengangguk. “Dia menunggumu. Tapi waktunya tidak banyak.”
Lara menggigit bibirnya. Rasanya seperti jantungnya akan meledak. Ia telah menunggu momen ini selama bertahun-tahun tanpa menyadarinya. Dan sekarang, jarak antara dirinya dan Sivan hanya dipisahkan oleh malam yang semakin gelap dan peluru yang bisa datang kapan saja.
Mereka menyusuri terowongan bawah tanah, jalur lama yang pernah digunakan kereta kargo. Langkah kaki mereka cepat, sunyi, seperti napas seseorang yang menahan tangis terlalu lama. Di kejauhan, suara mesin terdengar. Tim Pembersih sudah dekat.
Lara berlari semakin cepat. Di dalam kepalanya hanya ada satu nama, satu wajah, satu tujuan.
Sivan.
Orang yang pernah ia buang demi hidup yang tidak pernah benar-benar ia pilih.
Kini ia hanya berharap… masih ada waktu untuk berkata: Aku ingat. Aku tak pernah berhenti mencintaimu.
Bab 8: Sivan Masih Ada
Langkah kaki Lara semakin cepat saat suara sepatu logam Tim Pembersih menggema dari belakang terowongan. Lorong itu gelap dan sempit, cahaya hanya berasal dari lampu senter kecil di tangan pria bertudung yang memandunya. Nafas Lara memburu, bukan karena lelah, tapi karena harapan yang makin dekat sekaligus ketakutan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
“Berapa jauh lagi?” tanya Lara sambil menahan nyeri di dadanya.
“Tak sampai lima menit. Dia menunggumu di tempat perlindungan terakhir kami,” jawab pria itu tanpa menoleh.
Lara menggenggam surat Sivan di sakunya erat-erat. Kertas itu telah kusut, namun setiap hurufnya tetap membakar hatinya. Jika kau membaca ini, maka mungkin kita masih punya waktu.
Ia ingin percaya, tapi apa Sivan benar-benar masih di sana? Apa pria yang selama ini hanya hidup dalam potongan memori dan suara itu benar-benar masih hidup?
Terowongan akhirnya terbuka ke ruang lapang yang ditutup batu dan akar pohon tua. Di tengahnya ada pondok kayu sederhana yang dikelilingi pagar logam bekas. Cahaya dari dalam pondok itu remang, hangat, dan begitu nyata.
“Masuklah,” ucap pria bertudung itu sambil berhenti di depan pintu. “Aku akan berjaga di luar.”
Lara menatap pintu itu beberapa detik, sebelum akhirnya mengangkat tangan dan mendorongnya perlahan.
Hening.
Cahaya kuning dari lentera gantung menari lembut di dinding kayu. Aroma kayu bakar dan teh menggantung di udara. Dan di sana, duduk di dekat perapian, seorang pria dengan rambut gelap yang mulai beruban di sisi pelipisnya. Punggungnya sedikit membungkuk, namun cara ia memalingkan kepala saat pintu terbuka… seperti reflek yang sudah lama ditunggu.
Sivan berdiri perlahan. Wajahnya tirus, tubuhnya lebih kurus, tapi mata itu—mata yang sama dari kenangan—masih menyala dengan api yang tak padam.
Lara tak bisa bicara.
Sivan hanya menatapnya, lama sekali, sebelum akhirnya ia melangkah pelan. “Lara?”
Suara itu menghancurkan segala batas. Lara berjalan tergopoh ke arahnya, dan dalam sekejap mereka saling memeluk. Bukan pelukan yang ragu. Bukan pelukan yang bertanya. Tapi pelukan yang tahu, meski waktu, sistem, dan dunia telah memisahkan, jiwa mereka tetap saling menemukan.
Lara menangis di pelukannya, untuk semua tahun yang hilang, semua kata yang tak sempat terucap, semua memori yang sempat dikunci.
“Aku ingat,” bisik Lara di dadanya. “Aku ingat semuanya. Aku yang meminta melupakanmu. Tapi hatiku… tak pernah benar-benar setuju.”
Sivan menggenggam wajahnya. “Aku takut kau tak akan pernah datang.”
“Aku juga. Tapi ternyata, cinta yang pernah kita miliki tidak bisa benar-benar dikubur.”
Sivan tersenyum, getir namun bahagia. “Aku menyimpan kenangan itu bukan untuk merayakan masa lalu. Tapi untuk hari ini. Hari kau kembali, dengan pilihanmu sendiri.”
Namun kebahagiaan itu hanya berlangsung sebentar.
Tiba-tiba terdengar suara dari luar pondok. Tembakan peluru menembus udara. Pria bertudung yang berjaga di luar memberi tanda darurat.
“Mereka menemukan kita,” ujar Sivan sambil meraih jaketnya dan membuka pintu rahasia di lantai.
“Apa yang akan mereka lakukan jika menangkap kita?” tanya Lara panik.
“Mereka tak akan menangkap. Mereka akan menghapus. Bukan hanya memori… tapi seluruh eksistensi kita. Kita bukan manusia dalam sistem. Kita hanya anomali yang harus dibereskan.”
Sivan menarik Lara masuk ke lorong bawah tanah sempit, lalu menutup pintu lantai itu. Mereka merayap dalam gelap, hanya diterangi cahaya redup dari dinding-dinding tua. Lara menggenggam tangan Sivan erat-erat.
“Dengar,” ujar Sivan. “Jika kita sampai di titik aman, kita bisa lari ke wilayah bebas di luar kota. Tidak ada lagi chip, tidak ada sensor. Hanya kita.”
Lara mengangguk. Ia tak butuh apa pun lagi selain itu.
Tapi di sudut lorong, mereka berhenti. Terdengar suara langkah berat. Seseorang telah lebih dulu masuk ke lorong pelarian.
Sivan menoleh cepat. “Lara… jika aku tak bisa keluar, kau harus tetap pergi. Di ujung lorong ini, ada satu pintu ke hutan luar. Ikuti jalurnya, kau akan selamat.”
“Tidak! Aku baru saja menemukanmu! Aku tak akan pergi tanpamu lagi!”
Sivan menatapnya, mata mereka saling mencerminkan ketakutan yang sama.
Kemudian, suara tembakan kembali terdengar.
Dan bab itu berakhir bukan dengan kepastian.
Tapi dengan dua tangan yang masih saling menggenggam erat dalam gelap, bersiap untuk memilih: lari… atau bertahan bersama.
Bab 9: Pilihan yang Tak Dapat Ditukar
Lorong pelarian menjadi lebih gelap dan sempit, dindingnya lembap, bau tanah dan logam tua menusuk hidung. Suara langkah Tim Pembersih terdengar semakin dekat dari dua arah berbeda—depan dan belakang. Mereka terperangkap di tengah.
Lara meremas tangan Sivan. “Kita harus lari sekarang!”
Tapi Sivan tidak bergerak. Matanya menatap ujung lorong yang bercabang dua. “Satu jalan menuju hutan luar,” ucapnya pelan. “Yang satu lagi… hanya ruang mati.”
Lara tahu apa yang akan ia katakan bahkan sebelum bibirnya terbuka.
“Kau pergi lewat kanan. Aku akan ke kiri, memancing mereka.”
“Tidak!” Lara mencengkeram lengannya. “Kita sudah kehilangan waktu, kenangan, hidup… aku tak mau kehilangan kau lagi.”
Sivan menatapnya dalam-dalam. “Justru karena itu. Kau harus hidup. Bukan jadi bayangan yang terus diburu.”
Suara radio elektronik dari arah lorong bergema.
“Target terkunci. Siap eksekusi.”
Langkah mereka semakin dekat.
Sivan mengeluarkan sesuatu dari sakunya—kapsul kecil berisi chip biru. “Ini semua kenangan tentang kita. Aku simpan sebelum penghapusan pertamamu. Kalau mereka menangkapku dan menghapus pikiranku, aku ingin… kau menyimpan bagian dari diriku.”
Lara menggigil. “Kita bisa keluar bersama. Kita bisa melawan.”
“Kita tak akan menang dalam sistem mereka,” bisik Sivan. “Tapi kita bisa menang dalam cara kita sendirimdengan memilih.”
Lara menarik napas dalam-dalam. Matanya basah. Tapi tangannya gemetar saat menerima kapsul itu.
“Aku tak bisa melupakanmu lagi,” ucapnya dengan suara nyaris tak terdengar.
Sivan tersenyum lembut. “Tak perlu. Karena sebagian dari aku sudah ada di dalam dirimu.”
Terdengar suara logam terbuka dari belakang. Waktu mereka habis.
Dengan satu ciuman cepat di dahi Lara, Sivan melepaskan genggamannya dan berlari ke arah kiri—ke lorong mati. Langkahnya hilang dalam gelap.
“Di sini! Satu ke kiri!” suara Pembersih berteriak.
Lara menggigit bibirnya kuat-kuat agar tak menangis, lalu menoleh ke arah kanan dan mulai berlari sekuat yang ia bisa.
Lorong itu makin sempit, lalu berakhir pada pintu baja tua yang hanya bisa dibuka secara manual. Lara memutar tuas berat itu dengan seluruh tenaga hingga pintu terbuka, menyambutnya dengan cahaya lembut pagi dari balik pohon-pohon tinggi.
Udara luar terasa asing dan liar. Tapi untuk pertama kalinya, Lara merasa bebas.
Ia berlari ke dalam hutan, jauh dari sistem, jauh dari kota. Tapi bukan tanpa luka.
Setibanya di tempat aman yang ditandai peta lama dari kelompok perlawanan, Lara jatuh terduduk di bawah pohon tua. Di sana ia membuka kapsul Sivan.
Gambar-gambar muncul.
Mereka duduk di tepi danau. Tertawa. Menari di bawah hujan. Membacakan puisi yang mereka tulis bersama. Sivan menyanyi dengan suara serak. Ia memeluk Lara dan berbisik:
“Jika dunia melarang kita mengingat, maka kita akan menciptakan ingatan baru yang tak bisa disentuh siapa pun.”
Lara memejamkan mata.
Ia kehilangan Sivan mungkin untuk selamanya. Tapi kali ini, ia tidak melupakannya. Tidak karena sistem, tidak karena paksaan, dan tidak karena ketakutan.
Ia memilih untuk mengingat.
Karena beberapa cinta memang tidak bisa dikembalikan. Tapi bisa tetap hidup… di dalam mereka yang memilih untuk menyimpannya, meski tak bisa memilikinya lagi.
Bab 10: Memori yang Tidak Pernah Mati
Waktu berlalu lambat di luar pagar kota. Hari-hari Lara diisi oleh keheningan hutan, suara burung liar, dan langit yang terasa lebih luas dibanding apa pun yang pernah ia lihat dari balik kaca kota. Ia hidup dengan nama baru, di tempat yang tidak tercatat, di dunia yang tak diajarkan dalam sistem.
Tapi setiap pagi, ia bangun dengan rasa yang sama—kosong dan penuh sekaligus.
Sivan tidak pernah muncul.
Sudah berminggu-minggu sejak mereka berpisah di lorong pelarian. Tak ada kabar. Tak ada tanda. Hanya kapsul berisi kenangan yang masih ia bawa kemana pun ia pergi, seolah menjadi jantung cadangan saat jiwanya nyaris berhenti.
Kadang, saat malam sangat sunyi dan angin menggerakkan dedaunan, Lara menatap api unggun sambil memutar kembali chip kenangan mereka. Gambar-gambar itu kini tak lagi kabur. Ia mulai mengingat semuanya tanpa bantuan alat—senyuman Sivan, gurauan kecilnya, cara ia menyebut nama Lara seolah nama itu tercipta hanya untuk diucapkan olehnya.
Namun di balik semua itu, ada satu pertanyaan yang terus menggantung seperti bintang jatuh yang tidak pernah benar-benar sampai ke bumi:
Apakah Sivan masih hidup?
Lara tidak tahu. Tak ada kabar dari kelompok pelindung yang membantunya. Beberapa dari mereka hilang saat pengejaran. Beberapa memilih jalur masing-masing dan menyebar. Dunia bebas ternyata bukan dunia tanpa luka.
Tapi yang membuat Lara terus bertahan adalah pilihan. Pilihan untuk tidak lagi menjadi boneka dari sistem. Pilihan untuk mencintai tanpa perlu izin. Dan pilihan untuk tetap mengingat, meski harus hidup dengan perihnya kehilangan.
Hingga suatu pagi, saat embun masih menempel di rumput liar, seseorang muncul di batas hutan.
Lara yang sedang menimba air dari sungai, menoleh karena mendengar langkah.
Siluet itu berjalan tertatih, tubuhnya kurus, dengan luka di lengan yang belum sepenuhnya sembuh. Tapi saat ia mengangkat wajahnya… dunia Lara berhenti berputar.
Sivan.
Lara menjatuhkan embernya. Kakinya langsung berlari tanpa berpikir. Mereka saling berpelukan, begitu erat, begitu lama, hingga keduanya nyaris lupa bahwa mereka pernah saling kehilangan.
“Aku pikir kau sudah—” suara Lara patah di tenggorokan.
Sivan menggeleng, tersenyum kecil meski wajahnya masih lelah. “Aku tidak akan mati… kalau masih ada kamu yang menunggu.”
Mereka duduk di tepi sungai hari itu, tak banyak bicara. Hanya diam yang saling menyembuhkan. Di dunia yang sudah tidak mengenal nama mereka, tidak peduli pada status, angka, atau identitas digital, mereka hanya dua orang manusia—yang pernah saling mencintai, saling melupakan, lalu saling memilih kembali.
Beberapa hari kemudian, mereka membangun rumah kecil dari kayu dan batu di sisi danau tempat mereka dulu bermimpi. Tak megah, tapi cukup untuk dua jiwa yang ingin hidup dalam kebenaran mereka sendiri.
Dan setiap malam, sebelum tidur, Lara menyimpan kapsul memori mereka dalam kotak kayu kecil yang ia ukir sendiri. Bukan untuk dikenang, tapi untuk diingatkan bahwa cinta sejati memang bisa hilang… tapi tidak pernah mati.
Ia menulis satu kalimat di atas kotak itu:
“Karena meski dunia ingin aku melupakanmu… hatiku memilih untuk mengingatmu setiap hari.”
Di dunia tanpa sistem, tanpa nama, tanpa aturan
Mereka hidup.
Dengan ingatan.
Dengan cinta.
Dengan luka yang utuh.
Dan dengan memori yang tidak pernah mati.
TAMAT.
Novel ini ditulis oleh Evi Fauzi, Penulis dari Novel Singkat. Baca juga novel romantis, petualangan dan fiksi ilmiah lainnya.