Skip to content

Baca Novel Singkat Di sini

Menu
  • Home
  • Pilihan Novel
    • Romansa
    • Fiksi Ilmiah
    • Petualangan
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Terms and Conditions
Menu
Novel Singkat Aku Pernah Jadi yang Ingin Kau Lupakan

Novel Singkat: Aku Pernah Jadi yang Ingin Kau Lupakan

Posted on May 20, 2025

Elara, seorang barista di kafe mungil bernama Mallow, menjalani terapi hipnosis untuk melupakan pria yang pernah menghancurkan hatinya. Ia tak ingat siapa nama pria itu, tak ingat wajahnya, tak ingat kisah cinta mereka—hanya luka samar yang perlahan mulai sembuh. Hidupnya pun terasa lebih tenang, lebih ringan… hingga suatu hari, seorang pria asing bernama Kael datang ke kafe itu dan membuat jantungnya berdebar tanpa sebab.

Kael begitu familiar, namun tak dikenal. Tatapannya hangat, tapi menyimpan luka yang dalam. Tanpa tahu siapa Kael sebenarnya, Elara mulai jatuh cinta… lagi. Namun ketika kilasan-kilasan masa lalu mulai muncul, Elara menyadari kenyataan pahit: Kael adalah orang yang dulu pernah ia bayar untuk dilupakan.

Mampukah Elara mencintai seseorang yang pernah membuatnya ingin melupakan seluruh bagian hidupnya? Dan apakah cinta bisa kembali tumbuh—jika luka dan kenangan itu mulai kembali?

Bab 1: Saat Segalanya Kosong

Langit Jakarta sore itu tak mendung, tapi juga tak cerah. Seperti perasaan Elara yang tak bisa ia beri nama. Ia menatap keluar dari jendela taksi, membiarkan angin dari sela-sela kaca yang sedikit terbuka menyentuh pipinya. Ada sesuatu yang hilang dalam dirinya. Tapi ia tak tahu apa. Atau siapa.

Mobil berhenti di depan sebuah bangunan kecil bertuliskan “ForgetMe.” Cat temboknya putih bersih, terlalu steril untuk sebuah tempat yang menghapus kenangan. Elara membuka pintu dan masuk. Aroma kayu manis dan lavender langsung menyerbu inderanya. Hening. Hanya ada suara langkah kakinya sendiri di lantai marmer yang mengilap.

Ia menuju meja resepsionis, di mana seorang wanita paruh baya menyapanya dengan senyum tipis.

Selamat datang kembali, Elara. Hari ini sesi terakhir, ya?

Elara mengangguk pelan. Ia tak banyak bicara. Wanita itu mempersilakan ia masuk ke ruangan berlapis kaca bening di sisi kanan.

Seorang pria bertubuh ramping dengan jas putih sedang duduk menunggu. Dr. Maven, terapis hipnosis yang telah menuntunnya melewati berbulan-bulan terapi kenangan. Tak ada pertanyaan basa-basi. Tak ada percakapan personal.

Hanya satu tujuan: melupakan.

Elara merebahkan diri di kursi panjang berlapis kulit. Ia menutup matanya dan menarik napas panjang. Dokter mulai menghitung dengan suara lembut.

Sepuluh… sembilan… delapan…

Semuanya mulai kabur.

Kilasan-kilasan masa lalu muncul, seperti bayangan buram di balik kabut. Suara tangis. Sebuah nama yang hampir muncul, tapi tersangkut di lidah. Wajah seseorang yang samar, seperti pantulan di air yang bergetar. Detik berikutnya, semuanya menghilang.

Begitu ia membuka mata kembali, ruangan terasa lebih terang. Tapi di dalam dirinya, seolah ada satu ruangan yang dikunci rapat. Tidak ada siapa pun di balik pintu itu.

Terima kasih, Elara. Kau sudah selesai.

Ia tak tahu harus merasa apa. Lega? Kosong? Atau entah.

Dalam perjalanan pulang, Elara menatap jalanan dengan tatapan kosong. Ia tahu tujuannya: melanjutkan hidup. Menulis ulang cerita. Tanpa luka. Tanpa dia.

Masalahnya, ia bahkan tak tahu siapa ‘dia’ itu.

Beberapa minggu kemudian, hidup Elara kembali berjalan normal. Ia kembali bekerja sebagai barista di sebuah kafe mungil bernama Mallow. Tempatnya hangat, dindingnya dari bata merah, dan aroma kopi selalu menenangkan pikirannya.

Elara menikmati keheningan. Tidak banyak teman. Tidak banyak gangguan. Hanya dirinya dan dunia yang pelan-pelan terasa nyaman kembali.

Hingga sore itu datang.

Ia sedang merapikan gelas-gelas di rak, ketika lonceng di atas pintu berdenting pelan. Suara yang biasa. Tapi entah mengapa, kali ini berbeda. Suara itu membuat jantungnya berdetak dua kali lebih cepat.

Elara berbalik. Seorang pria berdiri di sana, mengenakan jaket abu-abu, rambutnya sedikit acak, dan matanya—mata itu seperti menyimpan ribuan hujan yang tak pernah turun.

Ia memesan secangkir cappuccino dan duduk di sudut, tepat di meja dekat jendela. Elara menyiapkan pesanannya dengan tangan sedikit gemetar. Ia tak mengerti kenapa. Tapi tubuhnya merespons lebih cepat dari pikirannya.

Ketika ia mengantar pesanan itu ke meja, pria itu mengangkat wajahnya. Tatapan mereka bertemu.

Dan dunia terasa bergeser sedikit.

Terima kasih, ucap pria itu pelan. Suaranya serak, seperti suara yang pernah ia dengar dalam mimpi, tapi tak pernah ia ingat saat terbangun.

Sama-sama, jawab Elara singkat.

Ia kembali ke meja bar dan pura-pura sibuk dengan susu dan sendok, padahal pikirannya sibuk mencari alasan kenapa wajah itu terasa begitu… menusuk. Bukan asing. Tapi juga bukan familiar. Seperti melihat rumah lama yang pernah ia tinggali, tapi tak tahu alamatnya.

Hari-hari berikutnya, pria itu datang lagi. Namanya Kael, katanya. Ia selalu duduk di meja yang sama, memesan minuman yang sama, dan kadang hanya menatap keluar jendela seolah mencari sesuatu yang tak kunjung datang.

Mereka mulai mengobrol. Pelan. Pendek. Tentang cuaca, tentang musik jazz yang diputar di kafe, tentang kopi kesukaan. Tak ada yang personal. Tapi Elara merasa dirinya perlahan terbuka. Sesuatu dalam dirinya merespons kehadiran Kael dengan hangat… sekaligus takut.

Satu malam, Elara bermimpi aneh. Ia berlari di tengah hujan, mencari seseorang yang menjauh darinya. Ia berteriak, menangis, memohon. Tapi pria itu membelakanginya. Wajahnya tak jelas. Hanya bayangan. Tapi tubuhnya… sangat mirip Kael.

Elara terbangun dengan napas memburu.

Ia duduk di ranjang, mencoba menenangkan dirinya. Ada rasa asing yang mengendap di dada. Sakit yang tak punya nama.

Dan untuk pertama kalinya sejak terapi itu selesai, Elara bertanya dalam hati:

Siapa sebenarnya pria yang pernah begitu ingin aku lupakan? Dan… kenapa aku merasa dia belum pernah benar-benar pergi?

Di luar jendela, hujan mulai turun pelan. Seolah semesta sedang menyiapkan jawabannya. Jawaban yang mungkin terlalu menyakitkan untuk diingat… tapi terlalu indah untuk benar-benar hilang.

Bab 2: Lelaki Bernama Kael

Hujan masih menggantung di langit sore itu, menetes perlahan di kaca jendela kafe Mallow. Elara duduk di balik meja bar, memainkan ujung lengan bajunya sambil mencuri pandang ke sudut ruangan. Kael duduk seperti biasa—tenang, diam, menatap ke luar seakan mencari sesuatu yang hanya ia tahu.

Ada keheningan yang tak asing setiap pria itu datang. Bukan canggung, bukan sunyi yang kosong, tapi… hening yang berat. Seolah tiap detiknya membawa beban dari masa yang tak diucapkan.

“Elara,” suara Kael pelan, namun cukup jelas untuk menembus suara hujan di luar.

Ia menoleh cepat. “Ya?”

“Besok kamu libur?”

Elara sempat terdiam. Ia tidak terbiasa ditanya hal pribadi. Tapi ada sesuatu dalam cara Kael bertanya yang membuatnya sulit menolak menjawab.

“Iya. Kenapa?”

Kael tersenyum kecil. Senyuman itu tak utuh. Separuh tulus, separuh sedih.

“Aku cuma penasaran,” katanya sambil mengangkat cangkir cappuccino-nya. “Kamu selalu tampak sibuk.”

Elara menunduk, berusaha menyembunyikan rona aneh di pipinya. Hatinya berdebar—lagi. Sejak kapan suara seseorang bisa membuatnya merasa seperti sedang berjalan di atas tali tipis?

Setelah Kael pergi, Elara duduk sendiri cukup lama. Ia merasa ada bagian dari dirinya yang mulai bergerak—sesuatu yang selama ini dibekukan. Dan yang membuatnya takut adalah: ia tidak tahu apa yang sebenarnya mencair.

Malam itu, ia berjalan pulang melewati trotoar basah, payung kecil di tangannya bergetar bersama angin. Di dalam apartemen kecilnya, Elara membuka kotak berisi benda-benda lama. Ia tak tahu kenapa. Mungkin karena rasa ingin tahu yang pelan-pelan menggerogoti pikirannya. Siapa dia sebelum hipnoterapi? Apa yang pernah ia buang?

Ia menemukan buku sketsa usang di antara tumpukan barang. Saat dibuka, halaman-halamannya penuh coretan tidak selesai. Tapi ada satu gambar yang membuatnya terdiam.

Wajah lelaki.

Hanya setengah profil, tapi garis rahangnya, bentuk alisnya, lekuk bibirnya… terlalu mirip dengan Kael. Elara mematung.

Kenapa aku pernah menggambar dia?

Ia tidak bisa mengingat. Tak ada tanggal. Tak ada catatan. Tapi tangannya yang dulu jelas tahu bagaimana wajah itu terbentuk. Tangannya, bukan pikirannya.

Semalaman Elara tidak bisa tidur. Ia mencoba mencari nama Kael di mesin pencari. Hasilnya tak banyak. Mungkin karena nama itu terlalu umum. Mungkin karena ia sengaja tidak ingin ditemukan.

Hari liburnya datang. Elara pergi ke taman dekat rumah, mencoba menenangkan diri dengan secangkir kopi bungkus dan buku di tangan. Tapi seperti sudah ditakdirkan, suara itu lagi-lagi menyapanya.

“Sendirian?”

Kael berdiri di hadapannya dengan senyum pelan.

“Kamu ngikutin aku?” Elara berusaha terdengar santai, padahal jantungnya berdetak seperti genderang.

“Aku tinggal dekat sini,” jawabnya. “Tapi kalau kamu ngerasa nggak nyaman, aku bisa pergi.”

Elara ragu sejenak, lalu menggeleng. “Nggak apa-apa. Duduk aja.”

Mereka mengobrol lama. Tentang film, tentang buku yang sedang Elara baca, tentang langit yang berubah warna menjelang senja. Tapi sepanjang obrolan itu, Kael tidak pernah bertanya hal-hal dalam. Tidak menyinggung masa lalu. Tidak menyentuh luka yang tak tampak.

Sampai satu kalimatnya membuat Elara terdiam.

“Kamu pernah merasa seperti mengenal seseorang, padahal otakmu bilang nggak mungkin?”

Elara menoleh. Tatapan mereka bertemu.

“Ya,” jawabnya pelan.

Kael tidak tersenyum. Tapi ia terlihat lega.

“Mungkin itu bukan ilusi. Mungkin itu… sesuatu yang pernah ada.”

Kata-kata itu tinggal di kepala Elara sepanjang malam. Ia tidak tahu apakah Kael sengaja mengatakannya. Tapi satu hal ia sadari: hatinya tahu. Ia mengenal Kael. Ia mengenal cara pria itu diam, cara matanya berbicara saat mulutnya memilih diam. Ia mengenal getar itu. Rasa itu.

Tapi otaknya masih menolak. Masih berkata: tidak ada ingatan. Tidak ada masa lalu.

Di hari-hari berikutnya, Kael mulai sering datang. Kadang hanya untuk membeli kopi dan duduk sebentar. Kadang hanya berdiri di luar dan melambaikan tangan. Hubungan mereka tak punya label. Tak ada naskah. Tapi terasa seperti pengulangan dari sesuatu yang sudah pernah terjadi.

Seperti deja vu yang terlalu sering.

Suatu malam, Elara bermimpi lagi. Kali ini lebih jelas. Ia melihat dirinya sendiri berdiri di tengah hujan, basah kuyup, menangis sambil berteriak.

“Aku nggak mau lihat kamu lagi!”

Suara itu keluar dari mulutnya sendiri.

Dan pria di seberangnya—Kael.

Wajahnya tak seperti sekarang. Ia tampak lebih muda. Lebih marah. Tapi juga lebih patah.

Elara terbangun dengan tubuh dingin dan mata basah.

Untuk pertama kalinya, ia sadar: tubuhnya sedang mengingat, meski pikirannya masih menolak.

Dan mungkin… kebenaran itu sedang mengetuk pintu yang selama ini ia kunci sendiri.

Bab 3: Jatuh Cinta Lagi Tanpa Alasan

Elara tidak tahu bagaimana caranya menyebut perasaan itu. Bukan sekadar suka. Bukan kagum. Tapi lebih dalam, lebih menakutkan. Seperti tubuhnya jatuh ke tempat yang pernah ia singgahi, namun pikirannya belum bisa mengingat jalan pulang.

Sejak mimpi malam itu, ia mulai memperhatikan Kael lebih saksama. Setiap gestur kecil, cara pria itu menyeruput kopi, cara matanya menyipit saat tersenyum, atau suara beratnya yang terdengar datar tapi menyimpan gemuruh. Semuanya seperti teka-teki yang sedang menyusun dirinya kembali.

Tapi yang membuat Elara paling ketakutan adalah: ia mulai menyukai pria itu. Lagi. Tanpa tahu kenapa. Tanpa tahu apakah itu cinta yang baru tumbuh… atau cinta lama yang sedang bangkit dari kematian.

“Kenapa kamu sering datang ke sini?” tanyanya pelan suatu sore, saat Kael duduk di sudut kafe seperti biasa.

Pria itu menatapnya sebentar, lalu menjawab dengan tenang, “Karena tempat ini bikin aku tenang.”

Elara menunggu kelanjutan kalimatnya, tapi Kael hanya menatap kopinya dalam diam. Seolah ada hal-hal yang ingin ia katakan, namun memilih tetap terkubur.

“Apa kamu sering ke sini sebelum… sebelum kita kenal?” tanya Elara lagi, suara kecilnya nyaris tenggelam dalam suara mesin espresso.

Kael mengangguk pelan, lalu menatap matanya.

“Kita udah pernah kenal sebelumnya, ya?”

Elara menegang.

“Kenapa kamu nanya begitu?”

Kael mengangkat bahu. “Cuma perasaan. Kadang… aku ngerasa kamu pernah bilang hal-hal yang nggak kamu ingat sekarang. Kadang aku ngerasa kamu nyembunyiin sesuatu, tapi bukan karena bohong. Tapi karena kamu juga nggak tahu itu apa.”

Elara tertawa kecil. Tapi tawanya hambar. “Kamu suka hal-hal yang misterius, ya?”

Kael ikut tersenyum. Tapi senyumnya lebih sedih dari biasanya.

“Mungkin aku cuma nyari sesuatu yang hilang.”

Malamnya, Elara menatap pantulan dirinya di cermin. Ia menyentuh wajahnya sendiri, seolah mencoba mengenali siapa yang sedang menatap balik dari sana. Dalam satu sisi dirinya, ada rasa ingin tahu yang membuncah. Tapi di sisi lain, ia takut. Takut kalau cinta ini bukan sesuatu yang murni. Takut kalau hatinya hanya mengulang luka lama, seperti lagu yang diputar paksa setelah dipotong paksa.

Esok harinya, Kael mengajak Elara jalan-jalan. Ia bilang ada pameran fotografi di galeri kecil dekat stasiun lama. Elara ragu, tapi akhirnya setuju. Mereka berjalan menyusuri gang sempit dan tembok berlumut, lalu tiba di ruangan yang remang dan dipenuhi foto-foto hitam putih.

Di salah satu sudut galeri, ada foto siluet dua orang yang sedang bertengkar di tengah hujan. Wajahnya kabur, hanya terlihat garis tubuh dan ekspresi yang pudar. Tapi Elara tiba-tiba merasa dadanya sesak.

Kael berdiri di sebelahnya, diam. Ia tak mengatakan apa pun. Tapi Elara tahu… mereka sedang memandangi masa lalu.

“Kamu suka foto ini?” tanya Kael akhirnya.

Elara mengangguk. “Tapi entah kenapa, aku juga takut.”

Kael menoleh cepat. “Takut?”

Elara menggigit bibir. “Takut mengingat sesuatu yang aku bahkan nggak tahu pernah terjadi.”

Kael menatapnya lama. “Kadang, yang bikin kita takut bukan masa lalunya… tapi kemungkinan kalau perasaan itu belum selesai.”

Mata Elara mulai panas. Ia tak tahu kenapa, tapi matanya basah. Ia berpaling, pura-pura melihat foto lain. Kael tak memaksa. Tapi saat mereka pulang, ia mengantar Elara hingga depan pintu apartemen.

Sebelum berbalik, Kael berkata, “Kalau suatu hari kamu ingat sesuatu yang menyakitkan tentang aku… tolong jangan benci aku duluan.”

Kalimat itu tinggal di hati Elara seperti batu kecil yang dilempar ke danau. Getarannya menyebar lambat tapi pasti.

Beberapa hari setelahnya, Elara mulai menulis. Ia tidak tahu apa yang ia tulis. Hanya coretan perasaan, potongan mimpi, kata-kata asing yang muncul tiba-tiba. Salah satu kalimatnya adalah: “Aku pernah memohon pada semesta agar bisa melupakanmu. Tapi semesta ternyata tidak bisa mencabut akar yang sudah tumbuh di tubuhku.”

Ia membaca kalimat itu berkali-kali. Tak paham dari mana asalnya. Tapi terasa sangat nyata.

Dan di tengah malam yang sunyi, ia kembali bermimpi.

Ia dan Kael berdiri di atap sebuah gedung, diterpa angin malam. Kael memegang tangannya erat, sambil berkata, “Kalau kamu bangun dan nggak ingat aku lagi, itu berarti kamu berhasil. Tapi aku akan tetap di sini. Menunggu kamu mencintaiku… sekali lagi.”

Elara terbangun dengan air mata mengalir di pipinya.

Hatinya tahu sesuatu yang pikirannya belum berani terima.

Ia tidak sedang jatuh cinta untuk pertama kali.

Ia sedang jatuh cinta untuk kedua kalinya… pada orang yang sama.

Bab 4: Lukisan Kenangan

Pagi itu Elara terbangun lebih cepat dari biasanya. Mimpi tentang Kael di atap gedung itu masih membekas jelas, seolah bukan mimpi… tapi kenangan yang pernah ia rasakan langsung. Rasanya terlalu nyata. Terlalu hidup. Saat ia menatap langit-langit kamarnya yang dipenuhi pantulan cahaya matahari, ada pertanyaan yang tak kunjung hilang: Sejauh apa aku pernah mencintai dia… sebelum aku memilih untuk melupakannya?

Hari itu Elara tak langsung pergi ke kafe. Ia membuka lemari besar di pojok kamarnya—lemari yang jarang ia sentuh sejak pindah ke apartemen itu. Tumpukan barang lama menunggu dibongkar. Kardus-kardus dengan label usang, buku-buku penuh debu, dan satu koper besar berwarna biru laut yang terkunci rapat.

Ia mengeluarkan koper itu dan mencoba membukanya. Kuncinya masih teringat samar di ujung jari. 1-9-2. Bunyi klik pelan terdengar. Tutup koper terangkat perlahan.

Di dalamnya, tumpukan kertas, sketsa, dan catatan harian. Elara mengangkat satu per satu, berharap menemukan jawaban. Tapi yang membuatnya terdiam adalah satu benda tipis yang dibungkus kain putih lusuh di dasar koper.

Sebuah kanvas kecil.

Ia membuka pembungkusnya dengan hati-hati.

Lukisan itu menggambarkan seorang lelaki berdiri di tengah hujan. Wajahnya tak jelas, tapi bentuk tubuhnya, posisi tangannya yang menggenggam dada, dan siluet samar di belakangnya membuat Elara merasa dadanya dihantam sesuatu.

Lelaki itu… Kael.

Bukan hanya mirip. Tapi benar-benar dia. Bahkan jaket yang dikenakannya dalam lukisan itu persis dengan jaket abu-abu yang sering ia pakai sekarang.

Tangan Elara gemetar saat menyentuh permukaan kanvas. Di pojok bawah lukisan itu tertulis kecil dengan tinta hitam:

“Lukisan yang harus dilupakan.”

Ia menelan ludah. “Apa maksudnya?”

Ia menelusuri tumpukan kertas di dalam koper dan menemukan sebuah catatan yang tulisannya seperti ditulis tergesa. Coretan itu samar, namun satu kalimat menonjol:

“Kalau aku lemah, aku akan datang padanya lagi. Tapi kalau aku kuat, aku akan memilih melupakannya.”

Elara membacanya berkali-kali.

Apakah ini tulisanku?

Kepalanya berdenyut. Gambar-gambar aneh muncul sekilas—Kael memeluknya di tengah hujan, suara jeritan, pintu dibanting, dan dia menangis sendirian di lorong apartemen. Semua hanya bayangan cepat yang menyakitkan. Tak utuh. Tapi cukup untuk menyiksa.

Hari itu ia tak datang bekerja.

Ia hanya duduk di lantai kamar, menatap lukisan itu. Lama. Diam. Mencoba mencari keberanian untuk menerima apa pun yang akan datang bersama ingatannya.

Malam harinya, Kael menelepon. Ini pertama kalinya pria itu menghubungi lebih dulu.

“Hai, kamu nggak datang hari ini. Aku khawatir.”

Elara memejamkan mata, mendengar suaranya dalam-dalam. Suara itu adalah suara yang dulu ia ingin lupakan. Tapi sekarang justru menjadi suara yang membuatnya merasa… hidup.

“Kael,” ucapnya lirih. “Kita pernah ada hubungan sebelum ini, ya?”

Hening. Tak ada jawaban beberapa detik.

“Kamu nemuin sesuatu?” tanya Kael pelan.

Elara tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap lukisan di hadapannya.

“Lukisan. Tulisan. Dan sebagian rasa sakit yang aku bahkan nggak ngerti asalnya dari mana.”

Suara Kael terdengar berat. “Aku bisa datang kalau kamu mau.”

Elara menggigit bibir. “Aku nggak tahu harus marah atau nangis atau pura-pura nggak tahu.”

“Kalau kamu butuh aku pergi… aku bisa pergi,” ujar Kael pelan.

“Masalahnya bukan kamu yang harus pergi,” jawab Elara. “Masalahnya, aku yang pernah nyuruh kamu pergi. Tapi kenapa sekarang rasanya… aku yang nggak bisa jauh?”

Suara di seberang hanya diam. Tapi keheningannya berkata banyak.

“Kita pernah saling menyakiti, ya?” tanya Elara lagi. Suaranya bergetar.

Kael menarik napas. “Iya. Tapi aku yang paling banyak salah.”

“Mungkin kamu salah, tapi aku juga yang memilih melupakan. Mungkin kita berdua terlalu lelah untuk menyembuhkan.”

Tak ada kata “maaf” dari mulut mereka malam itu. Tak ada janji akan kembali seperti dulu. Yang ada hanya kejujuran yang pelan-pelan mulai tumbuh. Kejujuran bahwa mereka pernah ada. Pernah saling jatuh. Pernah saling hancur.

Dan kini… perlahan, sedang mencoba saling mengerti lagi.

Setelah telepon ditutup, Elara meletakkan lukisan itu di dinding kamarnya. Ia memutuskan untuk tidak lagi menyembunyikan apa pun yang pernah ia lukis. Karena pada akhirnya, mungkin bukan rasa sakitnya yang harus dilupakan… tapi alasan kenapa rasa itu pernah muncul, yang harus ia temukan kembali.

Bab 5: Aku Takut Bahagia

Sejak lukisan itu kembali tergantung di dinding, kamar Elara tak lagi terasa sama. Ia seperti hidup berdampingan dengan kenangan yang belum utuh, tapi perlahan ingin dikenali. Setiap kali Elara melewati lukisan itu, jantungnya berdebar. Seolah pria di dalam kanvas sedang menatapnya dengan mata penuh rindu yang tertahan.

Hari-hari berlalu dengan ritme yang aneh. Kafe tempat Elara bekerja tetap ramai, kopi tetap diseduh, musik tetap mengalun, tapi pikirannya tak pernah benar-benar ada di tempat. Ia mulai mengamati Kael lebih dalam, bukan hanya sebagai pria yang ia sukai, tapi sebagai pria yang mungkin pernah ia tinggalkan—dengan luka.

Kael sendiri tak pernah memaksa. Ia tak pernah minta hubungan mereka diberi nama. Ia hanya hadir. Duduk di sudut yang sama. Menatap Elara seolah masih menunggu giliran untuk dikenang kembali.

Suatu malam, setelah kafe tutup, Kael menawarkan untuk mengantar pulang. Elara sempat ragu, tapi akhirnya mengangguk.

Di tengah jalan, mereka berjalan kaki menyusuri trotoar yang basah setelah hujan. Lampu jalan memantul di genangan, menciptakan ilusi cahaya yang menari-nari di aspal.

“Aku suka malam setelah hujan,” ujar Kael tiba-tiba.

Elara menoleh. “Kenapa?”

“Karena rasanya semua hal buruk udah dicuci, dan dunia bisa mulai lagi dari awal.”

Elara tersenyum tipis. Tapi tak bisa menahan perasaan di dadanya yang semakin berat.

“Kael…”

“Hmm?”

“Kalau dulu aku pernah menyakitimu… kamu benci aku?”

Kael menatap langit gelap di atas mereka, lalu kembali menatap Elara.

“Aku pernah kecewa,” jawabnya pelan. “Tapi aku nggak pernah benci kamu. Bahkan waktu kamu bilang kamu mau aku hilang dari hidupmu… aku tetap cinta.”

Elara berhenti berjalan. Hujan kecil mulai turun, dan untuk pertama kalinya sejak lama, ia tak peduli.

“Kenapa kamu nggak marah? Kenapa kamu bisa tetap di sini, padahal aku bahkan lupa semuanya?”

Kael mendekat selangkah. “Karena aku tahu kamu nggak lupa karena kamu mau. Kamu lupa karena kamu luka. Dan kadang, rasa sakit bikin kita percaya bahwa menghapus segalanya adalah satu-satunya cara buat bertahan.”

Elara menunduk. Tangannya gemetar. “Tapi sekarang, aku mulai jatuh cinta lagi. Sama kamu. Tapi aku takut.”

Kael mengangkat wajahnya dengan lembut. “Takut apa?”

Elara menahan air matanya. “Takut kalau ini semua cuma kebodohan yang terulang. Takut kalau aku cuma mengulang kesalahan. Takut kalau bahagia itu sebenarnya cuma ilusi.”

Kael tak menjawab. Ia hanya menggenggam tangan Elara, hangat, tenang, seolah berkata: biar aku yang yakin, kalau kamu belum bisa.

Malam itu mereka tidak berciuman. Tidak berpelukan. Hanya berdiri di tengah rintik hujan, dengan satu tangan saling menggenggam, dan satu perasaan yang tidak bisa didefinisikan.

Sesampainya di rumah, Elara duduk di kasurnya dengan tangan masih bergetar. Ia membuka catatan kecil yang dulu ia tinggalkan kosong. Dan kali ini, ia menulis:

“Apa yang lebih menakutkan dari kehilangan? Mungkin jawabannya adalah menemukan seseorang lagi… dan menyadari bahwa kamu masih mencintainya, padahal kamu sendiri yang pernah memilih untuk melupakannya.”

Beberapa hari setelah itu, Elara mulai mengalami hal-hal aneh. Tangannya kadang menulis nama “Kael” tanpa sadar di nota pesanan. Ia mendengar lagu lama yang membuat dadanya sesak, meski tak tahu kenapa. Ia melihat kilasan wajahnya sendiri menangis di cermin.

Di antara kesibukan di kafe, Elara pernah mendapati dirinya membeku saat pelanggan menyebut nama “Elara Kael” dalam percakapan iseng. Nama itu—seolah pernah ada. Mungkin pernah menjadi satu.

Tapi rasa takut masih ada. Setiap kali Kael mendekat, Elara merasa senang… tapi juga ketakutan. Ia takut jika perasaan itu tumbuh terlalu dalam, maka lukanya akan ikut tumbuh juga. Ia takut menemukan versi dirinya yang pernah begitu hancur karena cinta.

Namun Kael tak pernah tergesa. Ia hanya menunggu, menuntun, dan sesekali memberikan senyuman yang membuat Elara yakin bahwa ia tidak sedang menghadapi monster dari masa lalu—melainkan seseorang yang masih menyimpan serpihan hatinya dengan sabar.

Pada malam yang sunyi, Elara menatap langit-langit kamarnya sambil berkata pada dirinya sendiri:

“Kalau mencintaimu adalah kesalahan yang pernah aku buang… kenapa sekarang aku berharap itu datang lagi?”

Dan dalam diam, ia tahu. Ia tak pernah benar-benar berhenti mencintai Kael.

Yang ia lakukan hanya menyembunyakan rasa itu di tempat paling dalam… agar tidak mengganggu hidupnya.

Tapi sekarang, rasa itu sudah kembali. Dan ia harus memilih:

Terus menolak kebahagiaan karena takut luka lama,
atau memberanikan diri mencintai lagi—meski risikonya adalah hancur yang sama.

Bab 6: Terlalu Mirip untuk Kebetulan

Hari-hari Elara terasa seperti berjalan di atas benang tipis. Ia tahu Kael bukan orang asing. Ia tahu tubuhnya mengingat, bahkan saat pikirannya masih menolak. Dan kini, ketika rasa takut dan cinta berjalan beriringan, Elara mulai mencari sesuatu—apa pun—yang bisa membenarkan keraguannya. Atau justru menegaskannya.

Sore itu, hujan turun deras. Kafe sepi. Elara duduk sendirian setelah jam tutup, menghabiskan secangkir kopi yang sudah mulai dingin. Di meja, ada buku catatan kecil yang sudah lama ia abaikan. Ia membukanya pelan. Di halaman-halaman awal, tulisan tangannya rapi dan penuh cerita harian. Tapi di tengah-tengah buku, ada beberapa lembar yang sobek. Hanya tersisa sisa bekas robekan dan coretan samar.

Satu kata muncul di sana.

“K.A.E.L.”

Bukan ditulis sebagai nama. Tapi sebagai judul. Sebagai singkatan? Atau mungkin… sebagai kunci?

Elara menatap huruf-huruf itu lama. Ia membuka ponselnya, lalu mencoba mencari di internet. Hasilnya nihil. Tapi ia tak menyerah. Ia memasukkan kata itu ke kolom pencarian blog. Lalu, tanpa sengaja, ia menemukan satu blog tua yang sudah tak di-update sejak dua tahun lalu.

Judul blog itu: Terapiku, Lukaku Sendiri
Penulisnya: anonim.

Elara membuka halaman pertama.

“Aku pernah mencintai seseorang yang menjadikanku tempat berlindung sekaligus tempat melarikan diri. Aku adalah lelaki yang diminta untuk tetap tinggal… lalu ditinggalkan tanpa alasan. Saat dia pergi, ia membayar seseorang untuk menghapus ingatannya tentangku. Ia bilang, itu satu-satunya cara agar dia bisa bahagia.”

Tangan Elara bergetar.

Ia membaca kalimat itu berkali-kali.

Rasanya terlalu akurat. Terlalu… akrab.

Ia membaca lanjutannya.

“Namaku tidak penting. Tapi untuk dia, aku adalah seseorang yang pernah membuatnya menangis, tertawa, dan kemudian memilih untuk melupakan. Aku tidak membencinya. Aku hanya ingin tahu… kalau suatu hari dia jatuh cinta lagi padaku tanpa mengenaliku, apa itu artinya cinta kami nyata?”

Elara menutup ponselnya. Napasnya memburu. Dadanya sesak.

Ia tahu. Ia tak butuh bukti lain.

Itu tulisan Kael.

Tiba-tiba semua terasa jelas sekaligus kacau. Kael tahu siapa dirinya sejak awal. Kael sadar bahwa ia adalah lelaki yang pernah ia hapus dari hidupnya. Dan ia… sengaja kembali. Tapi tak mengaku.

Elara berlari ke luar kafe tanpa membawa apa pun. Hujan masih deras. Ia berlari dalam gelap, menuju apartemennya, tak tahu apakah ingin bersembunyi atau justru bertemu.

Sesampainya di rumah, ia tak langsung masuk. Ia berdiri di depan pintu, basah kuyup, menatap langit yang tak memberinya jawaban.

Ponselnya berdering.

Kael.

Elara mengangkatnya dengan tangan gemetar.

“Kamu tahu, ya?” suara Kael terdengar pelan.

Elara tak menjawab. Tapi isaknya mulai terdengar.

“Kamu nulis blog itu?” tanyanya lirih.

“Iya.”

“Kenapa kamu nggak pernah cerita?”

Kael diam sejenak. “Karena kamu pernah bilang kamu nggak mau kenal aku lagi. Karena waktu itu, kamu begitu hancur… dan aku tahu aku penyebabnya.”

Elara menggigit bibir. “Tapi kamu kembali. Kamu datang lagi dan pura-pura jadi orang asing.”

“Aku nggak pura-pura, El. Aku cuma pengin tahu… kalau tanpa semua masa lalu kita, tanpa semua luka, kamu masih bisa jatuh cinta ke orang yang sama.”

“Dan aku memang jatuh cinta,” bisik Elara. “Tapi itu artinya apa, Kael? Apa cinta ini sungguhan? Atau cuma kebodohan yang berulang?”

Kael menghela napas. “Aku juga nggak tahu. Tapi aku percaya, perasaan yang lahir dua kali… bukan sesuatu yang bisa dianggap salah.”

Elara terdiam lama. Hujan menutupi tangisnya.

“Aku butuh waktu,” katanya akhirnya.

“Aku tahu,” jawab Kael. “Aku akan tetap di sini, El. Nggak akan pergi, sampai kamu yang minta.”

Telepon terputus.

Malam itu, Elara duduk di lantai kamarnya, tubuhnya masih basah, rambutnya menempel di wajah. Ia menatap lukisan Kael di dinding, dan untuk pertama kalinya, ia tak merasa takut.

Ia hanya merasa… marah, bingung, hancur, dan rindu—semuanya sekaligus.

Ia tak tahu apakah luka ini pantas diberi kesempatan kedua.

Tapi ia tahu satu hal yang pasti:

Perasaan itu terlalu mirip untuk kebetulan. Terlalu kuat untuk disebut kebiasaan. Terlalu dalam untuk disebut sekadar bayangan masa lalu.

Dan mungkin, untuk mencintai seseorang yang pernah menghancurkanmu, kamu harus lebih berani dari siapa pun yang pernah menyayangimu.

Bab 7: Orang yang Pernah Kuinginkan Pergi

Elara menatap cermin di kamarnya, matanya sembab, rambutnya berantakan, dan wajahnya terlihat seperti seseorang yang tak lagi yakin pada dunia. Ia memeluk dirinya sendiri, tubuhnya masih gemetar meski malam sudah berakhir dan pagi mulai menyapa.

Ia berusaha mengingat dengan paksa. Duduk di lantai sambil membuka semua buku catatan lamanya, mencoba mencari jejak-jejak Kael yang mungkin tertinggal. Tapi tak banyak yang bisa ia temukan. Hanya serpihan—kata-kata patah, coretan wajah, sketsa tangan yang menggenggam sesuatu yang hilang.

Kael.

Pria yang sekarang hadir dalam hidupnya dengan wajah tenang, perhatian, dan kehangatan yang tidak pernah menuntut.

Tapi juga… pria yang pernah ia bayar untuk ia lupakan.

Dan itu menghancurkannya lebih dari yang ia kira.

Hari itu Elara tidak membuka kafe. Ia menulis surat. Untuk Kael. Panjang. Penuh tanya.

Lalu ia berjalan ke alamat yang pernah pria itu sebutkan suatu hari, rumah kecil dengan pagar kayu dan jendela besar yang dipenuhi tanaman gantung.

Kael membuka pintu dengan ekspresi cemas saat melihatnya. Tapi ia tidak bicara.

Elara menyerahkan surat itu.

“Aku nggak tahu apa aku siap bicara sekarang. Tapi aku ingin kamu baca ini.”

Kael mengangguk pelan, lalu mempersilakan Elara masuk. Tapi gadis itu menggeleng.

“Aku nggak mau masuk. Belum sekarang.”

Setelah Elara pergi, Kael duduk di ruang tamu, membaca isi surat itu perlahan-lahan. Setiap kalimatnya seperti bilah pisau yang ia tahu harus ia terima.

Aku mencintaimu lagi tanpa tahu siapa kamu. Itu aja udah cukup menyakitkan.

Kalau cinta ini nyata, kenapa kamu nggak jujur dari awal? Kenapa kamu buat aku jatuh, tanpa tahu aku pernah jatuh lebih dulu di tempat yang sama?

Aku nggak tahu harus marah ke siapa. Ke kamu yang kembali diam-diam, atau ke diriku sendiri yang membiarkanmu masuk begitu mudah.

Tapi yang paling menyakitkan adalah… aku yang dulu pernah ingin kamu pergi.

Dan kamu… menurut.

Kael meletakkan surat itu di meja. Wajahnya datar, tapi matanya basah. Ia menghela napas dalam-dalam, lalu berdiri.

Malamnya, Elara menerima pesan singkat dari Kael:

Aku akan pergi. Bukan karena aku menyerah. Tapi karena aku nggak mau kamu jatuh cinta pada seseorang yang kamu belum benar-benar ingat. Aku akan kembali… kalau kamu sudah siap.

Pesan itu singkat. Tapi dampaknya panjang. Sejak saat itu, Kael tak pernah datang lagi ke kafe. Tak ada suara lonceng pintu. Tak ada secangkir cappuccino di sudut ruangan.

Hidup Elara kembali sepi.

Tapi berbeda.

Kali ini, sepinya berisi bayangan seseorang yang pernah ia miliki dua kali—dan kini hilang dua kali juga.

Malam-malam Elara dipenuhi mimpi-mimpi aneh. Ia mulai bermimpi tentang percakapan yang tidak ia ingat pernah terjadi. Tentang Kael yang mencium keningnya sambil berkata, “Kita bisa ulang dari awal, tapi aku nggak bisa janji kita nggak akan jatuh lagi.”

Tentang dirinya sendiri yang berkata, “Kalau aku lupakan kamu, janji jangan kejar aku lagi.”

Dan Kael hanya menjawab, “Aku akan selalu kejar kamu. Bahkan kalau kamu tak kenal aku lagi.”

Setiap kali bangun dari mimpi itu, Elara merasa kosong. Tapi kosong yang membentuk ruang. Seperti luka yang perlahan berubah menjadi tempat tumbuhnya sesuatu yang baru.

Suatu siang, Elara berjalan ke taman dekat rumah. Ia duduk di bangku batu, memandangi anak-anak kecil yang berlarian. Di tangannya, ada buku kecil yang ia temukan semalam—buku dengan tulisan tangannya yang sangat rapi dan asing. Di halaman terakhir, tertulis:

Aku mencintainya, tapi aku juga takut padanya. Karena Kael adalah tempat aku pernah menemukan segalanya, sekaligus kehilangan segalanya.

Kalimat itu membuat Elara menangis pelan. Dan untuk pertama kalinya, ia menerima kenyataan bahwa mungkin… dirinya di masa lalu bukan ingin melupakan Kael karena benci. Tapi karena terlalu cinta.

Dan cinta yang terlalu besar… kadang menyiksa lebih dari luka.

Dalam hati, ia berkata, “Aku memang pernah ingin kamu pergi, Kael. Tapi sekarang… aku ingin kamu kembali. Bukan sebagai pria yang aku kenal. Tapi sebagai pria yang aku pilih. Sekali lagi.”

Dan langit sore itu terasa sedikit lebih terang.

Mungkin, cinta memang tidak selalu perlu diingat untuk bisa tumbuh.

Kadang ia hanya butuh diakui—bahwa rasa itu tak pernah benar-benar pergi.

Bab 8: Ingatan yang Kembali

Sudah seminggu sejak Kael menghilang dari hidup Elara. Kafe tempat mereka biasa bertemu kini terasa hampa, meski pelanggan tetap datang dan pergi. Elara menjalani hari-harinya seperti biasa, namun ada kehampaan yang tak bisa ia abaikan. Setiap sudut kafe mengingatkannya pada Kael—meja sudut tempat ia duduk, cangkir kopi favoritnya, bahkan aroma parfum yang samar tertinggal di udara.

Malam itu, Elara duduk di kamarnya, menatap lukisan Kael yang tergantung di dinding. Lukisan itu kini menjadi saksi bisu dari perasaan yang kembali tumbuh, meski diselimuti oleh kabut ketidakpastian. Ia meraih buku catatan lamanya, membuka halaman demi halaman, mencari petunjuk tentang masa lalu yang telah ia lupakan.

Di antara halaman-halaman itu, ia menemukan sebuah surat yang ditulis dengan tangan gemetar. Tulisan itu miliknya, namun ia tak ingat pernah menulisnya. Isi surat itu menggambarkan rasa sakit, kehilangan, dan keputusan untuk melupakan seseorang demi menyelamatkan diri sendiri. Elara membaca surat itu berulang kali, mencoba memahami perasaan yang tertulis di sana.

Keesokan harinya, Elara memutuskan untuk menemui terapis yang pernah membantunya melupakan Kael. Ia ingin tahu apakah mungkin untuk mengembalikan ingatan yang telah dihapus. Terapis itu menjelaskan bahwa hipnosis tidak benar-benar menghapus ingatan, melainkan menyimpannya di tempat yang sulit diakses oleh kesadaran. Dengan terapi yang tepat, ingatan itu bisa kembali.

Elara menjalani sesi terapi regresi, mencoba menelusuri kembali jejak-jejak masa lalu yang tersembunyi. Dalam kondisi hipnosis, ia mulai melihat kilasan-kilasan kenangan—tawa bersama Kael, pertengkaran hebat, air mata, dan akhirnya keputusan untuk melupakan. Setiap kilasan itu membawa rasa sakit, namun juga kelegaan karena akhirnya ia mulai memahami apa yang terjadi.

Setelah sesi terapi, Elara duduk di taman tempat ia dan Kael pernah menghabiskan waktu bersama. Ia menatap langit senja, merasakan angin menyentuh wajahnya, dan membiarkan air mata mengalir. Kini, ia tahu bahwa cintanya pada Kael bukanlah ilusi, melainkan kenyataan yang pernah ada dan mungkin masih ada.

Elara menulis surat untuk Kael, mengungkapkan perasaannya, permintaan maaf, dan harapan untuk memulai kembali. Ia tidak tahu apakah Kael akan membacanya, namun ia merasa lega telah menyampaikan isi hatinya.

Beberapa hari kemudian, Elara menerima balasan dari Kael. Dalam surat itu, Kael mengungkapkan bahwa ia juga masih mencintai Elara dan bersedia memulai kembali jika Elara siap. Mereka sepakat untuk bertemu di tempat pertama kali mereka bertemu setelah terapi—kafe tempat Elara bekerja.

Pertemuan itu penuh keheningan, namun juga penuh makna. Mereka saling menatap, tersenyum, dan akhirnya berbicara tentang masa lalu, kesalahan, dan harapan untuk masa depan. Elara dan Kael memutuskan untuk memberi kesempatan kedua pada cinta mereka, dengan kesadaran penuh akan luka dan kebahagiaan yang pernah mereka bagi.

Bab 9: Apakah Kita Punya Kesempatan Lagi?

Malam itu, Elara berdiri di depan cermin kamarnya. Wajahnya tampak tenang, namun sorot matanya menyimpan badai. Ia sudah tahu apa yang harus dilakukan. Bukan untuk kembali ke masa lalu, tapi untuk berdamai dengannya.

Besok pagi, ia dan Kael akan bertemu kembali—di tempat semuanya bermula, sekaligus tempat semuanya berakhir. Kafe Mallow. Sudut kanan ruangan. Meja kayu tua yang masih menyimpan bekas lingkaran gelas Kael yang dulu. Elara telah membersihkan tempat itu semalam. Bukan hanya debunya, tapi juga kenangan yang sempat ia kubur dalam-dalam.

Hari pertemuan itu datang dengan matahari yang malu-malu. Elara mengenakan baju putih sederhana, rambut dikuncir rendah, dan wajah tanpa riasan. Ia ingin datang sebagai dirinya yang paling jujur. Kael sudah duduk lebih dulu. Ia tampak gugup, tapi tetap tersenyum saat melihat Elara mendekat.

“Hai,” sapa Elara pelan.

Kael berdiri. “Hai.”

Tak ada pelukan. Tak ada genggaman tangan. Hanya dua pasang mata yang saling menatap, saling mengukur seberapa jauh jarak yang pernah mereka buat—dan seberapa dekat hati mereka saat ini.

“Terima kasih udah mau datang,” ujar Kael.

“Harusnya aku yang bilang itu,” jawab Elara.

Mereka duduk. Di antara mereka ada dua cangkir kopi yang hampir sama. Seperti dulu. Tapi kali ini berbeda. Mereka bukan lagi dua orang yang saling berpura-pura tak kenal. Mereka adalah dua jiwa yang pernah patah oleh satu cinta… dan kini mencoba menyentuhnya lagi dengan hati-hati.

“Aku udah ingat semuanya,” kata Elara akhirnya. “Nggak utuh. Tapi cukup untuk tahu kenapa aku dulu memilih lupa.”

Kael mengangguk. “Aku tahu kamu terluka. Dan itu salahku.”

Elara menatap ke jendela. Hujan tipis mulai turun, seperti biasa setiap kali mereka bicara hal serius.

“Kamu selingkuh waktu itu, Kael.”

Kalimat itu meluncur tanpa gemetar. Tegas. Penuh luka yang belum sepenuhnya sembuh.

Kael menarik napas dalam. “Iya. Dan aku menyesal setiap hari karena itu. Tapi aku nggak minta dimaafkan.”

“Lalu kenapa kamu kembali?” tanya Elara, suaranya rendah.

“Karena aku ingin tahu… apakah cinta kita bisa tumbuh tanpa semua luka itu. Dan waktu aku lihat kamu jatuh cinta lagi ke aku—tanpa tahu siapa aku—aku sadar, cinta itu mungkin memang nyata.”

Elara menghela napas. Ia menatap pria itu dengan segala kelelahan dan harapan yang masih tersisa di matanya.

“Kael… aku benci kamu. Tapi di saat yang sama… aku juga rindu kamu.”

Kael tersenyum pahit. “Aku juga, El.”

“Aku nggak bisa pura-pura semuanya baik-baik aja. Dan aku nggak bisa bilang aku siap untuk hubungan yang sama.”

“Aku pun nggak minta semuanya kembali seperti dulu,” ujar Kael. “Aku cuma minta satu hal: kesempatan untuk jadi lebih baik. Bukan demi kita. Tapi demi diriku sendiri… dan caraku mencintaimu kali ini.”

Hening kembali mengisi ruang.

Di luar, hujan makin deras.

Tapi Elara tak merasa dingin. Karena untuk pertama kalinya, ia merasa kata-kata Kael tidak datang dari rasa bersalah… tapi dari rasa yang memang belum selesai.

“El,” Kael menatapnya lekat, “kalau kamu butuh waktu lagi, aku akan tunggu. Kalau kamu bilang cukup, aku akan mundur. Tapi izinkan aku jadi seseorang yang tidak kamu lupakan lagi, walau kita akhirnya tidak bersama.”

Elara menunduk, lalu tersenyum kecil.

“Kamu tahu… dulu aku melupakan kamu untuk menyelamatkan diriku. Tapi sekarang, mengingat kamu justru membuat aku kembali utuh.”

Kael terlihat menahan air mata. “Jadi… apa kita punya kesempatan lagi?”

Elara menatapnya dalam. “Kita bukan sedang mulai dari awal. Kita mulai dari tengah, tempat kita berhenti dulu. Dan aku nggak janji semuanya akan mudah. Tapi aku juga nggak akan lari lagi.”

Mereka duduk diam cukup lama, membiarkan waktu mengalir, membiarkan luka yang dulu terbuka perlahan belajar bernapas kembali.

Dan mungkin… kesempatan kedua bukan soal memaafkan seluruh kesalahan.

Tapi tentang keberanian untuk mencintai seseorang yang pernah membuatmu hancur karena kali ini, kamu tahu, dia pun sedang belajar menjadi seseorang yang berbeda.

Bab 10: Mencintaimu Meski Aku Pernah Melupakanmu

Waktu berjalan, dan musim berganti. Hujan yang dulu selalu turun saat mereka berbicara kini mulai berganti dengan langit biru yang tenang. Elara dan Kael tak langsung kembali seperti dulu. Tak ada pelukan dramatis, tak ada pengakuan cinta yang penuh gairah. Yang ada hanya dua orang dewasa yang saling mengerti bahwa cinta, ketika kembali, harus dirawat dengan hati-hati—lebih hati-hati dari sebelumnya.

Mereka mulai mengisi hari-hari dengan hal kecil. Kael sesekali datang ke kafe, duduk di tempat yang sama, tapi tidak selalu berbicara. Kadang Elara hanya menyajikan kopi, menatap matanya, dan mengangguk kecil. Itu cukup. Tidak ada kepastian, tapi juga tidak ada kebohongan.

Suatu sore, Elara mengajak Kael ke tempat yang belum pernah mereka datangi—taman kecil di atas bukit, tempat matahari terbenam bisa dilihat jelas tanpa terhalang gedung.

“Dulu aku pernah ke sini sendiri,” kata Elara. “Waktu aku merasa dunia terlalu bising. Tapi sekarang aku ingin datang ke sini… bersamamu.”

Kael tersenyum, berdiri di sisinya, dan membiarkan angin senja bermain di rambut mereka. Mereka tak berbicara lama. Hanya duduk. Hanya saling ada.

“El,” Kael memanggil namanya pelan. “Kamu tahu nggak? Rasa sakit yang dulu kamu rasain… aku pun bawa itu ke mana-mana. Setiap hari. Setiap malam. Aku nggak pernah sembuh sepenuhnya. Tapi aku juga nggak pernah berhenti berharap bisa menebus semuanya.”

Elara menatap langit yang berubah oranye.

“Aku pun nggak sembuh sepenuhnya. Tapi aku nggak lagi ingin sembuh dengan cara melupakan.”

Ia menoleh ke Kael.

“Aku ingin sembuh dengan cara mengingat. Dengan cara belajar mencintaimu… bukan karena aku lupa kamu pernah menyakitiku, tapi karena aku memilih untuk tetap mencintaimu, meski tahu segalanya.”

Kael memejamkan mata, menahan air yang nyaris jatuh dari kelopaknya. Tak ada kata yang bisa menandingi kalimat itu.

“El… kalau waktu bisa diputar, aku ingin mengulang semuanya. Tapi karena waktu nggak bisa, aku cuma bisa janji satu hal…”

Elara menunggu.

“…aku nggak akan pernah membuatmu ingin melupakanku lagi.”

Elara mengangguk perlahan. Tak ada yang sakral dalam janji itu. Tidak dilapisi bintang atau doa panjang. Tapi ia tahu, kali ini hatinya tidak sedang berharap. Ia sedang memilih.

Beberapa bulan berlalu, dan cinta mereka berjalan pelan. Kadang mundur, kadang diam, kadang tumbuh. Tapi Elara tidak lagi menuntut segalanya sempurna. Ia mulai menulis lagi. Ia mengisi buku harian dengan cerita harinya bersama Kael, bukan untuk dikenang, tapi untuk dikenali—bahwa kali ini ia tidak ingin lupa.

Ia juga menulis surat pada dirinya yang dulu, surat yang ia simpan di antara halaman terakhir bukunya.

Untuk diriku yang dulu,

Kamu pernah memilih lupa karena luka terasa lebih besar dari cinta. Dan itu tidak salah.

Tapi hari ini, aku ingin bilang, kamu tidak harus menghapus semuanya untuk sembuh. Terkadang, yang kamu perlukan adalah keberanian untuk mengingat, dan tetap membuka hati.

Mencintai orang yang sama bukan berarti mengulangi kesalahan. Tapi memberi kesempatan pada cinta untuk tumbuh… dengan cara yang baru.

Dan ya, aku mencintainya. Meski aku pernah melupakannya.

—Elara

Sore itu, Elara menggantung kembali lukisan Kael di kafe. Kali ini di tempat yang lebih terang. Banyak pelanggan bertanya, “Siapa pria di lukisan itu?”

Dan Elara akan tersenyum, menjawab lembut,

“Itu seseorang yang pernah aku buang dari ingatanku. Tapi tetap tinggal di hatiku.”

Mereka mungkin bukan pasangan yang sempurna.

Tapi mereka adalah dua jiwa yang pernah patah, lalu belajar menyusun ulang cinta… dari pecahan-pecahan yang tak sempurna.

Dan mungkin, justru dari sanalah cinta menjadi nyata.

TAMAT.

Novel ini ditulis oleh Evi Fauzi, Penulis dari Novel Singkat. Baca juga novel romantis, petualangan dan fiksi ilmiah lainnya.

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Novel Terbaru

  • Terraformers of Solitude (Para Terraformer Kesunyian)
  • Novel Singkat: Cinta di Ujung Sajadah
  • Novel Singkat: Lantai 38 – Antara Merger Perusahaan, Rumah Mewah
  • Senja di Balkon Penthouse – Novel Singkat 7 Bab
  • Novel Pendek: Istri Kontrak Sang Sultan

Arsip

  • December 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025

Kategori

  • Fiksi Ilmiah
  • Petualangan
  • Romansa

Tentang Kami

Tentang Kami

aksi cinta dan kehilangan cinta dan pengorbanan Cinta dan Takdir cinta lintas dimensi cinta pertama cinta segitiga cinta sejati Cinta Terlarang cinta yang terlupakan dunia paralel eksperimen genetika Eksperimen Rahasia identitas ganda Ilmuwan kehilangan kisah cinta kisah cinta emosional kisah cinta menyedihkan kisah cinta sedih kisah cinta tragis konspirasi Misteri novel emosional novel fiksi ilmiah Novel Romantis pengkhianatan Pengorbanan Pengorbanan Cinta penjaga waktu perjalanan waktu Petualangan petualangan emosional realitas paralel reinkarnasi romansa Romansa Cinta romansa tragis Romantis Romantis gelap romantis tragis teknologi canggih thriller thriller psikologis Thriller Waktu

Genre Favorit

  • Fiksi Ilmiah
  • Petualangan
  • Romansa
©2026 Baca Novel Singkat Di sini | Design: Newspaperly WordPress Theme