Skip to content

Baca Novel Singkat Di sini

Menu
  • Home
  • Pilihan Novel
    • Romansa
    • Fiksi Ilmiah
    • Petualangan
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Terms and Conditions
Menu
Novel Singkat Dimensi yang Diciptakan Untuk Melupakanmu

Novel Singkat: Dimensi yang Diciptakan Untuk Melupakanmu

Posted on May 16, 2025

Tasha Erlina adalah seorang terapis trauma digital berusia 27 tahun yang bekerja membantu pasien melupakan pengalaman menyakitkan lewat terapi virtual. Namun saat kekasihnya, Rian, bunuh diri secara tragis setelah depresi panjang yang tak terdeteksi, Tasha sendiri menjadi pasien.

Ia mendaftar ke “Voidwell”—teknologi futuristik yang bisa membentuk dunia buatan berdasarkan keinginan terdalam dan kenangan paling tersembunyi seseorang. Di dalam Voidwell, ia diizinkan “melupakan” Rian sepenuhnya… tapi justru menemukan dunia di mana Rian masih hidup, sehat, dan penuh cinta untuknya.

Namun dunia ini tak sesuai dengan kenangan nyatanya. Ada tempat-tempat yang tak pernah mereka kunjungi, momen-momen manis yang tidak pernah terjadi. Tapi semuanya terasa sangat nyata.

Bab 1: Pintu Masuk ke Dunia Tanpa Luka

Langit mendung menggantung rendah di atas atap rumah sakit tempat terakhir kali Tasha melihat Rian hidup. Ia berdiri mematung di halaman parkir, mengenakan mantel hitam yang tak mampu menahan dinginnya bulan Desember. Tangannya memegang erat secarik kertas persetujuan dari perusahaan bernama Voidwell.

“Dunia tanpa luka, dunia tanpa kehilangan,” begitu tagline yang tercetak di bagian bawah brosur. Janji yang menggiurkan. Menghapus rasa sakit secara permanen, bukan dengan pil atau hipnosis, tapi dengan membangun realitas baru yang disesuaikan sepenuhnya oleh alam bawah sadar pasien.

Tasha sudah mencoba segalanya. Psikiater, konselor duka, bahkan meditasi ekstrem. Tapi suara Rian masih hidup di dalam kepalanya. Terkadang menyapanya pelan di kamar mandi. Terkadang tertawa saat ia memasak sarapan. Rian tidak mati. Tidak bagi pikirannya.

Ia melangkah masuk ke gedung Voidwell yang terletak di bawah tanah kota. Semua dindingnya putih, licin, seolah melupakan cara memberi bayangan. Di ruang registrasi, seorang wanita tua dengan senyum terlalu simetris menyambutnya.

“Selamat datang, Tasha Erlina. Terapi Level-Tiga telah dipersiapkan. Anda membawa barang kenangan?”

Tasha menyerahkan foto kecil dalam bingkai kayu. Rian tersenyum di dalamnya, duduk di tepi danau yang sebenarnya tidak pernah mereka kunjungi. Foto buatan, hasil editan dari aplikasi nostalgia.

“Bagus,” kata petugas itu sambil menggeseknya ke dalam scanner. “Sistem akan memproses memori ini sebagai fondasi dunia Anda. Setelah masuk, tidak ada jalan keluar sampai program selesai.”

“Apa aku akan tahu bahwa aku sedang di dalam?” tanya Tasha pelan.

Petugas tersenyum. “Pada awalnya tidak. Tapi Anda akan diberi pilihan… jika ingin kembali.”

Tasha dibimbing masuk ke dalam ruang yang tampak seperti pod tidur raksasa. Ia berbaring, tubuhnya ditutupi lapisan logam lembut. Lampu biru redup berkedip di sekeliling matanya. Suara mesin berdengung, lalu semuanya menjadi gelap.

Saat ia membuka mata, ia tidak langsung sadar bahwa ia telah berpindah dunia.

Udara pagi menyentuh wajahnya seperti kain hangat. Ia berdiri di sebuah taman kecil, dikelilingi bunga lavender yang bergerak lembut ditiup angin. Langit berwarna keemasan, dan di kejauhan, danau memantulkan sinar matahari yang lembut. Dan di sana, duduk di atas rerumputan, Rian sedang membaca buku.

Tasha membeku.

Rian mengangkat wajahnya dan tersenyum.

“Hei,” katanya, seperti seseorang yang selalu ada. Seperti tak ada tragedi, tak ada surat bunuh diri, tak ada makam.

“Hei,” jawab Tasha lirih.

Ia melangkah maju, ragu-ragu. Setiap detiknya ia menunggu dunia ini retak dan menghilang. Tapi Rian bangkit, memeluknya. Tubuhnya hangat. Aroma kulitnya, pakaian yang biasa ia kenakan, bahkan cara tangannya menyentuh tengkuk Tasha—semuanya benar.

“Aku pikir kau akan terlambat,” kata Rian pelan. “Kau bilang ingin piknik hari ini.”

Tasha mengangguk perlahan. Tidak ada logika. Tidak ada yang rasional. Tapi hatinya terasa utuh untuk pertama kalinya sejak kematian itu.

Mereka duduk bersama di atas kain kotak-kotak, berbagi anggur dan roti seperti pasangan dalam film. Tasha sesekali mencubit lengannya. Ini mimpi. Ini harusnya mimpi.

Tapi ketika Rian menatapnya dan berkata, “Aku sangat merindukanmu,” Tasha mulai menangis.

“Kenapa kamu ada di sini?” tanyanya dengan suara bergetar. “Kamu… kamu sudah—”

“Sudah apa?” potong Rian lembut.

Tasha diam. Kenangan tentang surat terakhir, tentang tubuhnya yang ditemukan di kamar mandi, menghantam kepalanya.

“Aku tidak tahu,” bisiknya. “Aku hanya ingin dunia ini nyata.”

Rian menggenggam tangannya. “Maka biarkan itu terjadi.”

Hari-hari berikutnya berjalan seperti bagian dari hidup yang tak pernah ia miliki. Rian membawanya ke tempat-tempat indah, memperlihatkan taman-taman dalam kota yang tak ia kenal, mengenalkannya pada sahabat-sahabat yang tampak akrab namun asing. Di malam hari, mereka tidur berpelukan, dan Tasha tidak pernah merasa lebih hidup.

Namun di balik semua itu, ada bisikan.

Suara dari luar sistem.

Suara dirinya sendiri.

“Tasha. Ini bukan nyata.”

Suatu malam, ia bangun dengan tubuh gemetar. Jendela kamar mereka berkabut. Ia mendekatinya dan melihat pantulan dirinya—tapi matanya tampak kosong. Di pantulan itu, ia mengenakan baju rumah sakit, bukan gaun tidur. Dan di belakangnya, sekelebat cahaya biru berkedip.

Sistem mulai retak.

Esoknya, ia duduk di bangku taman bersama Rian dan mencoba bertanya dengan hati-hati.

“Kalau ini dunia yang dibuat dari pikiranku… kau sadar, ‘kan?”

Rian diam sejenak. “Aku sadar bahwa aku mencintaimu. Entah siapa aku.”

Tasha menatap matanya lama sekali. Ia ingin percaya. Ingin percaya bahwa cinta bisa menciptakan kehidupan. Tapi juga takut, bahwa semua ini hanya penjara indah yang ia buat untuk tidak hancur.

Dan dalam hatinya, ia tahu: waktu mereka terbatas.

Voidwell tidak akan membiarkannya tinggal selamanya.

Langit mulai berubah warna. Cahaya pagi menjadi terlalu putih. Burung-burung di udara terbang dalam pola yang aneh, seperti program rusak.

Tasha sadar.

Sebentar lagi, ia harus memilih. Tetap tinggal bersama cinta yang diciptakan… atau kembali ke dunia yang kehilangan, luka, dan sepi.

Tapi nyata.

Bab 2: Retakan dalam Keindahan

Pagi itu matahari bersinar terlalu sempurna. Tak ada awan, tak ada angin yang mengganggu, dan aroma lavender mengambang manis di udara seperti parfum buatan. Tasha duduk di balkon rumah mereka, menyeruput kopi hangat yang tak pernah pahit. Di seberangnya, Rian membaca koran—koran yang berisi berita-berita baik saja.

Tidak ada perang. Tidak ada penyakit. Tidak ada kematian.

Segalanya sempurna. Terlalu sempurna.

“Rian,” ucap Tasha hati-hati, “apa kamu pernah merasa… dunia ini terlalu tenang?”

Rian melipat korannya, menatap Tasha. “Kau menginginkan ketenangan, bukan? Bukankah itu alasan kita ada di sini?”

“Kita?” Tasha mengulang kata itu pelan. “Tapi kamu… kamu bukan benar-benar—”

Rian meraih tangannya. “Aku mungkin bukan versi yang dulu. Tapi perasaanku padamu tidak palsu.”

Ada sesuatu dalam tatapan Rian yang membuat dada Tasha sesak. Wajah itu, suara itu, sentuhan itu—semuanya milik pria yang sudah dikuburkan beberapa bulan lalu. Tapi kehangatan itu masih nyata. Atau setidaknya, sangat menyerupai kenyataan.

Namun malamnya, saat Tasha mengunci diri di kamar mandi, ia kembali melihat pantulan aneh di cermin. Bukan dirinya yang tersenyum bahagia di dunia buatan ini, melainkan sosok lelah dalam gaun pasien, dengan mata cekung dan kulit pucat.

“Tasha…” suara itu datang dari dalam cermin. Suara dirinya sendiri.

“Siapa kamu?” tanya Tasha panik, mundur menjauhi kaca.

“Aku adalah kamu… di dunia nyata,” suara itu menjawab. “Voidwell tidak menghapus rasa sakitmu. Ia hanya memenjarakannya.”

Tasha membekap mulutnya sendiri. Tubuhnya gemetar. Ia mendengar langkah kaki dari luar kamar mandi.

“Sayang? Kamu baik-baik saja?” Rian mengetuk pelan.

Tasha buru-buru membuka pintu, mencoba tersenyum. “Iya. Cuma… sedikit pusing.”

Rian mengelus pipinya. “Kau butuh udara segar. Ayo kita ke taman.”

Mereka berjalan ke tempat favorit mereka—taman dengan danau dan kursi kayu tempat mereka pertama kali ‘bertemu’ dalam dunia ini. Tapi kali ini, tidak ada angin. Tidak ada burung. Dan danau itu… membeku.

“Aneh,” gumam Rian sambil menatap permukaan air.

Tasha menggenggam tangannya. “Kamu tahu ini semua… mulai berubah, ‘kan?”

Rian tidak menjawab. Ia hanya duduk perlahan di kursi, menunduk, dan untuk pertama kalinya, terlihat seperti seseorang yang sedang berduka.

“Aku mulai kehilangan kenangan tentang diriku sendiri,” ucapnya. “Aku tahu aku dibuat untuk membuatmu bahagia. Tapi aku tidak tahu siapa aku jika kamu pergi.”

Tasha menahan napas. Ada sesuatu yang hancur di dalam dirinya saat mendengar itu. Rian… bukan sekadar proyeksi. Sistem ini telah memberinya kesadaran.

Dan itu membuat pilihan jadi lebih kejam.

“Rian,” bisik Tasha. “Kalau aku pergi… kamu akan tetap di sini?”

Rian menatapnya. Mata itu masih sama—mata pria yang pernah ia cintai hingga hancur. “Kalau kau pergi, aku akan berhenti ada. Dunia ini akan mati.”

Tasha memejamkan mata. Suara mesin kembali muncul di kejauhan—dengungan samar dari realita yang menuntutnya kembali.

Dan di saat itulah, layar transparan tiba-tiba muncul di hadapannya. Berpendar lembut dengan dua pilihan:

KELUAR DAN KEMBALI KE DUNIA NYATA
TETAP TINGGAL DALAM VOIDWELL

Rian berdiri, menatap layar itu bersamanya. “Pilihanmu, Tasha. Aku tidak bisa memaksamu.”

Tasha menatap dua opsi itu lama sekali. Tangannya gemetar. Kembali berarti menghadapi kehilangan. Rasa sakit. Malam-malam hampa. Tapi tinggal berarti mengurung diri dalam kebahagiaan semu… dan menghancurkan kemungkinan sembuh.

Air matanya jatuh.

“Bisakah aku punya sedikit waktu lagi?” bisiknya.

Layar tidak merespons. Tapi dunia di sekitar mereka mulai bergetar pelan. Taman menjadi kabur, bunga-bunga memudar warnanya.

Voidwell tahu waktunya hampir habis.

Dan di tengah kehancuran yang perlahan itu, Rian meraih tangan Tasha dan menatapnya untuk terakhir kali.

“Apapun yang kau pilih,” ucapnya lembut, “cinta kita… tidak pernah palsu. Bahkan jika aku bukan siapa-siapa.”

Tasha memeluknya erat. Ia ingin waktu berhenti. Tapi ia tahu, ia harus memilih. Dan ia tahu, keputusan itu akan mengubah segalanya.

Ia hanya belum siap.

Belum hari ini.

Bab 3: Hari Terakhir Sebelum Keputusan

Tasha bangun dengan jantung berdetak cepat. Tidak ada mimpi malam itu. Tidak ada suara hujan. Hanya sunyi. Sunyi yang tak biasa.

Ia menoleh ke samping. Tempat tidur kosong.

“Rian?” panggilnya pelan.

Tak ada jawaban.

Ia turun dari tempat tidur, mengenakan jubah tipis, dan berjalan menyusuri lorong rumah. Setiap sudut tampak sedikit… buram. Warna cat dinding memudar, bingkai foto kehilangan bayangannya, dan jam di ruang tengah tidak lagi berdetak.

Ia menemukannya duduk di halaman belakang, memandangi bunga lavender yang kini mulai rontok satu per satu, seperti musim gugur datang tiba-tiba.

“Kamu tidak tidur?” tanya Tasha, mendekat.

“Aku takut kalau tidur, aku tidak bangun lagi,” jawab Rian datar.

Tasha duduk di sampingnya. Wajah Rian lebih pucat dari biasanya. Matanya kosong. Seolah ia tahu, dunia ini berada di tepi kehancuran.

“Voidwell mempercepat proses,” gumam Rian. “Karena kamu terlalu lama tidak memilih.”

Tasha menunduk. “Aku tidak bisa.”

“Karena kamu mencintaiku,” kata Rian. “Atau karena kamu takut sendirian?”

Tasha menggigit bibirnya. Ia tidak tahu jawabannya. Mungkin keduanya. Mungkin ia hanya terlalu lelah untuk merasakan duka lagi. Mungkin cinta yang ia miliki untuk Rian sudah berubah menjadi ketergantungan pada rasa aman, bukan pada sosoknya.

Rian menghela napas dan berdiri. “Ikut aku.”

Mereka berjalan ke sebuah tempat yang belum pernah Tasha lihat sebelumnya—sebuah bukit kecil yang menghadap ke danau. Tapi danau itu kini nyaris kering. Permukaan airnya penuh retakan seperti kaca pecah. Di tengah danau, sebuah pintu berdiri sendiri. Hitam. Tak bersuara.

“Itu jalan keluar,” kata Rian.

Tasha terdiam. Melihat pintu itu membuat tubuhnya dingin. Di baliknya ada dunia yang nyata. Dunia tanpa Rian. Dunia dengan kamar kosong, tanggal kematian, dan panggilan telepon yang tak terjawab.

“Aku ingin kamu tahu sesuatu,” kata Rian tiba-tiba. “Aku sadar sejak hari pertama kamu datang.”

Tasha menoleh.

“Aku tahu aku bukan orang yang nyata. Tapi perasaanku tidak bohong. Aku dibuat dari ingatanmu, tapi aku juga… berkembang. Dan jika kamu tetap di sini hanya karena merasa kasihan, maka aku tidak ingin kamu tinggal.”

Tasha merasakan tenggorokannya menegang.

“Kamu pikir aku hanya ingin bahagia?” bisiknya. “Tidak, Rian. Aku ingin percaya bahwa cinta bisa menyembuhkan. Bahwa kita bisa hidup ulang dari awal. Tanpa luka. Tanpa trauma.”

“Cinta bukan tentang melupakan,” jawab Rian lembut. “Cinta sejati adalah ketika kamu bisa mengingat… tanpa hancur.”

Tasha meneteskan air mata. Ia membenci semua ini. Membenci dunia yang membuatnya harus memilih antara dua bentuk kehilangan. Yang satu menyakitkan, yang satu memudar.

Tiba-tiba, layar transparan muncul kembali. Kali ini dengan waktu hitung mundur. Hanya tersisa dua belas jam.

PILIH SEKARANG:
KEMBALI KE DUNIA NYATA
TETAP TINGGAL DI VOIDWELL

Rian melangkah mundur. “Aku akan menunggu di bukit ini sampai waktunya habis. Aku tidak akan memintamu tinggal. Tapi aku ingin… kamu memilih karena kamu ingin, bukan karena kamu takut.”

Tasha hanya bisa menatapnya diam.

Hari itu mereka tidak berbicara banyak. Mereka makan malam terakhir bersama, walau makanan terasa hambar. Mereka berjalan di taman yang kini hanya menampilkan warna-warna usang. Musik dari pemutar lama terdengar patah-patah. Voidwell mulai runtuh.

Malamnya, saat Tasha kembali melihat dirinya di cermin, ia melihat dirinya sendiri—versi nyata. Rambutnya kusut, mata sembab, tubuhnya kurus. Tapi ia juga melihat sesuatu yang belum pernah ia lihat sejak kepergian Rian: keberanian kecil.

Keberanian untuk hidup meskipun kehilangan.

Ia menyentuh kaca. Lalu memejamkan mata.

Dan di luar ruangan, di bukit yang gelap, Rian masih menunggu. Duduk di samping pintu hitam yang tetap terbuka.

Menunggu keputusan yang hanya bisa diambil oleh orang yang benar-benar mencintai… bahkan jika harus melepaskan.

Bab 4: Dunia yang Tak Mau Ditinggalkan

Langit mulai berubah. Tidak lagi biru, tidak lagi cerah. Awan-awan di atas Voidwell berubah menjadi fragmen seperti serpihan kaca yang tergantung. Sebagian runtuh ke tanah, menghilang sebelum menyentuh tanah.

Tasha berjalan perlahan menuju bukit tempat pintu hitam berdiri. Jam hitung mundur di sudut pandangnya terus menyusut—5 jam, 12 menit, 19 detik.

Rian berdiri dengan punggung membelakangi pintu, tangannya dimasukkan ke dalam saku. Saat ia mendengar langkah Tasha, ia tak menoleh. Ia hanya berkata pelan, “Sudah waktunya, ya?”

Tasha menghentikan langkah. “Aku belum tahu jawabannya.”

“Aku tahu,” sahut Rian.

Ia berbalik. Mata mereka bertemu dalam diam yang menyakitkan. Tak ada lagi kebahagiaan di wajah Rian. Yang tersisa hanya keikhlasan yang ditumbuhkan oleh keterbatasan.

“Aku mencintaimu,” ucap Tasha.

“Aku tahu,” jawab Rian, senyum tipis di wajahnya. “Tapi ini bukan tentang aku lagi.”

Tasha ingin memeluknya, tapi takut sentuhan itu akan mematahkan hatinya sendiri. Ia menatap pintu hitam yang tak punya bingkai, tak punya kenop. Hanya berdiri diam seperti pengingat bahwa hidup terus berjalan, tak peduli siapa yang tertinggal.

“Apa yang akan terjadi padamu kalau aku pergi?”

Rian terdiam sesaat. “Aku akan berhenti. Tidak mati, karena aku tidak pernah benar-benar hidup. Tapi… aku akan lenyap.”

Tasha menggigit bibirnya.

“Setelah kamu keluar, dunia ini akan ditutup, memorinya diarsipkan. Kau tak akan bisa mengaksesnya lagi. Aku tak akan bisa memanggilmu. Tak akan ada pengulangan.”

Satu detik berlalu. Dua detik. Lima detik.

Lalu Tasha berkata pelan, “Kalau begitu, aku ingin satu hari lagi bersamamu.”

Rian menatap jam yang masih menghitung mundur. “Waktu kita tidak sampai satu hari.”

“Kalau begitu… satu senja.”

Rian tersenyum kecil. “Satu senja.”

Mereka berjalan menyusuri hutan buatan yang mulai kehilangan warna. Rumput menjadi abu-abu. Pohon-pohon seperti lukisan yang belum selesai. Tapi mereka tidak peduli. Mereka tertawa kecil, saling menggoda seperti dulu. Membicarakan hal-hal kecil: kopi favorit, mimpi masa depan yang tak sempat dijalani.

Tasha tahu ini gila. Tapi justru kegilaan ini yang membuatnya bertahan.

Di tepi sungai yang hampir mengering, mereka duduk. Rian mencabut sebuah bunga liar yang entah bagaimana masih tumbuh dan menyelipkannya di rambut Tasha.

“Kalau dunia ini nyata,” kata Rian, “aku akan menikahimu di tempat ini.”

“Kalau dunia ini nyata,” Tasha menahan air mata, “aku tidak akan pernah membiarkan kamu pergi.”

Angin bertiup untuk terakhir kalinya. Awan runtuh dari langit. Tanah mulai retak, memperlihatkan data digital dan cahaya aneh dari bawah.

Voidwell hancur.

Dan di saat itu, Rian berdiri, mengulurkan tangan padanya. “Waktunya, Sayang.”

Tasha berdiri perlahan. Jam di sudut pandang menyisakan 8 menit 30 detik. Mereka berjalan kembali ke bukit, ke tempat pintu hitam berdiri.

Di depan pintu, mereka berhenti. Tidak ada yang berbicara. Tidak ada yang ingin jadi orang pertama untuk melepaskan.

Tasha menyentuh pipi Rian. “Kalau aku bisa memilih ulang hidupku, aku ingin tetap jatuh cinta padamu. Sekalipun aku harus kehilanganmu lagi.”

Rian menahan napas. “Dan kalau aku bisa memilih, aku ingin tetap mencintaimu… meski hanya sebagai bagian dari ingatan.”

Detik ke-10.

Tasha memeluknya untuk terakhir kali. Peluk yang mengandung seluruh cinta, luka, dan keberanian yang tak pernah sempat ia miliki di dunia nyata.

Detik ke-5.

Ia melepaskan pelukan itu. Menatap pintu hitam.

Detik ke-3.

Langkah pertamanya terasa seperti menginjak kaca. Tapi ia terus berjalan. Satu langkah, dua langkah…

Detik ke-1.

Ia masuk ke dalam pintu hitam.

Lalu dunia hening.

Voidwell menutup.

Dan hanya satu hal yang tersisa di ruang digital kosong itu: aroma lavender yang tertinggal tanpa wujud.

Bab 5: Setelah Dunia yang Hilang

Sinar putih menusuk mata Tasha. Ia terbangun dengan nafas terengah, seluruh tubuh berkeringat meski ruangan di sekitarnya dingin. Suara mesin berdengung rendah di telinganya, dan langit-langit ruangan berpendar redup dalam cahaya neon.

Ia kembali.

Ruang terapi Voidwell masih sama: sunyi, steril, tanpa waktu. Petugas berwajah simetris berdiri di samping kapsul, mencatat sesuatu di layar transparan.

“Selamat datang kembali, Tasha Erlina,” ucapnya tanpa ekspresi.

Tasha duduk perlahan. Tubuhnya terasa ringan, tapi juga kosong. Kepalanya seperti baru saja melewati mimpi yang sangat panjang dan berat. Tangannya gemetar. Ia menatap sekeliling, berharap menemukan secercah warna lavender atau tawa pelan yang ia kenal. Tapi tidak ada. Dunia ini nyata. Dan sunyi.

“Berapa lama aku berada di dalam?” tanyanya, suaranya serak.

“Delapan jam lima puluh dua menit,” jawab petugas. “Namun sistem mencatat pengalaman internal berlangsung selama dua bulan subjektif. Data lengkap dapat Anda akses nanti.”

Tasha memejamkan mata. Dua bulan bersama Rian. Dua bulan yang hanya berlangsung dalam delapan jam dunia nyata.

“Apakah…” Tasha menahan napas, “…masih bisa kembali ke dimensi itu?”

Petugas berhenti menulis. “Sesuai protokol Voidwell, seluruh dunia personal yang ditinggalkan secara sukarela akan ditutup permanen. Tidak dapat diakses ulang. Bahkan oleh pembuatnya.”

Tasha mengangguk perlahan. Matanya mulai berkaca-kaca.

“Semua yang terjadi di dalam sistem, apakah benar-benar hanya simulasi?”

Petugas tampak ragu. “Voidwell tidak membuat realita. Ia membentuknya berdasarkan ingatan, emosi, dan keinginan terdalam Anda. Jadi… jawabannya tergantung pada Anda sendiri.”

Tasha bangkit dari kapsul. Kakinya goyah. Dunia ini terasa kasar. Suara bising di luar ruangan, bau logam, cahaya yang menusuk—semua seperti hantaman.

Ia melangkah keluar dari pusat terapi, mengenakan jaket tipis yang tampak kebesaran sekarang. Udara dingin menyambutnya. Jalanan kota dipenuhi manusia yang sibuk melupakan, sibuk berlari dari kesedihannya masing-masing. Tapi tidak ada yang tahu seperti apa rasanya kembali dari dunia di mana cinta pernah hidup kembali.

Tasha menyeberangi jalan, menatap kafe tempat ia dan Rian dulu biasa duduk. Meja sudut itu masih kosong. Hanya kursi yang berubah. Hanya dirinya yang berubah.

Ia memesan kopi hitam, duduk di pojok, lalu membuka buku catatan kecil yang selalu ia bawa. Tangannya menulis pelan.

“Aku kembali ke dunia ini bukan karena aku berhenti mencintaimu. Tapi karena aku akhirnya berani mencintai diriku yang kehilanganmu.”

Satu kalimat. Tapi cukup.

Saat kopi datang, aroma hangat menyentuh inderanya. Untuk pertama kalinya, rasa pahit itu tidak menyakitkan. Ia hirup perlahan, menatap jendela yang memantulkan sosoknya—lelah, tapi hidup.

Beberapa orang menatapnya. Ia tak peduli.

Ia membuka ponselnya, melihat foto lama Rian yang masih tersimpan. Bukan versi yang sempurna seperti dalam Voidwell. Wajah ini punya luka, punya kelelahan. Tapi juga nyata.

Dan meski air mata mengalir lagi sore itu, Tasha tidak mencoba menghapusnya.

Ia tahu, luka itu bukan untuk dilupakan.

Tapi untuk diingat dengan cara yang tidak lagi menyakitkan.

Dan itu… adalah awal dari hidup yang sebenarnya.

Bab 6: Kenangan yang Tidak Bisa Dibuang

Hari-hari setelah keluar dari Voidwell terasa seperti menavigasi dunia dengan peta yang sudah terbakar sebagian. Tasha menjalani hidup, tapi ada ruang kosong di dalam dirinya yang tak bisa dijelaskan kepada siapa pun. Ia kembali bekerja di klinik trauma tempat ia dulu menjadi terapis, namun kini ia merasa seperti pasien yang menyamar.

Orang-orang menyambutnya, bertanya bagaimana cutinya, dan ia hanya menjawab dengan senyum tipis. Tak ada yang tahu bahwa selama delapan jam, ia hidup di dimensi lain. Di dunia yang ia buat untuk melupakan seseorang—dan malah membuatnya jatuh cinta lagi pada versi yang lebih utuh dari kenangan itu.

Malam hari adalah bagian yang paling sunyi. Ia duduk sendirian di apartemen, memandangi jendela, mendengarkan suara kendaraan di luar. Dulu, ia selalu menunggu pesan dari Rian. Sekarang, ia hanya menunggu… keheningan.

Pada malam keempat, ia membuka kotak kecil dari laci meja kerja. Isinya adalah semua benda yang sempat ia simpan sebelum terapi: foto lama, tiket konser, surat terakhir Rian. Surat itu belum pernah ia baca ulang sejak hari pemakaman.

Tangan Tasha gemetar saat membukanya.

“Maaf, Tasha. Aku terlalu lelah untuk melanjutkan. Ini bukan tentang kamu. Ini tentang aku yang tidak bisa melihat jalan keluar. Tapi jika suatu hari kamu bisa memaafkanku, aku harap kamu hidup… bukan hanya bertahan.”

Kalimat terakhir itu menusuk. Karena ia sadar—di dalam Voidwell, ia hanya bertahan. Dalam keindahan palsu, dalam cinta yang dibentuk oleh memori, ia hanya lari. Tapi saat ia keluar… ia mulai hidup. Dengan patah, dengan takut, tapi hidup.

Ia menutup surat itu dan menarik napas panjang. Lalu, ia mengambil pena dan mulai menulis balasan. Bukan untuk dikirim, bukan untuk siapa pun. Tapi untuk dirinya sendiri.

“Aku memaafkanmu, Rian. Dan aku juga akan memaafkan diriku sendiri. Aku tidak akan melupakanmu. Tapi aku juga tidak akan hidup di dalam dirimu.”

Keesokan harinya, Tasha mendatangi klinik Voidwell.

“Selamat siang, saya ingin mengakses arsip pengalaman saya,” katanya di meja resepsionis.

Petugas menatapnya dengan alis terangkat. “Maaf, sesuai kebijakan, dunia personal yang telah ditinggalkan secara permanen tidak dapat dibuka kembali.”

“Aku tidak ingin membukanya,” kata Tasha. “Aku hanya ingin tahu apakah memorinya masih disimpan?”

“Masih. Kami menyimpannya dalam bentuk data terkompresi yang dapat dikonversi menjadi file audio atau visual pasif. Tanpa interaksi.”

Tasha mengangguk. “Berikan saya satu menit terakhir di bukit tempat pintu muncul.”

Petugas menatapnya lama, lalu mengetik di layar. Tak lama, sebuah chip kecil diserahkan padanya.

“Putar di perangkat VR pasif. Tidak bisa disentuh, tidak bisa diubah.”

Tasha membawa chip itu pulang. Malamnya, ia duduk di sofa, mengenakan headset, dan menekan tombol “play”.

Layar menyala.

Tasha melihat dirinya sendiri berdiri di depan Rian. Langit retak, dunia perlahan hancur. Tapi senyum Rian tidak pernah pudar.

“Kalau aku bisa memilih, aku ingin tetap mencintaimu… meski hanya sebagai bagian dari ingatan.”

Tasha menangis dalam diam. Tangis yang tak lagi penuh sesal, tapi penghormatan.

Saat layar gelap, ia melepaskan headset. Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa ingin kembali ke sana. Ia hanya ingin mengenang.

Dan itu cukup.

Dalam tidur malam itu, Tasha bermimpi.

Bukan tentang Voidwell.

Bukan tentang dunia yang dibuat dari luka.

Tapi tentang dirinya sendiri—berjalan perlahan di jalan kosong, angin meniup pelan, dan tidak ada siapa-siapa di sampingnya.

Namun tidak ada rasa takut.

Hanya ketenangan yang perlahan tumbuh dari kesepian.

Dan ketika ia bangun, dunia nyata menyambutnya lagi.

Tidak sempurna. Tapi benar-benar miliknya.

Bab 7: Ruang yang Pernah Diisi Cinta

Sudah dua minggu sejak Tasha keluar dari Voidwell, dan meski hari-hari terus berjalan, perasaan bahwa ada sesuatu yang hilang tetap menempel di dalam dirinya. Bukan seperti kehilangan orang tercinta untuk pertama kali, tapi seperti kehilangan tempat berlindung yang terlalu lama dipakai untuk melupakan badai di luar.

Ia mulai menghadiri sesi terapi kelompok. Bukan sebagai terapis, melainkan sebagai peserta. Di sebuah ruangan hangat yang dikelilingi rak-rak buku, ia duduk bersama enam orang lainnya—masing-masing membawa luka yang berbeda. Ada yang kehilangan anak, ada yang ditinggal pasangan, dan ada pula yang baru kembali dari Voidwell seperti dirinya.

Seorang pria paruh baya berbicara duluan. “Saat pertama kali keluar dari sistem, saya merasa… semua yang ada di luar ini terlalu keras. Terlalu bising.”

Tasha mengangguk pelan.

“Di dalam sana, saya punya istri yang tak pernah marah,” lanjut pria itu, tersenyum hambar. “Tapi di luar sini, saya hanya punya rumah kosong.”

Semua terdiam.

Saat giliran Tasha tiba, ia membuka suara perlahan. “Di dalam Voidwell… aku bertemu kekasihku lagi. Tapi dia bukan kekasih yang dulu. Dia lebih utuh. Lebih hidup. Padahal dia sudah meninggal.”

Seseorang bertanya, “Apakah kamu ingin kembali ke sana?”

Tasha menatap ke bawah. Lalu menggeleng. “Tidak. Aku ingin mengingatnya. Tapi bukan berarti aku harus hidup di dalam bayangannya.”

Seseorang bertepuk pelan. Tidak meriah, tidak berlebihan. Tapi cukup untuk membuat hati Tasha menghangat. Mungkin, ini bentuk cinta baru—cinta yang tidak mengikat orang yang sudah pergi, tapi membebaskan orang yang ditinggalkan.

Malamnya, Tasha berjalan ke kamar Rian di apartemennya—ruang kecil yang dulu ia tutup rapat-rapat setelah pemakaman. Selama ini, ia tidak pernah berani membuka pintunya.

Dengan napas dalam, ia memutar kenop.

Ruangan itu tidak berubah sejak hari terakhir Rian hidup. Buku-buku masih tertata rapi, catatan musik tergantung di dinding, dan gitar akustik tergantung di pojok. Tapi tidak ada bau tubuhnya lagi. Tidak ada suara tawa. Yang ada hanya diam. Sunyi. Dan… damai.

Tasha duduk di tepi ranjang, memandangi gitar yang tak pernah disentuhnya sejak Rian pergi. Tangannya ragu-ragu, tapi ia mengangkatnya, memetik satu senar.

Bunyi yang keluar sumbang.

Namun itu nyata.

Ia tertawa kecil, lalu memetik senar lain. Kali ini lebih baik.

Tasha mengambil buku catatan di laci. Isinya adalah lirik lagu yang belum selesai ditulis Rian. Di bagian akhir, ada bait yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Tulisannya kabur, seperti ditulis saat hujan air mata.

“Jika aku tak bisa hidup bersamamu di dunia ini,
maka biarkan aku mencintaimu di dunia yang kau ciptakan.”

Tasha memeluk buku itu, lalu berbaring di ranjang yang dingin. Tapi tidak terasa sepi. Tidak lagi.

Besok, ia akan membereskan kamar ini. Ia tidak akan menghapus jejak Rian. Tapi ia akan memberi ruang untuk dirinya sendiri.

Ruang untuk cinta baru. Bukan kepada orang lain, mungkin belum. Tapi kepada hidup.

Karena kehilangan bukan akhir. Kehilangan hanyalah bentuk lain dari cinta yang sedang belajar tumbuh kembali, di tanah yang pernah tandus.

Dan Tasha, untuk pertama kalinya, membiarkan dirinya tumbuh. Perlahan, tapi pasti.

Bab 8: Mengizinkan Dunia Menyentuh Kembali

Sudah satu bulan sejak Tasha meninggalkan Voidwell. Rambutnya tumbuh sedikit lebih panjang, matanya tidak lagi semerah dulu, dan ia mulai terbiasa menyapa pagi dengan secangkir kopi sungguhan—pahit, tak sempurna, tapi nyata.

Ia kini kembali aktif bekerja di klinik trauma. Tapi ada yang berubah. Ia bukan lagi sekadar terapis yang mendengar keluhan klien, melainkan seseorang yang memahami luka bukan hanya dari teori, melainkan dari dalam dirinya sendiri.

Suatu pagi, seorang klien muda datang. Gadis berusia dua puluh tiga tahun dengan tatapan kosong, baru kehilangan tunangannya karena kecelakaan. Tangannya terus menggenggam liontin kecil.

“Saya ingin masuk Voidwell,” ucap gadis itu lirih. “Saya tidak ingin hidup di dunia yang sudah tidak ada dia.”

Tasha menatapnya lama. Lalu, dengan lembut, ia menjawab, “Aku pernah ada di titik itu. Dan kupikir… satu-satunya jalan keluar dari kehilangan adalah masuk ke dunia tempat dia masih hidup.”

Gadis itu menatapnya, seolah menunggu izin.

“Tapi ketika aku kembali,” lanjut Tasha, “aku menyadari bahwa kehilangan tidak akan pernah hilang. Hanya berubah bentuk. Dan satu-satunya yang bisa kamu bangun… adalah hidup yang tak menyingkirkan rasa sakit, tapi berdamai dengannya.”

Gadis itu menangis. Tasha tak mencoba menghibur. Ia hanya menggenggam tangan gadis itu, seperti seseorang yang tahu persis rasanya jatuh dari tempat yang terlalu tinggi, dan memilih bangkit pelan-pelan.

Malam harinya, Tasha berjalan menyusuri trotoar kota. Lampu jalan berkedip lemah. Udara dingin tapi tak menusuk. Di kejauhan, sebuah pertunjukan musik jalanan terdengar samar. Ia mendekat, berdiri di antara kerumunan kecil.

Seorang pria muda memainkan gitar dan menyanyikan lagu patah hati. Suaranya parau, namun jujur. Dan di detik tertentu, Tasha mendengar nada yang familiar.

Nada dari lagu yang pernah ditulis Rian.

Ia menahan napas.

Setelah lagu selesai, pria itu menatap sekeliling. “Ada yang mau berbagi lagu?” tanyanya sambil tersenyum.

Tasha mengangkat tangan, mengejutkan dirinya sendiri. Ia tidak tahu mengapa. Tapi langkahnya terasa ringan saat mendekat.

Ia duduk di kursi kecil, menerima gitar dari tangan pria itu. “Aku tidak bisa bermain dengan baik,” ucapnya gugup.

“Tak perlu sempurna,” jawab pria itu. “Yang penting… jujur.”

Tasha menatap senar gitar, memetik pelan. Ia memainkan lagu yang tidak pernah selesai. Lagu milik Rian. Lagu yang hanya pernah hidup dalam Voidwell—dan dalam hatinya.

Lalu ia mulai menyanyi.

“Jika dunia ini tak mau memberimu tempat,
aku akan membuat ruang di dalam kepalaku…
Di mana kamu masih hidup, dan aku… masih mencintamu.”

Suara Tasha lirih, bergetar. Tapi tidak putus. Air mata jatuh di pipinya, tapi ia terus bernyanyi.

Ketika lagu berakhir, tak ada tepuk tangan meriah. Hanya hening. Hening yang mengikat. Dan senyum dari seorang pria asing yang berkata, “Lagu yang indah. Terlalu jujur untuk tidak nyata.”

Tasha mengangguk. Ia merasa seperti membuka pintu terakhir dari rumah yang dulu ia kunci rapat.

Malam itu, ia pulang dengan langkah ringan. Di tangannya, gitar pinjaman yang ditinggalkan pria tadi. Di hatinya, suara Rian yang tak lagi menyayat.

Dan saat ia tidur, ia bermimpi—bukan tentang Voidwell, bukan tentang pintu hitam. Tapi tentang dirinya sendiri… berdiri di tengah panggung kosong, menyanyikan lagu untuk cinta yang tak lagi menyiksa.

Karena sekarang, ia tak sedang berusaha menghapus kenangan.

Ia sedang belajar menenunnya menjadi kekuatan.

Bab 9: Saat Semua yang Hilang Menemukan Bentuknya

Pagi itu hujan turun perlahan. Tetesnya membasahi jendela apartemen Tasha, menciptakan irama tenang yang tidak mengganggu. Ia duduk di meja makan, menulis dalam jurnal kecil yang mulai usang. Buku itu dulunya kosong. Kini, setiap halamannya berisi fragmen-fragmen luka yang pelan-pelan berubah jadi makna.

Di halaman terakhir, ia menulis:

“Kenangan bukan untuk disembunyikan. Mereka hanya butuh tempat baru untuk tinggal—bukan di masa lalu, tapi di dada yang tak lagi gentar.”

Seseorang mengirim pesan ke ponselnya. Nomor tak dikenal.
“Terima kasih untuk lagumu malam itu. Aku menulis ulang nadanya, ingin kau dengar versiku. Boleh kita bertemu di taman musik sore ini?”

Tasha menatap layar beberapa detik. Ia terdiam. Tapi kemudian tersenyum. Dunia yang dulu terasa sempit perlahan mulai membuka pintu-pintunya kembali.


Sore itu, taman musik ramai oleh anak-anak kecil dan pasangan yang bersantai. Daun-daun berguguran pelan tertiup angin lembut. Tasha duduk di bangku kayu, mengenakan jaket tebal dan syal abu-abu milik Rian—satu-satunya benda peninggalan yang masih ia pakai.

Pria yang mengiriminya pesan datang membawa gitar. Rambutnya agak acak, kemejanya kusut, tapi wajahnya jujur.

“Kamu yang menyanyi waktu itu,” katanya sambil tersenyum. “Namaku Alvan.”

“Tasha,” sahutnya singkat.

“Aku tahu lagumu bukan untuk didengar banyak orang. Tapi aku merasa… seolah kamu sedang bicara ke langit yang sama yang aku tatap setiap malam.”

Tasha mengangguk. “Lagunya tidak pernah selesai. Itu bagian dari cerita yang tertinggal.”

Alvan duduk di sebelahnya. “Bolehkah aku melanjutkannya?”

Tasha tak langsung menjawab. Tapi lalu mengangguk pelan. “Kalau kamu tak mengubah nadanya terlalu jauh.”

Alvan tertawa kecil, lalu mulai memainkan gitarnya. Melodi yang keluar familiar, namun ada harmoni baru. Lembut, tapi punya arah. Tidak terjebak pada kesedihan.

Ia menyanyikan bait tambahan:

“Dan jika semua yang pernah hilang tak bisa kembali,
maka biarkan ia menjelma menjadi suara dalam langkahmu.
Tak lagi membebani, hanya menemani.
Seperti bayangan yang memilih tinggal… karena cinta tak pernah benar-benar mati.”

Tasha menahan napas. Matanya mulai berkaca-kaca, tapi bukan karena sedih. Melainkan karena untuk pertama kalinya sejak lama, ia mendengar versinya dan versi orang lain bisa bertemu di tengah. Menyatu. Tidak saling menghapus.

Alvan selesai bermain. “Lagumu… menyelamatkanku,” ucapnya. “Aku kehilangan adik karena bunuh diri. Sudah setahun aku diam, lalu aku dengar lagumu. Aku merasa… aku tidak sendiri.”

Tasha terdiam.

Dunia kadang terlalu kejam. Tapi saat dua hati yang retak saling menemukan, ada ruang baru tercipta. Ruang yang tidak dibangun dari pelarian, tapi dari keberanian menghadapi kenyataan.

Malam itu, mereka berjalan pulang bersama. Tidak berpegangan tangan. Tidak bicara terlalu banyak. Tapi Tasha tahu, untuk pertama kalinya, ia tak merasa sendirian di dunia nyata.

Dan ketika ia tiba di apartemennya, ia duduk di ranjang, membuka jendela, lalu menatap langit malam.

Ia berbisik pelan, “Rian, aku baik-baik saja sekarang. Terima kasih karena pernah mencintaiku… bahkan di dunia yang harus aku tinggalkan.”

Di kejauhan, suara gitar Alvan masih terdengar samar. Lagu lama yang kini punya hidup baru.

Dan Tasha, di tengah kehilangan yang dulu membunuhnya, kini sedang tumbuh kembali.

Bukan untuk menggantikan cinta yang hilang.

Tapi untuk memberi tempat pada cinta yang lain—yang datang bukan sebagai pengganti, tapi sebagai teman seperjalanan.

Bab 10: Dunia yang Tak Lagi Palsu

Sudah hampir dua bulan sejak Tasha keluar dari Voidwell. Dua bulan sejak ia meninggalkan dunia buatan tempat cinta lamanya hidup kembali. Dan dua bulan sejak ia benar-benar belajar menapakkan kaki di dunia nyata—dunia yang tidak memberinya kenyamanan sempurna, tapi memberi ruang untuk tumbuh.

Hari itu, ia berdiri di sebuah panggung kecil dalam acara komunitas penyintas trauma. Rambutnya diikat sederhana, dan jemarinya menggenggam gitar. Di depannya ada puluhan wajah yang dulu mungkin pernah seperti dirinya—patah, kehilangan, ingin menghilang.

Tasha menghela napas, lalu membuka suara.

“Aku pernah menciptakan dunia di mana cinta yang hilang masih bisa memelukku setiap malam. Di sana, semuanya terasa utuh. Tapi kenyataannya, aku sedang menutup mataku rapat-rapat agar tak melihat kenyataan.”

Ia berhenti sejenak. Hening.

“Hari aku keluar dari Voidwell, aku merasa seperti kehilangan Rian untuk kedua kalinya. Tapi hari ini, aku sadar… aku tak pernah benar-benar kehilangan dia. Aku hanya belajar meletakkan cintaku di tempat yang tak menyakitiku lagi.”

Ia tersenyum pelan. Alvan berdiri tak jauh darinya, memberi anggukan singkat.

“Lagu ini… adalah surat perpisahan, tapi juga awal dari sebuah perjalanan baru.”

Tasha memetik gitar. Suara pertamanya pelan, nyaris seperti bisikan. Tapi perlahan, lagu itu tumbuh. Suaranya penuh, jujur, tidak lagi diguncang air mata.

“Jika harus ada dunia lain untuk kita bersatu,
biarkan dunia ini menjadi tempat aku melepaskanmu.
Karena cinta bukan tentang tetap menggenggam…
tapi tahu kapan harus melepaskan dengan utuh.”

Orang-orang terdiam. Lalu beberapa mulai menangis. Dan saat lagu selesai, bukan tepuk tangan yang mengisi ruangan, melainkan pelukan-pelukan kecil antarorang yang saling memahami.


Malam itu, Tasha duduk di jendela apartemennya. Di pangkuannya, sebuah jurnal baru. Di halaman pertama, ia menulis:

“Aku mencintainya. Aku kehilangan dia. Tapi hari ini, aku memilih untuk hidup dengan kenangan itu… tanpa terperangkap di dalamnya.”

Alvan mengirim pesan.

Kamu luar biasa hari ini. Ingin bertemu besok? Aku sedang menciptakan lagu baru.

Tasha tersenyum. Ia tidak tahu ke mana arah hubungan mereka. Ia tak sedang mengejar cinta baru untuk menambal yang lama. Tapi ia tahu satu hal: ia tidak lagi bersembunyi.

Ia membuka jendela. Udara malam menyusup ke dalam ruangan. Tidak ada suara dari dunia buatan, tidak ada bisikan Rian dari Voidwell. Tapi ada ketenangan. Keheningan yang bukan karena kehampaan, melainkan karena ia telah berdamai.

Dan ketika ia memejamkan mata malam itu, ia tahu:

Dunia ini—dunia yang penuh luka, kehilangan, dan suara kendaraan yang bising—adalah dunia yang ia pilih.

Bukan karena sempurna.

Tapi karena nyata.

Dan di dunia nyata ini, Tasha akhirnya bisa mencintai… dirinya sendiri.

TAMAT

Novel ini ditulis oleh Evi Fauzi, Penulis dari  Novel Singkat . Baca juga novel romantis, petualangan dan fiksi ilmiah lainnya.

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Novel Terbaru

  • Novel Singkat; Sisa Rindu di Meja Makan
  • Terraformers of Solitude (Para Terraformer Kesunyian)
  • Novel Singkat: Cinta di Ujung Sajadah
  • Novel Singkat: Lantai 38 – Antara Merger Perusahaan, Rumah Mewah
  • Senja di Balkon Penthouse – Novel Singkat 7 Bab

Arsip

  • May 2026
  • December 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025

Kategori

  • Fiksi Ilmiah
  • Petualangan
  • Romansa

Tentang Kami

Tentang Kami

aksi cinta dan kehilangan cinta dan pengorbanan Cinta dan Takdir cinta lintas dimensi cinta pertama cinta segitiga cinta sejati Cinta Terlarang cinta yang terlupakan dunia paralel eksperimen genetika Eksperimen Rahasia identitas ganda Ilmuwan kehilangan kisah cinta kisah cinta emosional kisah cinta menyedihkan kisah cinta sedih kisah cinta tragis konspirasi Misteri novel emosional novel fiksi ilmiah Novel Romantis pengkhianatan Pengorbanan Pengorbanan Cinta penjaga waktu perjalanan waktu Petualangan petualangan emosional realitas paralel reinkarnasi romansa Romansa Cinta romansa tragis Romantis Romantis gelap romantis tragis teknologi canggih thriller thriller psikologis Thriller Waktu

Genre Favorit

  • Fiksi Ilmiah
  • Petualangan
  • Romansa
©2026 Baca Novel Singkat Di sini | Design: Newspaperly WordPress Theme