Kala, seorang ilustrator buku yang hidup dalam dunia aneh di mana waktu hanya berdetak saat seseorang tidak merasa sendirian, sudah lama terbiasa hidup dalam keheningan. Sejak kecil, ia berjalan di antara manusia yang membeku karena hatinya tak pernah merasakan kebersamaan yang utuh.
Hingga ia bertemu Remo, pria misterius yang membuat dunia kembali bergerak. Detik berdetak, angin berhembus, dan kehidupan terasa nyata. Namun Remo bukan manusia biasa ia adalah anomali waktu yang hanya bisa bertahan dalam dunia nyata saat cinta tetap tidak sempurna. Semakin lama ia bersama Kala, semakin cepat ia menghilang.
Kala harus memilih: mempertahankan dunia yang hidup atau melepaskan satu-satunya sosok yang membuatnya merasa tidak sendiri. Dalam perjalanan di antara detik-detik terbatas, mereka belajar bahwa cinta sejati bukan tentang memiliki… tapi tentang membebaskan.
Apakah cinta bisa tetap hidup saat waktu tak lagi berpihak? Atau justru, cinta merekalah yang akan mengubah hukum waktu itu sendiri?
Bab 1 – Detik yang Tak Pernah Bergerak
Kala membuka mata untuk kesekian kalinya di pagi yang terasa sama. Udara masih diam. Lembab. Tidak ada suara burung, tidak ada gemericik air. Langit di luar jendela tetap abu-abu, seperti lukisan yang tak pernah selesai. Ia mengulurkan tangan, menyentuh jam dinding tua yang sejak dulu tak pernah berdetak. Jarumnya membeku di angka tujuh lewat dua belas. Sama seperti kemarin. Sama seperti seminggu lalu. Sama seperti bertahun-tahun yang ia tak lagi bisa hitung.
Di dunia Kala, waktu hanya berdetak saat kau tidak merasa sendiri. Dan sejak ibunya meninggal, sejak ayahnya memilih diam lalu hilang dalam cahaya putih rumah sakit, sejak semua orang mulai membeku dalam senyum palsu yang tak pernah berubah—Kala tahu, ia benar-benar sendiri.
Ia hidup di antara orang-orang yang tak bisa menjawab. Membeku di posisi yang sama. Ada tukang roti yang terus tersenyum dengan tangan menggenggam kantong kertas. Ada seorang anak kecil yang menggenggam balon yang tak pernah terbang. Semuanya diam. Semuanya membatu.
Kala pernah mencoba bicara dengan mereka. Menyentuh. Meneriaki. Tapi waktu tak akan pernah mendengarkan seseorang yang kesepian. Detik hanya bersuara saat kebersamaan tumbuh, dan Kala… tak pernah punya siapa-siapa.
Setiap pagi, ia berjalan menyusuri gang sempit kota beku. Melintasi taman yang tak pernah berubah musim. Duduk di bangku yang retaknya sama sejak lima tahun lalu. Menggambar wajah orang-orang yang tak bisa bicara. Ia hidup seperti hantu di dunia yang membeku, satu-satunya yang bisa bergerak karena satu alasan sederhana—karena ia tak merasa dimiliki siapa pun.
Pagi itu, ada sesuatu yang berbeda.
Kala berjalan menyusuri sudut jalan menuju pasar kosong seperti biasa. Tapi di depan toko jam yang sudah lama tutup, ada seseorang berdiri. Seorang pria. Rambutnya cokelat gelap, kusut, mengenakan jas hitam panjang. Ia berdiri di bawah papan toko yang sudah lapuk, menggenggam jam saku yang masih mengilap.
Kala berhenti. Ia memperhatikan pria itu dengan hati-hati. Tidak ada satu orang pun yang pernah muncul secara spontan. Dunia ini tak pernah berubah. Tapi pria itu—ia bukan bagian dari kebekuan ini. Ia menoleh, dan matanya bertemu milik Kala. Lalu ia tersenyum.
Dan di detik itu…
Jam di toko itu berdetak.
Kala mundur satu langkah. Angin bergerak. Daun-daun berguguran. Ada suara kecil—klik, klik, klik. Detik jam terdengar. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dunia terasa hidup. Bising. Hangat.
“Siapa kau?” tanya Kala dengan suara parau yang hampir tak ia kenali sendiri.
Pria itu melangkah mendekat, mengulurkan tangan. “Remo,” katanya singkat.
Kala menyentuh tangannya. Hangat. Nyata. Ia tak menghilang saat disentuh, tak membeku saat ditatap. Kala ingin menanyakan banyak hal—kenapa kau bisa bergerak? Dari mana kau datang? Kenapa dunia ini berdetak saat kau di sini?
Tapi yang keluar dari bibirnya hanyalah, “Apa kau… sendirian juga?”
Remo menatap ke langit yang mulai berubah warna. Cahaya matahari menyentuh permukaan toko, membuat debu di udara tampak berkilau. “Aku tidak tahu,” katanya pelan. “Mungkin dulu, iya. Tapi sekarang… tidak lagi.”
Kala menggigit bibir. Ia menunduk, tak bisa menahan gemetar di jari-jarinya. Dunia yang beku selama ini, dunia tanpa detik dan waktu… sekarang bergerak hanya karena satu orang berdiri di hadapannya.
Mereka berjalan bersama ke taman. Rumputnya kini bergoyang tertiup angin. Anak kecil yang tadi membeku perlahan bisa bergerak—menoleh sejenak, tersenyum kecil, lalu kembali diam. Tapi semuanya hidup. Suara gemericik air dari pancuran terdengar lirih. Daun-daun saling bersentuhan. Dunia menjadi puisi yang tak pernah didengar Kala sebelumnya.
“Bagaimana kau bisa… menghidupkan waktu?” tanya Kala sambil memandangi jam saku di tangan Remo.
Remo menatap jam itu sejenak, lalu menyelipkannya ke saku jas. “Bukan aku yang menghidupkannya. Kau yang membuat waktu berdetak.”
Kala menoleh, bingung.
“Waktu hanya bergerak saat kau tidak merasa sendiri, bukan?” Remo melanjutkan. “Berarti… sekarang kau tidak sendiri.”
Kata-kata itu menusuk seperti pelukan hangat yang hampir dilupakan tubuhnya. Ia ingin menangis. Tapi tak ada air mata yang keluar. Dunia ini terlalu lama diam, hingga bahkan rasa pun perlu waktu untuk tumbuh kembali.
Hari itu, mereka menghabiskan waktu bersama—mengelilingi kota yang mulai menggeliat perlahan. Kala tertawa. Ia tak tahu suara tawanya seperti apa, tapi Remo tersenyum setiap kali ia bicara. Detik berjalan cepat saat mereka duduk di kursi taman, berbagi cerita yang belum pernah ada, membiarkan dunia akhirnya bernapas.
Sampai senja datang.
Remo berdiri, dan untuk pertama kalinya, ia tampak letih.
“Aku harus pergi,” katanya, suaranya lirih, seperti gema yang akan segera padam.
Kala panik. “Tidak! Kenapa? Dunia baru saja hidup!”
Remo menatapnya, ada luka di matanya. “Aku tak bisa terlalu lama di dunia ini. Aku bagian dari sela-sela waktu. Semakin lama aku ada di waktu nyata, semakin cepat aku menghilang.”
Kala menggeleng. “Tapi aku baru saja menemuk—”
Remo menyentuh pipinya dengan lembut. “Kita masih akan bertemu. Tapi waktu yang kita miliki… selalu terbatas.”
Lalu ia melangkah mundur. Tubuhnya mulai memudar. Seperti kabut yang tertiup angin pagi. Kala berlari mengejarnya, tapi hanya angin yang tersisa. Dan detik jam… kembali berhenti.
Dunia kembali diam.
Tapi hati Kala tidak.
Sebab ia tahu… ia tak lagi sendiri sepenuhnya. Dan di suatu waktu yang akan berdetak kembali, ia akan menunggu Remo. Meski hanya sebentar. Meski hanya satu detik.
Karena satu detik bersama seseorang yang menghidupkan dunia… lebih berarti daripada seumur hidup dalam kesendirian.
Bab 2 – Jejak Langkah di Dunia yang Diam
Kala duduk di ambang jendela apartemennya, memandangi langit pagi yang lagi-lagi beku. Tapi kini, keheningan itu terasa berbeda. Bukan lagi kesepian yang menyesakkan, melainkan kerinduan yang diam-diam tumbuh di dada. Tangannya memegang secarik kertas—gambar Remo yang ia buat semalam, lengkap dengan senyum miring dan jam saku di tangan kirinya. Ia menggambar sambil berharap, seolah setiap garis yang ia goreskan bisa memanggil Remo kembali.
Sejak hari itu, Kala tahu satu hal: dunia ini masih bisa bergerak. Detik masih bisa terdengar, asal ada yang membuat hatinya merasa ditemani. Tapi Remo telah pergi, menghilang seperti asap. Tak ada jejak, tak ada tanda.
Kala mencoba kembali ke toko jam, berharap pria itu masih berdiri di sana. Tapi yang ia temukan hanya papan tua yang nyaris runtuh dan debu yang menumpuk di etalase. Dunia kembali membeku. Tak ada suara, tak ada gerak. Ia mengetuk kaca etalase, lalu menempelkan dahinya pada permukaan dingin itu, berbisik lirih, “Remo…”
Tak ada jawaban.
Kala tahu waktunya terbatas. Jika ia terlalu lama menunggu, perasaan hangat itu bisa memudar. Dunia bisa kembali benar-benar diam, dan ia bisa kehilangan satu-satunya alasan mengapa ia masih ingin bertahan. Ia tak ingin melupakan suara detik jam, tak ingin kembali ke dunia tanpa arah.
Ia pulang ke apartemen dengan langkah gontai. Tapi saat membuka pintu, ada sesuatu yang aneh. Di meja makan kecilnya, tergeletak sebuah kertas lipat berwarna cokelat tua. Kala memandanginya dengan alis mengerut. Ia yakin benda itu tidak ada tadi pagi.
Perlahan ia membukanya. Tulisan tangan rapi menyambutnya.
“Kala,
Jika kau membaca ini, berarti kau masih mengingatku. Dan itu satu-satunya alasan aku masih bisa muncul kembali.
Ini bukan dunia yang bisa kujalani lama. Tapi aku ingin mengajakmu bertemu lagi. Aku akan menunggumu saat detik kembali berdetak.
Jangan tunggu waktu. Ciptakan waktu.
Remungkil sore, di taman tempat kita pertama kali berbicara.
Remember me,
Remo.”
Kala memeluk surat itu seerat mungkin. Jemarinya gemetar. Seketika ia berlari. Tak memikirkan sepatu, tak memikirkan rambut acak-acakan atau napas yang memburu. Ia hanya ingin melihat dunia hidup kembali.
Ia tiba di taman saat langit masih membeku, dan semua tampak sama seperti biasa: anak kecil membeku dengan balon, air pancuran tak mengalir, pepohonan beku dalam angin yang tak bergerak.
Lalu ia duduk. Diam. Menunggu.
Lima menit. Sepuluh menit. Setengah jam. Tidak ada yang berubah.
Kala menatap sekeliling. “Aku tidak cukup,” gumamnya. “Aku harus merasa tak sendiri… tapi aku memang sendiri…”
Ia menunduk. Dedaunan kering yang tak pernah jatuh masih bertahan di ranting. Ia menutup mata. Dalam diamnya, ia mencoba mengingat rasa itu—saat Remo menatapnya, saat suara detik terdengar, saat dunia bernafas untuk pertama kalinya.
Dan saat matanya tertutup, ia membayangkan tangan Remo menggenggam miliknya. Ia membayangkan suaranya yang rendah, senyumnya yang hangat. Ia membayangkan semua itu dengan begitu kuat… hingga air matanya jatuh.
Satu tetes menyentuh tanah.
Dan saat itu, angin bertiup.
Daun jatuh. Air pancuran berbunyi. Jam tangannya berdetik.
Kala terlonjak, dan di depannya—dengan pakaian yang sama, dengan jam yang berkilau di tangan—Remo berdiri, tersenyum lelah.
“Kau ingat aku,” katanya, hampir seperti bisikan.
Kala berlari memeluknya tanpa pikir panjang. Dunia berputar. Detik menari di sekitar mereka. Burung-burung terbang melewati langit sore. Dunia kembali hidup.
Remo menghela napas di pundaknya. “Aku tak punya banyak waktu, Kala. Setiap kali aku muncul di dunia ini, aku mulai menghilang lebih cepat.”
Kala menggenggam erat tangan Remo. “Lalu kita lakukan ini sesering mungkin. Tak perlu lama. Asal kamu kembali.”
Remo menatap wajahnya dalam-dalam. “Semakin sering aku kembali, semakin cepat aku hilang untuk selamanya. Dunia nyata tidak bisa menerima keberadaanku terlalu lama. Aku adalah jeda. Anomali. Dan kau… kau adalah satu-satunya alasan waktu mau bergerak.”
Mereka duduk di bangku yang sama seperti dulu. Tapi kali ini, suara detik terdengar di latar belakang. Dunia terasa benar-benar nyata. Kala menggenggam jemari Remo erat-erat, seakan takut dunia akan mengambilnya kembali.
“Jika aku hanya bisa hidup satu jam sehari… aku ingin menghabiskannya bersamamu,” bisik Remo.
Kala mengangguk. “Dan jika suatu hari kau tak bisa kembali, aku akan tetap menunggumu. Karena meski dunia diam… hatiku masih berdetak untukmu.”
Senja pun jatuh. Dan detik terus berjalan.
Namun mereka tahu, setiap detik adalah pinjaman.
Setiap pertemuan… bisa jadi perpisahan yang perlahan.
Bab 3 – Saat Dunia Mulai Menagih
Kala mulai mencatat setiap detik yang mereka miliki. Setiap pertemuan, setiap percakapan, setiap senyum yang tak ingin ia lupakan. Ia mulai menuliskannya di buku kecil yang ia beri nama “Waktu Kita”. Remo hanya bisa hadir saat Kala berhasil membuat waktu berdetak. Dan itu tak selalu mudah.
Ada hari-hari saat Kala duduk berjam-jam di taman, mencoba memanggil perasaan yang sama—hangatnya kebersamaan, getaran cinta yang halus tapi kuat. Tapi kadang, rasa itu tak datang. Kadang, dunia tetap diam, dan jam tak bergerak. Kadang, ia harus pulang dengan langkah hampa.
Namun ia tak menyerah.
Setiap kali berhasil membuat dunia bergerak, Remo muncul. Selalu dengan tatapan lelah yang tak pernah ia keluhkan. Selalu dengan senyum seperti pagi pertama setelah hujan panjang. Tapi tubuh Remo semakin pucat. Wajahnya mulai kehilangan warna. Dan setiap kali ia pergi, ia tampak sedikit lebih transparan dari sebelumnya.
Kala mulai takut.
Suatu malam, saat mereka duduk di atap apartemen Kala, memandangi bintang yang untuk pertama kalinya berkelip sejak dunia kembali bergerak, Kala bertanya, “Apa yang akan terjadi jika kamu benar-benar menghilang, Remo?”
Remo menatap langit, tangannya menggenggam tangan Kala erat-erat. “Aku tidak tahu,” bisiknya. “Mungkin aku hanya akan kembali ke sela waktu. Mungkin aku akan lenyap.”
“Dan aku?” tanya Kala, nyaris tak bersuara.
Remo menoleh. “Kau akan tetap hidup. Kau adalah manusia nyata, yang menciptakan waktu dengan rasa yang paling manusiawi—kesepian. Kau akan tetap di sini. Tapi dunia ini… mungkin akan menagih kembali semua detik yang telah kita pakai bersama.”
Kala mengerutkan kening. “Menagih?”
Remo menunduk, suaranya bergetar. “Setiap detik yang hidup bukan dari kebersamaan alami, tapi karena kamu memaksakannya… dunia akan menuntut balasan. Waktu tak pernah gratis, Kala.”
Dan hari itu, untuk pertama kalinya, mereka bertengkar.
“Lalu apa gunanya aku berjuang, Remo?” seru Kala. “Apa gunanya semua ini jika pada akhirnya kau akan pergi dan aku harus membayar semuanya?”
Remo menggenggam kedua bahunya. “Kau harus tahu risikonya sejak awal. Aku ingin hidup bersamamu, Kala. Tapi jika dunia mengambil kita berdua, semua akan berhenti. Dan bukan hanya waktumu… tapi waktu semua orang bisa terhenti selamanya.”
Kala menarik napas panjang, lalu melepaskan diri dari pelukannya. Ia berdiri, memunggungi Remo. “Kau tahu aku tak punya siapa-siapa. Aku hanya punya waktu. Dan sekarang… waktu pun akan menghukumku karena aku memilih mencintaimu?”
Remo tidak menjawab.
Karena di detik itu, ia mulai menghilang.
Tubuhnya larut dalam cahaya lembut, seperti siluet yang ditelan pagi. Kala berbalik dengan cepat, berusaha meraih tangan Remo, tapi yang disentuhnya hanya angin.
Jam berhenti berdetak.
Dan malam kembali beku.
Kala tak tidur malam itu. Ia menggambar Remo di setiap halaman bukunya. Gambar yang tak sempurna, tapi sarat rindu. Gambar tangan yang hampir menyentuh wajahnya. Gambar mata yang menatap tanpa suara. Dan setiap halaman ditandai waktu: 14 detik, 3 menit, 1 jam. Ia mencatat segalanya.
Keesokan harinya, dunia tetap diam. Kala berjalan ke taman, membawa semua yang bisa membuatnya mengingat Remo: buku gambar, surat pertama, dan jam tangannya. Ia duduk, memeluk lutut, mencoba lagi dan lagi merasakan kehangatan itu. Tapi dunia tetap sunyi.
Sampai akhirnya, ia melihat sesuatu di pohon besar tempat mereka biasa duduk: secarik kain hitam tergantung di ranting rendah, tersangkut seperti tak sengaja tertinggal.
Kala mendekat, menggenggam kain itu. Lalu menyadari, di ujungnya terikat sebuah lonceng kecil.
Dan saat lonceng itu bergetar ringan di jari-jarinya…
Dunia berdetak sekali. Hanya sekali.
Lalu diam lagi.
Namun Kala tersenyum.
Remo masih ada. Entah di mana. Tapi jejaknya belum hilang.
Dan selama detik masih bisa berdetakmmeski hanya sekali, Kala tahu, cinta mereka belum sepenuhnya lenyap. Yang kini ia perlukan… adalah mencari cara agar waktu tak lagi menagihnya dengan kehilangan.
Bab 4 – Harga dari Sebuah Detik
Kala mulai memahami bahwa setiap detik yang ia ciptakan bukan sekadar waktu yang hidup—melainkan utang yang perlahan menumpuk. Dan dunia mulai menagihnya, satu per satu.
Hari itu, hujan turun untuk pertama kalinya sejak bertahun-tahun. Bukan hujan biasa, tapi hujan yang tak meninggalkan suara. Tetesannya jatuh tanpa bunyi, menyentuh tanah tanpa cipratan. Kala berdiri di tengah jalan, memandangi sekeliling—orang-orang yang dulu membeku, kini perlahan bergerak… tapi dengan gerakan patah-patah. Seperti boneka rusak. Mata mereka kosong. Wajah mereka tampak bingung, seolah baru terbangun dari tidur panjang yang menghapus sebagian ingatan.
Kala panik. Ia berlari menuju toko jam yang kini terbuka sebagian. Suara detik terdengar samar dari dalam. Dan di sana, di balik etalase yang berdebu, ia melihat jam saku Remo—berputar sendiri, seperti kehilangan pemiliknya.
Tiba-tiba, seorang wanita tua muncul dari dalam bayangan toko. Rambutnya putih, matanya hitam pekat seperti lubang waktu.
“Kau yang menghidupkan waktu ini,” katanya. Suaranya berat, seperti suara ribuan lonceng berdentang sekaligus.
Kala menelan ludah. “Aku hanya ingin bersama Remo.”
Wanita itu tertawa kecil. “Cinta yang membuat waktu bergerak, adalah cinta yang juga bisa menghancurkan seluruh arusnya.”
“Apa maksudmu?”
“Remo bukan makhluk dunia ini. Ia lahir dari jeda, dari lubang kecil dalam garis waktu yang seharusnya tak ada. Dan kau… kau terus memanggilnya ke dunia nyata, menghidupkan sesuatu yang semestinya tetap dalam kegelapan.”
Kala memeluk jam saku itu. “Aku tak peduli. Dia satu-satunya alasan dunia ini bergerak.”
“Lalu bersiaplah kehilangan lebih dari sekadar waktu.”
Keesokan harinya, Kala menyadari sesuatu yang aneh. Foto-foto lama di apartemennya mulai berubah. Dalam potret masa kecilnya bersama ibu, wajah ibunya menjadi kabur. Dalam lukisan-lukisan yang ia buat selama bertahun-tahun, detailnya mulai menghilang. Bahkan dirinya di dalam cermin… terlihat sedikit berbeda.
Kala mulai menghilang dari hidupnya sendiri.
Itulah harga dari menciptakan detik yang tak seharusnya ada.
Ia menulis surat untuk Remo.
“Jika aku harus hilang, aku ingin kau tahu… aku tidak menyesal. Setiap detik bersamamu lebih hidup dari seluruh waktu yang pernah kulewati sendirian. Tapi jika ada jalan agar kita bisa tetap tinggal tanpa saling merusak, temukan aku. Sebelum dunia benar-benar menghapusku.”
Ia meninggalkan surat itu di taman. Di bawah bangku tempat mereka dulu duduk. Lalu ia kembali ke apartemennya, menunggu waktu berdetak kembali.
Hari berlalu.
Lalu minggu.
Dunia tetap sunyi.
Hingga suatu malam, ia terbangun karena suara lonceng kecil. Bukan dari mimpi. Tapi nyata. Kala bangkit dan menemukan pintu apartemennya terbuka sedikit. Angin masuk, membawa suara pelan—klik… klik… klik.
Kala mengenakan mantel, membawa jam saku, dan mengikuti suara itu. Langkahnya membawanya ke arah gang sempit di belakang toko jam. Di ujung gang, ada pintu kayu yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Pintu tua, dengan ukiran angka: ∞:∞ — simbol waktu tanpa batas.
Dengan tangan gemetar, ia mendorong pintu itu terbuka.
Di baliknya, ia melihat dunia lain.
Langit penuh celah cahaya. Awan mengalir terbalik. Detik dan menit berputar di udara seperti serpihan cahaya. Dan di tengah semua kekacauan waktu itu, Remo berdiri—tapi ia terlihat lebih muda, lebih cerah. Seolah ia baru saja dilahirkan kembali.
“Kala,” katanya dengan senyum tak berubah.
Kala menangis. “Aku hampir hilang.”
Remo mendekat. “Aku tahu. Karena aku merasakannya. Setiap kali kau menciptakan detik, sebagian dari dirimu terkikis.”
“Lalu bagaimana caranya agar kita bisa hidup bersama… tanpa kehilangan semuanya?”
Remo mengulurkan tangan. “Kita ciptakan waktu baru. Bukan dari kesepian. Tapi dari pilihan.”
Kala tak mengerti. Tapi ia menggenggam tangan Remo.
Dan di detik itu, dunia bergetar.
Udara berubah. Detik berhenti. Lalu dimulai kembali, tapi bukan sebagai hutang—melainkan sebagai keputusan bersama. Dunia tempat mereka berpijak bukan lagi dunia beku atau sela waktu. Tapi celah baru, ruang yang mereka bangun sendiri: ruang bagi dua orang yang mencintai cukup kuat untuk menciptakan semesta kecil.
Namun harga dari semua itu tetap ada.
Kala tahu, ia tak bisa kembali ke dunia asal. Ia tak bisa menjadi bagian dari dunia nyata lagi.
Tapi ia memilih tinggal.
Karena kadang… satu detik yang penuh cinta, lebih berharga dari seribu tahun yang hampa.
Dan di dunia waktu baru itu, mereka mulai menulis ulang hidup satu detik, satu napas, satu langkah bersama.
Bab 5 – Rumah dari Detik yang Kita Bangun
Kala dan Remo hidup dalam ruang di antara waktu sebuah dunia kecil yang hanya mereka miliki. Tak ada orang lain. Tak ada jam berdentang sebagai pengingat. Tak ada siang dan malam yang mutlak. Hanya detik-detikan yang mereka bangun bersama, mengalir seperti sungai tenang yang tercipta dari cinta dan keputusan.
Di dunia itu, mereka menciptakan rumah. Bukan dari batu atau kayu, tapi dari kenangan. Dindingnya terbuat dari momen-momen kecil: tawa pertama Kala setelah menangis semalaman, nyanyian pelan Remo yang terdengar setiap pagi, suara langkah mereka saat menari di lantai kosong. Atapnya dari harapan. Lantainya dari keberanian.
Kala tak lagi menggambar manusia beku atau jam yang tak berdetak. Kini ia menggambar Remo sedang tertawa, menggambar dirinya sendiri yang sedang membaca di taman yang berbunga setiap mereka saling menyentuh. Ia menggambar dunia yang terus bergerak tanpa harus menagih bayaran dari rasa kehilangan.
Namun, seperti halnya semua hal yang terlalu indah, retakan mulai terlihat.
Suatu pagi, Kala bangun dan melihat Remo duduk di tepi ranjang, memandangi tangannya sendiri. Jemarinya tampak tembus cahaya.
“Kau mulai menghilang lagi,” bisik Kala, duduk di sampingnya.
Remo tidak langsung menjawab. Ia menatap jauh ke arah jendela yang mengarah ke langit ungu—langit buatan yang mereka bentuk dari detik pertama mereka mencium satu sama lain.
“Aku pikir dunia ini cukup,” katanya pelan. “Tapi ternyata, bagian dari diriku… masih terikat pada tempat yang lama. Dunia sela waktu itu. Semakin lama aku di sini, semakin aku ditarik kembali ke asal.”
Kala menahan napas. “Lalu apa yang bisa kita lakukan?”
“Aku tak ingin kembali ke kegelapan,” Remo berbisik, suaranya hampir tidak terdengar. “Tapi aku juga tak bisa memaksakan diriku bertahan di sini, Kala. Dunia ini dibangun dari cintamu. Tapi hanya kau yang nyata. Aku… tetap anomali.”
Kala menggenggam tangannya, sekuat mungkin. Tapi jari-jari itu kini hampir tak terasa. “Jangan bicara seperti itu.”
Remo menoleh padanya. Mata mereka bertemu. Dan Kala tahu, di balik ketenangan itu, Remo mulai ketakutan.
“Aku ingin mempercayai tempat ini. Kita. Tapi jika detik mulai berkurang, jika aku tak bisa lagi mendengarmu, merasamu… aku akan hilang perlahan. Seperti debu.”
Kala berdiri. Ia berlari ke ruang belakang—tempat ia menyimpan semua gambar mereka. Ia membuka lembar demi lembar. Gambar-gambar Remo, semua mulai memudar. Warna-warnanya memucat. Beberapa bahkan mulai hilang dari kertas sepenuhnya.
Dunia mereka perlahan kehilangan warna.
Kala kembali ke Remo, membawa satu gambar yang belum sepenuhnya hilang: mereka berdua di bawah pohon jam, tertawa. “Apa kita bisa hidup kembali di dunia nyata?” tanyanya. “Walau waktu membeku, setidaknya kita bisa… ada.”
Remo menggeleng. “Jika aku kembali ke dunia nyata, aku hanya bisa bertahan beberapa detik. Kau tahu itu. Dunia itu tak menerimaku. Hanya dunia ini yang bisa menahanku lebih lama. Tapi bahkan dunia ini pun… perlahan menolak keberadaanku.”
Kala menangis. Kali ini benar-benar menangis. Air matanya jatuh ke lantai, membentuk genangan kecil yang langsung menyerap ke dalam tanah dunia mereka. Dan dari sana… muncul satu jam. Jam baru. Detiknya berdetak pelan.
Remo menatapnya. “Apa itu?”
Kala menatap jam itu seperti melihat keajaiban. “Aku tak tahu… mungkin itu bagian dariku yang masih percaya kita bisa bertahan. Waktu yang kubentuk bukan dari rasa takut kehilangan… tapi dari keberanian untuk tetap mencintai, meski tahu kau bisa menghilang kapan saja.”
Remo menyentuh jam itu. Dan untuk pertama kalinya, ia merasa padat kembali. Jemarinya tak lagi tembus cahaya. Tubuhnya kembali nyata.
Mereka saling menatap. Detik berdetak makin jelas. Dunia mereka perlahan penuh warna kembali.
“Kita harus menciptakan waktu bukan untuk saling memiliki,” kata Kala, menatap Remo penuh keyakinan. “Tapi untuk saling membebaskan. Jika kau harus pergi, aku akan melepasmu. Tapi selama kau memilih tinggal, aku akan menjadi tempatmu kembali.”
Remo tersenyum. “Maka detik ini… adalah rumahku.”
Dan malam itu, mereka tertidur sambil menggenggam satu sama lain. Di dunia yang diciptakan dari cinta, di antara waktu yang tak sempurna. Mungkin tak abadi. Tapi cukup.
Cukup untuk menjadi rumah bagi dua jiwa yang pernah hilang.
Bab 6 – Detik yang Harus Dilepaskan
Kala tahu—sejak hari Remo memudar untuk pertama kali—bahwa kebersamaan mereka tak akan selamanya. Namun tahu dan rela adalah dua hal yang berbeda. Setiap pagi ia terbangun dengan rasa cemas, takut jam yang berdetak di sudut kamar tiba-tiba berhenti. Takut dunia yang mereka bangun bersama mulai retak lagi.
Namun selama beberapa waktu, dunia itu tetap utuh.
Mereka menanam pohon waktu di tengah taman buatan. Daunnya berkilau, dan setiap helai yang gugur membentuk kenangan: Kala tertawa saat kakinya tersandung akar, Remo mencium keningnya di sore hujan, mereka berdua diam-diam menulis nama satu sama lain di pasir waktu.
Tapi pada suatu hari, ketika Kala duduk sendiri sambil melukis, ia menyadari sesuatu yang mencengangkan.
Waktu berhenti—meski ia tidak sendiri.
Remo sedang berada di ruang sebelah. Ia baru saja memainkan lagu lembut dari lonceng-lonceng kecil yang mereka gantungkan di langit-langit. Tapi detik… berhenti.
Kala berdiri. Panik. Ia melangkah ke arah Remo dan melihat tubuh pria itu beku. Matanya terbuka, tapi tak bergerak. Jemarinya masih menggantung di udara, tak menyentuh lonceng yang tergantung di depannya.
“Remo!” serunya.
Tak ada jawaban.
Kala mengguncang tubuhnya, memanggil lagi. Tak ada yang berubah.
Lalu… dari langit, hujan cahaya turun. Tidak menyakitkan. Tidak panas. Tapi membawa suara: gema detik yang memanggil satu jiwa kembali ke asalnya.
Dan sebuah suara—bukan dari Remo, tapi dari waktu itu sendiri—berbicara dalam benaknya.
“Kala. Kau mencintai terlalu kuat. Dan karena itu… dunia ini tak bisa menampungnya lagi. Jika kau tetap di sini, semua yang kau cintai akan membeku. Bahkan Remo.”
Kala menggigit bibir. “Aku hanya ingin bersama dia… bukan menghancurkannya.”
“Maka kau tahu apa yang harus kau lakukan.”
Kala berdiri di tengah ruangan. Ia tahu. Dan itu menghancurkan hatinya bahkan sebelum ia mengambil langkah pertama.
Malam itu, ia memeluk Remo. Lelaki itu tetap membeku, seolah tidur dalam waktu. Ia mencium pelipisnya, menggenggam jemarinya. “Jika harus memilih antara memilikimu atau membuatmu bebas… aku memilih yang kedua.”
Ia melangkah ke taman. Di bawah pohon waktu, ia menggali sebuah lubang kecil dan meletakkan jam mereka—jam yang dibentuk dari air matanya sendiri. Ia menuliskan satu kalimat pada kertas kecil dan menyelipkannya di dalam jam itu sebelum menimbunnya kembali.
Lalu ia berdiri.
Menutup mata.
Dan membiarkan dunia itu… runtuh.
Detik terakhir terdengar seperti irama patah hati. Lalu semua warna memudar. Langit menjadi putih. Tanah menghilang. Segalanya kembali ke keheningan.
Kala terjatuh.
Namun tak lama, ia terbangun.
Di taman kota tempat segalanya dulu dimulai.
Orang-orang kini bergerak. Dunia kembali nyata. Tapi berbeda. Tak ada yang membeku. Waktu mengalir seperti biasa. Dan di pergelangan tangannya, jam saku itu tergantung—dalam bentuk baru. Detiknya berjalan perlahan, tapi stabil. Tanpa nyeri. Tanpa paksaan.
Remo tak terlihat.
Namun saat Kala berdiri, ia menemukan selembar kertas terselip di bangku taman.
“Aku masih di antara detik yang kau bebaskan. Dan selama hatimu berdetak, aku akan selalu ada.
– R.”
Kala menatap langit.
Untuk pertama kalinya, ia tidak menangis.
Karena ia tahu—cinta sejati bukan tentang memaksa bersama, tapi tentang merelakan agar yang kita cintai tetap hidup, meski bukan di sisi kita.
Dan dengan langkah perlahan, ia berjalan menyusuri dunia yang kini berdetak kembali.
Tanpa Remo.
Tapi dengan cinta yang tak akan pernah berhenti.
Bab 7 – Di Antara Detik yang Tidak Pernah Mati
Kala menjalani hari-harinya di dunia nyata dengan cara yang berbeda kini. Ia bangun setiap pagi, menyeduh kopi, menatap jendela taman kota, lalu duduk di bangku yang sama—bangku tempat ia dan Remo pernah duduk dan menciptakan waktu dari cinta dan kesepian.
Dunia sudah bergerak. Orang-orang berlalu lalang, jam berdetak normal, langit berganti warna, dan suara burung tak lagi menjadi kenangan asing. Namun, meski dunia telah hidup kembali, Kala sering merasa bahwa hatinya masih terjebak di satu ruang kecil di antara detik-detik yang dulu ia ciptakan bersama Remo.
Setiap malam, sebelum tidur, ia membuka buku Waktu Kita—buku catatan yang penuh dengan gambar dan tulisan tentang Remo. Ia tak menambah halaman baru, tapi ia membacanya ulang, seolah ingin memastikan bahwa semua itu pernah benar-benar terjadi.
Namun pada suatu sore yang lembut, saat langit menggantung dalam warna jingga emas, Kala duduk di taman dengan buku itu di pangkuannya. Seorang anak kecil menghampiri, memandangi gambar-gambar di dalamnya dengan mata lebar.
“Siapa dia?” tanya anak itu, menunjuk gambar Remo yang tersenyum sambil menggenggam jam saku.
“Temanku,” jawab Kala singkat.
“Kenapa dia selalu ada di semua gambar?”
Kala terdiam sejenak. “Karena dia adalah waktu yang paling indah yang pernah aku miliki.”
Anak itu tersenyum, lalu berlari pergi. Tapi kehadirannya membawa sesuatu yang tak terduga: angin lembut yang menyentuh pipi Kala, membawa aroma familiar. Wangi yang hanya muncul saat Remo muncul dalam dunia yang mereka bangun dulu.
Kala menoleh. Tak ada siapa-siapa. Tapi di bangku seberang, ia melihat jam saku Remo—bukan miliknya, tapi yang asli. Yang berkilau tanpa debu. Detiknya berdetak… perlahan.
Dengan hati-hati, Kala bangkit dan menghampiri jam itu. Ia menyentuhnya, dan saat jarinya menyentuh logamnya, sebuah bayangan samar muncul di hadapannya. Remo—dalam bentuk cahaya lembut, seperti kenangan yang dipanggil oleh cinta paling dalam.
“Kau masih di sini?” bisik Kala.
Bayangan Remo tidak menjawab dengan kata. Tapi matanya menatap Kala dengan damai. Dan suara halus, bukan dari bibirnya tapi dari waktu itu sendiri, menyapa:
“Aku tidak pernah benar-benar pergi. Aku hanya tinggal di antara detik-detik yang tidak bisa dilihat oleh dunia, tapi bisa dirasakan oleh hati yang tetap mencinta.”
Kala menutup mata. Air matanya jatuh, tapi tidak dengan rasa kehilangan. Kali ini… dengan rasa utuh.
“Aku mencintaimu, Remo. Dan aku tahu, cintaku tak perlu menciptakan dunia baru lagi. Cukup menjadi detik dalam diriku sendiri.”
Bayangan itu tersenyum.
Lalu perlahan memudar.
Tapi sebelum benar-benar hilang, sesuatu tersisa di bangku tempat jam itu berada: sebuah sketsa baru, bukan buatan Kala. Gambar mereka berdua, berdiri berdampingan, dan di bawahnya tertulis:
“Cinta kita bukan untuk ditahan oleh waktu. Tapi untuk menjadi waktu itu sendiri.”
Kala membawa sketsa itu pulang, membingkainya, dan menggantungnya di dinding ruang kerja. Sejak saat itu, ia mulai melukis kembali. Namun bukan lagi tentang kesedihan, melainkan tentang detik-detikan kecil yang sering terlewatkan—tangan yang menggenggam, tawa di ujung senja, pelukan yang tak ingin dilepas.
Dan setiap kali jam berdetak, Kala tahu:
Remo mungkin tidak ada di sisi fisiknya,
tapi cinta mereka telah menyusup ke dalam arus waktu.
Menjadi bagian dari setiap detik yang mengalir.
Tak lagi harus dimiliki.
Cukup untuk dirasakan.
Selamanya.
Bab 8 – Ketika Waktu Menulis Namamu
Beberapa bulan telah berlalu sejak Kala melihat bayangan Remo di taman. Dunia benar-benar kembali seperti semula: hiruk-pikuk pagi, detik yang tak lagi lambat, dan langit yang berganti warna tanpa harus diminta. Tapi di dalam hati Kala, ada satu bagian yang tak pernah mengikuti waktu luar—bagian yang tetap tinggal, di tempat di mana nama Remo selalu ditulis ulang oleh rindu.
Kala kini bekerja sebagai ilustrator di sebuah penerbit kecil. Ia menggambar sampul buku, cerita anak-anak, bahkan majalah dinding kota. Orang-orang mulai mengenali gayanya yang lembut, penuh emosi, dan sering kali menyentuh sisi yang paling sepi dari manusia.
Tapi tak ada yang tahu, bahwa di setiap lukisan yang ia buat… selalu ada satu hal tersembunyi: jam kecil. Terkadang di sudut bangunan, terkadang di tangan karakter, terkadang hanya sebagai bayangan di langit. Jam itu bukan sekadar hiasan—itu adalah cara Kala menyapa Remo, tiap kali ia menggoreskan warna.
Suatu malam, kala hujan turun perlahan, Kala sedang melukis di ruang kerjanya. Ia membuat ilustrasi tentang dua orang yang duduk di tengah dunia beku, tangan mereka hampir bersentuhan. Ia melukis langit kelabu, bangku taman, dan jam saku yang terjatuh di rerumputan.
Tiba-tiba, lampu di ruangannya meredup sendiri.
Kala menoleh, jantungnya berdebar. Ia tidak ingin berharap, tapi tubuhnya seolah sudah mengingat: perubahan kecil ini adalah pertanda.
Dan benar saja. Detik jam di dinding berhenti.
Satu per satu, benda-benda di ruang itu membeku: air di cangkir, kelipan layar komputer, bahkan suara hujan. Semuanya diam.
Kecuali dia.
Remo berdiri di tengah ruang itu.
Wajahnya sama seperti terakhir kali Kala melihatnya, tapi kali ini… ia tidak tembus pandang. Tidak memudar. Tidak membawa bayangan lenyap. Ia utuh. Nyata.
“Remo?” bisik Kala.
Pria itu menatapnya, tersenyum kecil. “Aku kembali. Tapi bukan karena dunia mengizinkan… melainkan karena kau memanggilku, bukan dengan ketakutan atau kesedihan. Tapi dengan cinta yang tak lagi memaksa.”
Kala mendekat. Tangan mereka bertemu. Hangat.
“Kau benar-benar di sini?” suaranya bergetar.
“Aku bagian dari waktumu sekarang,” jawab Remo. “Dan kau bagian dari detikku. Bukan sebagai anomali. Tapi sebagai harmoni.”
Kala tertawa pelan, lalu menangis di dada Remo. Mereka berdiri di tengah ruangan beku, tapi dada mereka berdegup. Dan dari luar jendela, dunia mulai bergerak kembali. Perlahan. Tapi bukan karena kesepian.
Melainkan karena dua hati akhirnya berdetak dalam ritme yang sama.
Sejak malam itu, Remo tidak lagi menghilang.
Ia tidak selalu hadir dalam bentuk fisik. Tapi Kala tahu, setiap kali ia melukis, setiap kali jam kecil muncul dalam gambarnya, setiap kali dunia terasa hangat tanpa alasan… Remo ada.
Tidak sebagai bayangan dari sela waktu.
Tapi sebagai bagian dari waktu itu sendiri.
Dan dunia pun belajar satu hal: bahwa cinta yang tak lagi mengejar, tapi memilih diam di sisi waktu, akan bertahan lebih lama dari segalanya. Bahkan lebih lama dari detik yang pernah membeku.
Bab 9 – Saat Detik Tak Lagi Dikejar
Hari-hari Kala berubah menjadi alunan yang lembut. Ia tak lagi menghitung menit sejak pertemuan terakhir dengan Remo. Tak lagi mencatat detik-detik kebersamaan mereka seperti dulu, seolah takut kehilangan. Kini, ia hanya hidup… dengan tenang, dengan cukup, dan dengan perasaan bahwa Remo tidak pernah benar-benar jauh.
Remo hadir dalam cara yang tak biasa. Terkadang lewat mimpi, di mana mereka duduk bersama di bawah pohon waktu. Terkadang lewat bisikan di pagi hari saat ia belum sepenuhnya bangun—bisikan yang hanya berisi satu kata: “Ada.” Dan kadang… lewat benda-benda kecil yang muncul tak sengaja: secarik kertas dengan gambar mereka berdua, jam saku yang bergeser sendiri di meja, atau suara langkah lembut di lantai kayu saat malam turun.
Kala tak lagi bertanya bagaimana Remo bisa kembali. Ia tahu kini, cinta yang tak memaksa memiliki bisa memberi ruang bagi keabadian yang tenang. Dunia tidak lagi berhutang waktu padanya. Sebaliknya, dunia memberinya waktu yang baru—waktu yang tidak ia ciptakan, tapi ia hargai.
Suatu siang, Kala diundang untuk mengisi pameran ilustrasi pertamanya. Pameran itu diberi judul “Detik yang Tak Pernah Pergi”. Ia menampilkan lukisan-lukisan yang pernah ia buat di dunia beku dulu, lengkap dengan satu karya besar—potret dirinya dan Remo duduk di taman, dikelilingi bunga jam dan langit patah cahaya. Di pojok lukisan itu, ada jam saku kecil yang berdetak pelan melalui speaker tersembunyi.
Saat pengunjung bertanya, “Apa makna dari jam itu?”
Kala tersenyum. “Itu bukan pengingat waktu yang hilang. Tapi suara dari seseorang yang pernah membuat dunia saya bergerak.”
Pameran itu sukses besar. Banyak yang menangis saat melihat lukisannya. Banyak yang merasa disentuh, seolah ada kisah mereka sendiri yang tersembunyi di balik tiap goresan.
Malam itu, sepulang dari pameran, Kala duduk di bangku taman, mengenakan mantel tua dan memeluk termos teh hangat. Ia memandangi langit malam, dan entah dari mana, muncul suara yang sangat ia kenal.
“Lukisanmu membuat waktu iri.”
Kala menoleh, tidak terkejut. Remo berdiri di sana, mengenakan setelan gelap seperti dulu, tapi dengan mata yang lebih damai. Ia duduk di sebelah Kala, mengambil termosnya, meminum sedikit, lalu menyerahkannya kembali.
“Kau datang malam ini,” kata Kala lirih.
“Aku tak pernah pergi,” jawab Remo.
Mereka duduk dalam diam, tidak lagi dikejar detik. Tidak lagi memikirkan batas waktu atau resiko menghilang. Dunia telah menerima keberadaan mereka, karena mereka tak lagi melawan hukum waktu. Mereka hanya hidup di sela-selanya, di antara napas dan detak yang tak terlihat.
Kala menyandarkan kepalanya di bahu Remo. “Aku dulu takut kehilanganmu.”
Remo menatap bintang. “Dan sekarang?”
Kala tersenyum kecil. “Aku tahu, bahkan jika aku tidak bisa melihatmu… aku tetap bisa mencintaimu. Dan itu cukup.”
Remo mengecup ubun-ubunnya. “Itu lebih dari cukup. Karena cinta yang tidak lagi dikejar, akan tetap tinggal… meski tak terlihat.”
Malam itu, jam di menara kota berdentang tiga kali. Dan meski dunia terus berputar, Kala dan Remo tetap di tempat yang sama, di tengah taman, di bawah langit malam yang menulis nama mereka dalam bintang-bintang.
Tak ada yang diabadikan.
Tapi semuanya abadi.
Karena mereka tidak lagi membutuhkan waktu.
Mereka telah menjadi waktu itu sendiri.
Bab 10 – Detik Terakhir yang Menjadi Awal
Pagi itu, langit terlihat seperti kanvas kosong. Tak ada awan. Tak ada suara burung. Hanya sunyi yang terasa lembut, bukan menakutkan. Kala membuka matanya di dalam kamar yang kini penuh dengan lukisan-lukisan waktu. Ia berjalan menuju jendela, membuka tirai, dan membiarkan cahaya menyentuh wajahnya.
Di luar, taman kota yang biasa ia kunjungi tampak tak berubah. Namun entah kenapa, hari ini terasa berbeda. Lebih hening. Lebih damai. Seperti dunia sedang menahan napas.
Kala menatap jam saku di mejanya. Detiknya berdetak tenang. Konsisten. Tapi perlahan. Seolah tahu, waktu akan membawa sesuatu hari ini.
Ia tahu. Detik itu akan datang.
Dengan langkah pelan, ia mengenakan mantel tua yang biasa ia pakai saat bertemu Remo. Ia membawa buku Waktu Kita, yang kini sudah penuh sampai halaman terakhir. Tak ada ruang untuk menambahkan satu kenangan pun. Tapi ia tidak sedih. Ia siap.
Kala menuju taman, duduk di bangku favoritnya. Seperti biasa. Dan menunggu.
Hingga udara bergetar pelan.
Langkah kaki yang ia hafal muncul dari belakangnya.
“Remo,” ucapnya tanpa menoleh.
Pria itu duduk di sampingnya. Tanpa suara. Tapi terasa sangat nyata. Ia mengenakan jas gelap seperti pertama kali mereka bertemu. Rambutnya sedikit lebih panjang, dan mata itu… masih menyimpan segala hal yang pernah membuat Kala jatuh cinta.
“Aku datang untuk mengucapkan selamat tinggal,” katanya perlahan.
Kala mengangguk. Ia sudah menebaknya. Tapi tetap saja, rasanya seperti dunia mengupas hatinya sedikit demi sedikit.
“Kenapa sekarang?” suaranya lirih.
“Karena waktumu sudah lengkap,” jawab Remo. “Kau tak lagi memanggilku dari kesepian, bukan dari kekosongan. Kau memanggilku dari kenangan. Dan kenangan… bukan tempat aku tinggal.”
Kala menatap wajah Remo, mencoba menghafalnya sekali lagi, walau ia tahu ia sudah menghafalnya ribuan kali.
“Lalu kau akan ke mana?”
Remo menatap ke langit. “Ke tempat di mana waktu tidak dibutuhkan. Tempat yang tidak harus berdetak untuk terasa hidup.”
Kala menggenggam tangannya. Masih hangat.
“Bolehkah aku ikut?”
Remo tersenyum tipis. “Tidak. Kau masih punya hidup untuk dijalani. Dunia ini membutuhkankanmu. Tapi aku akan selalu menjadi bagian dari setiap detik yang kau lewati.”
Kala menunduk, air matanya jatuh satu per satu. Tapi kali ini, ia tidak menahan. Tidak memohon. Tidak menggenggam terlalu erat. Ia belajar dari semua waktu yang telah berlalu: bahwa mencintai bukan berarti menahan.
Ia membuka buku Waktu Kita, menulis satu kalimat terakhir di halaman kosong yang ia sisakan diam-diam.
“Terima kasih karena telah membuat waktu berhenti… dan mengajarkanku untuk menjalankannya kembali.”
Remo membacanya. Lalu berdiri.
Ia menyentuh pipi Kala, dan untuk terakhir kalinya, mengecup keningnya.
“Detik terakhir bukanlah akhir,” katanya. “Tapi jembatan menuju awal yang tak terikat waktu.”
Dan perlahan… ia menghilang.
Bukan sebagai bayangan. Bukan sebagai cahaya. Tapi sebagai kedamaian yang tinggal di hati Kala selamanya.
Kala menutup bukunya.
Ia menatap taman yang kini terasa lebih luas. Lebih hidup. Ia tahu Remo tidak benar-benar pergi. Ia hanya berpindah tempat—dari sela waktu ke sela kenangan, dari sela napas ke sela senyum.
Dan saat jam saku itu berdetak sekali lagi, Kala berdiri.
Melangkah pulang.
Tanpa lagi menunggu siapa pun.
Karena ia tahu—cinta sejati tidak pernah benar-benar hilang.
Ia hanya berubah wujud.
Menjadi waktu yang tak lagi dikejar.
Menjadi detik yang tenang di dalam dada.
Menjadi hidup itu sendiri.
TAMAT.
Novel ini ditulis oleh Evi Fauzi, Penulis dari Novel Singkat. Baca juga novel romantis, petualangan dan fiksi ilmiah lainnya.