Skip to content

Baca Novel Singkat Di sini

Menu
  • Home
  • Pilihan Novel
    • Romansa
    • Fiksi Ilmiah
    • Petualangan
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Terms and Conditions
Menu
Novel Singkat Sang Pangeran dan Pengantin dari Langit

Novel Singkat: Sang Pangeran dan Pengantin dari Langit

Posted on March 18, 2025

Di dunia di mana setiap kerajaan memiliki pasangan yang dipilih oleh bintang, Pangeran Kael , seorang pewaris takhta Kerajaan Astraleon , menolak pernikahan yang ditentukan oleh ramalan. Sebagai pejuang dan pemimpin militer , ia lebih memilih menentukan nasibnya sendiri daripada tunduk pada tradisi kuno.

Namun, pada malam ia berencana melarikan diri dari istana, sebuah kapal luar angkasa jatuh dari langit, membawa seorang wanita misterius bernama Lyra . Lyra, yang tidak mengingat siapa dirinya, memiliki tanda ramalan yang sama dengan jodoh yang ditakdirkan untuk Kael. Saat ia mulai beradaptasi di kerajaan, ingatan masa lalunya perlahan kembali—dan ia menyadari bahwa ia adalah seorang agen eksperimen militer dari dunia lain yang dikirim bukan untuk menikahi Kael, tetapi untuk menghancurkan Astraleon.

Terjebak antara perasaan yang tumbuh dan misi yang telah tertanam dalam pikirannya, Lyra harus memilih: mengikuti takdirnya sebagai senjata penghancur atau melawan sistem yang menciptakannya demi mempertahankan dunia yang kini ia cintai.

Di tengah perang besar yang mengancam kerajaan, Kael dan Lyra menghadapi pertarungan tidak hanya melawan musuh dari langit, tetapi juga melawan takdir yang ingin memisahkan mereka. Akankah cinta mereka bertahan, atau akankah Lyra mengorbankan dirinya untuk menyelamatkan dunia Kael?

Bab 1: Pangeran yang Menolak Takdir

Langit malam di atas Kerajaan Astraleon bersinar tenang, dekorasi ribuan bintang yang berkelip menyerupai seorang pria muda yang berdiri di balkon istana. Pangeran Kael, pewaris takhta tunggal Astraleon, menjamin pagar batu dengan kuat, menyembunyikan penuh pemberontakan.

Hari ini adalah hari yang seharusnya bersejarah—malam di mana Dewan Bintang mengumumkan siapa jodohnya, wanita yang telah dipilih oleh ramalan kuno sejak kelahirannya. Sebuah tradisi yang telah berlangsung selama ratusan tahun di kerajaannya: setiap keturunan bangsawan Astraleon akan ditakdirkan dengan pasangan yang telah ditentukan oleh bintang. Sebuah ikatan yang dianggap suci dan tak dapat dihindari.

Namun, Kael tidak percaya pada ramalan itu. Baginya, takdir bukanlah sesuatu yang harus diterima begitu saja.

Ia telah menghabiskan sebagian besar hidupnya melawan tradisi. Sejak kecil, ia lebih tertarik pada dunia luar dibandingkan dengan kewajiban sebagai seorang pangeran. Ia sering tampil di luar istana, menjelajahi pasar rakyat, mendengar kisah-kisah mereka, bahkan diam-diam melatih dirinya sendiri dalam pertarungan pedang di luar pengawasan para pengawal.

Dan malam ini, dia telah mengambil keputusan besar.

Di balik jubah panjangnya yang berwarna biru tua, sebuah kantong kulit berisi perbekalan dan beberapa koin emas tersembunyi. Ia telah menyiapkan rencana selama berbulan-bulan, mencari jalan keluar dari istana tanpa meninggalkan jejak. Jika semuanya berjalan lancar, dalam waktu kurang dari satu jam, ia akan meninggalkan Astraleon, melarikan diri ke negeri lain, hidup sebagai orang biasa tanpa embel-embel pangeran atau takdir yang memaksanya.

Angin malam berembus kencang saat ia melangkah mundur dari balkon, bersiap mengaku keluar. Namun, sebelum ia bisa bergerak lebih jauh, suara langkah kaki menggema di koridor.

“Yang Mulia,” suara dalam dan tegas milik Jenderal Aldric menggema di balik pintu kamar. “Dewan sudah menunggu di aula istana. Sudah tiba saatnya Anda menerima takdir Anda.”

Kael bersinar pelan. Takdir? Takdir macam apa yang membuatnya harus menikahi seseorang yang bahkan belum pernah ia temui? Ia tidak akan membiarkan hidupnya dikendalikan oleh bintang.

Mengambil langkah hati-hati, ia menggerakkan lorong rahasia di belakang rak buku menuju sebuah jalur yang hanya diketahuinya sendiri. Namun, sebelum ia sempat menyimpulkan pergi, sebuah suara lain memenuhi udara—suara yang bukan berasal dari dalam istana.

GEMURUH!

Langit yang semula damai tiba-tiba meledak dengan kilatan cahaya. Suara menggelegar memecah kesunyian malam, mengguncang tanah di bawah mereka. Goncangannya begitu kuat hingga jendela-jendela istana bergetar, dan beberapa pecah berkeping-keping.

Kael tersentak, segera berlari kembali ke balkon.

Di pemberhentian, di luar gerbang kota, sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan terjadi.

Sebuah bola api raksasa jatuh dari langit dengan kecepatan luar biasa, menghasilkan malam seperti matahari yang turun ke bumi. Bentuknya aneh, menyerupai kapal raksasa, dengan pecahan-pecahan logam yang berjatuhan di sepanjang lintasannya. Penduduk kerajaan berteriak ketakutan, beberapa melarikan diri dari pusat kota, sementara yang lain hanya bisa menatap langit dengan takjub dan ngeri.

Kael tidak bisa mempercayai matanya.

“Itu…” gumamnya.

Kapal itu menabrak hutan kerajaan dengan dentuman dahsyat, membuat tanah bergetar seolah-olah bumi sendiri sedang meraung kesakitan. Api membumbung tinggi, menghasilkan wajah Kael yang masih terisi.

Jenderal Aldric masuk ke dalam ruangan tanpa izin, wajahnya memancarkan keseriusan. “Yang Mulia, Anda harus tetap di istana. Kami akan menyelidiki kejadian ini.”

Namun, bagi Kael, ini bukan saatnya untuk berdiam diri. Ia tidak peduli pada takdir, tidak peduli pada ramalan, dan tidak peduli pada pernikahan yang akan memaksanya. Tapi ini? Ini adalah sesuatu yang tidak bisa ia abaikan.

Tanpa ragu, ia meraih pedang yang tersandar di dinding dalam dan melangkah keluar.

Apa pun yang baru saja jatuh dari langit itu… ia harus melihatnya dengan mata kepalanya sendiri.

Dan tanpa sadar, langkahnya menuju hutan akan mengubah hidupnya selamanya.

Bab 2: Wanita dari Langit

Dedaunan basah jatuhan dari pepohonan yang roboh akibat dampak jatuhnya kapal asing itu. Api masih berkobar di beberapa bagian yang dinginkan, menciptakan cahaya oranye yang berpendar di tengah kegelapan malam. Bau logam yang terbakar bercampur dengan aroma tanah yang hangus memenuhi udara.

Pangeran Kael berjongkok di balik semak-semak, matanya meneliti puing-puing yang tersebar di antara batang pohon yang tumbang. Ia bisa mendengar suara langkah kaki tentara kerajaan yang berlari mendekati lokasi kejadian, tapi ia tidak punya niat untuk menunggu mereka. Jika ia ingin menemukan sesuatu sebelum para prajurit mengambil alih, ia harus bergerak sekarang.

Jantungnya berdegup kencang saat ia melangkah lebih dekat ke memuaskan. Kapal ini… bukan seperti apa pun yang pernah dilihatnya. Bentuknya tidak menyerupai kendaraan atau kapal perang dari kerajaan lain. Logamnya berwarna hitam mengilap dengan pola aneh berpendar samar seperti urat-urat cahaya. Seolah-olah bukan sekadar mesin, tetapi sesuatu yang hidup.

Ia menyentuh permukaannya. Logam itu masih hangat, tapi tidak cukup panas untuk membakar. Kael mengernyit. Ini bukan logam biasa.

Di balik kabut asap dan puing-puing yang berserakan, matanya menangkap sesuatu. Sesosok tubuh…

Seorang wanita.

Kael bergerak cepat, mendekati sosok yang terbaring di tanah di antara sisa-sisa penghuninya.

Wanita itu tampak tak sadarkan diri, tubuhnya sebagian tertutup oleh potongan logam dari kapal yang hancur. Rambut panjang berwarna perak kusut menutupi wajahnya yang pucat. Gaunnya aneh—bukan pakaian yang biasa dikenakan di kerajaan mana pun yang pernah Kael lihat. Warnanya putih dengan garis-garis perak berpendar samar, seolah-olah pakaian itu sendiri adalah bagian dari cahaya.

Kael menelan ludah.

Ia tidak tahu siapa wanita ini, tapi sesuatu dalam dirinya mengatakan bahwa ia bukan orang biasa.

Ketika ia mencoba meraih wanita itu, jari-jarinya menyentuh pergelangan tangannya—dan di sanalah ia melihatnya.

Tanda itu.

Tanda berbentuk lingkaran dengan pola bintang di dalamnya, tepat pergelangan tangan wanita itu.

Darah Kael berdesir. Itu adalah tanda yang sama dengan yang dimiliki setiap pasangan yang ditakdirkan dalam ramalan bintang. Tanda yang seharusnya hanya dimiliki oleh seseorang yang ditakdirkan untuk menjadi pendamping seorang bangsawan Astraleon.

Namun bagaimana mungkin? Wanita ini jatuh dari langit.

Kael mencoba menyangkal kemungkinan itu, tapi tanda itu tidak bisa disangkal.

Sebelum ia sempat berpikir lebih jauh, wanita itu bergerak.

Ia mengerang pelan, kelopak mata mulai bergetar sebelum akhirnya terbuka. Sepasang mata biru terang menatap Kael—mata yang tidak seperti milik manusia biasa. Ada kilatan listrik di dalamnya, seolah-olah mereka menyimpan bintang-bintang yang baru saja jatuh dari langit.

Wanita itu membuka mulutnya, tapi hanya suara napas terputus-putus yang keluar. Sepertinya dia kesulitan untuk berbicara.

Kael mengulurkan tangannya. “Kau bisa mendengarku?”

Wanita itu terdiam sejenak, sebelum akhirnya mengangguk lemah.

Namun, sebelum Kael sempat bertanya lebih jauh, terdengar suara langkah kaki mendekat.

“Pangeran! Di sini!”

Prajurit kerajaan tiba, dipimpin oleh Jenderal Aldric yang segera menarik pedangnya begitu melihat sosok wanita asing itu. Mata prajurit lainnya juga melebar, sebagian mundur dengan ragu-ragu.

Kael berdiri, menahan mereka dengan satu gerakan tangan.

“Jangan sentuh dia.”

“Tapi, Yang Mulia—”

“Aku bilang jangan sentuh dia,” ulang Kael dengan nada lebih tegas.

Aldric menghela napas dalam, menatap wanita itu dengan penuh kualitas. “Dia jatuh dari langit. Kita tidak tahu siapa dia.”

Kael berbalik, menatap wanita itu yang masih terbaring lemah. Ia tidak tahu kenapa, tapi ia bisa merasakan sesuatu yang aneh dalam dirinya. Seolah-olah pertemuan ini sudah ditakdirkan, seperti benang merah yang tidak bisa diputuskan.

“Kita akan membawa ke istana,” kata Kael akhirnya. “Aku ingin dia dirawat. Pastikan dia tetap hidup.”

Aldric tampak tidak setuju, tapi dia tahu tidak ada gunanya berdebat dengan sang pangeran.

“Baik, Yang Mulia.”

Dua prajurit melangkah maju, mengangkat wanita itu dengan hati-hati sebelum membawanya ke dalam kereta kuda yang sudah menunggu di tepi hutan. Kael mengikuti di belakang mereka, pikirannya masih penuh dengan tanda tanya.

Siapa wanita ini? Mengapa dia memiliki tanda yang seharusnya menjadi milik ramalan jodohnya?

Dan yang lebih penting lagi…

Apakah kedatangannya adalah berkah atau malapetaka?


Malam itu, langit masih bersinar dengan sisa cahaya dari bintang-bintang yang telah menjadi saksi pertemuan mereka.

Tanpa ada yang tahu, jauh di atas langit Astraleon, sesuatu sedang bergerak. Sebuah kapal lain, yang lebih besar dan lebih berbahaya, sedang mengawasi… dan menunggu.

Bab 3: Rahasia di Balik Tanda

Cahaya lilin berpendar lembut di sudut ruangan, menciptakan bayangan di dinding-dinding batu istana Astraleon. Udara di dalam kamar terasa sunyi, hanya dikeluarkan oleh suara napas teratur dari seorang wanita yang tengah berbaring di atas tempat tidur besar dengan kanopi sutra.

Kael duduk di sebuah kursi di sisi ranjang, matanya tak lepas dari sosok wanita yang masih tak sadarkan diri itu. Setelah dibawa kembali ke istana, tabib kerajaan telah merawatnya dengan penuh kehati-hatian. Luka-luka pada sebagian besar tubuhnya adalah goresan dan luka akibat benturan saat jatuh, namun selain itu, tubuhnya tampak baik-baik saja.

Yang menjadi pertanyaan adalah siapa dia sebenarnya.

Kael menutupi pergelangan tangan wanita itu sekali lagi, tepat di tempat tanda berbentuk lingkaran dengan pola bintang itu terukir sempurna. Ia telah melihat tanda-tanda itu sepanjang hidupnya, diukir dalam kitab-kitab kuno dan diukir dalam perhiasan keluarga kerajaan. Tanda itu adalah simbol takdir, sesuatu yang tak bisa dihindari.

Tapi bagaimana mungkin seorang wanita yang jatuh dari langit memilikinya?

Ia mendekatkan dirinya sedikit, mengamati lebih dekat. Tidak seperti tanda ramalan biasa yang sering kali samar saat pertama kali muncul, tanda pada wanita ini bersinar redup, seolah-olah berdenyut dengan energi yang tidak dikenal. Itu bukan sesuatu yang bisa dibuat-buat.

Kael menggenggam tangannya. Ini semua terasa seperti lelucon yang dimainkan oleh para dewa. Seumur hidupnya ia melawan takdir, menolak ramalan, menolak jodoh yang dipilih untuknya. Tapi kini, takdir itu datang dari langit sendiri—secara harfiah.

Tiba-tiba, wanita itu bergerak.

Kael segera menarik dirinya, jantungnya berdebar saat matanya menangkap gerakan kelopak mata yang perlahan terbuka. Mata biru terang itu kembali menatap—kali ini lebih jernih, lebih fokus.

Kael menahan napas, menunggu reaksinya.

Wanita itu tampak bingung, kepalanya sedikit berputar ke kanan dan kiri sebelum akhirnya mengerang pelan.

“Dimana… aku?” suaranya serak, hampir seperti bisikan.

Kael mengernyit. Wanita itu berbicara dalam bahasa kerajaan Astraleon. Itu membuatnya semakin bingung.

“Kau ada di istana Astraleon,” jawab Kael akhirnya. “Kami menemukanmu di hutan setelah kapalmu jatuh.”

Wanita itu berkedip beberapa kali, seolah mencoba memproses informasi itu.

“Kapal… jatuh?” Ia mengerutkan kening, seolah mencari sesuatu dalam pikirannya. “Aku… aku tidak ingat.”

Kael diam sejenak.

“Siapa namamu?”

Wanita itu tampak semakin bingung. Ia menatap Kael, lalu ke tangannya sendiri.

“Aku… tidak tahu.”

Kael mengangkat alis.

“Kau tidak tahu?”

Wanita itu menggeleng pelan, matanya berkilau. “Aku tidak bisa mengingat apa pun… hanya ada suara… seperti gema di kepalaku… dan cahaya terang.”

Kael menyandarkan tubuhnya ke belakang, pikirannya berkecamuk. Wanita ini tidak hanya muncul secara misterius, tetapi juga kehilangan ingatannya?

Sebelum ia sempat mengatakan sesuatu lagi, pintu kamar terbuka dan seorang lelaki tua berjubah putih masuk dengan penuh kehati-hatian.

“Yang Mulia,” ucapnya sambil menunduk hormat. “Maaf mengganggu, saya ingin memeriksa kondisi tamu kita.”

Kael mengangguk, memberi isyarat agar tabib kerajaan itu melangkah maju.

Tabib itu mendekat dan dengan lembut menempatkan tangan pada pergelangan tangan wanita itu, memeriksa denyut nadinya. Ia kemudian menyentuh dahi wanita itu, matanya mengamati dengan penuh perhatian.

“Bagaimana kondisinya?” tanya Kael.

“Sangat aneh,” gumam sang tabib, ekspresi menunjukkan konsistensi. “Tubuhnya sehat, tapi auranya… tidak seperti manusia biasa.”

Kael menegangkan. “Apa maksudmu?”

Sang tabib menggeleng, tampak ragu untuk menjelaskan. “Saya… saya tidak tahu, Yang Mulia. Tapi ada sesuatu yang berbeda tentang dirinya. Rasanya seperti…seperti dia tidak berasal dari dunia ini.”

Kael menatap wanita itu, yang kini juga tampak kebingungan dengan kata-kata tabib.

Ia ingin menyangkalnya. Ia ingin percaya bahwa semua ini hanya kebetulan. Tapi semakin dia melihat wanita itu, semakin dia merasa bahwa sesuatu yang lebih besar sedang terjadi.

Lalu, sebelum ada yang bisa berbicara lagi, suara keras terdengar dari luar.

DUARR!

Goncangan tiba-tiba membuat ruangan bergetar. Kael dengan cepat berdiri, tangannya refleks meraih pedang yang ia letakkan di dekat tempat tidur.

“Apa itu?” suara wanita itu terdengar lemah, tetapi matanya sekarang dipenuhi ketakutan.

Kael berlari menuju jendela, dan apa yang ia lihat membuat darahnya membeku.

Di langit malam yang gelap, di atas istana Astraleon… sesuatu sedang turun.

Sebuah kapal besar, jauh lebih besar dari kapal yang jatuh di hutan, melayang di atas kota dengan cahaya merah yang berkilauan dari bagian bawahnya. Bentuknya seperti piringan raksasa, dengan simbol yang aneh terukir di permukaannya.

Kael memegang gagang pisau erat-erat.

Apa pun yang baru terjadi malam ini, ini permulaan baru.

Dan dia merasa… wanita dari langit itu adalah kuncinya.

Bab 4: Ikatan Yang Terjalin

Langit malam di atas Astraleon kini tidak lagi damai. Cahaya merah menyala dari kapal raksasa yang melayang di angkasa, menciptakan bayangan besar yang menutupi sebagian besar istana dan kota di bawahnya.

Suara alarm mulai menggema di seluruh kerajaan. Prajurit berlarian ke posisi mereka, mempersiapkan pertahanan seolah-olah perang telah dimulai. Di balkon istana, Pangeran Kael berdiri tegak dengan pedang kapal di tangannya, matanya menatap tajam ke arah asing.

Di belakangnya, wanita misterius yang ditemukan di sekitar kapal kecilnya kini berdiri dengan tubuh gemetar.

Mata membelalak, bukan hanya karena ketakutan, tetapi karena sesuatu yang aneh terjadi dalam pikirannya. Saat kapal itu muncul, ingatan yang samar-samar mulai berputar dalam pikiran, seperti kepingan teka-teki yang hampir menyatu.

Ia mengenal kapal itu.

Ia tidak tahu bagaimana caranya, tapi melihatnya membuat dadanya terasa sesak, seolah-olah sesuatu yang penting sedang berusaha muncul dari ingatan yang terkunci.

Kael menoleh padanya. “Kau mengenali mereka?”

Wanita itu menginginkannya. Bibirnya sedikit terbuka, tapi tidak ada kata yang keluar.

“Lyra.”

Kael menyebut nama itu begitu saja, tanpa berpikir. Nama itu muncul di pikiran ketika ia melihat wanita itu pertama kali. Ia tidak tahu dari mana ia mendapatkannya, tetapi ketika ia menyetujuinya, wanita itu bereaksi.

Wanita itu menoleh cepat, mata birunya melebar.

“Lyra,” ulang Kael, suaranya lebih yakin sekarang. “Itu namamu.”

Lyra terdiam sejenak, lalu pelan-pelan mengangguk.

“Aku… aku rasa begitu,” katanya pelan. Ia mencoba mengulangi nama itu di tawarannya, seolah mencobanya untuk pertama kali. “Lira…”

Namun, sebelum mereka bisa berdiskusi lebih jauh, suara gemuruh kembali terdengar dari langit.

Dari bawah kapal besar itu, sesuatu turun—sebuah benda besar berbentuk silinder, yang dalam hitungan detik menghancurkan tanah di luar gerbang kerajaan. Tanah bergetar hebat. Orang-orang menjerit ketakutan. Lalu, dari dalam silinder itu, muncul sosok-sosok yang tinggi dan berlapis baja hitam, dengan helm yang menyembunyikan wajah mereka.

Pasukan dari langit telah tiba.

Kael merasakan bulu kuduknya berdiri. Ini bukan serangan biasa. Mereka bukan manusia.

Prajurit kerajaan segera bergerak maju, membentuk barisan pertahanan di sekitar gerbang utama. Tapi Kael tahu mereka semua dalam bahaya. Musuh ini bukan seperti yang pernah mereka hadapi sebelumnya.

“Lyra,” katanya tegas, menoleh ke arahnya. “Jika Anda mengetahui sesuatu tentang mereka, inilah saatnya untuk berbicara.”

Lyra menggigit bibirnya. Ia tidak tahu mengapa, tapi tetap dalam dirinya mengatakan bahwa pasukan ini datang karena dirinya sendiri .

“Aku… aku tidak yakin,” kata Lyra, suaranya bergetar. “Tapi aku rasa mereka mencariku.”

Kael membukakan matanya. “Kenapa?”

Lyra menggeleng, memegangi perutnya yang mulai terasa berdenyut sakit. “Aku tidak tahu! Aku tidak bisa mengingat semuanya!”

Kael menggeram pelan. Dia tidak menyukainya, tetapi sekarang bukan saatnya untuk menuntut jawaban.

Sebuah ledakan besar mengguncang salah satu menara istana, membuat batu-batu berjatuhan ke tanah.

Lyra terjatuh ke lantai, tubuhnya gemetar. Ada suara-suara aneh di kepalanya, seperti suara mekanis yang berbicara dalam bahasa yang tidak ia pahami.

“Target terdeteksi. Aktifkan protokol pengambilan.”

“Hilangkan semua yang menghalangi.”

Lyra memeganginya, menggigitnya sambil menahan kalimatnya. Apa yang terjadi padanya? Mengapa suara-suara ini muncul di pikiran?

Kael melihatnya dengan cemas.

“Lyra! Kau baik-baik saja?”

Lyra mendongak, matanya kini penuh dengan ketakutan.

“Kita harus pergi dari sini,” katanya, lebih tegas dari sebelumnya. “Jika mereka menemukanku, mereka tidak akan berhenti sampai aku bersama mereka.”

Kael mengerutkan kening.

“Mereka mencarimu untuk apa?”

Lyra menggigit bibirnya, menatap tangan ke bawah—tepat di tempat tanda bintang itu bersinar lebih terang dari sebelumnya.

“Aku… aku tidak tahu pasti,” katanya lirih. “Tapi aku bisa merasakannya. Aku tidak boleh berada di tangan mereka.”

Kael menatap ke dalam diam selama beberapa detik. Kemudian, ia mengambil keputusan.

“Ayo.”

Ia meraih tangan Lyra, menggenggamnya erat.

“Kita pergi dari sini.”


Mereka berlari melalui koridor istana yang berguncang akibat serangan yang terus menerus. Kael memimpin jalan, menarik Lyra ke arah jalan rahasia yang hanya ia ketahui.

Mereka harus keluar dari istana sebelum pasukan dari langit dipasang.

Dan tanpa mereka sadari, sesuatu telah berubah.

Sebuah ikatan telah terjalin di antara mereka.

Dan itu akan mengubah takdir keduanya—selamanya.

Bab 5: Ingatan yang Kembali

Angin malam menerpa wajah Kael dan Lyra saat mereka berlari melewati jalan-lorong gelap di dalam istana. Langkah kaki mereka menggema, berpacu dengan suara ledakan yang mengguncang dinding batu di belakang mereka. Kael menggenggam tangan Lyra erat-erat, memastikan wanita itu tetap mengikutinya tanpa tertinggal.

Di luar, langit masih dipenuhi cahaya merah dari kapal raksasa yang melayang di atas kota. Dari penampakannya, terdengar suara teriakan prajurit dan dentingan senjata yang beradu. Pasukan Astraleon berusaha sekuat tenaga melawan makhluk-makhluk asing yang turun dari kapal.

Kael tahu mereka tidak bisa tinggal lebih lama di sini.

“Apa kamu bisa berlari lebih cepat?” tanya Kael sambil menoleh ke Lyra, yang napasnya mulai memburu.

Lyra menggigit bibirnya. “Aku… aku akan mencoba.”

Namun, sebelum mereka bisa mencapai pintu keluar rahasia di balik dinding istana, sebuah suara berat bergema di sepanjang lorong.

“Target terdeteksi.”

Kael berbalik cepat, tangannya langsung menghunus pedangnya. Dari kegelapan, dua sosok tinggi muncul. Mereka mengenakan baju besi berwarna hitam pekat, dengan helm berbentuk seperti tengkorak yang tidak memiliki wajah. Mata mereka bersinar merah, dan di tangan mereka terdapat senjata aneh berbentuk tombak yang berdenyut dengan energi biru.

Lyra menegang.

Mereka datang untuknya.

Kael segera menarik Lyra ke belakangnya, bersiap menghadapi mereka.

“Siapa kalian?” seru Kael, suaranya penuh tantangan.

Salah satu makhluk itu menoleh ke arah Lyra.

“Subjek utama ditemukan. Aktivasi protokol pemulihan memori.”

Sebelum Kael sempat menyerang, satu dari mereka mengangkat tangan. Sebuah sinar biru terang melesat dari sarung tangannya dan langsung mengenai Lyra.

Mata Lyra melebar. Tubuhnya membeku di tempat.

Kael berusaha menariknya, tetapi Lyra seolah terkunci di dalam pikirannya sendiri.

Dan saat itulah, ingatan-ingatan itu kembali.


Gambaran demi gambaran muncul di dalam pemikiran.

Ia melihat dirinya berada di dalam ruangan putih tanpa batas, dikelilingi oleh layar hologram yang berisi data-data aneh. Di depannya, sosok tinggi berbalut jubah perak menatapnya tanpa ekspresi.

“Lyra-7, kau telah diprogram untuk misi ini sejak awal keberadaanmu. Kau adalah senjata kami. Kau tidak memiliki kehendak bebas.”

Matanya bergerak ke bawah—tangannya sendiri, bersinar dengan cahaya biru. Lalu suara lain terdengar di kepalanya.

“Dunia ini tidak boleh ada. Astraleon adalah ancaman bagi tatanan galaksi. Hancurkan mereka sebelum mereka berkembang lebih jauh.”

Kemudian, ia melihat dirinya di dalam kapal yang jatuh, perintah terakhir yang bergema sebelum ia kehilangan kenangan:

“Identitas sementara akan dikunci. Fokus pada misi utama.”


“Tidak…” Lyra tersentak, kembali ke kenyataan.

Tapi sekarang, dia tahu.

Ia bukan manusia biasa. Ia adalah senjata yang dikirim untuk menghancurkan kerajaan ini.

Kael menatapnya dengan cemas. “Lira? Apa yang terjadi?”

Lyra mundur, tangannya bergetar.

“Aku…” suaranya bergetar. “Aku tahu siapa aku.”

Kael membuka matanya, tapi sebelum dia bisa bertanya lebih jauh, makhluk-makhluk itu kembali bergerak.

“Pemulihan memori berhasil. Subjek akan dikembalikan ke komando utama.”

Salah satu dari mereka mengangkat tangan lagi, mencoba menangkap Lyra dengan medan gravitasi tak terlihat.

Tapi kali ini, Lyra tidak tinggal diam.

Tanpa berpikir, ia mengangkat tangannya sendiri—dan entah bagaimana, sebuah ledakan energi biru keluar dari telapak tangannya, menghantam musuh itu dengan kekuatan yang cukup besar hingga melemparkannya ke dinding.

Kael terbelalak.

“Apa maksudmu Lyra?”

Lyra memegang tangannya sendiri, terkejut dengan apa yang baru saja ia lakukan.

Namun, ia tidak punya waktu untuk berpikir lebih jauh. Musuh kedua sudah bergerak maju, tombaknya siap menembakkan energi.

Kael bertindak cepat. Ia berlari ke depan, pedangnya berkilat di bawah cahaya merah kapal yang masih melayang di atas mereka. Dengan satu tebasan cepat, ia menangkis serangan musuh itu dan menancapkan pedangnya ke celah kecil di pelindung mereka.

Makhluk itu mengeluarkan suara mekanis yang terputus-putus sebelum akhirnya roboh.

Kael menghela napas berat dan menoleh ke Lyra, yang masih berdiri dengan napas tersengal.

“Aku tidak akan bertanya apa yang terjadi,” katanya dengan nada tajam. “Tapi aku rasa kau punya banyak penjelasan.”

Lyra menunduk. Sekarang, dia sadar mengapa mereka datang mencarinya.

Karena ia adalah ancaman terbesar bagi Astraleon.

Dan mungkin, satu-satunya cara untuk menyelamatkan kerajaan ini… akan menghilang.

Bab 6: Rahasia yang Terungkap

Hujan deras mengguyur Astraleon, seolah langit pun ikut menangisi kebenaran yang baru saja terungkap.

Di dalam salah satu ruangan rahasia di istana, Kael menatap Lyra dengan ekspresi yang sulit ditebak. Mereka berhasil melarikan diri dari istana setelah pertarungan sengit dengan pasukan asing, namun kini pertanyaan yang lebih besar menghantui mereka: siapa sebenarnya Lyra, dan mengapa ia dikirim untuk menghancurkan kerajaan ini?

Lyra duduk di atas sebuah kursi kayu, tangannya menggenggam tangan pertanda—tepat di tempat tanda berbentuk lingkaran bintang itu bersinar redup. Wajahnya pucat, matanya kosong.

“Aku ingat semuanya,” akhirnya dia berkata, suaranya lirih.

Kael yang bersandar di dinding melipat tangan di dadanya. “Baiklah. Aku mendengarkan.”

Lyra menarik napas dalam, lalu mulai berbicara.

“Aku bukan berasal dari dunia ini,” sambil menatap Kael dengan mata yang katanya kini menyimpan kesadaran penuh. “Aku adalah bagian dari proyek militer yang disebut ‘Lyra-7’ —sebuah eksperimen untuk menciptakan senjata biologi yang memiliki kesadaran dan bisa beradaptasi dalam berbagai lingkungan. Aku bukan hanya seorang manusia… aku adalah hasil rekayasa genetika yang dirancang untuk satu tujuan: menghancurkan dunia yang dianggap berbahaya bagi galaksi. “

Kael tidak mengubah ekspresi, meskipun di dalam hatinya, ada sesuatu yang bergetar hebat.

“Dan Astraleon…” lanjut Lyra, suaranya melemah, “…adalah target berikutnya.”

Kael akhirnya mendorong tubuhnya dari dinding, melangkah maju dengan paksa. “Kenapa?”

Lyra menatap lantai, seolah mencari jawaban yang bisa diterima.

“Astraleon adalah kerajaan dengan potensi luar biasa,” katanya. “Di masa depan, teknologi kerajaan ini bisa berkembang hingga bisa menantang peradaban luar angkasa yang lebih besar. Pemimpin dari tempat asalku… mereka takut akan kemungkinan itu. Mereka memutuskan untuk menghapus ancaman ini sebelum kerajaan ini mencapai puncak kejayaannya.”

Kael mengepalkan tangannya.

“Jadi, kau dikirim untuk menghancurkan dunia ini sebelum kami bahkan memiliki kesempatan untuk bertahan?”

Lyra menggigit bibirnya. “Ya.”

Ruangan itu terasa beberapa saat, hanya suara hujan di luar yang terdengar.

Kael berjalan mendekat, menatap Lyra dengan mata tajam.

“Dan sekarang?” tanyanya.

Lyra mengangkat kepalanya, menatap Kael dalam-dalam. Ada rasa sakit di matanya, tetapi juga tekad yang baru.

“Aku tidak bisa melakukannya,” katanya pelan. “Aku tidak bisa menghancurkan kerajaan ini… aku tidak bisa menghancurkanmu.”

Kael menahan napas.

Lyra menunduk, tangannya mengepal di pangkuannya. “Saat aku kehilangan ingatanku… aku bisa merasakan bagaimana rasanya menjadi manusia biasa. Aku bertemu orang-orang, melihat kehidupan mereka, dan… aku menyadari bahwa dunia ini bukan ancaman. Dunia ini indah, penuh dengan kehidupan dan mimpi.”

Ia menggigit bibirnya, lalu menatap Kael lagi. “Aku mungkin diciptakan untuk menjadi senjata, tapi sekarang aku ingin membuat pilihan sendiri. Aku ingin melindungi dunia ini, bukan menghancurkannya.”

Kael menghela nafas panjang, mengusap wajahnya.

“Apa kau yakin dengan keputusan itu?”

Lyra mengangguk tegas. “Ya.”

Kael menatap lama sebelum akhirnya mengangguk.

“Baik.”

Tapi sebelum Lyra bisa merasa lega, Kael menambahkan dengan suara berat, “Tapi kau tahu, kan, bahwa mereka tidak akan membiarkanmu begitu saja?”

Lyra menegang.

“Jika kamu berbalik melawan mereka, kamu bukan hanya menjadi musuh mereka, tapi juga menjadi target utama mereka,” lanjut Kael. “Mereka tidak akan berhenti sampai mereka menangkap atau menghabisimu.”

Lyra menggenggam tangannya. “Aku tahu.”

Kael menghela napas lagi, lalu menoleh ke jendela. Kilatan petir mencapai langit.

“Lalu, apa rencanamu sekarang?” tanyanya.

Lyra terdiam sejenak, lalu berdiri. Matanya kini bersinar dengan tekad yang baru.

“Aku akan melawan mereka.”

Kael membalikkan badannya, matanya penuh dengan sesuatu yang menyerupai kebanggaan.

“Kalau begitu,” katanya sambil mengurangi kecil, “kamu tidak akan melakukannya sendirian.”


Malam itu, dalam ruangan kecil di istana yang tersembunyi, takdir mereka berdua berubah selamanya.

Pangeran yang menolak ramalan dan wanita dari langit yang diciptakan untuk menghancurkan dunia kini memiliki satu tujuan yang sama: melawan takdir dan menyelamatkan kerajaan dari kehancuran.

Bab 7: Pengkhianatan dan Duka

Hujan telah reda, tetapi jejak kehancuran masih tampak di seluruh kerajaan. Istana Astraleon, yang selama ini berdiri megah, kini dipenuhi puing-puing dari serangan sebelumnya. Prajurit-prajurit kerajaan berpatroli di sekitar gerbang utama, waspada terhadap kemungkinan serangan berikutnya.

Di dalam ruangan rahasia yang tersembunyi di bawah istana, Kael dan Lyra duduk menghadap di atas meja kayu sederhana, peta kerajaan terbentang di antara mereka.

“Kita harus menyerang lebih dulu sebelum mereka kembali dengan kekuatan yang lebih besar,” kata Kael sambil menunjuk titik-titik penting di peta. “Jika kita bisa menghancurkan sistem komunikasi mereka, kita bisa membuat mereka buta untuk sementara waktu.”

Lyra menatap peta dengan serius. “Mereka memiliki teknologi yang jauh lebih maju. Tapi aku tahu satu kelemahan mereka,” katanya, suaranya tegas. “Mereka bergantung pada satu pusat komando. Jika kita bisa menghancurkan kapal utama mereka, seluruh pasukan mereka akan kehilangan koordinasi.”

Kael mengangguk. “Bagaimana caranya?”

Sebelum Lyra bisa menjawab, suara langkah kaki terdengar di lorong rahasia.

Kael langsung mencabut pedangnya, sementara Lyra berdiri dengan tubuh tegang.

Pintu terbuka, dan Jenderal Aldric masuk dengan wajah penuh ketegangan.

“Yang Mulia,” katanya dengan napas terengah-engah. “Istana dalam bahaya.”

Kael membukakan matanya. “Apa yang terjadi?”

Jenderal Aldric menatap Lyra dengan sorot mata tajam sebelum beralih kembali ke Kael.

“Kita memiliki…seorang pelaku.”


Mereka berjalan cepat menuju aula utama, di mana para penasihat kerajaan dan prajurit berkumpul dengan ekspresi serius. Di tengah-tengah ruangan, seseorang tergeletak dengan tangan terikat ke belakang, kepalanya tertunduk.

Kael mendekat, dan membelalak saat ia mengenali sosok itu.

Ronan, anak dari keluarga kaya.

Sahabatnya sejak kecil, orang yang selalu berdiri di sisinya dalam pertempuran dan pelatihannya.

“Ronan…?” suara Kael nyaris tak terdengar.

Ronan perlahan mendongak, matanya penuh dengan rasa bersalah dan putus asa.

“Maafkan aku, Kael,” suaranya serak. “Aku tidak punya pilihan.”

Jenderal Aldric menyerahkan sebuah gulungan kepada Kael. “Kami menangkapnya saat ia mencoba mengirim pesan ke musuh,” katanya dingin. “Pesan ini berisi koordinat kerajaan dan strategi pertahanan kita.”

Kael menggertakkan giginya. “Kenapa?”

Ronan menatap Kael, lalu menatap Lyra yang berdiri di belakang.

“Aku… aku takut.”

Lyra mengerutkan kening. “Takut?”

Ronan menghela nafas berat, seolah menimbang kata-katanya. “Kau tidak tahu apa yang mereka tawarkan. Mereka mengatakan bahwa mereka bisa menyelamatkan kita… asalkan kita menyerahkanmu.”

Kael menggenggam tangan. “Dan kamu mempercayai mereka?”

“Mereka lebih kuat dari kita, Kael!” Ronan berteriak. “Kita tidak bisa menang! Mereka akan menghancurkan kita jika kita melawan!”

“Kau memilih bertahan di negerimu karena takut?” suara Kael bergetar oleh emosi.

Ronan menundukkan kepalanya, tetapi tidak berkata apa-apa.

Jenderal Aldric menatap Kael dengan ekspresi keras. “Yang Mulia, bagaimana perintah Anda?”

Kael menatap sahabatnya, hatinya terasa berat.

Ini bukanlah pilihan yang mudah.

Tapi dia tahu satu hal.

Pengkhianatan ini tidak bisa dibiarkan.


Malam itu, langit Astraleon terasa lebih suram.

Ronan dijatuhi hukuman penjara seumur hidup. Itu adalah hukuman yang lebih ringan dibandingkan eksekusi, namun tetap menjadi penghormatan terbesar dalam sejarah kerajaan.

Kael berdiri di balkon istana, menatap langit gelap dengan pikiran yang kacau.

Di belakangnya, Lyra mendekat dengan langkah pelan.

“Kau baik-baik saja?” tanyanya lembut.

Kael menghela napas. “Aku kehilangan seorang teman hari ini.”

Lyra diam sejenak, lalu berkata, “Kadang… perang tidak hanya merenggut nyawa di medan pertempuran. Tapi juga di hati kita.”

Kael menoleh, memperhatikan.

“Jika kita bertahan,” lanjut Lyra, “kita bisa menyelamatkan lebih banyak orang. Aku tahu kau kehilangan Ronan, tapi… kita masih punya harapan.”

Kael terdiam beberapa saat, lalu mengangguk pelan.

“Aku benar-benar berharap kau benar-benar melakukannya.”

Mereka berdua berdiri di bawah langit yang gelap.

Dan di kejauhan, kapal musuh masih mengawasi, menunggu saat yang tepat untuk menyerang kembali.

Bab 8: Kebenaran di Balik Misi

Malam telah larut, namun di istana Astraleon, tak seorang pun bisa tidur dengan tenang. Langit tetap dihiasi dengan bayangan kapal musuh yang melayang di kejauhan, bagaikan predator yang menunggu saat yang tepat untuk menyerang mangsanya.

Di dalam ruang bawah tanah istana, Kael dan Lyra berdiri di depan sebuah meja besar yang berisi gulungan peta, sketsa kapal luar angkasa, dan catatan-catatan yang mereka kumpulkan. Cahaya lilin berpendar lembut di wajah mereka, menciptakan bayangan di dinding batu yang dingin.

“Kita butuh lebih banyak informasi,” kata Kael, matanya tajam meneliti catatan yang ada di depannya. “Kita tahu mereka mengincarmu, Lyra. Tapi kita belum tahu kenapa mereka benar-benar ingin menghancurkan kerajaan ini.”

Lyra menggigitnya, pikirannya berputar cepat.

“Ada satu cara,” katanya lirih.

Kael menatap penuh rasa ingin tahu. “Apa itu?”

Lyra menelan ludah, lalu mengangkat tangannya, menampilkan tanda bintang di pergelangan tangan yang kini bersinar redup.

“Tanda ini… bukan sekadar simbol ramalan,” katanya pelan. “Ini adalah kuncinya .”

Kael mengernyit. “Kunci?”

Lyra mengangguk. “Aku baru sadar setelah mengingatku kembali. Tanda ini bukan hanya menunjukkan bahwa aku ‘jodoh’ yang diramalkan untukmu. Ini adalah akses ke dalam sistem mereka. Mereka menanamkan tanda ini ke dalam tubuhku karena aku bagian dari mereka—bagian dari sistem yang mengendalikan kapal-kapal mereka.”

Kael menegangkan. “Jadi… jika kita bisa menggunakan tanda itu… kita bisa masuk ke dalam sistem mereka?”

Lyra mengangguk lagi, kali ini dengan lebih yakin. “Ya. Jika saya bisa menghubungkan tanda-tanda ini dengan teknologi mereka, saya mungkin bisa menemukan jawaban—tentang alasan mereka menargetkan Astraleon, dan mungkin juga… cara untuk menghentikan mereka.”

Kael mengamati Lyra dengan penuh perhatian. “Apa ada risikonya?”

Lyra terdiam sejenak sebelum akhirnya berkata, “Banyak.”

Kael menghela napas panjang. “tentu saja.”

Ia berjalan mondar-mandir beberapa kali sebelum akhirnya berhenti di depan Lyra.

“Kita akan melakukannya.”


Beberapa jam kemudian, mereka berada di salah satu ruang tersembunyi di istana, di mana para ilmuwan kerajaan bekerja untuk menikmati teknologi dari kapal Lyra yang jatuh beberapa hari lalu.

Salah satu ilmuwan, seorang pria tua bernama Eldon , menatap Lyra dengan penuh kekhawatiran.

“Yang Mulia,” katanya kepada Kael, “ini berbahaya. Jika tanda di tangannya benar-benar terhubung dengan sistem mereka, maka mereka juga bisa melacaknya.”

Kael menatap Lyra. “Kau yakin ingin melakukan ini?”

Lyra menatapnya dalam-dalam, lalu mengangguk.

“Aku harus tahu kebenarannya.”

Eldon menghela napas panjang. “Baiklah.”

Ia menghubungkan sebuah perangkat berbentuk kristal ke meja logam, lalu memberi isyarat kepada Lyra untuk meletakkan tangannya di atasnya.

Saat Lyra menyentuhkan pergelangan tangannya, cahaya biru menyala, memenuhi ruangan.


Gambaran demi gambaran melintas di benak Lyra.

Ia melihat ruangan yang luas, penuh dengan layar hologram yang menampilkan berbagai dunia yang jauh. Sebuah suara dingin berbicara di kepalanya.

“Astraleon adalah titik anomali.”

“Mereka tidak bisa berkembang lebih jauh.”

“Hapuskan mereka sebelum terganggunya keseimbangan.”

Lyra melihat data kilasan-kilasan—tentang bagaimana Astraleon memiliki sumber daya unik yang dapat memicu revolusi besar di dunia mereka. Mereka bukan hanya kerajaan biasa. Mereka memiliki energi yang bisa mengubah keseimbangan kekuatan di seluruh galaksi.

Maka, keputusan dibuat. Hancurkan Astraleon sebelum mereka menjadi ancaman.

Namun, ada satu informasi yang mengejutkan Lyra lebih dari apa pun.

Ia melihat rekaman dirinya sebelum ia dikirim ke Astraleon .

Ia tidak berada di laboratorium. Ia berada di sebuah ruangan gelap, dengan borgol di tangannya.

Dan seseorang berbicara padanya.

“Kau hanya satu-satunya yang bisa menghentikan mereka. Tapi mereka tidak akan membiarkanmu begitu saja.”

“Kami akan menghapus ingatanmu sementara, agar mereka tidak meninggalkanmu.”

“Kau harus menemukan jalan untuk melawan dari dalam.”

Lyra terhuyung ke belakang, napasnya tersengal.

Dia bukan hanya senjata.

Ia adalah bagian dari pemberontakan.

Ia dikirim ke Astraleon bukan untuk menghancurkan mereka, tetapi untuk melindungi mereka dari musuh yang lebih besar.


Cahaya biru tiba-tiba padam. Lyra terjatuh ke lantai, tubuhnya gemetar.

Kael langsung berlari mendekatinya, menahan tubuhnya agar tidak jatuh sepenuhnya.

“Lyra! Apa yang kau lihat?”

Lyra mengangkat wajahnya, matanya kini dipenuhi sesuatu yang baru—pemahaman, ketakutan, tetapi juga tekad.

“Kita harus menghentikan mereka,” katanya dengan suara bergetar. “Mereka tidak akan berhenti sampai kerajaan ini musnah.”

Kael menatapnya dalam diam, lalu mengangguk.

“Kalau begitu, kita akan melawan.”


Di kejauhan, di dalam kapal utama yang melayang di atas Astraleon, sesosok berdiri di depan layar hologram, menyaksikan semuanya.

Senyum kecil terbentuk di wajahnya.

“Akhirnya kau ingat, Lyra-7.”

“Tapi apakah kau cukup kuat untuk menghadapi kebenaran yang sesungguhnya?”

Bab 9: Melawan Takdir

Langit di atas Astraleon tampak semakin gelap. Bintang-bintang yang biasa bersinar terang kini tertutup oleh bayangan kapal perang raksasa yang melayang di atas kerajaan. Dari kejauhan, suara alarm masih menggema, menandakan bahwa serangan besar bisa datang kapan saja.

Di dalam ruang strategi yang tersembunyi di bawah istana, Kael dan Lyra berdiri di hadapan para penasihat kerajaan dan jenderal militer. Peta kerajaan dan model kapal musuh terbentang di meja, sementara suasana tegang membuat ruangan menjadi tegang.

Jenderal Aldric berbicara lebih dulu, suaranya penuh ketegasan.

“Yang Mulia, kita tidak bisa menunggu lebih lama lagi. Musuh telah menunjukkan kekuatan mereka, dan setiap detik yang berlalu, mereka semakin siap untuk menghancurkan kita.”

Kael mengangguk. “Aku tahu. Itulah kenapa kita harus menyerang lebih dulu.”

Seorang penasihat kerajaan, Lord Gareth , menggelengkan kepalanya. “Tapi bagaimana? Teknologi kita tidak sebanding dengan mereka. Jika kita menyerang secara frontal, kita hanya akan menjadi umpan meriam.”

Semua mata beralih pada Lyra.

Ia mengangkat tangannya, menampilkan tanda berbentuk lingkaran bintang yang bersinar samar di pergelangan tangannya.

“Aku bisa masuk ke sistem mereka,” katanya, suaranya mantap. “Tapi aku butuh waktu.”

Kael menatapnya. “Apa yang kamu perlukan?”

Lyra menarik napas dalam. “Aku harus menyusup ke kapal utama mereka. Jika aku bisa mencapai inti sistem komando, aku bisa menjangkau jaringan mereka dari dalam. Itu akan memberi kita kesempatan untuk menyerang.”

Ruangan itu dipenuhi kenyamanan.

Semua orang tahu betapa berbahayanya rencana ini.

Kael menatap Lyra dengan mata penuh pertimbangan. “Kau yakin bisa melakukannya?”

Lyra membalasnya. “Aku harus.”

Kael menggenggam tangan, lalu mengangguk. “Kalau begitu, kita akan masuk ke sana.”


Malam itu, rencana perlawanan dimulai .

Prajurit Astraleon, yang biasanya bertahan di balik tembok kerajaan, kini bergerak diam-diam menuju titik pertemuan kapal musuh di hutan luar kota. Kael memimpin pasukan utama, sementara Lyra berkumpul bersama sekelompok kecil prajurit elit yang bertugas mengawalinya menuju kapal utama.

Langkah mereka cepat, senyap, seperti bayangan di tengah malam.

Ketika mereka mendekati kapal musuh, Lyra merasakan sesuatu yang aneh dalam dirinya. Jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya, seolah mengenali tempat ini.

Kael yang berjalan sambil menoleh. “Kau baik-baik saja?”

Lyra menelan ludah, lalu mengangguk. “Ya… hanya sedikit cemas.”

Kael tersenyum kecil. “Aku juga.”

Namun, sebelum mereka bisa melangkah lebih jauh, suara sirene menderu-deru di udara.

Mereka telah ditemukan.

Dari bayangan pepohonan, makhluk-makhluk berzirah hitam muncul satu demi satu, mata merah mereka bersinar di kegelapan. Senjata mereka mengeluarkan suara mendesis, siap menembakkan proyektil energi.

Kael menghunus pedangnya. “Bersiaplah!”

Prajurit Astraleon segera membentuk formasi, dan dalam sekejap, pertempuran pecah di tengah hutan.

Kael bergerak cepat, pedangnya mengurung musuh satu demi satu. Cahaya biru dari senjata mereka beradu dengan kilatan pedang, menciptakan percikan api yang memancarkan kegelapan.

Di sisi lain, Lyra berusaha berlari kapal utama di tengah kekacauan.

Namun, saat ia hampir mencapai pintu masuk, seseorang muncul di hadapannya.

Seorang pria berjubah perak, berdiri dengan tangan bersedekap.

Lyra terdiam seketika, matanya membelalak saat mengenali wajahnya.

“Kau…”

Pria itu tersenyum tipis. “Sudah lama, Lyra-7.”

Kael, yang masih bertengkar, menoleh ke arah mereka. “Siapa dia?”

Lyra mengepalkan tangannya.

“Dia adalah Arkail —pemimpin pasukan yang mengirimku ke sini.”

Arkail menatap Lyra dengan tenang. “Aku senang kau sudah mengingat segalanya. Tapi sayang sekali, kau salah memilih sisi.”

Lyra mengatupkan rahangnya. “Aku memilih kehendakku sendiri .”

Arkail menghela napas, seolah kecewa. “Dan kau pikir mereka akan menerimamu? Mereka akan selalu melihatmu sebagai ancaman, Lyra. Kau diciptakan sebagai senjata. Tidak peduli seberapa keras kau berusaha, kau tetap monster bagi mereka.”

Kael bergerak maju. “Dia bukan monster.”

Arkail menatap Kael dan tersenyum tipis. “Ah, Pangeran Astraleon. Aku lupa bahwa kau masih hidup.”

Ia mengangkat tangannya, dan dalam sekejap, medan energi tak terlihat menghantam Kael dengan keras, membuatnya terlempar ke belakang.

“Kael!” teriak Lyra.

Kael tersungkur di tanah, dadanya terasa nyeri akibat hantaman energi itu. Namun, ia segera bangkit, menatap Arkail dengan penuh amarah.

Arkail menoleh kembali ke Lyra. “Aku datang untuk membawamu kembali, Lyra. Jika kau ikut denganku, aku mungkin bisa meyakinkan Dewan untuk tidak menghancurkan kerajaan ini.”

Lyra menatap Arkail dengan mata penuh kebencian. “Dan membiarkan kalian menghapus ingatanku lagi? Tidak.”

Arkail menghela napas, lalu mengangkat tangannya. “Kalau begitu, aku tidak punya pilihan lain.”

Dalam sekejap, cahaya biru terang meledak di sekeliling mereka.

Lyra hanya memiliki satu detik untuk bereaksi sebelum semuanya menjadi gelap.


Ketika dia sadar, dia berada di dalam kapal musuh.

Tangannya dibungkus oleh medan energi, dan di hadapannya, Arkail berdiri dengan ekspresi puas.

“Kau sudah cukup bermain-main,” katanya. “Kini saatnya kau kembali ke tempatmu seharusnya berada.”

Lyra menatap tajam. “Aku tidak akan membiarkan kalian menang.”

Arkail tersenyum. “Kita lihat saja.”


Di luar, Kael terhuyung berdiri, matanya menatap kapal yang mulai bergerak naik ke udara.

Lyra telah dibawa pergi .

Tangannya mengepal keras, amarah membakar dada.

Ia menoleh ke pasukan Astraleon yang tersisa.

“Kita belum kalah,” tegasnya. “Kita akan membawa Lyra kembali.”

Matanya menatap kapal di langit.

“Aku tidak akan membiarkan takdir memisahkan kita.”

Bab 10: Perpisahan yang Menyakitkan

Di dalam kapal perang raksasa yang melayang di atas Astraleon , Lyra terperangkap dalam ruang tahanan transparan yang bercahaya biru. Tangannya masih terikat oleh medan energi, tubuhnya terasa lemah akibat serangan Arkail sebelumnya.

Di hadapannya, Arkail berdiri dengan tenang, menatap seperti seorang guru yang kecewa pada muridnya.

“Seharusnya kau tidak membuat semuanya menjadi sulit, Lyra,” katanya dengan nada datar.

Lyra menatap tajam. “Dan kau seharusnya tahu bahwa aku tidak akan membiarkan kalian menghancurkan dunia ini.”

Arkail menghela napas, lalu melangkah lebih dekat. “Astraleon bukan tempatmu. Kau dibuat untuk tujuan yang lebih besar. Kau bisa memiliki segalanya jika kau kembali.”

Lyra menggenggam tangannya. “Aku sudah memiliki segalanya di sini.”

Arkail menatapnya dalam diam, lalu tersenyum tipis. “Kau jatuh cinta pada Pangeran itu, bukan?”

Lyra terkejut sesaat, tapi dia tidak menyangkalnya.

Arkail mendekat, suaranya lebih pelan tapi tajam seperti belati. “Cinta tidak akan mengubah siapa dirimu, Lyra. Kau tetap memegang senjata, dan saat mereka mengetahui kebenarannya, mereka akan meninggalkanmu.”

Lyra ingin membantah, tetapi kata-kata Arkail menancap dalam pikiran.

Apakah Kael benar-benar akan menerimanya, bahkan setelah ia tahu bahwa Lyra adalah senjata yang diciptakan untuk membunuh?

Namun sebelum dia bisa memikirkan penjelasannya, alarm tiba-tiba berbunyi.

“PERINGATAN! PENYUSUP TERDETEKSI!”

Arkail mengernyit. “Apa?”

Sebuah ledakan besar yang mengejutkan kapal, dan dalam sekejap, sistem penjaga Lyra mati.

Ia jatuh ke lantai, tetapi segera bangkit.

Di balik pintu ruang tahanan yang kini terbuka, seseorang berdiri dengan pedang di tangan dan napas memburu.

Kael.

Matanya menyala dengan tekad yang tak tergoyahkan.

“Maaf aku terlambat,” katanya sambil tersenyum miring.

Lyra menatap dengan mata yang penuh emosi. “Bagaimana kamu bisa ke sini?”

Kael mengangkat bahu. “Sedikit bantuan dari teman-teman kita. Ternyata kita bukan satu-satunya yang ingin menghentikan mereka.”

Arkail mendecakkan lidahnya. “Sungguh tindakan bodoh, Pangeran. Kau datang sendirian ke sarang musuh?”

Kael memutar. “Kalau aku tidak datang, aku tidak akan bisa membawa pengantinku pulang.”

Lyra merasa dadanya menghangat mendengar kata-kata itu.

Arkail menghela napas, lalu menarik pedang energinya. “Baiklah. Jika itu yang kau inginkan.”

Pertarungan pun dimulai.


Kael dan Arkail bertarung dengan sengit.

Pedang Kael beradu dengan energi Arkail, menciptakan percikan api yang menyilaukan. Setiap serangan Arkail penuh dengan presisi, tetapi Kael melawannya dengan keberanian dan keterampilan yang telah ia asah selama bertahun-tahun.

Di sisi lain, Lyra berusaha mencapai konsol utama kapal. Jika ia bisa meretas sistem, ia bisa menghentikan seluruh pasukan musuh dalam sekejap.

Namun, sebelum ia bisa menyentuh panelnya, sebuah suara menggema di pikiran.

“Kau tahu satu-satunya cara untuk menghentikan mereka, bukan?”

Lyrahati.

Lalu, ingatannya kembali.

Ia melihat masa lalunya, misi yang diberikan kepadanya, dan satu protokol rahasia yang hanya bisa diaktifkan oleh dirinya sendiri.

“Jika Anda mengaktifkan izin ini, seluruh sistem inti kapal akan hancur… tapi begitu juga dengan Anda.”

Lyra menggigit rubah.

Dia punya dua pilihan:

  1. Melarikan diri bersama Kael dan berharap Astraleon bisa bertahan dalam serangan berikutnya.
  2. Mengorbankan dirinya untuk menghancurkan kapal ini dari dalam.

Ia menatap Kael, yang masih bertarung mati-matian melawan Arkail.

Hatinya sakit.

Dia tahu apa yang harus dia lakukan.

Dengan napas gemetar, ia menekan simbol di pergelangan tangannya.

“Aktifkan Protokol Penghancuran Diri.”

Alarm berbunyi lebih keras. Seluruh kapal mulai bergetar hebat.

Arkail terkejut. “Tidak… Lyra, apa yang kamu lakukan?!”

Kael menoleh dengan ekspresi horor. “Lyra! Hentikan!”

Lyra menatapnya dengan air mata menggenang. “Kael… Aku harus melakukan ini.”

Kael mencoba berlari ke arahnya, tetapi Arkail menahan langkahnya. “Tidak, kamu tidak bisa berhenti sekarang.”

Cahaya biru mulai menyelamatkan Lyra, tubuhnya perlahan berubah menjadi energi.

“Kael,” suaranya lembut, penuh dengan emosi. “Aku… Aku ingin hidup bersamamu. Aku ingin kita memiliki masa depan. Tapi ini… ini satu-satunya cara untuk memastikan Astraleon selamat.”

Kael mengguncang kepalanya, air mata mulai jatuh. “Tidak! Kita akan menemukan jalan lain! Kau tidak harus mengorbankan dirimu sendiri!”

Lyra tersenyum kecil.

“Tidak ada jalan lain.”

Kael berlari ke arahnya, tetapi Lyra mengangkat tangannya, menciptakan medan energi yang mencegahnya mendekat.

“Aku mencintaimu, Kael.”

Cahaya biru menyala terang, menutupi seluruh ruangan.

Dalam sekejap, kapal raksasa itu mulai runtuh dari dalam.

Kael jatuh ke tanah, merasakan dinginnya mengecewakan jantungnya.

Lyra tidak ada apa-apanya.


Di permukaan, penduduk Astraleon melihat langit yang berubah warna. Kapal musuh yang melayang di atas kerajaan tiba-tiba mulai meledak dari dalam, cahaya biru menyebar di angkasa.

Kael berhasil kembali ke kerajaan dengan selamat, tetapi jantungnya kosong.

Ia berdiri di puncak menara istana, menatap langit yang kini kembali tenang.

Angin malam berembus pelan.

Lalu, dalam sekejap, sebuah kilatan cahaya biru melintasi angkasa.

Kael menutup matanya, membiarkan air mata terakhir jatuh.

“Aku juga mencintaimu, Lyra.”

Dan di kejauhan, di antara bintang-bintang yang bersinar, suara Lyra terdengar lembut…

“Aku selalu bersamamu.”

TAMAT.

Novel ini ditulis oleh Evi Fauzi, Penulis dari Novel Singkat. Baca juga novel romantis, petualangan dan fiksi ilmiah lainnya.

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Novel Terbaru

  • Terraformers of Solitude (Para Terraformer Kesunyian)
  • Novel Singkat: Cinta di Ujung Sajadah
  • Novel Singkat: Lantai 38 – Antara Merger Perusahaan, Rumah Mewah
  • Senja di Balkon Penthouse – Novel Singkat 7 Bab
  • Novel Pendek: Istri Kontrak Sang Sultan

Arsip

  • December 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025

Kategori

  • Fiksi Ilmiah
  • Petualangan
  • Romansa

Tentang Kami

Tentang Kami

aksi cinta dan kehilangan cinta dan pengorbanan Cinta dan Takdir cinta lintas dimensi cinta pertama cinta segitiga cinta sejati Cinta Terlarang cinta yang terlupakan dunia paralel eksperimen genetika Eksperimen Rahasia identitas ganda Ilmuwan kehilangan kisah cinta kisah cinta emosional kisah cinta menyedihkan kisah cinta sedih kisah cinta tragis konspirasi Misteri novel emosional novel fiksi ilmiah Novel Romantis pengkhianatan Pengorbanan Pengorbanan Cinta penjaga waktu perjalanan waktu Petualangan petualangan emosional realitas paralel reinkarnasi romansa Romansa Cinta romansa tragis Romantis Romantis gelap romantis tragis teknologi canggih thriller thriller psikologis Thriller Waktu

Genre Favorit

  • Fiksi Ilmiah
  • Petualangan
  • Romansa
©2026 Baca Novel Singkat Di sini | Design: Newspaperly WordPress Theme