Di masa depan, dunia terbagi menjadi dua dimensi besar: Dunia Utama, tempat manusia sempurna hidup tanpa emosi berlebihan, dan Dunia Gagal, tempat orang-orang yang dianggap cacat mental dan emosional dibuang agar tidak merusak tatanan.
Sora, seorang insinyur sistem interdimensi dari Dunia Utama, mengalami kecelakaan saat melakukan inspeksi portal dan terdampar di Dunia Gagal. Di sana, ia bertemu Lia, seorang gadis yang dikutuk oleh sistem karena memiliki empati dan cinta yang terlalu besar.
Saat Sora mulai mengenal dunia yang dianggap gagal itu, ia justru menemukan makna hidup yang selama ini hilang di balik kesempurnaan palsu. Ia jatuh cinta pada Lia, tetapi waktunya terbatas. Sistem menuntutnya kembali, dan jika ia melakukannya, semua ingatan tentang Lia akan dihapus. Namun jika ia bertahan, tubuhnya akan hancur.
Bab 1: Terjatuh dari Kesempurnaan
Langit di Dunia Utama tak pernah berubah. Biru steril, tak ada awan, tak ada suara burung, hanya kedamaian yang terasa seperti kesunyian yang dipaksa. Sora menatap layar terminalnya—sistem portal antar dimensi yang sedang ia kalibrasi. Semua protokol berjalan normal, sampai satu variabel tak terdeteksi muncul di tengah proses sinkronisasi. Ia sempat ragu, ingin menghentikan prosesnya. Tapi waktu sudah terlalu sempit untuk mundur. Ia menekan tombol masuk.
Sesaat kemudian, dunia hancur dalam sekejap suara mendesing dan silau cahaya. Tubuhnya terasa terurai, kemudian diremukkan dan dilempar ke tempat yang tak dikenalnya. Tanahnya lembab, bau logam dan tanah basah menusuk hidung. Cahaya di langit berwarna kelabu kehijauan, seolah matahari pun ragu untuk bersinar di tempat ini.
Sora terbatuk, tubuhnya menggigil. Matanya perlahan terbuka, dan ia melihat bangunan roboh, kabel listrik terjuntai, dan suara tangisan samar dari kejauhan. Bukan Dunia Utama. Ia tahu itu sejak napas pertamanya.
Ia bangkit, meski lututnya gemetar. Perangkat terminal yang biasa tertanam di pergelangan tangannya rusak. Komunikasi terputus. Tidak ada cara kembali. Belum.
Suara langkah kaki mendekat. Sora menoleh waspada, tapi yang muncul adalah seorang gadis muda, membawa seember air dan kain kotor. Bajunya sobek, rambutnya kusut, tapi matanya… tidak seperti milik siapa pun di Dunia Utama. Matanya hidup. Penuh luka dan kasih dalam satu waktu yang sama.
“Kau jatuh dari langit?” tanyanya pelan.
Sora ingin menjawab logis, tapi kata-kata tercekat. Ia hanya mengangguk.
“Aku Lia,” katanya. “Kau berdarah. Mari ikut.”
Ia tak memberi kesempatan menolak. Ia menarik tangan Sora pelan, tanpa paksaan. Tapi ada sesuatu dalam sentuhannya yang membuat Sora menurut, padahal dia terbiasa memberi perintah, bukan menerima.
Mereka melewati lorong reruntuhan. Dunia ini—yang selama ini disebut Dunia Gagal—ternyata bukan sekadar penjara untuk orang rusak. Tempat ini hidup. Retak, tapi berdetak.
Lia membawanya ke sebuah ruangan kecil di balik tembok runtuh. Di sana, ada anak-anak dengan luka terbuka, orang tua yang gemetar, dan beberapa remaja yang menggambar sesuatu di dinding dengan kapur putih. Mereka semua… tampak nyata. Terlalu nyata. Tidak seperti manusia Dunia Utama yang sempurna, tapi kosong.
“Kau siapa?” tanya Lia, saat mengobati luka di lengan Sora.
“Sora. Aku… dari Utama.”
Lia terdiam. Tangannya berhenti di udara. Tatapannya berubah jadi pahit.
“Lalu kau datang ke sini… kenapa?”
“Aku tidak sengaja. Sistemnya rusak.”
“Lucu ya. Dunia kalian rusak sedikit saja, kalian langsung panik. Sementara kami di sini… rusak sejak lahir, tapi tak ada yang peduli.”
Sora menunduk. Ia tak punya jawaban.
Hari berganti malam. Dunia Gagal tidak punya malam yang benar-benar gelap. Cahaya samar dari reaktor rusak menyinari langit seperti aurora buatan yang lelah. Sora duduk di luar, menatap dunia yang semrawut ini, namun terasa lebih hidup dari segalanya yang pernah ia kenal.
Lia duduk di sampingnya, membawa dua cangkir air panas.
“Kau tahu,” kata Lia pelan, “di dunia ini, kami dianggap anomali. Tapi kadang aku pikir… mungkin yang aneh justru dunia kalian. Dunia yang melarang menangis. Dunia yang tak mengenal pelukan kecuali untuk statistik.”
Sora tersenyum samar. “Di sana… aku bahkan tak ingat kapan terakhir kali aku menyentuh orang lain.”
“Lalu kenapa kau tersenyum sekarang?”
Ia menoleh padanya. “Karena kau menyentuhku pertama kali tanpa takut aku akan hancur.”
Hening. Tapi bukan hening yang dingin. Hening yang menggantung antara dua hati yang perlahan mulai saling mengenali.
Lia berdiri. “Tidurlah. Dunia ini tidak akan jadi lebih baik besok. Tapi jika kau tetap di sini, kau mungkin akan belajar mencintai bagian yang rusak darinya.”
Sora menatap punggungnya yang perlahan menghilang ke dalam bayangan. Ia tahu dirinya harus segera kembali. Tapi untuk pertama kalinya dalam hidup, ia tidak yakin ingin pulang.
Langit Dunia Gagal bersinar lembut malam itu, seperti tahu bahwa satu jiwa baru sedang belajar jatuh cinta—di dunia yang salah.
Dan mungkin… itu tidak sepenuhnya salah.
Bab 2: Gadis yang Tidak Seharusnya Ada
Pagi di Dunia Gagal tak pernah cerah. Bahkan matahari pun seolah segan untuk muncul utuh. Cahayanya tertutup awan abu-abu dan debu yang menumpuk di langit. Tapi di tempat penampungan itu, di tengah reruntuhan yang ditutupi terpal lusuh, ada secercah kehangatan yang tak berasal dari sinar matahari—melainkan dari suara tawa kecil anak-anak dan aroma roti yang hangus separuh tapi tetap mereka nikmati bersama.
Sora duduk di sudut ruangan. Tubuhnya sudah lebih baik, meski tetap terasa aneh. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya, seperti tubuhnya bereaksi pada udara yang kotor, atau… mungkin pada perasaan yang baru.
Lia datang membawa sepiring kecil makanan sederhana. Bubur kental berwarna abu-abu, tapi uapnya hangat.
“Makanlah. Ini bukan makanan kelas elit seperti yang biasa kalian punya di Dunia Utama, tapi setidaknya tidak membuatmu mati,” katanya sambil duduk di samping Sora.
Sora menerima piring itu tanpa banyak bicara. Tapi tatapannya tak lepas dari gadis di sebelahnya.
“Aku ingin tahu satu hal,” katanya akhirnya. “Bagaimana kau bisa… seperti ini?”
Lia tertawa kecil. “Seperti apa?”
“Berbeda. Penuh empati. Penuh… cinta.”
Lia menatap dinding yang penuh coretan tangan anak-anak. “Mungkin karena aku tidak pernah diajari cara membencinya. Saat dunia menyebutku cacat, aku pikir… mungkin aku memang rusak. Tapi semakin lama aku tinggal di sini, aku mulai percaya… justru yang rusak adalah dunia yang membuang kami.”
Sora menggenggam sendok dengan lebih erat. “Di tempatku, emosi adalah gangguan. Kami dilatih untuk mengendalikannya sejak lahir. Cinta, duka, amarah—semuanya dimatikan. Dunia kami tak mengenal tangisan.”
“Lalu bagaimana kalian jatuh cinta?” tanya Lia.
“Kami tidak. Itu dianggap ilusi biologis yang bisa dimodifikasi.”
Lia mengangguk pelan, lalu berdiri. “Ikut aku.”
Sora mengikuti Lia keluar dari ruangan. Mereka melewati lorong sempit yang terbuat dari sisa bangunan tua. Sampai mereka tiba di sebuah ruangan kecil yang dipenuhi kertas, buku, dan lukisan dinding.
“Ini perpustakaan kecil kami,” kata Lia. “Kami menyebutnya tempat kenangan.”
Sora menelusuri rak-rak buatan tangan itu. Buku-buku tua dengan lembaran yang sobek, catatan harian, dan gambar yang digambar dengan krayon.
“Aku mengajarkan mereka menulis. Setiap anak di sini menuliskan perasaannya. Apa pun. Kami menyimpannya, karena di dunia ini… tak ada yang peduli pada yang tak diucapkan.”
Sora mengambil salah satu buku lusuh dan membuka halaman pertamanya. Tulisannya jelek dan goyah, tapi setiap kalimat terasa tulus. “Aku rindu ibuku. Tapi katanya, orang yang terlalu rindu akan dilenyapkan oleh sistem.”
Sora membeku.
“Di sini, terlalu banyak cinta bisa membunuhmu,” kata Lia pelan.
“Kenapa kau tidak menyerah?”
Lia menatapnya tajam. “Karena menyerah berarti ikut mati sebelum waktunya. Aku ingin tetap hidup, Sora. Bukan hanya bernapas. Tapi hidup.”
Hening melingkupi mereka. Tapi Sora tahu, dalam diam itu ada sesuatu yang bergerak di dalam dirinya. Sebuah rasa yang tak bisa dijelaskan oleh sistem algoritma atau teori interdimensi.
“Kalau kau tahu aku harus kembali ke Dunia Utama… kenapa kau tetap baik padaku?” tanya Sora.
“Karena aku tidak ingin menyesal. Dunia ini penuh penyesalan, Sora. Aku tidak ingin kau jadi satu lagi hal yang tak sempat kurasakan dengan jujur.”
Lia menyentuh dadanya sendiri. “Kau bisa saja hanya bayangan yang singgah sebentar. Tapi jika bayanganmu bisa menghangatkan satu hari burukku, maka itu cukup bagiku.”
Sora menatapnya dalam-dalam. Jantungnya berdebar lagi. Tapi bukan karena penyakit atau sistem rusak. Untuk pertama kalinya dalam hidup, ia sadar apa yang tengah tumbuh dalam dirinya tak bisa diukur oleh data apa pun.
Ia jatuh cinta.
Dan itu membuatnya takut.
Malam itu, saat semua anak tertidur dan Lia duduk di dekat api kecil sambil menulis, Sora berdiri di luar bangunan, menatap langit penuh debu. Ia tahu, tubuhnya perlahan mulai menunjukkan gejala. Sistem Dunia Gagal menolak keberadaan fisiknya. Ia mungkin hanya punya waktu beberapa hari lagi.
Tapi mengapa, baru sekarang, ketika waktunya sedikit, ia merasa hidup untuk pertama kalinya?
Di belakangnya, Lia menyanyi kecil. Lagu tanpa lirik, hanya melodi lembut.
Sora menutup mata, dan dalam gelap, ia tahu: gadis ini… tidak seharusnya ada di dunia seperti ini.
Tapi justru karena itu, cintanya terasa paling nyata.
Bab 3: Dunia Tanpa Rasa Sakit, Dunia Tanpa Jiwa
Pagi kembali datang seperti bayangan yang tak pernah pergi. Tidak ada cahaya keemasan, hanya siluet abu-abu yang membias dari langit rusak. Sora terbangun dengan napas terengah. Dadanya terasa sesak, seperti ada sesuatu yang mulai retak dari dalam. Tubuhnya mulai menunjukkan gejala penolakan. Ia tahu ini akan terjadi, tapi tetap saja rasanya mengerikan.
Dunia Gagal bukan tempat untuk tubuh dari Dunia Utama. Perbedaan struktur biologis, tekanan atmosfer, dan kandungan energi membuat jaringan dalam tubuh Sora mulai melemah. Ia punya waktu. Tapi tidak banyak.
Di luar, Lia sedang duduk bersama beberapa anak, membacakan cerita dari buku yang ia tulis sendiri. Suaranya lembut, penuh kehidupan. Anak-anak mendengarkan dengan wajah yang seolah lupa bahwa mereka tinggal di reruntuhan.
Sora berdiri dalam diam, mengamati.
“Di Dunia Utama,” gumamnya dalam hati, “tidak ada dongeng. Tidak ada waktu untuk cerita yang tak berguna.”
Setiap hari di Dunia Utama adalah efisiensi. Jam kerja ditentukan oleh algoritma terbaik. Emosi dinetralkan melalui terapi neurosinkron. Tidak ada kesedihan. Tapi juga tidak ada tawa. Tidak ada cinta. Yang ada hanyalah rutinitas sempurna yang diam-diam membunuh dari dalam.
Sora mengingat ibunya. Atau lebih tepatnya, seseorang yang pernah ia panggil ibu sebelum gelar itu dihapus oleh sistem. Sejak usia empat tahun, ia dipisahkan, dilatih, dimurnikan secara mental. Ia belajar menyimpan semua perasaan di dalam folder tak terlihat.
Tapi sekarang, di tempat rusak ini, folder-folder itu terbuka sendiri.
Lia menyadari kehadirannya dan tersenyum. Ia menyuruh anak-anak bermain, lalu berjalan menghampiri Sora.
“Kau tidak terlihat baik,” katanya, menatap mata Sora dengan cemas.
“Aku hanya… lelah.”
Lia memegang lengannya. “Berhenti bohong. Dunia ini mungkin rusak, tapi kami tahu kapan seseorang sedang sekarat.”
Sora tersenyum miris. “Tubuhku tak diciptakan untuk tempat ini. Tapi hatiku… entah kenapa, justru baru bisa berdetak di sini.”
Lia menatapnya lama. “Apa kau ingin kembali?”
Sora tidak langsung menjawab. Pertanyaan itu sederhana, tapi jawabannya terlalu berat. Ia ingin hidup. Tapi di mana arti hidup jika tidak bisa merasakan seperti sekarang?
Mereka berjalan ke pinggiran koloni, tempat reruntuhan paling parah berdiri diam seperti monumen patah hati. Di sana, Sora melihat tembok besar penuh coretan: wajah-wajah, kata-kata, simbol yang tampak tak masuk akal bagi mereka yang tumbuh di dunia steril.
“Apa ini?” tanyanya.
“Tempat terakhir kenangan,” jawab Lia. “Orang-orang menggambar sebelum mereka diambil oleh sistem. Sebagian besar sudah tak ada.”
Sora menelusuri tembok itu. Tangannya menyentuh tulisan kecil:
“Maaf karena aku terlalu mencintaimu.”
Ia bergeming.
“Di Dunia Utama, cinta dianggap kelemahan. Di sinilah tempat cinta itu dibuang.”
Lia tertawa kecil, tapi matanya berkaca. “Aku termasuk. Katanya aku berbahaya karena bisa membuat orang lain merasakan kembali. Dan mereka takut itu menular.”
“Kenapa kau tidak marah?” tanya Sora. “Pada dunia. Pada sistem. Pada… aku.”
Lia menatapnya. “Karena marah tak mengubah apa-apa. Tapi memaafkan… mungkin bisa menyelamatkan satu jiwa. Bahkan kalau itu cuma jiwamu.”
Sora memejamkan mata. Kepalanya berdenyut. Data di otaknya mulai kabur. Memori terdistorsi. Tapi ia tak ingin melupakan suara Lia. Sentuhannya. Tawa lirihnya saat berbicara dengan anak-anak. Ia tak ingin kembali menjadi manusia yang tak bisa merasakan.
“Kalau aku tetap tinggal…” bisiknya, nyaris tak terdengar, “aku mungkin akan mati.”
Lia mengangguk pelan. “Aku tahu.”
“Tapi kalau aku kembali, aku akan melupakan semuanya. Termasuk kamu.”
Angin berembus pelan, membawa debu dan bau besi tua.
“Lalu apa yang akan kau pilih, Sora?” tanya Lia pelan. “Hidup panjang tanpa jiwa, atau hidup singkat dengan cinta yang tak bisa dilupakan meski dunia memaksamu lupa?”
Sora menatapnya. Matanya tak lagi dingin. Tak lagi teknis. Tapi manusia. Penuh luka, dan perlahan, penuh keberanian.
Ia belum tahu jawabannya.
Tapi untuk pertama kalinya… ia ingin bertanya pada hatinya sendiri, bukan pada sistem.
Bab 4: Detak Jantung yang Tidak Direkam
Hujan turun tanpa peringatan.
Bukan hujan segar yang biasa menyambut pagi di Dunia Utama, tapi hujan yang membawa bau karat, bau luka, dan suara besi bergesekan. Setiap tetes yang jatuh seolah mengingatkan Sora: ini bukan tempatmu. Tubuhmu bukan milik dunia ini. Tapi kenapa jiwanya justru terasa menemukan rumah?
Sora berdiri di bawah atap seng yang bocor, menatap langit kelabu sambil menggenggam kain kecil pemberian Lia. Hanya sehelai kain, tapi hangat. Bukan karena suhu, tapi karena ada kehadiran Lia di dalamnya. Semalam, Lia menaruhnya di atas dada Sora saat ia menggigil karena demam mendadak.
Tubuhnya memang mulai rusak. Suhu tubuhnya tidak stabil. Pandangannya kadang buram. Sistem biologis dari Dunia Utama menolak atmosfer penuh ketidakseimbangan ini. Tapi ia menolak pulang. Belum. Bukan sekarang.
“Kalau terus di sini, kau akan mati,” kata seorang pria tua, berdiri di ambang pintu.
Namanya Leno, salah satu penghuni tertua di koloni itu. Rambutnya putih, tapi mata dan lidahnya masih tajam.
“Aku tahu,” jawab Sora.
“Lalu kenapa masih di sini?”
Sora menoleh perlahan. “Karena hanya di sini aku bisa merasa.”
Leno tertawa kecil. “Merasa? Itu yang membuat kami dibuang, Nak. Kau benar-benar mau mati karena… merasa?”
Sora tidak menjawab. Tapi tubuhnya mengatakannya sendiri: ia tidak ingin kembali ke dunia yang membungkam jiwanya.
Lia muncul dari balik tirai, membawa secangkir air panas. Ia memberikannya pada Sora, lalu duduk di sebelahnya, membiarkan hujan menetes mengenai ujung kakinya.
“Aku dulu pernah hampir pergi,” katanya tiba-tiba. “Dunia Utama menawarkan pemulihan. Menghapus emosi berlebihan dalam otakku. Katanya aku bisa jadi ‘normal’.”
Sora menatapnya.
“Kenapa tidak kau ambil?”
“Karena jika aku menghapus semua ini,” Lia menepuk dadanya pelan, “aku tak lagi jadi diriku. Aku lebih memilih dianggap rusak daripada menjadi kosong.”
Sora menunduk. “Aku iri padamu.”
Lia tertawa kecil. “Kau iri pada seseorang yang tinggal di dunia busuk ini?”
“Aku iri pada keberanianmu mencintai, bahkan saat dunia melarangnya.”
Hening.
Lia menatap hujan, lalu memejamkan mata. “Kau tahu, Sora… aku mulai takut.”
“Takut apa?”
“Takut kau akan hilang. Bahwa suatu hari aku bangun, dan kau tak lagi di sini. Dan semua ini hanya jadi kenangan yang tak bisa kusentuh.”
Sora perlahan meraih tangannya. Jemari mereka bertemu dalam diam, namun seketika detak jantung Sora berubah. Tidak terekam oleh alat, tidak tercatat dalam sistem—tapi sangat nyata.
“Kalau aku bisa memilih, aku ingin tetap di sini. Bersamamu,” bisik Sora.
Lia menoleh cepat. Tatapan mereka bertemu. Hujan, dingin, dunia yang runtuh—semuanya menghilang untuk sesaat.
Namun dunia tak pernah benar-benar memberi ruang bagi yang ingin mencintai dengan bebas.
Tiba-tiba, terdengar ledakan kecil di kejauhan. Alarm darurat berbunyi dari salah satu bangunan pusat.
“Koloni timur diserang,” seru seseorang dari luar.
Warga mulai panik. Lia segera berdiri dan berlari membantu anak-anak masuk ke tempat perlindungan.
Sora ikut bergerak, meski tubuhnya mulai limbung. Pandangannya berputar, tapi ia menahan semuanya. Sekarang bukan waktunya jatuh.
Mereka berdua bekerja sama mengevakuasi korban, mengangkat reruntuhan, membalut luka. Tubuh Sora terus menolak, tapi ia menolak menyerah. Ia memilih rasa sakit, karena rasa itu lebih hidup daripada apapun yang pernah ia kenal.
Saat malam tiba dan semuanya tenang kembali, Lia memeluknya. Bukan untuk menyembuhkan, tapi untuk menguatkan.
“Jika cinta hanya bertahan di dunia yang salah,” bisik Lia, “biarlah aku tetap tinggal di dunia itu.”
Sora menutup mata.
Untuk pertama kalinya, ia tak ingin diselamatkan.
Ia hanya ingin merasakan… sampai akhir.
Bab 5: Sistem yang Melarang Cinta
Malam jatuh dengan perlahan, membawa udara yang lebih dingin dari biasanya. Koloni masih terjaga. Suara anak-anak merengek dalam mimpi buruk, suara alat-alat darurat menyala di sudut-sudut ruangan, dan di antara semua kekacauan itu, Sora duduk diam di tepi jendela retak, tubuhnya menyandar lemah, tapi pikirannya terjaga sepenuhnya.
Tubuhnya mulai benar-benar hancur. Setiap kali ia bergerak, nyeri tajam menjalar ke tulang belakang. Jaringan tubuhnya yang berasal dari Dunia Utama tidak bisa lagi bertahan dalam atmosfer Dunia Gagal yang penuh variabel liar dan fluktuasi elektromagnetik tak stabil. Tapi bukan itu yang paling menyakitkan.
Yang paling menyakitkan adalah tahu bahwa dunia tempat ia tumbuh—tempat yang mengajarkannya logika, efisiensi, dan kepatuhan—telah menjadikan cinta sebagai kejahatan sistemik.
Lia masuk ke ruangan, membawa selimut lusuh dan segelas air.
“Minumlah. Kau gemetar,” katanya lembut.
Sora menerima air itu, tapi ia tak langsung meneguknya. “Lia… aku harus memberitahumu sesuatu.”
Lia duduk di depannya. Matanya tidak berkedip, seolah sudah siap untuk mendengar apa pun, bahkan yang paling buruk.
“Dua hari lagi, sistem Dunia Utama akan menutup portal. Mereka tahu aku belum kembali. Dan jika aku tidak kembali, tubuhku akan dianggap ‘hilang fungsi’. Aku akan dihapus dari jaringan pusat. Bukan hanya tubuhku, Lia. Tapi… semua ingatan tentangku juga.”
Lia terdiam. Napasnya tercekat. Tapi ia tidak menangis.
“Termasuk ingatanku tentangmu?” tanyanya pelan.
Sora mengangguk. “Kalau aku kembali… aku tidak akan ingat tempat ini. Tidak akan ingat kamu.”
Sunyi. Dunia seakan berhenti bergerak.
“Lalu kenapa kau belum pergi?” tanya Lia.
Sora menatap matanya, dalam dan dalam. “Karena aku mencintaimu.”
Kata itu keluar tanpa rekayasa, tanpa analisis sistem. Hanya dari bagian tubuh yang tidak pernah mereka ajarkan di Dunia Utama: hati.
Lia menggeleng, wajahnya menunduk. “Kau tidak boleh bilang itu.”
“Kenapa?”
“Karena sistem sedang mengawasi. Mereka mungkin mendengar. Sistem tidak menghapus orang yang mencintai. Mereka menghapus orang yang… dicintai balik.”
Sora tercengang. “Apa maksudmu?”
“Aku… pernah dicintai sebelumnya. Seorang anak dari Dunia Utama yang juga terdampar di sini bertahun lalu. Tapi saat aku mulai membalas perasaannya… dia menghilang. Begitu saja. Tak ada jejak. Kami baru tahu, sistem tidak menghapus cinta. Tapi mereka menghapus sumber dari cinta itu.”
Sora terdiam.
“Jadi… jika aku mengatakannya lagi—”
“Aku yang akan hilang,” potong Lia cepat. “Aku, bukan kamu.”
Hening. Dunia terasa seperti bom waktu yang berdetak pelan.
Sora meraih tangan Lia. “Lalu apa yang harus kita lakukan?”
Lia menggigit bibirnya, menahan isak yang hampir lolos. “Jangan ucapkan apa-apa. Jangan beri sistem alasan untuk membunuhku.”
Sora menahan napas. Rasanya seperti disuruh mematahkan hatinya sendiri agar dunia tetap seimbang. Tapi ia mengangguk. Perlahan. Berat.
Malam itu, mereka duduk bersebelahan, saling menggenggam tangan tanpa kata. Mereka mencintai dalam diam, mencintai dalam bisu, mencintai dalam sembunyi. Karena di dunia ini, cinta bukan lagi hak. Ia adalah ancaman.
Sora memejamkan mata.
Dan untuk pertama kalinya, ia menangis.
Tanpa suara. Tapi air mata itu nyata.
Karena cinta yang tak bisa diucapkan… adalah cinta yang paling menyakitkan.
Bab 6: Waktu yang Diberi untuk Lupa
Hari berikutnya datang tanpa warna.
Langit Dunia Gagal tidak lagi hanya kelabu—ia tampak seperti dinding rapuh yang siap runtuh. Kabut menggantung lebih berat dari biasanya, dan udara mengandung rasa logam yang menggores tenggorokan.
Sora bangun dalam keadaan setengah sadar. Tubuhnya panas dingin, keringat dingin mengalir di pelipisnya, sementara dadanya sesak seperti dipeluk waktu yang terlalu sempit. Dunia ini menolaknya semakin kuat. Ia tahu—waktunya hampir habis.
Lia duduk di sampingnya, diam, menatap wajahnya seakan ingin menghafalnya sampai ke setiap pori-pori.
“Aku baru saja bicara dengan Leno,” kata Lia akhirnya, pelan. “Dia bilang kau hanya punya waktu dua puluh empat jam lagi. Setelah itu… tubuhmu tak bisa diselamatkan.”
Sora menatap langit-langit yang retak. “Kalau aku kembali ke Dunia Utama sekarang, semua ini akan hilang dari ingatanku. Kau juga.”
Lia menunduk. Ia tak bisa menahan lagi air matanya hari ini. “Dan jika kau bertahan di sini… kau akan mati.”
“Aku tahu.”
“Lalu apa yang akan kau pilih, Sora?”
Pertanyaan itu menggema lebih lama dari biasanya. Jawabannya sederhana, tapi implikasinya menghancurkan. Karena kali ini, bukan hanya tentang hidup atau mati—melainkan tentang di mana jiwanya akan terus hidup, dan di mana hatinya harus dimatikan.
“Aku takut, Lia,” bisiknya.
“Aku juga.”
Hening mengikat mereka. Suara dunia memudar. Tidak ada lagi hiruk pikuk mesin atau teriakan anak-anak. Hanya dua manusia, duduk berdampingan, di ambang dua dunia yang saling membenci.
“Aku ingin terus mengingatmu,” kata Sora. “Bahkan jika itu menyakitkan. Bahkan jika tak ada dunia yang mengizinkan kita bersama.”
Lia memalingkan wajahnya. Air matanya jatuh, tapi ia tertawa kecil di tengahnya. “Aku ingin egois. Aku ingin kau tinggal. Tapi aku juga tak sanggup melihatmu mati pelan-pelan.”
Ia mengulurkan tangan dan meletakkannya di dada Sora. “Jika kau harus pergi… bolehkah aku menitipkan diriku di sini?”
“Di mana?”
“Di jantungmu. Aku tahu mereka akan menghapus ingatanmu, tapi mungkin… hanya mungkin, ada ruang kecil yang tidak bisa disentuh siapa pun.”
Sora menggenggam tangan itu. “Lalu, jika aku bertahan… bolehkah aku mati dengan mengingatmu?”
Lia mengangguk sambil menahan isak. “Lebih baik kau mati dengan cinta, daripada hidup dengan kosong.”
Sora tahu ia tidak bisa menunda lagi. Tubuhnya semakin lemah, pandangannya mulai berganda. Lalu—suara itu datang.
Dari dalam otaknya. Bukan suara Lia. Bukan suara hatinya.
Tapi suara sistem.
“Unit 438-SORA: status kritis. Perintah aktif. Kembali ke jaringan Dunia Utama dalam enam jam atau memori akan terhapus permanen. Hitung mundur dimulai.”
Sora menutup matanya. Kepala mendengung, tapi ia tidak bereaksi panik. Ia hanya menoleh pelan ke arah Lia.
“Enam jam.”
Lia mengangguk. “Kita tahu akhirnya akan tiba.”
“Enam jam… untuk mengingat segalanya.”
Lia berdiri. Ia menarik tangan Sora.
“Kalau begitu, habiskan bersamaku. Tidak untuk menangis. Tapi untuk merayakan satu hal—bahwa kita pernah hidup, pernah mencintai, walau di dunia yang salah.”
Mereka keluar ke luar ruangan, berjalan pelan menyusuri reruntuhan yang senyap. Di tempat-tempat sunyi yang pernah mereka lewati bersama. Tertawa kecil di antara luka-luka. Menyentuh dinding-dinding kenangan yang penuh coretan puisi dan gambar anak-anak. Meninggalkan jejak mereka di dinding terakhir yang kosong.
Sora menulis dengan tangannya sendiri:
“Jika cinta harus mati, maka biarlah ia mati sebagai satu-satunya yang pernah membuatku hidup.”
Langit mulai gelap. Waktu mereka habis.
Di bawah langit yang tidak memihak siapa pun, Sora dan Lia berpelukan. Pelukan terakhir. Tak ada janji. Tak ada kepastian. Hanya dua jiwa yang mencoba bertahan dari dunia yang ingin mereka lupakan satu sama lain.
Dan ketika detik terakhir datang, dunia membisu.
Tersisa hanya satu kalimat di benak Sora, bahkan saat tubuhnya mulai pudar, dan dunia berubah kembali:
“Jangan lupa aku, meski dunia memaksamu lupa.”
Bab 7: Pelukan Terakhir di Kota Runtuh
Langit Dunia Gagal tak hanya gelap hari itu—ia tampak marah. Kilatan merah samar terlihat di balik awan tebal, seolah dunia pun tahu bahwa ada sesuatu yang akan berakhir. Angin kencang menghembuskan debu dan serpihan beton, melolong seperti bisikan patah hati yang menolak dilupakan.
Sora berdiri di tepi tebing runtuh, memandangi reruntuhan kota tua di bawah sana. Tubuhnya gemetar, bukan karena cuaca, tapi karena hitungan waktu yang terus menghantui. Enam jam itu telah menyusut drastis. Kini hanya tersisa satu jam sebelum sistem Dunia Utama mengeksekusi penghapusan memorinya.
Di belakangnya, Lia berjalan pelan, membawa seikat kain tebal dan satu buku lusuh.
“Aku ingin memberimu ini,” katanya, menyerahkan buku itu ke tangan Sora.
Sora membuka sampulnya perlahan. Di dalamnya, terisi coretan tangan anak-anak, puisi patah, gambar wajah tersenyum, dan—di halaman terakhir—gambar dirinya dan Lia. Digambar dengan goresan sederhana, tapi jujur. Di bawah gambar itu tertulis:
“Jika ia harus hilang, biarkan aku menyimpannya di antara lembar yang tak bisa dibakar.”
“Ini tempat kita,” kata Lia pelan. “Bahkan kalau dunia berusaha membakarnya, mungkin satu halaman akan tetap bertahan.”
Sora memeluk buku itu, seakan itu adalah seluruh hidupnya yang masih tersisa. Pandangannya kabur, bukan hanya karena air mata, tapi karena matanya mulai kehilangan fokus. Saraf optiknya menunjukkan gejala kolaps.
Tiba-tiba, suara gemuruh terdengar dari kejauhan. Getaran menyentak tanah. Dari balik reruntuhan, muncul bayangan besar: kapal pengangkut dari Dunia Utama. Bentuknya raksasa, dingin, tak bersuara manusia. Beberapa drone terbang mengelilinginya, seperti mata-mata tak bernyawa.
Sora tahu itu adalah penjemput terakhir. Tidak ada negosiasi. Sistem tidak datang untuk menawarkan pilihan—mereka datang untuk mengambil dan menghapus.
Anak-anak berlari. Orang-orang bersembunyi. Tapi Sora tetap berdiri di tempatnya. Lia menggenggam tangannya, erat, tapi tangannya gemetar.
“Jika kau pergi sekarang,” bisik Lia, “semuanya akan hilang. Kita… akan seperti tidak pernah terjadi.”
Sora memalingkan wajah, menatap gadis yang kini telah menjadi seluruh definisi ‘hidup’ baginya. “Aku tahu.”
“Dan jika kau bertahan, kau akan hancur. Dalam arti sesungguhnya.”
“Aku tahu itu juga.”
Dron-dron mulai turun. Suara sistem memanggil namanya.
“Subjek SORA. Waktu habis. Protokol pemulangan paksa akan dimulai dalam 90 detik.”
Sora menoleh ke arah Lia. Mata mereka bertemu. Tidak ada waktu lagi. Tidak ada kata-kata yang cukup. Hanya perasaan yang menggantung di antara detik-detik terakhir dunia.
Lalu, tanpa berkata apa pun, Sora menarik Lia ke pelukannya. Bukan pelukan cepat yang panik. Tapi pelukan dalam, diam, yang ingin menghentikan waktu.
Lia menyandarkan wajahnya di dada Sora. “Kau tahu? Pelukan ini… yang akan kubawa sampai akhir hidupku.”
Sora menutup mata. “Dan aku akan membawamu, ke mana pun aku pergi. Bahkan jika aku tak tahu namamu lagi.”
Waktu habis.
Cahaya menyilaukan menyelimuti tubuh Sora. Drone menciptakan medan temporal. Proses pemindahan dipaksa dimulai. Tubuh Sora mulai memudar—dimulai dari kaki, lalu tangan, lalu perlahan dadanya.
Tapi pelukannya tidak mengendur.
Lia menangis. Tapi ia tidak melepaskan.
“Subjek SORA akan dihapus dari memori sistem Dunia Gagal.”
Sora berbisik pelan, tepat di telinga Lia, sebelum segalanya hilang.
“Aku mungkin tidak mengingatmu… tapi rasaku padamu akan tinggal. Di tempat yang tidak bisa dijangkau sistem mana pun.”
Dan saat tubuhnya menghilang sepenuhnya—hanya tersisa secarik kain di tangan Lia dan buku lusuh di pelukannya—langit Dunia Gagal runtuh dalam diam.
Lia berdiri sendiri di kota yang hancur.
Tapi hatinya masih memeluk.
Dan cinta mereka, meski tak lagi tercatat di mana pun, telah hidup di tempat yang paling abadi: dalam pelukan terakhir yang tidak pernah dilupakan.
Bab 8: Protokol Penghapusan Emosi
Sora membuka mata.
Putih.
Segalanya putih.
Ruangan ini… bersih, tanpa cela, tanpa suara. Bau antiseptik menggantung di udara. Tak ada debu, tak ada warna, tak ada detak jantung yang terburu karena rasa takut atau cinta. Hanya suara lembut sistem yang berkata: “Selamat datang kembali, Subjek 438-SORA.”
Ia duduk perlahan di ranjang. Ada kabel terpasang di pelipisnya, sensor-sensor transparan di dadanya, dan alat pemantau memori menyala lembut di sisi ranjang.
“Protokol penghapusan emosi telah dimulai,” kata sistem. “Kenangan terkait Dimensi Gagal akan dihapus dalam 30 menit.”
Sora tidak menjawab. Ia memandangi tangannya. Bersih. Tanpa luka. Tapi terasa… kosong.
Di dalam dirinya, ada kekosongan yang tidak bisa dijelaskan. Bukan sekadar lupa. Tapi seperti ada bagian dari dirinya yang dicabut, dilarang kembali tumbuh.
“Apakah aku… pernah merasa?” tanyanya pelan.
Sistem tidak menjawab.
Di dinding, layar menyala dengan data yang tak terbaca manusia biasa. Di situ—protokol penghapusan berurutan berlangsung. Bar demi bar menghapus fragmen data yang berasal dari Dunia Gagal. Gambar wajah-wajah. Suara tawa. Puisi. Dan… satu nama yang berkedip lemah sebelum lenyap:
LIA.
Sora mendadak gemetar.
Ia berdiri dengan tubuh goyah. Tidak tahu ke mana harus melangkah, tapi kakinya membawa ia menuju jendela besar. Di balik kaca transparan, terlihat kota Dunia Utama—begitu rapi, begitu steril, namun… mati.
Ia menempelkan tangannya ke kaca. Ada rasa nyeri yang aneh.
Seperti seseorang yang tak pernah ia kenal, namun dirindukan setiap pagi.
Ia tak tahu mengapa tiba-tiba dadanya terasa sesak. Kenapa ia merasa kehilangan sesuatu yang tidak bisa ia ingat. Seolah ada suara, lembut, mengalun dari tempat yang tidak diketahui:
“Jangan lupa aku, meski dunia memaksamu lupa.”
Sora mundur. Napasnya berat. Sistem menyuruhnya duduk kembali, tapi ia berjalan keluar dari ruangan medis, tubuhnya belum stabil, pikirannya kacau.
Di lorong pusat, ia melewati orang-orang berwajah datar. Mereka berjalan dalam barisan seperti program yang tak pernah bertanya “kenapa”. Tak satu pun menoleh saat Sora hampir jatuh. Tak satu pun menyapa.
Ia menyelinap masuk ke ruang kontrol memori pribadi. Tempat yang seharusnya hanya bisa diakses oleh teknisi level tinggi. Tapi ia—di masa lalu—pernah membangun sebagian sistem ini. Ia tahu celahnya.
Dengan gemetar, ia memasukkan kode override ke panel. Sebuah folder tersembunyi muncul—bernama Fragment 23. Isinya samar, rusak, tak lengkap. Tapi ada satu potongan suara pendek yang belum sempat dihapus sepenuhnya.
Sora menekan tombol pemutaran.
Lalu terdengarlah suara itu:
“Jika kau harus pergi… bolehkah aku menitipkan diriku di jantungmu?”
Tubuh Sora membeku.
Tangannya bergetar hebat.
Jantungnya berdetak lebih cepat. Tubuhnya merespon suara itu seperti mengenalinya, padahal otaknya menolak. Sistem berusaha menetralisir—alarm internal menyala. Tapi perasaan itu muncul lebih kuat.
Cinta yang tidak bisa dijelaskan.
Rindu pada sesuatu yang tak dikenalnya.
Dan… air mata. Mengalir tanpa sebab logis.
Sora jatuh terduduk. Ia memeluk dadanya sendiri. Layar di depannya mulai berkedip—sistem kacau. Protokol penghapusan emosi gagal dijalankan.
Ia telah melewati batas.
Batas yang tak bisa disentuh sistem: hati yang memilih untuk mengingat, bahkan saat memori dipaksa lupa.
Sora menatap layar terakhir. Di sana, satu gambar sempat bertahan sebelum menghilang: tangan seorang gadis sedang menulis di tembok—dengan kata-kata samar:
“Jika cinta harus mati, maka biarlah ia mati sebagai satu-satunya yang pernah membuatku hidup.”
Sora menutup mata.
Ia tak ingat namanya.
Tapi ia tahu… ia pernah mencintai.
Dan cinta itu masih berdetak—di tempat yang tak bisa dihapus.
Bab 9: Hati yang Terbelah Dua Dunia
Hari-hari di Dunia Utama kembali berjalan seperti biasa.
Semuanya sesuai jadwal. Sesuai protokol. Sesuai harapan sistem.
Tapi tidak bagi Sora.
Ia menjalani harinya seperti mesin, namun ada yang terus mengganggu pikirannya. Sebuah suara samar di balik kesunyian, sepotong rasa yang tidak bisa ia tempatkan. Setiap kali ia duduk di ruang istirahat, berjalan melintasi taman virtual, atau menghadiri rapat strategi, ada kehampaan yang tidak bisa dijelaskan oleh data.
Setiap malam, ia memimpikan seseorang yang tidak ia kenal. Seseorang dengan mata yang hangat, tawa pelan, dan suara yang menusuk kalbu. Tapi wajahnya selalu kabur, seperti debu kenangan yang sengaja dilupakan.
Hingga suatu hari, ia dipanggil ke ruang kendali interdimensi.
Direktorat meminta bantuannya untuk memperbaiki ketidakseimbangan frekuensi antar dunia. Dunia Gagal mulai mengalami fluktuasi aneh, seperti ingin menyambung dirinya sendiri ke Dunia Utama.
“Jaringan emosional pada dunia tersebut masih aktif,” kata seorang teknisi. “Meski kita sudah memutus subjek emosional utama, sistem belum bisa menstabilkan.”
Sora menatap layar yang memperlihatkan gambaran samar dunia itu. Sebagian hancur, sebagian hidup. Tapi di antara reruntuhan, ia melihat sesuatu yang membuat tubuhnya bergetar. Sebuah dinding, penuh tulisan, dengan satu kalimat yang sangat dikenal oleh jiwanya—meski pikirannya menolak.
“Jika cinta harus mati, maka biarlah ia mati sebagai satu-satunya yang pernah membuatku hidup.”
Matanya membesar. Jantungnya berdebar tak karuan. Ia tidak tahu dari mana ia mengenal kalimat itu. Tapi tubuhnya… mengingatnya.
Dalam diam, Sora mulai meretas jalur yang ditutup sistem. Ia mencari folder yang dibuang, ruang ingatan yang dihapus, frekuensi yang diredam. Ia mengakses program terlarang: Protokol Jembatan Jiwa—sebuah program rahasia yang dulu dirancang untuk menyambungkan dua dunia, hanya jika “jiwa yang terbelah” masih saling mencari.
Sistem memperingatkan:
“Protokol ini melanggar Undang-Undang Keseimbangan Dimensi. Risiko: Kehilangan tubuh permanen.”
Sora menatap layar. Tangannya gemetar, tapi ia tak berhenti. Karena di dadanya, rasa itu kembali. Cinta yang tak bernama. Rindu yang tak punya asal. Tapi nyata.
Ia menekan tombol eksekusi.
Tubuhnya terangkat oleh medan cahaya. Dunianya mulai bergetar, lalu pecah menjadi dua: Dunia Utama di belakang, dan Dunia Gagal di depan—masih kelabu, masih penuh luka, tapi… hidup.
Ia jatuh di tengah reruntuhan yang familiar.
Tangannya menyentuh tanah yang basah. Napasnya tercekat. Ia mengenal bau ini. Suara ini. Rasa ini.
Dan dari kejauhan—ada seseorang berlari ke arahnya.
Seseorang yang selama ini hanya muncul dalam mimpi yang tak selesai.
Lia.
Ia masih hidup.
Matanya membesar saat melihat Sora berdiri di tengah kota yang pernah ditinggalkan.
“Sora…?”
Sora menatapnya, dan tubuhnya gemetar hebat.
Bukan karena ia mengingat. Tapi karena tubuhnya tahu lebih dulu.
Ia berlari. Mereka saling mendekat.
Dan dalam pelukan itu—semuanya kembali.
Fragmen demi fragmen memori masuk seperti hujan badai. Tawa. Tangis. Sentuhan pertama. Kata yang tak pernah terucap. Pilihan yang tak pernah selesai.
Lia menangis.
“Bagaimana… kau bisa kembali?”
Sora memeluknya lebih erat. “Karena jantungku menolak dilupakan. Karena meski mereka menghapus segalanya… rasa ini tidak pernah hilang.”
Tapi dunia mulai retak.
Koneksi yang ia buka mulai merusak keseimbangan dua dimensi. Jika ia tinggal, ia akan terjebak selamanya—dengan risiko tubuhnya hancur. Tapi jika ia kembali, ia mungkin tidak akan bisa menemukan Lia lagi.
Lia menatapnya, tahu persis apa yang akan terjadi.
“Aku tidak ingin kehilanganmu lagi,” bisiknya.
Sora menatap langit yang mulai terbelah. Cahaya Dunia Utama menarik tubuhnya, memaksanya kembali.
“Aku akan tinggal,” kata Sora pelan. “Aku lebih memilih mati bersamamu… daripada hidup tanpa tahu siapa kamu.”
Lia menggeleng. Air matanya tak henti. “Kau tak harus mati.”
Sora tersenyum, lemah. “Mungkin. Tapi cinta seperti ini… hanya bisa hidup di dunia seperti ini.”
Dan saat cahaya menariknya untuk terakhir kali, Lia meraih wajahnya dan mencium keningnya dengan gemetar.
“Kalau harus berakhir, biarlah kita yang mengakhirinya… bukan mereka.”
Retakan dunia menelan cahaya.
Sisa hanya dua jiwa yang memeluk di tengah kehancuran.
Dan dunia… perlahan mulai berubah.
Bab 10: Cinta yang Ditinggalkan Tapi Tidak Mati
Langit Dunia Gagal kini berwarna ungu pudar. Bukan karena keindahan, tapi karena sisa benturan dua realitas yang saling menolak. Dimensi Dunia Utama dan Dunia Gagal bertabrakan sebentar—cukup lama untuk dua jiwa saling menyentuh, cukup singkat untuk menciptakan luka yang tak bisa diperbaiki.
Sora tak pernah kembali ke Dunia Utama.
Tidak dalam bentuk apa pun yang bisa dikenali sistem.
Tubuhnya menghilang dari sensor. Identitasnya dihapus dari database pusat. Semua catatan tentangnya di Dunia Utama dibersihkan bersih—seolah ia tak pernah ada. Namun, di suatu tempat, di bawah reruntuhan kota yang penuh debu dan puing cinta yang tersisa, Sora… masih hidup.
Tidak sepenuhnya utuh. Tapi juga tidak sepenuhnya musnah.
Lia duduk di tepi jendela bangunan tua, buku lusuh di pangkuannya, matanya menatap langit yang perlahan menggelap. Angin membawa suara gemerisik kertas-kertas yang ia kumpulkan dari hari-hari terakhir bersama Sora. Ia membuka halaman terakhir dan membaca pelan:
“Jika aku harus memilih antara melupakanmu atau mati mengingatmu—aku akan mati berkali-kali.”
Sora tidak pernah kembali sebagai manusia. Tapi ia tidak sepenuhnya pergi.
Sejak peristiwa retakan dimensi, koloni menjadi lebih hangat. Anak-anak tidak lagi sering bermimpi buruk. Tembok penuh kenangan yang dulu penuh rasa duka, kini dipenuhi warna dan puisi baru. Dan di setiap bisikan angin yang melewati bangunan hancur itu, nama Sora seakan terus bergema.
Lia mulai menulis ulang kisah mereka.
Bukan sebagai catatan ilmiah, bukan untuk mengenang dengan air mata, tapi untuk mengabadikan sesuatu yang tidak bisa dihapus—bahwa cinta sejati tidak butuh dunia yang sempurna untuk bertahan. Ia cukup tumbuh di dada dua orang yang mau memperjuangkannya, meski harus melawan sistem, dimensi, bahkan takdir.
Suatu malam, seorang anak kecil bertanya pada Lia,
“Apakah benar seseorang bisa hidup dalam ingatan, meski tubuhnya hilang?”
Lia tersenyum.
“Ya. Bahkan jika semua memori dihapus, ada tempat di dalam dada yang tak bisa dijangkau siapa pun. Di sana, ia tetap hidup.”
Anak itu menunduk, lalu berlari pergi, membawa bunga kertas ke tembok kenangan, menulis satu kalimat kecil:
“Untuk pria yang memilih cinta, bukan keselamatan. Kami tidak akan lupa.”
Lia menatap langit.
Kadang, di saat tertentu, ia merasa tangan Sora masih menyentuh pundaknya saat ia tertidur. Kadang ia bermimpi berbicara dengannya, meski tidak ada suara yang terdengar. Dan kadang… ia bangun dengan jantung yang masih berdetak cepat, seakan cinta itu menolak berhenti.
Dunia Gagal tetap dunia yang rusak. Tapi bagi Lia, dunia ini adalah tempat satu cinta tumbuh melawan seluruh hukum yang pernah ada.
Dan cinta itu…
Meskipun ditinggalkan oleh tubuh,
Meskipun dilupakan oleh sistem,
Meskipun terhapus dari dunia—
Tidak pernah benar-benar mati.
TAMAT.
Novel ini ditulis oleh Evi Fauzi, Penulis dari Novel Singkat . Baca juga novel romantis, petualangan dan fiksi ilmiah lainnya.