Arsa, seorang mahasiswa arsitektur yang tenang dan penuh logika, terjebak dalam siklus waktu yang aneh—terus terbangun di hari yang sama, 24 April. Hari ketika ia jatuh cinta pada Aveline, gadis misterius yang selalu mati di penghujung hari. Tak peduli seberapa keras Arsa mencoba menyelamatkannya, kematian Aveline terus terulang… dan hanya Arsa yang menyadarinya.
Saat pencariannya membawanya ke rahasia waktu dan entitas penjaga emosi, Arsa menemukan bahwa Aveline bukan manusia biasa. Ia adalah bagian dari sistem waktu itu sendiri makhluk yang diciptakan untuk menjaga cinta tetap hidup di dunia yang mulai kehilangan rasa. Tapi jika Aveline diselamatkan, dunia akan membeku selamanya.
Dihadapkan pada pilihan antara cinta atau dunia, Arsa harus memutuskan: melepaskan Aveline demi kelanjutan waktu, atau menghancurkan aturan semesta demi satu detik bersama orang yang ia cintai. Dalam kisah penuh emosi ini, cinta tidak selalu tentang memiliki, tapi tentang memilih… meski itu berarti kehilangan untuk selamanya.
Bab 1: Hari yang Tak Pernah Usai
Langit pagi itu biru pucat, seperti cat air yang belum kering sepenuhnya. Arsa membuka matanya perlahan, menatap langit-langit kamar kosnya yang penuh dengan tempelan catatan dan sketsa-sketsa kecil. Ada rasa asing yang tetap sama. Perasaan bahwa hari ini bukan hari baru. Tapi entah kenapa, ia selalu berharap ada sesuatu yang berbeda.
Ia menyalakan jam digital di meja. 24 April. Lagi. Entah sudah berapa kali ia melihat tanggal itu muncul di layar. Terkadang ia mencobanya. Mematikan alarm, tidur lebih lama, bahkan menunggu sampai matahari tenggelam. Tapi semuanya tetap kembali ke titik awal. Hari ini.
Dibalik rasa bingung dan frustasi itu, ada satu hal yang membuat Arsa tetap bangun pagi dan keluar kamar: Aveline.
Ia pertama kali bertemu Aveline di depan perpustakaan kampus. Gadis itu mengenakan jaket abu-abu, rambutnya panjang berkilau seperti disinari matahari langsung, dan senyumnya… senyumnya membuat waktu terasa diam. Ia sedang duduk di tangga, menatap halaman buku yang terbalik.
Arsa tersandung saat menuruni tangga dan hampir jatuh. Tapi tangan Aveline menangkap pergelangan tangannya dengan refleks cepat. Sentuhan singkat, tapi cukup untuk menanamkan sesuatu dalam dada Arsa.
“Awas,” ucap Aveline ringan, lalu tertawa kecil. “Kamu baru bangun, ya?”
Hari itu mereka berbincang singkat. Tentang buku, tentang kopi kampus yang pahitnya seperti ditambah dendam, dan tentang langit yang terasa lebih rendah dari biasanya. Tak lama, Aveline pamit. Ia bilang ingin jalan-jalan ke taman kampus, menyendiri sebentar sebelum kelas.
Dan malamnya… Aveline mati. Kecelakaan. Tersambar petir di taman yang tak ada awan gelap sedikit pun.
Besoknya, Arsa terbangun kembali di 24 April.
Ia mencoba bicara dengan teman-teman, dosen, siapa saja. Tapi tak ada yang tahu tentang kematian Aveline. Bahkan gadis itu sendiri masih hidup dan menyapa dengan senyum sama seperti hari sebelumnya.
Hari berikutnya? Aveline jatuh dari balkon asrama. Keesokan harinya, ia tertabrak mobil saat menyebrang jalan. Dan seterusnya.
Setiap malam, dunia menghapus Aveline. Dan setiap pagi, mengulang lembar yang sama.
Kini Arsa duduk di taman kampus, memandangi Aveline dari jauh. Ia duduk di bangku yang sama, membaca buku yang sama, dengan gaya yang sama. Angin memainkan helaian rambutnya, dan dunia seolah menyorotkan cahaya hanya untuknya.
Ia tak tahu harus melakukan apa lagi. Sudah berkali-kali mencoba mencegah kematian Aveline. Ia pernah menculiknya, pernah menguncinya di ruang kelas, pernah mengirimnya pulang lebih awal. Tapi semua itu tetap membawa pada akhir yang sama: Aveline mati.
“Kalau kamu terus menatapku seperti itu, aku bisa-bisa jatuh cinta, lho,” suara Aveline mengejutkan Arsa. Gadis itu kini berdiri di depannya, tersenyum sambil menyimpan bukunya ke dalam tas selempang.
Arsa gugup. Ia sudah mendengar kalimat itu setidaknya dua puluh kali, tapi setiap kali terdengar, jantungnya tetap berdetak kencang.
“Kamu selalu bilang itu,” ucap Arsa akhirnya.
“Selalu bilang?” Aveline menaikkan alis. “Maksudmu kita pernah ngobrol sebelumnya?”
Arsa menghela napas. Ia sudah mencoba menjelaskan banyak kali sebelumnya, dan reaksi Aveline selalu sama: bingung, khawatir, dan kadang menjauh.
“Terlalu aneh kalau diceritakan sekarang,” ujarnya pelan. “Tapi, bisakah kamu menemaniku hari ini? Hanya hari ini.”
Aveline menatapnya lama, seolah sedang menimbang apakah pria di depannya benar-benar waras atau tidak. Lalu ia mengangguk.
“Baiklah. Aku suka aneh. Tapi kalau kamu menculikku, aku punya semprotan cabai.”
Mereka menghabiskan waktu di kafe kecil dekat kampus, memesan es cokelat dan croissant, lalu berjalan-jalan ke taman bunga. Arsa mencoba menyimpan momen itu dalam pikirannya sekuat mungkin. Ia tahu malam nanti Aveline akan hilang lagi, entah bagaimana caranya.
Aveline tertawa saat ia menceritakan kisah masa kecilnya yang jatuh dari pohon demi mengambil layang-layang. Ia menggenggam tangan Arsa saat mereka menyebrang jalan. Lalu ia mendongak saat awan mulai bergulung pelan.
“Aku suka hari seperti ini. Rasanya seperti… dunia sedang mengambil napas,” kata Aveline.
Arsa mengangguk pelan. Tapi hatinya penuh dengan kekhawatiran. Ia tahu waktu tak akan memberi mereka kesempatan lagi. Ia ingin berkata, ingin berteriak kalau Aveline akan mati malam ini. Tapi ia hanya diam.
Sore itu mereka duduk di bangku panjang di tepi danau kampus. Langit mulai berubah jingga. Aveline memejamkan mata, menikmati angin.
“Kalau bisa mengulang satu hari, kamu mau hari apa?” tanya Arsa tiba-tiba.
Aveline membuka mata, tersenyum kecil. “Mungkin hari ini.”
Arsa menunduk. Kata-kata itu selalu sama. Dan setelahnya, mereka akan berpisah. Dan malam akan mengambilnya lagi.
Tapi kali ini, sebelum Aveline pergi, Arsa berdiri. Ia menatap mata gadis itu dalam-dalam.
“Aku cinta kamu, Aveline.”
Aveline membeku. Matanya berkaca-kaca. Untuk pertama kalinya, ekspresinya berbeda. Tidak seperti pengulangan lainnya.
Dan sebelum ia sempat menjawab, cahaya petir menyambar langit yang tak berawan. Langit seakan runtuh. Arsa menjerit.
Dan saat ia membuka mata…
24 April lagi.
Ia menghela napas panjang.
Hari yang tak pernah usai telah dimulai kembali.
Bab 2: Percobaan Pertama
Langit pagi terlihat sama, tapi jiwanya tidak. Arsa terbangun dengan peluh dingin, napas tercekat, dan dadanya seperti diremas paksa. Lagi. Hari itu lagi. Tanggal yang sama, peristiwa yang sama, dan… takdir yang sama. Aveline akan mati malam ini, dan tak ada satu pun yang menyadarinya kecuali dia.
Namun, pagi ini ada sesuatu yang berbeda dalam dirinya. Bukan rasa pasrah, bukan juga harapan. Melainkan tekad. Ia akan menyelamatkannya—apa pun yang terjadi.
Arsa menulis dengan tergesa di papan kecil dekat tempat tidurnya:
“24 April. Aveline akan ke taman setelah makan siang. Di sana dia mati tersambar petir. Langit cerah. Aneh. Listrik? Buatan?”
Ia memakai hoodie hitam, memasukkan payung ke dalam ransel, lalu bergegas ke kampus. Ia tahu persis waktu dan tempat pertemuan pertama mereka. Tangga depan perpustakaan, pukul 10.12 pagi.
Ia duduk di sana duluan kali ini. Tangan gemetar, keringat membasahi telapak tangannya. Ia menatap arlojinya. 10.11. Satu menit lagi.
Dan tepat ketika jarum panjang melewati angka dua, langkah Aveline muncul. Ia tetap dengan jaket abu-abunya, tetap dengan langkah ringan dan buku tebal di tangan. Seolah waktu tak pernah berlaku padanya.
Arsa bangkit dan berjalan cepat menghampiri, menahan dirinya agar tidak terbawa emosi seperti biasanya.
“Hai,” sapa Arsa lebih dulu.
Aveline menoleh. Senyumnya mengembang. “Oh… kita pernah ketemu ya?”
Sedikit perubahan. Biasanya Aveline menyapa lebih dulu. Mungkin sesuatu memang berubah.
“Kita pernah bicara… di taman,” kata Arsa pelan.
Aveline mengerutkan kening. “Serius? Maaf, aku pelupa banget.”
“Tak masalah. Aku cuma ingin ngajak kamu makan siang,” lanjut Arsa. “Boleh? Hari ini aja.”
Aveline terlihat ragu, tapi akhirnya mengangguk. “Aku belum sarapan juga, jadi… kenapa tidak?”
Arsa memilihkan kafe indoor, bukan taman. Ia bahkan memesan tempat dekat pilar besi—jauh dari jendela, jauh dari risiko apa pun. Ia tahu—harus tahu—apa pemicu kematian Aveline hari ini.
Mereka mengobrol seperti biasanya. Aveline suka menanyakan hal-hal aneh: “Kalau kamu bisa jadi benda mati, kamu ingin jadi apa?” atau “Menurutmu warna langit itu nyata atau hanya ilusi retinamu?”
Arsa menjawab dengan tawa yang nyaris gugup. Ia takut. Takut ini akan menjadi percakapan terakhir mereka lagi.
Selesai makan, Aveline menepuk pipinya sendiri ringan. “Aku harus jalan ke taman, seperti biasa. Rutinitas sebelum kelas sore.”
Arsa menggenggam tangannya.
“Ayo ke perpustakaan aja dulu. Aku nemu buku yang kamu suka.”
Aveline menatapnya lama. “Kamu tahu buku kesukaanku?”
Arsa membeku. Ia terlalu cepat.
“Cuma nebak… kamu suka ‘The Time Keeper’, kan?” ujarnya asal.
Aveline terdiam, lalu tersenyum lebar. “Itu buku favoritku banget. Gimana kamu tahu?”
Ia berhasil.
Arsa membawa Aveline ke perpustakaan. Duduk bersamanya. Mengulur waktu. Melihat jam berputar. Pukul tiga. Tidak ada petir. Tidak ada tragedi.
Untuk sesaat, dunia terasa utuh. Ia melihat Aveline tertawa lepas karena bagian buku yang ia baca, dan Arsa merasa dadanya sesak oleh harapan.
Tapi kemudian, lampu perpustakaan berkedip. Arsa menoleh. Di luar jendela, awan hitam menggulung cepat. Padahal tadi langit bersih.
Dan Aveline berdiri.
“Aku harus pulang. Langitnya aneh banget, ya?” katanya, mengambil tas.
Arsa langsung berdiri. “Tunggu. Aku antar. Kita jangan ke taman. Langsung ke asrama aja.”
Mereka berlari. Angin mulai menggila. Pepohonan meliuk keras, dan Arsa menggenggam tangan Aveline erat-erat. Kali ini ia yakin. Ia pasti bisa menyelamatkannya.
Tapi di pertigaan jalan, ada kabel listrik jatuh dari tiang. Kabel itu menyala, berdesis, seperti ular yang sedang mengancam.
Arsa menarik Aveline ke samping. “Jangan lewat sana!”
Tapi Aveline melihat seorang anak kecil yang berdiri terlalu dekat ke kabel itu. Ia melepas tangan Arsa dan berlari.
“Arsa! Anak itu!”
“JANGAN!!”
Terlambat.
Kabel itu meledak dengan kilatan cahaya. Suara seperti langit pecah. Arsa terlempar. Dunia gelap sejenak. Dan saat ia membuka mata…
Tubuh Aveline tergeletak di aspal. Tak bergerak.
Arsa berlari, berlutut, mengguncangnya. “Aveline? Tolong… jangan…”
Wajah gadis itu masih hangat. Tapi matanya tak terbuka.
Dan dunia mulai kabur. Seperti kaca pecah yang dikumpulkan ulang. Warna-warna berubah jadi kelabu. Angin terhenti. Suara membisu. Dan…
Arsa kembali terbangun di tempat tidurnya.
24 April.
Ia menatap langit-langit kamar. Diam. Tak menangis. Tak berteriak. Hanya menatap kosong.
Sudah tak terhitung berapa kali ia mencoba. Tapi satu hal pasti…
Aveline selalu mati.
Dan ia masih belum tahu kenapa.
Bab 3: Teori Waktu dan Kegilaan
Langit pagi itu tak berubah. Tetap biru pucat, tanpa awan. Tapi di kepala Arsa, semuanya sudah hancur. Ia tak lagi berlari ke perpustakaan untuk bertemu Aveline. Tak menyiapkan rencana baru. Tak menyusun strategi pencegahan. Hari ini, ia hanya duduk di lantai kamarnya, memandangi kalender digital yang seakan mengejeknya: 24 April.
Lagi.
“Berapa kali lagi?” bisiknya lirih.
Ia mulai mencoret-coret kertas dengan spidol merah, menulis tiap detail pengulangan yang ia alami. Kematian Aveline dalam berbagai bentuk: tersambar petir, jatuh, ditabrak, terbakar, tenggelam, hilang begitu saja. Ia bahkan mulai mencurigai kalau dunia sedang memainkan semacam eksperimen terhadapnya.
Tapi jika memang ini eksperimen, siapa pelakunya?
Dalam keputusasaan itu, Arsa mengingat seseorang: Pak Rehan, dosen fisika waktu dan relativitas yang dulu sering bicara soal “anomali temporal” dalam kuliah. Ia sempat bilang bahwa segala sesuatu di dunia ini adalah pola, termasuk kemungkinan waktu bisa “tersandung”.
Arsa mengenakan jaket dan menuju ruang dosen dengan langkah cepat. Dunia terasa palsu hari ini—seolah latar panggung yang tidak selesai dicat. Wajah-wajah mahasiswa yang ia lewati seperti topeng. Semuanya mengucap kata-kata yang sama seperti sebelumnya. Dialog hidup yang diulang. Bahkan angin pun bertiup dengan nada yang familiar.
Ia mengetuk pintu ruang Pak Rehan.
“Masuk.”
Pak Rehan, pria berusia lima puluhan dengan rambut perak dan mata tajam seperti penembus ruang, menoleh ke arahnya. “Arsa? Ada yang bisa saya bantu?”
“Saya… saya ingin bertanya tentang waktu,” ujar Arsa.
Pak Rehan tertawa kecil. “Topik yang berat di pagi hari. Kenapa, kamu merasa waktu berjalan terlalu cepat?”
“Tidak,” kata Arsa dengan suara rendah. “Saya terjebak di hari yang sama. Setiap malam, gadis yang saya cintai mati. Dan keesokan harinya, saya kembali ke tanggal yang sama. Hanya saya yang mengingat semuanya. Yang lain tidak.”
Pak Rehan terdiam.
Arsa menatapnya lurus-lurus. “Saya tahu ini terdengar gila. Tapi saya serius. Saya mencatat semuanya. Setiap detail. Setiap percakapan. Bahkan reaksi wajah orang-orang. Tidak mungkin ini hanya delusi.”
Pak Rehan berdiri dari kursinya dan mengambil buku catatan tua dari rak. Ia membukanya, lalu meletakkannya di depan Arsa.
“Teori ini disebut loop temporal minor. Dalam kondisi ekstrim, waktu bisa membentuk lingkaran kecil yang terus mengulang, terutama jika ada gangguan atau celah dalam jaringan waktu lokal. Biasanya hanya satu orang yang menjadi pusat anomali… dan hanya dia yang bisa mengingat pengulangan itu.”
Arsa membeku. “Itu… benar-benar bisa terjadi?”
“Secara teoritis, ya. Tapi belum pernah terbukti dalam praktik. Paling dekat adalah laporan tentang mimpi yang terus berulang atau kasus déjà vu ekstrem,” jawab Pak Rehan.
“Kalau begitu… bagaimana saya bisa keluar dari lingkaran ini?” tanya Arsa dengan nada putus asa.
Pak Rehan menatapnya dalam. “Pertama, temukan pusatnya. Ada satu kejadian, satu hal… atau satu makhluk, yang menjadi jangkar dari lingkaran itu. Hanya dengan mengungkap atau menghancurkan jangkar tersebut, kau bisa memecah siklusnya.”
Arsa menatap lantai. Dalam kepalanya, hanya satu nama yang berulang. Aveline.
“Tapi kalau jangkar itu… seseorang yang aku cintai?” tanya Arsa pelan.
Pak Rehan menghela napas. “Maka kamu harus memilih: cinta atau kebebasan.”
Arsa pulang dengan kepala berat. Ia mulai menyusun catatan. Membandingkan tiap pengulangan. Dan semakin dalam ia telusuri, semakin aneh semuanya terlihat. Aveline tidak pernah sakit. Tidak pernah terlambat. Tidak pernah menyimpang dari pola—kecuali saat Arsa mengganggu.
Ia bahkan menuliskan semua pertanyaan yang pernah ia ajukan pada Aveline. Dan satu hal mencurigakan: Aveline tak pernah menceritakan masa lalunya. Ia tidak pernah menyebut nama keluarganya, asal kotanya, atau apa pun yang mengikatnya pada dunia ini. Ia seperti… muncul begitu saja.
Di malam itu, Arsa duduk sendiri di danau kampus, tempat Aveline pernah duduk bersamanya.
Ia memejamkan mata.
“Kalau kamu bukan manusia… siapa kamu sebenarnya?”
Dan saat angin malam mulai meniup daun-daun, ia mendengar suara lembut di belakangnya.
“Kau mulai menyadari sesuatu, ya?”
Arsa menoleh. Aveline berdiri di sana. Tapi wajahnya kali ini… berbeda. Tenangnya tak lagi seperti manusia. Dan matanya bersinar lembut, bukan karena pantulan cahaya, tapi seolah mengandung waktu itu sendiri.
“Siapa kamu?” tanya Arsa pelan, jantungnya berdetak tak karuan.
Aveline mendekat dan duduk di sebelahnya. “Aku belum bisa menjawab sekarang. Tapi teruslah mencari. Karena saat kamu benar-benar tahu… semuanya akan berubah.”
Lalu, seperti kabut yang tertiup angin, Aveline menghilang.
Dan dunia kembali gelap.
Besok, Arsa akan terbangun di tanggal yang sama lagi.
Tapi kali ini… ia tahu. Sesuatu yang besar sedang disembunyikan.
Dan ia akan mencari sampai ke ujung waktu untuk mengungkapnya.
Bab 4: Dialog yang Berbeda
Pagi itu, Arsa tidak langsung bangkit dari tempat tidur. Ia menatap langit-langit untuk waktu yang lama, mendengarkan deru kipas angin dan detak jantungnya sendiri yang terdengar terlalu tenang untuk seseorang yang sudah kehilangan segalanya—berkali-kali.
Tapi hari ini, ia merasa ada sesuatu yang miring. Sedikit saja, seperti jarum jam yang melenceng satu detik dari biasanya.
Ia bangun dan membuka tirai. Matahari masih di tempat yang sama. Udara tetap sejuk seperti hari-hari sebelumnya. Tapi tatapannya sudah tak sama. Ia tak lagi sekadar ingin menyelamatkan Aveline. Ia ingin tahu kebenaran. Ia ingin tahu siapa Aveline sebenarnya.
Jam tangannya menunjukkan pukul 10.05 saat ia berjalan ke depan perpustakaan. Ia duduk di anak tangga keempat, menunduk, menunggu langkah yang selalu muncul pada pukul 10.12. Tapi hari ini, detik demi detik berlalu, dan tidak ada siapa pun yang datang.
Hening.
Arsa menegakkan punggung, menatap sekitar. Tidak. Aveline tidak muncul. Untuk pertama kalinya, kehadirannya terlambat.
Ia bangkit dan mencari ke seluruh area kampus. Ke taman, kantin, ruang baca, bahkan ke atap gedung fakultas. Tapi Aveline tidak ada.
Ketika ia kembali ke depan perpustakaan, seseorang menepuk pundaknya dari belakang.
“Lagi nyari aku, ya?”
Suara itu.
Ia berbalik cepat. Dan benar, Aveline berdiri di sana, mengenakan pakaian yang sama seperti biasanya. Tapi ekspresinya… bukan senyum manis yang biasa ia kenakan. Kali ini wajahnya lebih dalam, seperti menyimpan banyak hal yang tak bisa ia ucapkan sekaligus.
“Kamu… datang terlambat,” ucap Arsa.
Aveline mengangguk pelan. “Aku tahu kamu selalu menunggu di sini. Tapi aku bosan melihatmu selalu menatapku seperti itu.”
“Seperti itu bagaimana?”
“Seperti orang yang sudah melihat aku mati ratusan kali,” bisiknya.
Arsa membeku. Napasnya tertahan.
“Kamu… ingat?”
Aveline menatapnya lama, lalu menghela napas. “Tidak sepenuhnya. Tapi aku mulai merasa aneh. Seperti… aku mengenalmu lebih dari yang seharusnya. Seperti ada suara kecil di dalam diriku yang bilang, ‘Hati-hati, dia tahu segalanya.’”
Arsa tidak tahu harus tertawa atau menangis.
“Aku sudah mencoba segalanya,” katanya. “Menggagalkan kecelakaan, menjauhkanmu dari taman, dari jalan raya, dari tempat tinggi… Tapi kamu tetap mati. Selalu. Aku kehabisan cara, Aveline.”
Gadis itu duduk di bangku kayu dekat mereka, menatap langit. “Kalau kamu tahu aku akan mati, kenapa tetap mencariku?”
Karena aku mencintaimu, ingin Arsa katakan. Tapi bibirnya berat untuk mengucap itu lagi.
“Aku tidak bisa menjelaskan,” ucapnya akhirnya. “Tiap kali kamu tersenyum, aku merasa dunia ini masih bisa diperjuangkan. Tapi tiap malam… dunia mencabutmu dari aku.”
Aveline menunduk. Jemarinya meremas ujung rok. “Mungkin… aku memang tidak seharusnya ada di dunia ini.”
“Kamu bicara seperti—”
“—seperti seseorang yang bukan manusia?” potong Aveline pelan.
Arsa menelan ludah.
“Pernah dengar tentang makhluk penjaga waktu?” tanya Aveline pelan.
Arsa mengangguk. “Teori. Dosenku bilang ada entitas yang menjaga aliran waktu agar tetap seimbang.”
Aveline menoleh. Matanya lembut. “Kalau aku bilang, aku salah satu dari mereka… kamu akan percaya?”
“Ya,” jawab Arsa tanpa ragu.
Aveline tertawa kecil, getir. “Cepat sekali percaya.”
“Aku sudah melihatmu mati dengan cara yang tak bisa dijelaskan. Aku sudah melihat waktu berputar kembali meski dunia tetap berjalan seperti biasa. Aku tidak butuh bukti lain, Aveline.”
Aveline menghela napas. “Tugasku adalah menjaga emosi manusia. Dunia ini terlalu tenang sekarang. Terlalu rasional. Cinta mulai menghilang. Aku dikirim untuk menghidupkan kembali rasa itu… Tapi sesuatu salah. Saat aku bertemu kamu, aku mulai merasakan hal-hal yang tak boleh aku rasakan.”
Arsa menunduk, suara dalam dadanya menggema seperti gempa kecil. “Kamu jatuh cinta padaku?”
Aveline tak menjawab. Tapi sorot matanya sudah cukup memberi jawaban.
“Dan setiap malam, sistem waktu mencoba menghapusmu,” kata Arsa pelan. “Karena kamu mulai menyimpang dari fungsimu?”
“Karena cinta adalah anomali terbesar,” balas Aveline. “Jika aku terus bertahan, jika kamu terus mencoba menyelamatkanku… dunia akan membeku. Waktu akan berhenti. Emosi yang terlalu dalam bisa menjebol batas dimensi. Itulah kenapa aku selalu mati.”
Arsa tak bisa berkata apa-apa. Dunia yang sebelumnya terasa seperti penjara waktu, kini berubah menjadi medan pertempuran batin. Jika ia menyelamatkan Aveline, dunia akan berhenti. Jika ia membiarkannya mati, hatinya akan hancur berkeping-keping.
Aveline berdiri.
“Untuk sekarang, aku masih punya waktu. Tapi tidak lama.”
“Berapa kali lagi?”
“Aku tidak tahu,” bisik Aveline. “Tapi jika kamu terus bertahan, terus mencoba… kamu akan sampai di titik di mana kamu harus memilih: aku atau dunia.”
Lalu ia pergi. Tak menoleh.
Dan Arsa berdiri sendiri di tengah sinar matahari yang kini terasa terlalu hangat untuk dunia yang akan membeku.
Hari ini berbeda.
Dan ia tahu, waktu tidak akan memberinya banyak kesempatan lagi.
Bab 5: Aku Tahu Kau Akan Mati
Malam menjelang dengan langkah yang lembut tapi dingin. Udara terasa lebih berat dari biasanya, seolah bumi sendiri sedang menahan napas. Di atas langit, bintang-bintang muncul satu per satu, seperti mata-mata kecil yang memperhatikan segalanya, diam-diam. Arsa berdiri di depan danau kampus, tempat kenangan dengan Aveline paling sering terulang. Tempat di mana ia selalu berharap waktu akan memilih jalan yang berbeda.
Tapi kali ini, ia tidak lagi menunggu dengan harapan. Ia menunggu dengan kesadaran penuh—bahwa Aveline akan mati malam ini. Seperti biasa. Tapi kali ini, ia akan memberitahunya.
Langkah kaki Aveline terdengar dari belakang. Arsa menoleh. Ia tetap seperti biasa. Rambut tergerai, jaket abu-abu, dan mata penuh sinar yang tak bisa dijelaskan secara logis. Tapi ada yang berbeda dalam sorotnya. Aveline terlihat lebih… lelah.
“Kamu tahu aku akan datang ke sini?” tanyanya pelan.
“Selalu begitu,” jawab Arsa.
Aveline duduk di sampingnya tanpa kata. Mereka diam lama. Arsa mendengar suara kodok dari kejauhan, gesekan dedaunan, detak jantungnya sendiri yang tidak bisa tenang. Lalu, ia memutuskan.
“Aveline,” ucapnya perlahan. “Aku tahu kamu akan mati malam ini.”
Gadis itu tak bereaksi seketika. Ia hanya menatap danau yang tenang di depannya. Airnya memantulkan bulan yang hampir utuh.
“Aku tahu,” jawabnya pelan.
Arsa menatapnya tajam. “Kamu tahu? Kamu benar-benar tahu?”
Aveline mengangguk sekali. “Malam ini adalah akhir dari siklus ke-74. Dan kamu satu-satunya yang selalu ada di setiap pengulangan. Kamu bertahan. Kamu terus mencoba. Itu membuat aku… mulai ingat.”
Arsa menghela napas panjang. Matanya mulai basah. “Kenapa harus seperti ini? Kenapa kamu harus mati?”
“Karena kamu terlalu mencintaiku,” jawab Aveline pelan. “Dan cinta itu terlalu kuat untuk dimiliki oleh satu orang. Jika aku hidup, dan cinta itu tetap tumbuh, dunia ini akan berhenti.”
“Biar saja berhenti!” seru Arsa. “Aku tak peduli dengan dunia jika harus kehilangan kamu terus-menerus!”
Aveline menatapnya dengan mata yang lembut. “Tapi kamu bukan aku, Arsa. Aku diciptakan untuk menjaga agar emosi manusia tidak menghancurkan sistem waktu. Jika aku terus hidup, semua detik akan berhenti berjalan. Kamu akan terjebak dalam hari bahagia selamanya. Tapi dunia lain akan membeku. Tidak ada lagi masa depan.”
Arsa menunduk. Bahunya gemetar. Tangannya mengepal kuat. “Lalu… apa gunanya semua ini? Apa gunanya cinta kalau selalu kalah oleh sistem?”
“Cinta tidak kalah,” jawab Aveline, suaranya nyaris seperti bisikan. “Ia hanya… harus dilepaskan. Bukan untuk dikalahkan, tapi untuk menyelamatkan.”
Arsa menggeleng. “Aku tidak bisa. Aku tidak bisa lagi melihat kamu mati.”
Aveline mendekat, menyentuh wajahnya. “Lalu biarkan malam ini jadi yang terakhir. Biarkan aku mati… dengan kamu di sisiku. Bukan karena kamu menyerah, tapi karena kamu mengizinkanku pergi.”
Air mata Arsa jatuh. Panas. Berat. Tapi untuk pertama kalinya, ia tak menahan.
Mereka duduk berdampingan, membisu, dalam pelukan waktu yang akan segera runtuh. Langit mulai berubah warna. Angin berputar. Daun-daun berguguran tanpa suara. Dunia seperti tahu bahwa akhir dari satu lingkaran sudah dekat.
Aveline bersandar di bahunya. “Kalau aku boleh memilih satu hari saja untuk tetap hidup, aku akan pilih hari ini. Hari saat kamu memelukku… dan menerima bahwa aku akan pergi.”
Arsa menggenggam tangannya. Kencang. Tapi tidak memaksa.
Beberapa detik kemudian, angin berhenti. Udara membeku. Dan Aveline memejamkan mata.
Tubuhnya perlahan menjadi cahaya. Lembut. Tak terbakar. Tidak hancur. Tapi menguap perlahan, seperti kabut yang kembali pada pagi.
Dan Arsa tak mengatakan apa-apa. Hanya memeluk kekosongan itu, memeluk ruang tempat cinta pernah tinggal.
Ketika ia membuka mata, dunia terasa lebih senyap dari biasanya. Tapi ada yang berbeda. Ia masih berada di bangku itu. Danau masih di hadapannya. Tapi tidak ada alarm di telinganya. Tidak ada jam yang berdetak ulang.
Ia melihat layar ponselnya.
25 April.
Bibirnya bergetar.
Waktu… akhirnya bergerak.
Tapi Aveline tidak ada di mana pun. Tidak akan ada lagi.
Dan dalam sunyi yang seolah tak bertepi, Arsa berbisik pelan ke udara:
“Terima kasih… karena sudah mencintaiku. Meskipun hanya untuk satu hari yang terus diulang.”
Bab 6: Kode yang Tak Bisa Dipecahkan
Arsa tidak langsung bangun keesokan harinya. Untuk pertama kalinya dalam entah berapa lama, ia benar-benar tertidur sepanjang malam tanpa terbangun ke tanggal yang sama. Tidak ada alarm yang berbunyi di waktu yang persis sama, tidak ada langit pagi yang terasa diulang dari hari kemarin.
Ia membuka mata pelan. Matanya merah, tubuhnya lemas, tetapi dunia terasa… nyata.
25 April.
Ia mencubit pipinya sendiri, mencoba memastikan. Tapi rasa sakitnya benar. Waktu akhirnya berjalan.
Namun alih-alih lega, yang ia rasakan adalah kehampaan. Karena Aveline sudah tak ada. Tidak ada tanda-tanda kehadirannya, tak ada suara langkahnya, tak ada senyum hangat di bawah matahari pagi. Bahkan udara terasa hampa, seolah kehilangan cahaya yang pernah menyertainya.
Hari itu, Arsa berjalan ke perpustakaan. Bukan untuk mencari Aveline, tapi untuk mencari penjelasan. Ia membuka semua catatan yang pernah ia buat—lembaran demi lembaran tentang kematian Aveline, tentang keanehan yang ia alami, tentang percakapan terakhir mereka. Ia menyusun semuanya di meja baca, menciptakan semacam peta ingatan yang berantakan tapi bermakna.
Di antara tumpukan itu, ada satu benda yang luput dari perhatiannya sebelumnya: sebuah buku bersampul kulit tua berwarna biru gelap. Ia tidak ingat pernah memilikinya. Tapi di bagian dalam sampulnya tertulis dengan tinta emas:
“Untuk Arsa,
Saat waktu tak lagi bisa bicara, biarkan kenangan yang menjawab.”
– A
Jantungnya berdegup keras. A. Aveline.
Ia membuka halaman-halamannya perlahan. Setiap lembar dipenuhi dengan simbol-simbol aneh, semacam aksara kuno yang tidak menyerupai alfabet mana pun. Tapi semakin ia membaca, semakin matanya terbiasa dengan pola-pola itu. Seolah pikirannya—yang pernah masuk dalam lingkaran waktu—masih menyimpan kunci untuk memahaminya.
Beberapa simbol mulai membentuk makna samar. Ia melihat rangkaian kata seperti:
Jangkar emosi. Penjaga waktu. Siklus cinta. Hancurkan untuk membuka.
Dan di bagian tengah buku, ada satu halaman kosong. Tapi saat ia menyentuhnya, tinta perlahan muncul, seperti ditarik dari udara:
“Aku tidak pernah sepenuhnya pergi. Aku hanya kembali ke tempatku berasal. Tapi rasa ini, cinta ini, telah menciptakan celah. Gunakan celah itu, jika suatu hari kamu ingin melihatku lagi. Tapi ingat—dunia akan menuntut harga untuk itu.”
Arsa menatap halaman itu lama sekali. Tangannya gemetar. Kepalanya penuh dengan pertanyaan. Apa maksud celah itu? Apa harga yang dimaksud? Dan… apakah ini berarti Aveline bisa kembali?
Ia menutup buku itu dan berdiri. Napasnya tidak teratur. Di dalam hatinya, dua suara bertarung hebat: satu memintanya melupakan, menerima, menjalani hidup yang kembali normal. Yang lain… ingin menemukan celah itu. Mencoba. Sekalipun itu berarti menghancurkan dunia.
Arsa membawa buku itu ke profesor Rehan, dosen fisika waktu yang dulu pernah membantunya.
Pak Rehan membuka halaman demi halaman dengan kening berkerut. “Ini… ini bukan bahasa biasa. Ini mirip dengan simbol yang disebut Chronoglyph, aksara yang hanya ditemukan di situs-situs aneh yang dipercaya sebagai anomali waktu.”
“Jadi… ini sungguhan?” tanya Arsa.
“Kalau ini asli, maka kamu memiliki sesuatu yang tak seharusnya dimiliki manusia biasa. Dan jika kamu benar-benar ingin membuka ‘celah waktu’ seperti yang ditulis di sini… kamu harus hati-hati.”
“Apa yang akan terjadi kalau celah itu dibuka?” bisik Arsa.
Pak Rehan menatapnya lekat-lekat. “Teorinya… kau bisa mengakses dimensi waktu yang belum tersentuh. Tempat kenangan dan emosi yang terlalu kuat disimpan. Tapi juga tempat paling rapuh. Sekali kamu masuk, kamu mungkin tidak bisa kembali.”
Arsa menggenggam buku itu lebih erat. “Saya harus melakukannya.”
Pak Rehan menggeleng. “Cinta itu kuat, Arsa. Tapi jangan biarkan cinta itu membunuh logika. Kadang kehilangan… adalah satu-satunya cara dunia tetap berjalan.”
Tapi Arsa tak peduli. Ia sudah kehilangan Aveline terlalu banyak. Dan sekarang, dunia memberinya petunjuk. Petunjuk yang mungkin satu-satunya cara untuk melihatnya sekali lagi—bukan dalam mimpi, bukan dalam ilusi, tapi sungguh-sungguh.
Malam itu, ia duduk sendiri di danau kampus, buku bersampul biru di pangkuannya. Cahaya bulan memantul di permukaannya, dan udara malam berbisik lembut di telinganya.
Ia membuka halaman terakhir.
Di sana, tertulis satu kalimat dengan tinta yang belum mengering:
“Jika kau masih mencintaiku… temui aku di antara detik yang tak pernah tercatat.”
Dan di bawahnya, muncul simbol kecil berbentuk segitiga terbalik dengan lingkaran di tengahnya.
Arsa tahu.
Ini bukan akhir.
Ini adalah pintu.
Dan ia akan mencarinya, walau harus berjalan di antara pecahan waktu.
Bab 7: Rahasia Aveline
Langkah Arsa menyusuri lorong gelap bawah perpustakaan seperti menghitung detik. Setiap denting langkahnya terasa berat—seberat rindu yang belum sempat selesai, seberat keyakinan yang belum sempat diuji. Ia membawa buku bersampul biru itu erat-erat, membuka kembali halaman terakhir, memastikan simbol segitiga dan lingkaran itu belum menghilang.
Ia telah mencari di semua sudut kampus, di semua ruang rahasia yang bisa ia temukan. Dan akhirnya, sebuah pintu tua di ruang arsip lantai bawah memunculkan sesuatu yang berbeda hari ini: simbol yang sama terukir samar di atas kenop pintunya, seolah baru muncul setelah Aveline tiada.
Arsa menyentuh simbol itu.
Pintu berderak perlahan, dan dunia di baliknya bukan ruang arsip berdebu. Melainkan lorong berwarna perak kebiruan yang tak memiliki sumber cahaya, namun tetap terang. Udara di dalamnya aneh—tidak dingin, tidak panas, hanya… kosong.
Ia melangkah masuk.
Setiap dinding lorong dihiasi fragmen waktu: cuplikan kehidupan manusia yang bergerak dalam gelembung kecil. Seorang ibu menggendong anaknya, sepasang kekasih tertawa di tepi pantai, seorang pria tua menangis sendiri di meja makan. Semua adegan itu terdiam, membeku, seperti lukisan hidup dari waktu yang hilang.
Langkah Arsa terhenti ketika ia melihatnya.
Aveline.
Berdiri di tengah ruangan besar berbentuk lingkaran, mengenakan gaun putih yang tidak pernah ia kenakan sebelumnya. Rambutnya terurai sempurna, matanya tidak bersinar seperti biasa. Tapi penuh kesadaran.
“Arsa…” ucapnya, lembut, nyaris seperti bisikan dari balik mimpi.
“Aku temukan kamu,” ujar Arsa pelan, air matanya mulai naik tanpa kendali. “Aku datang. Aku ikuti semua petunjukmu.”
Aveline tersenyum, tapi senyum itu tak seutuh dulu. Ada luka dalam senyumnya. Ada beban di baliknya.
“Kamu tidak seharusnya di sini.”
“Aku harus ke sini,” jawab Arsa cepat. “Aku tidak bisa hidup tanpamu. Aku ingin kamu kembali. Aku ingin kita kembali.”
Aveline berjalan perlahan mendekat. Setiap langkahnya menimbulkan getaran halus di lantai perak yang tak menyentuh tanah.
“Tempat ini… bukan tempat kehidupan,” bisiknya. “Ini adalah ruang sisa. Di sinilah para Penjaga disimpan saat mereka terlalu dalam merasakan. Saat mereka melanggar batas. Saat mereka jatuh cinta.”
Arsa mengerutkan kening. “Kau… ditahan di sini?”
Aveline mengangguk. “Aku pernah menjadi entitas netral. Tugas kami hanya satu: menjaga agar manusia tetap mengenal cinta, tapi tidak terlalu dalam hingga melukai waktu. Tapi saat aku bertemu kamu… aku mulai bertanya-tanya, kenapa cinta hanya boleh sebatas itu?”
“Karena cinta kita terlalu kuat?” tanya Arsa.
“Karena cinta kita nyata,” jawab Aveline. “Dan waktu tak pernah mengizinkan yang nyata bertahan lama.”
Arsa menatapnya penuh rindu. “Lalu kenapa kamu tinggalkan jejak di buku itu? Simbol, pesan-pesan… semua petunjuk. Kamu ingin aku datang, bukan?”
Aveline terdiam.
“Aku ingin kamu ingat,” jawabnya lirih. “Bukan untuk menyelamatkanku. Tapi agar kamu tahu aku tidak pernah berpura-pura. Bahwa setiap senyum, setiap tawa… setiap detik yang kita habiskan bersama, itu sungguhan. Bukan bagian dari sistem. Itu… aku.”
Arsa maju dan memeluknya. Tubuh Aveline terasa nyata. Hangat. Tidak seperti kabut, tidak seperti ilusi. Tapi detik itu juga, dunia di sekeliling mereka mulai retak. Lorong-lorong waktu menggema, dan suara-suara tak dikenal mulai berbisik.
“Waktu tidak akan membiarkan ini,” kata Aveline. “Kalau kamu tetap di sini… dunia akan runtuh. Semua yang kau kenal akan berhenti.”
“Aku tidak peduli.”
“Kamu harus peduli, Arsa. Karena dunia masih butuh kamu. Butuh seseorang yang pernah merasakan cinta sebesar ini, untuk menyebarkannya. Untuk mengajarkan orang-orang bahwa cinta bisa mengubah segalanya, bahkan waktu.”
Arsa memejamkan mata. Tubuhnya gemetar.
“Kalau aku pergi… kamu akan tetap di sini?” tanyanya dengan suara patah.
“Tidak,” bisik Aveline. “Aku akan lenyap. Sepenuhnya. Tak akan ada lagi Aveline di waktu mana pun. Tak akan ada kesempatan kedua. Tapi kenangan itu akan tetap hidup di kamu.”
Ia melepaskan pelukan perlahan, menatap wajah Arsa untuk terakhir kalinya.
“Kau bilang aku cahayamu, Arsa. Tapi sesungguhnya… kaulah jangkar yang membuatku tetap ada sejauh ini. Dan sekarang, waktunya aku membebaskanmu.”
Seketika, lantai di bawahnya mulai bersinar, membentuk lingkaran cahaya yang melingkupi tubuh Arsa. Suara gema semakin kuat.
“Tidak! Aku belum siap kehilangan kamu lagi!” teriak Arsa.
Aveline tersenyum, meneteskan satu air mata terakhir.
“Kalau kau masih mencintaiku, hiduplah. Bawa cinta itu ke dunia. Jangan hanya menyimpannya untuk orang yang telah hilang.”
Cahaya itu menyilaukan.
Dan detik berikutnya…
Arsa kembali duduk di taman kampus. Udara segar. Langit biru. Tak ada buku di tangannya. Tak ada simbol aneh. Tak ada pintu waktu.
Tapi dalam hatinya, ada nama.
Aveline.
Dan untuk pertama kalinya, ia tersenyum sambil menangis.
Karena meski dunia tak lagi memiliki Aveline…
Hatinya akan selalu menyimpan waktu yang pernah mereka miliki bersama.
Bab 8: Hari yang Hampir Berhasil
Hari-hari berjalan. Waktu tidak lagi melingkar, tidak lagi terperangkap di tanggal yang sama. Arsa kini hidup dalam garis waktu yang maju, seperti orang-orang lain. Tapi tidak seperti orang lain, ia hidup dengan satu memori yang tak bisa dihapus—kenangan tentang Aveline, tentang lingkaran waktu, dan tentang cinta yang terlalu kuat hingga nyaris menghancurkan dunia.
Ia kembali menjalani rutinitas kampus. Tapi setiap langkahnya mengandung jejak hampa. Ia duduk di perpustakaan, namun tak membuka buku. Ia duduk di taman, namun tak melihat bunga. Semua yang pernah ia bagi bersama Aveline kini hanya berfungsi sebagai pengingat bahwa sesuatu yang indah pernah ada, lalu pergi.
Namun pada tanggal 30 April, sesuatu terjadi.
Pagi itu, Arsa bangun dengan jantung berdetak lebih cepat dari biasanya. Ia tidak tahu mengapa. Tidak ada mimpi, tidak ada firasat aneh. Tapi ada bisikan halus di benaknya—seperti sisa gema dari dunia lain.
Ia pergi ke kampus tanpa tujuan jelas. Sampai akhirnya kakinya membawanya ke lorong samping gedung seni, tempat yang tidak pernah ia kunjungi sebelumnya. Di sana, seorang gadis berdiri memunggunginya, mengenakan jaket abu-abu. Rambutnya tergerai panjang. Detik itu, dunia Arsa berhenti.
“Aveline?” bisiknya.
Gadis itu berbalik perlahan. Bukan Aveline. Tapi matanya… mata itu sama. Dalam. Lembut. Mata yang dulu menatapnya saat dunia berputar ulang.
“Maaf?” ucap gadis itu.
Arsa menggeleng cepat, mundur satu langkah. “Maaf… aku kira kamu orang lain.”
Gadis itu tersenyum sopan, lalu berjalan melewatinya. Tapi saat ia sudah beberapa langkah menjauh, ia berhenti dan menoleh.
“Ngomong-ngomong, nama aku Avena,” katanya sambil tersenyum. “Kita pernah ketemu?”
Arsa terdiam. Dunia seperti menarik napas dalam. Hening. Lalu, pelan-pelan, ia menjawab, “Entahlah. Mungkin… di waktu yang lain.”
Hari itu, Arsa tak bisa berhenti memikirkan Avena. Bukan karena wajahnya, bukan karena suara atau sikapnya. Tapi karena rasa asing yang justru terasa akrab. Seperti detak jam yang kembali berdenting di dada.
Malamnya, Arsa duduk di depan danau kampus. Membuka catatan lamanya. Semua tentang Aveline. Ia membaca ulang, seolah mencoba mencari celah antara tulisan dan kenyataan. Dan saat ia membuka halaman terakhir buku catatannya—yang semestinya kosong—ia menemukan sesuatu yang membuatnya terpaku.
Tulisan tangan.
“Aku tak bisa kembali sebagai Aveline. Tapi mungkin aku bisa lahir sebagai sesuatu yang lain.
Bukan untuk dicintai dengan cara yang sama,
tapi agar kamu tahu, cinta tidak pernah benar-benar hilang.
– A”
Tangannya gemetar. Dadanya sesak. Apakah ini nyata? Atau hanya khayalan akibat kerinduan?
Ia tak tahu.
Namun esoknya, ia melihat Avena lagi. Kali ini di perpustakaan. Ia sedang membaca buku The Time Keeper. Buku yang dulu begitu disukai Aveline.
Arsa duduk di meja seberang. Memandang tanpa menyela. Tapi Avena mendongak, dan tersenyum.
“Kamu lagi,” katanya. “Mau duduk bareng?”
Arsa hanya mengangguk. Perlahan.
Hari itu, mereka berbicara. Tentang buku, tentang waktu, tentang hal-hal aneh yang membuat dunia terasa sedikit lebih magis. Avena tak tahu siapa Aveline, tak tahu apa yang telah terjadi. Tapi cara ia tertawa, cara ia menyentuh halaman buku, bahkan cara ia menatap langit sore semuanya membawa Arsa kembali ke hari-hari yang pernah terulang.
Dan malam itu…
Langit tetap gelap. Tidak ada petir. Tidak ada kematian.
Avena masih hidup.
Dan Arsa tahu, untuk pertama kalinya, ini adalah hari yang benar-benar berjalan.
Bukan pengulangan.
Bukan ilusi.
Bukan perpisahan.
Tapi awal dari sesuatu yang lainmyang tak kalah nyata.
Cinta lama mungkin tak bisa kembali dengan bentuk yang sama. Tapi kadang, waktu memberi kita hari yang hampir berhasil.
Dan hari itu…
adalah hari Arsa mulai hidup kembali.
Bab 9: Pilihan Tanpa Akhir
Langit sore mulai berganti ungu saat Arsa berjalan berdampingan dengan Avena di jalan setapak kampus. Daun-daun jatuh perlahan di sekitar mereka, menari pelan seperti waktu yang enggan berlari terlalu cepat. Suasana terasa tenang, terlalu tenang, seolah dunia sedang menahan napas, menunggu sesuatu—keputusan, perubahan, atau pengakuan yang belum diucapkan.
Arsa menatap Avena dari sudut matanya. Gadis itu tertawa kecil sambil menceritakan hal remeh tentang kucing liar yang ia beri nama waktu kecil. Tapi bagi Arsa, semua ini terasa lebih dalam dari sekadar obrolan. Ada sesuatu dalam diri Avena yang membuatnya nyaris percaya… bahwa jiwa Aveline belum sepenuhnya lenyap.
Tapi ia takut berharap. Takut percaya pada hal yang bahkan waktu pun tak bisa janjikan.
“Arsa,” panggil Avena tiba-tiba, memecah lamunannya. “Kamu sering banget kelihatan sedih pas diam.”
Arsa mengangkat bahu. “Mungkin karena aku masih sering merindukan sesuatu yang tidak bisa kembali.”
Avena menunduk. “Seseorang?”
Arsa tidak langsung menjawab. Ia hanya mengangguk.
Setelah keheningan beberapa saat, Avena berhenti melangkah. Mereka kini berdiri di tepi danau kampus. Tempat di mana Arsa dulu menyaksikan Aveline menghilang. Tempat waktu pernah berhenti.
Avena menatap air dengan tatapan kosong, lalu bergumam, “Kadang aku punya mimpi aneh.”
Arsa menoleh. “Mimpi seperti apa?”
“Mimpi tentang diriku… tapi bukan aku. Aku berdiri di tempat ini. Tapi aku bukan aku yang sekarang. Aku… seseorang yang tahu kamu akan kehilangan segalanya.” Avena menoleh padanya. “Aneh, ya?”
Dada Arsa seperti diremas. Ia tak tahu apakah ini ilusi harapan, atau dunia sedang berbisik padanya lagi.
“Avena… kalau kamu diberi pilihan untuk tahu siapa dirimu yang sebenarnya, meski harus kehilangan semua yang kamu kenal sekarang… kamu akan pilih tahu atau tetap diam?” tanya Arsa lirih.
Avena tidak langsung menjawab. Tapi sorot matanya berubah. Seolah ia sedang melihat ke dalam dirinya sendiri, jauh ke dasar yang tidak bisa dijangkau manusia biasa.
“Aku… tidak tahu,” katanya jujur. “Tapi kalau itu bisa menyelamatkan seseorang yang aku pedulikan, mungkin aku akan pilih tahu.”
Malam datang perlahan. Arsa pulang ke kamar kosnya dan membuka kembali buku bersampul biru tua—yang kini hanya bisa ia lihat saat ia sendiri. Buku itu seolah hidup hanya untuknya. Di halaman baru yang muncul malam itu, tertulis dengan tangan halus:
“Dia belum tahu siapa dirinya. Tapi jika kamu terus mendekatkan cinta, dia akan terbuka.
Namun hati-hati, Arsa.
Jika dia sepenuhnya sadar, waktu akan kembali menuntut keseimbangan.
Kamu akan diberi pilihan sekali lagi. Dan itu akan menjadi yang terakhir.”
Arsa memejamkan mata.
Apakah ini ujian terakhir dari waktu?
Ia bisa memilih menjalani hidup dengan Avena seperti sekarang—membiarkan cinta tumbuh perlahan, tanpa kepastian, tanpa membuka kenangan lama. Atau… ia bisa memulihkan semua ingatan Aveline dalam diri Avena, dengan risiko dunia kembali kehilangan kendali.
Malam itu, ia bermimpi.
Dalam mimpi itu, ia berdiri di antara dua pintu: satu bercahaya hangat, menggambarkan kehidupan baru bersama Avena. Satu lagi gelap, tapi di dalamnya terdengar suara tawa Aveline yang begitu dirindukan.
Di tengah lorong mimpi itu, Aveline muncul. Tidak sebagai Avena, tidak sebagai entitas waktu. Tapi sebagai dirinya sendiri. Mata lembutnya menatap Arsa.
“Kamu tidak harus menyelamatkanku lagi,” bisiknya. “Kamu sudah melakukannya. Dengan mencintaiku tanpa henti, kamu sudah memecah sistem yang menahanku.”
“Tapi kenapa aku harus memilih lagi?” tanya Arsa lirih.
“Karena cinta sejati bukan tentang memiliki… tapi tentang melepaskan di waktu yang tepat.”
Aveline tersenyum, lalu menghilang dalam cahaya.
Arsa terbangun dengan air mata di pipi. Tangannya gemetar, jantungnya berdegup tak karuan.
Esok harinya, Avena menemuinya di taman. Ia membawa buku The Time Keeper, dan matanya terlihat berbeda. Dalam. Tenang. Tapi penuh kesadaran.
“Aku mimpi semalam,” katanya. “Tentang kamu. Tentang dunia yang terus diulang. Tentang aku yang harus mati setiap malam.”
Arsa menatapnya, napas tercekat. “Kamu… ingat?”
“Sebagian,” jawab Avena. “Dan aku tahu sisanya akan datang. Tapi sebelum itu, aku ingin tahu satu hal.”
“Apa?”
“Jika aku benar-benar Aveline… dan aku harus mati lagi agar dunia tetap berjalan… kamu akan biarkan aku pergi?”
Arsa diam lama.
Lalu, ia menjawab dengan suara yang nyaris pecah, “Kali ini… iya.”
Karena kini ia tahu, mencintai Aveline bukan berarti menyelamatkannya dari kematian.
Tapi membiarkannya hidup kembali… bahkan dalam bentuk yang berbeda.
Dan keputusan itu, adalah pilihan yang tanpa akhir—yang hanya bisa diambil oleh seseorang yang telah mencintai melampaui batas waktu.
Bab 10: Aku Pernah Mati di Hari Kita Jatuh Cinta
Langit pagi itu tak asing. Biru pucat, dengan garis awan tipis yang nyaris tak bergerak. Namun bagi Arsa, hari ini terasa berbeda. Seperti lembar terakhir dari buku yang ditulis oleh waktu sendiri. Ia berdiri di depan danau kampus, tempat segala hal dimulai—dan berakhir.
Di tangannya, buku bersampul biru yang telah menuntunnya melewati pengulangan waktu, keheningan, dan kehilangan. Halaman terakhir kini terisi. Tulisan tangan Aveline muncul malam tadi, huruf-hurufnya gemetar tapi penuh keteguhan.
“Jika kamu membaca ini, berarti kamu telah memilih.
Aku telah kembali, tapi bukan sebagai diriku yang dulu.
Jangan mencariku di masa lalu. Aku ada di masa depanmu.”
Arsa menutup buku itu pelan, lalu memasukkannya ke dalam ransel. Ia tahu, kini bukan waktunya lagi mencari siapa Aveline. Kini saatnya menerima bahwa cinta bisa hidup dalam bentuk apa pun. Bahkan jika ia harus kehilangan segalanya untuk itu.
Avena berdiri tak jauh di belakangnya, diam, menatap punggung Arsa yang tak lagi memanggilnya. Tapi ia tahu, dari keheningan itu, ada pengakuan paling tulus yang tak membutuhkan kata-kata.
“Kamu nggak akan tanya aku siapa aku sebenarnya?” tanyanya pelan.
Arsa menoleh. Tatapannya lembut, dan untuk pertama kalinya sejak semua ini terjadi, ia tersenyum tanpa beban.
“Aku sudah tahu jawabannya, bahkan sebelum kamu tahu.”
Avena menatapnya lama. Ada air mata yang menggantung di pelupuk matanya, tapi tidak jatuh. Karena kali ini, ia tidak datang untuk mengucapkan selamat tinggal.
“Kalau kita mulai dari awal lagi, apa kamu akan jatuh cinta padaku… sebagai Avena, bukan Aveline?” bisiknya.
Arsa mendekat. Ditatapnya wajah itu—wajah yang pernah ia cintai dalam ratusan pengulangan waktu, dalam ratusan kematian, dalam ribuan detik yang tak bisa dikembalikan.
“Aku akan jatuh cinta pada cara kamu tertawa, cara kamu menatap langit, dan cara kamu membuat waktu berhenti… bahkan tanpa kekuatan apa pun.”
Mata Avena berkaca-kaca. “Tapi aku bukan Aveline sepenuhnya.”
“Kamu tidak harus jadi siapa-siapa,” jawab Arsa. “Cukup jadi kamu. Itu sudah cukup buat aku mencintaimu lagi.”
Dan untuk pertama kalinya, mereka tidak saling berpamitan. Tidak ada petir yang menyambar. Tidak ada hari yang kembali terulang. Dunia tetap berjalan. Waktu terus berdetik.
Cinta mereka tidak mengubah dunia.
Tapi cinta mereka telah mengubah mereka.
Beberapa tahun kemudian, Arsa menjadi penulis. Ia menerbitkan novel pertamanya berjudul “Aku Pernah Mati di Hari Kita Jatuh Cinta”. Buku itu bukan tentang keajaiban, bukan tentang teori waktu, bukan tentang entitas penjaga emosi. Tapi tentang seorang pria yang terus memilih untuk mencintai… meski harus kehilangan berkali-kali.
Dalam halaman persembahan buku itu, ia menulis:
“Untuk seseorang yang selalu hidup dalam detik yang tak tercatat,
Terima kasih karena pernah membuatku percaya bahwa cinta
bisa melampaui logika, waktu, dan bahkan akhir itu sendiri.”
Dan saat ia menutup buku itu di meja penerbitan, Avena—yang kini menjadi rekan hidupnya—datang membawakan teh hangat, sambil berkata, “Kamu akhirnya menulis akhir dari cerita kita.”
Arsa tersenyum, memandangi mata yang kini tak asing lagi.
“Bukan akhir,” katanya.
“Ini hanya awal…
dari cinta yang tak perlu diselamatkan lagi.”
Dan di dalam hatinya, suara Aveline berbisik untuk terakhir kalinya:
“Terima kasih, Arsa. Aku pernah mati di hari kita jatuh cinta.
Tapi cinta itu… telah membuatku hidup kembali.”
Tamat.
Novel ini ditulis oleh Evi Fauzi, Penulis dari Novel Singkat. Baca juga novel romantis, petualangan dan fiksi ilmiah lainnya.