Malam itu Kirana tidak bisa tidur, pikirannya terus berputar memikirkan percakapan misterius yang ia dengar. Keesokan harinya, ia memberanikan diri kembali menemui Bi Inem yang sedang menyiram tanaman di taman, berharap bisa mendapatkan sedikit petunjuk tentang masa lalu yang begitu ditakutkan Ibu Endang.
“Bude,” Kirana memulai hati-hati, duduk di bangku taman dekat Bi Inem bekerja. “Apa Bude tahu sesuatu tentang masa lalu Mas Alvaro? Sepertinya ada kejadian penting lima tahun lalu yang sangat mempengaruhi keluarga ini.”
Bi Inem berhenti sejenak, tangannya yang sedang memangkas daun kering terdiam di udara. Ia menatap sekeliling memastikan tidak ada orang lain yang mendengar, sebelum akhirnya duduk di sebelah Kirana dengan wajah serius.
“Nak Kirana harus janji tidak akan bilang siapa-siapa saya yang cerita,” kata Bi Inem pelan, suaranya penuh kehati-hatian. Setelah Kirana mengangguk yakin, Bi Inem melanjutkan, “Lima tahun lalu, Tuan Alvaro pernah bertunangan dengan seorang gadis bernama Melati. Gadis desa juga, sama seperti Nak Kirana. Mereka bertemu waktu Tuan Alvaro kuliah di Yogyakarta, jatuh cinta, dan berencana menikah.”
“Lalu kenapa tidak jadi?” tanya Kirana, semakin penasaran.
“Ibu Endang tidak setuju,” jawab Bi Inem, nadanya menurun seperti mengingat kejadian menyakitkan. “Katanya Melati tidak sederajat, keluarganya dianggap tidak pantas masuk keluarga Kusumo. Ibu Endang melakukan segala cara untuk memisahkan mereka—termasuk menyebarkan tuduhan bahwa keluarga Melati terlibat penggelapan dana di sebuah proyek bisnis kecil yang pernah bekerja sama dengan keluarga Kusumo. Tuduhan itu menghancurkan nama baik keluarga Melati, membuat mereka harus pindah dari kampung halaman karena malu, dan sejak itu Melati menghilang tanpa kabar.”
Kirana terdiam, mencerna cerita menyedihkan itu. “Dan Mas Alvaro?”
“Sejak itu Tuan Alvaro berubah total,” lanjut Bi Inem, matanya sendu mengenang. “Dulu dia anak yang ceria, hangat sama semua orang. Setelah kejadian itu, dia jadi dingin, jarang bicara sama ibunya sendiri, bahkan pindah tinggal terpisah selama beberapa tahun sebelum akhirnya kembali karena desakan bisnis keluarga.”
Penjelasan itu membuat Kirana mulai memahami kedinginan Alvaro selama ini—bukan semata karena membenci pernikahan yang dipaksakan, melainkan luka lama yang belum pernah sembuh. Namun ada satu hal yang masih mengganjal pikirannya.
“Bude, apa menurut Bude… alasan Ibu Endang memilih saya sebagai menantu ada hubungannya dengan Melati?” tanya Kirana pelan, mengingat dirinya juga berasal dari desa, sama seperti Melati.
Bi Inem terdiam lama, tampak ragu menjawab, sebelum akhirnya hanya menggeleng pelan. “Saya tidak tahu pasti, Nak. Tapi hati-hati saja. Ibu Endang bukan orang yang melakukan sesuatu tanpa perhitungan matang.”
Percakapan itu terus terngiang di kepala Kirana sepanjang hari. Ia mulai memperhatikan detail-detail kecil di rumah besar itu dengan mata baru—foto-foto keluarga yang terpajang rapi di dinding, namun anehnya tidak ada satu pun foto Alvaro semasa kuliah di Yogyakarta, seolah periode itu sengaja dihapus dari catatan keluarga.
Sore harinya, dengan rasa penasaran yang tak tertahankan, Kirana menyelinap ke ruang penyimpanan di lantai atas—sebuah ruangan yang jarang dikunjungi, penuh kotak-kotak berisi barang lama keluarga. Ia mulai membuka kotak-kotak itu satu per satu, mencari petunjuk apa pun tentang masa lalu yang disembunyikan.
Di dalam salah satu kotak berdebu, tangannya menyentuh sebuah album foto lama. Dengan hati berdebar, ia membukanya, dan matanya langsung tertumbuk pada foto seorang pemuda yang jelas adalah Alvaro versi lebih muda, tersenyum lebar dengan tangan merangkul seorang gadis cantik berambut panjang—ekspresi bahagia yang sama sekali berbeda dari sosok dingin yang Kirana kenal sekarang.
Di balik foto itu, tertulis dengan tinta yang mulai memudar: *”Alvaro & Melati, Yogyakarta, lima tahun lalu.”*
Kirana menatap foto itu lama, jantungnya berdegup kencang oleh perasaan yang sulit ia definisikan—campuran rasa iba pada Alvaro, penasaran pada sosok Melati yang begitu misterius, dan entah kenapa, sedikit perasaan tidak nyaman yang ia sendiri tak berani akui alasannya.
Tepat saat ia masih terpaku menatap foto itu, terdengar suara langkah kaki mendekat dari arah pintu. Kirana buru-buru berusaha menyembunyikan album itu, namun terlambat—pintu sudah terbuka, dan di ambang pintu berdiri Alvaro, pulang lebih awal dari biasanya, wajahnya membeku kaget melihat Kirana sedang memegang album foto lamanya.
“Apa yang kamu lakukan di sini?” suara Alvaro terdengar tegang, matanya menatap tajam ke arah foto yang masih terpegang di tangan Kirana. Wajahnya berubah pucat, campuran antara amarah dan sesuatu yang jauh lebih dalam—luka lama yang tiba-tiba terusik kembali.
1 thought on “Menantu Pesanan Sang Konglomerat Bab 3”