Skip to content

Baca Novel Singkat Di sini

Menu
  • Home
  • Pilihan Novel
    • Romansa
    • Fiksi Ilmiah
    • Petualangan
  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Privacy Policy
  • Disclaimer
  • Terms and Conditions
Menu
Novel Singkat Kita Tidak Pernah Lahir di Dunia yang Sama

Novel Singkat: Kita Tidak Pernah Lahir di Dunia yang Sama

Posted on May 29, 2025

Raka, seorang ilmuwan muda yang obsesif terhadap teori dimensi paralel, secara tidak sengaja membuka celah ke dunia lain melalui eksperimen resonansi kuantum. Di balik layar biru misterius, ia bertemu Keira seorang gadis yang ternyata adalah kekasihnya di dimensi lain. Meski mereka hidup di dunia yang berbeda, komunikasi mereka tumbuh menjadi cinta yang dalam.

Namun celah itu tidak stabil. Pemerintah dimensi Keira mengancam akan menutupnya selamanya. Dalam putus asa, Raka mempertaruhkan nyawanya untuk menyeberang ke dunia Keira meski tahu tubuhnya mungkin tidak sanggup bertahan. Ia berhasil sampai… tapi Keira telah melupakannya.

Dalam dunia yang tak mengenalnya, Raka memilih tetap tinggal sebagai orang asing. Sampai akhirnya, Keira mulai merasakan sesuatu yang familiar. Di antara dua dunia yang menolak cinta mereka, mereka menemukan satu cara untuk menyatu: memilih untuk saling jatuh cinta lagi, dari awal.

Bab 1: Layar yang Tak Pernah Menyentuh

Suara mesin masih berdesing lemah di ruang bawah tanah tempat Raka menghabiskan hari-harinya. Di dalam ruangan itu, hanya ada dia, aroma debu, dan seberkas cahaya biru dari sebuah layar transparan yang menggantung di udara. Layar itu tak punya kabel, tak punya sumber listrik, dan tak pernah padam sejak pertama kali menyala lima hari lalu.

Di balik layar itu, ada Keira. Gadis dengan senyum hangat dan mata yang tak pernah terasa asing, seolah Raka sudah mengenalnya selama bertahun-tahun. Padahal mereka baru saling bicara lima malam terakhir—melalui sesuatu yang seharusnya tak ada di dunia ini.

“Kamu telat hari ini,” suara Keira terdengar jernih, meski tidak berasal dari speaker apa pun. Seperti langsung muncul dalam benaknya.

Raka menghela napas dan duduk di kursi reyot dekat meja kerja. “Maaf. Aku tadi sempat nyaris dimarahi dosen pembimbing karena tidak menyerahkan laporan eksperimen minggu lalu.”

“Kalau aku jadi dosenmu, aku juga akan marah,” kata Keira, tertawa pelan. “Kamu sibuk mengurusi dunia lain, tapi lupa mengurus dunia sendiri.”

Raka balas tersenyum. “Tapi kamu lebih menarik daripada seluruh dunia ini.”

Keira menggeleng, wajahnya merona. “Kamu tahu, di duniaku, kamu juga ilmuwan. Tapi kamu sudah meninggal lima tahun lalu. Karena kecelakaan reaktor waktu eksperimen teleportasi.”

Ucapan itu membuat dada Raka terasa kosong sesaat. Ia memandangi Keira lebih lama. “Jadi, di dunia paralelmu, aku sudah mati?”

Keira mengangguk. “Dan saat layar ini muncul di kamarku, aku pikir itu hanya error dari sistem holografik. Tapi kemudian aku melihat kamu. Versi kamu yang masih hidup.”

“Dan kamu tetap memilih untuk bicara denganku,” gumam Raka.

“Karena kamu… masih kamu.”

Keheningan menyelinap di antara mereka. Layar biru itu tetap bersinar, samar, seperti pintu tipis yang memisahkan dua dunia, dua versi kehidupan yang tak pernah sejajar. Keira duduk bersila di kamarnya yang terlihat jauh lebih rapi dan hangat daripada ruang eksperimen Raka. Cahaya dari lampu gantung berbentuk bulan menyinari rambutnya.

“Aku mencatat semua percakapan kita,” kata Raka, mengalihkan pandangan ke buku catatannya. “Dan aku menyadari satu hal.”

“Apa itu?”

“Semakin sering kita bicara, layar ini semakin stabil. Awalnya hanya muncul beberapa menit, sekarang bisa berjam-jam.”

Keira menunduk. “Raka… aku baru saja dapat informasi dari pusat riset di duniaku. Mereka mendeteksi celah dimensi ini. Dan mereka bilang, dalam sepuluh hari, akan ditutup. Selamanya.”

Dada Raka terasa sesak. Ia memejamkan mata, mencoba menenangkan diri. “Kita bisa cari cara. Ada teori tentang jembatan kuantum, mungkin kita bisa memakainya untuk memperkuat hubungan dimensi ini.”

“Kamu lupa satu hal penting.”

“Apa?”

“Kita tidak pernah lahir di dunia yang sama. Bahkan jika jembatan itu berhasil, kamu tetap dari dunia ini, dan aku dari sana. Sistem realita tidak akan pernah mengizinkan kita hidup berdampingan.”

“Tapi kita bisa mencintai.”

Keira menatapnya lama, sebelum mengangguk pelan. “Ya. Kita bisa mencintai.”

Raka bangkit dari kursinya dan berjalan ke jendela laboratorium. Di luar hanya ada taman kecil yang mulai dipenuhi bayangan malam. Langitnya gelap, tanpa bintang. Ia memandangi bayangan dirinya di kaca. “Lucu ya,” katanya lirih, “kita hidup di era ketika mesin bisa membaca pikiran dan menyusun ulang gen, tapi tetap tidak bisa melawan garis takdir.”

Keira berdiri di balik layarnya. “Raka?”

“Ya?”

“Kalau kamu diberi satu pilihan—melupakan semua ini, atau mengingatnya tapi dengan rasa sakit selamanya—kamu akan pilih yang mana?”

Raka menoleh, matanya sedikit memerah. “Aku akan memilih mengingatnya. Bahkan jika setiap kali aku mengingat, rasanya seperti luka yang tidak pernah sembuh.”

Keira tertawa kecil, meski wajahnya mulai basah. “Kamu tetap romantis, bahkan saat sains tidak berpihak pada kita.”

Malam terus beranjak. Angin dari ventilasi menderu pelan, menggeser catatan-catatan di meja Raka. Di seberangnya, Keira mulai memainkan lagu lembut dari kotak musik kecil yang biasa ia letakkan dekat layar. Suara musik itu nyaris tidak terdengar, tapi cukup untuk membuat hati terasa berat.

“Keira…”

“Hmm?”

“Kalau celah ini tertutup nanti, dan aku tidak bisa melihatmu lagi, bolehkah aku tetap berharap bahwa ada versi kita di suatu dunia yang benar-benar bisa bersama?”

Keira menatapnya. “Bukan hanya boleh. Aku akan percaya itu.”

Dan di tengah dunia yang tak mengizinkan mereka bersentuhan, Raka dan Keira tetap tinggal—di tepi layar yang tak pernah menyentuh, namun selalu mampu menyampaikan satu hal yang dunia mereka sendiri gagal beri: cinta yang seutuhnya.

Raka memejamkan mata dan berbisik, “Selamat malam, Keira.”

Suara dari layar menjawab, “Selamat malam, Raka. Sampai besok… jika dunia ini belum menutup jalan kita.”

Layar itu perlahan meredup. Dan ruangan pun kembali sunyi.

Satu hari dari sepuluh telah berlalu.

Dan mereka masih belum menemukan jalan untuk menyatu.

Bab 2: Resonansi di Antara Dua Dunia

Raka tidak tidur malam itu. Ia menatap layar kosong yang biasanya memperlihatkan wajah Keira. Setelah padam, layar itu tidak bisa dinyalakan kembali dengan perintah atau tombol apa pun. Ia hanya muncul sendiri, seolah punya kehendak.

Jam digital di dinding menunjukkan pukul 03.44 dini hari. Ruangan masih remang-remang, dan tubuhnya nyaris tak bisa digerakkan karena kelelahan. Tapi pikirannya terus bekerja. Sejak Keira memberitahunya bahwa celah dimensi ini akan tertutup dalam sepuluh hari, sesuatu di dalam dirinya berubah. Bukan hanya dorongan cinta, tapi juga rasa takut. Ketakutan bahwa sesuatu yang selama ini tak pernah dimiliki, tapi sangat berarti, akan hilang begitu saja.

Ia membuka catatan-catatannya. Diagram, perhitungan, frekuensi partikel, hipotesis liar tentang ikatan antara dimensi paralel. Semua tercoret-coret, kertas-kertas berserakan, dan layar monitor komputernya berkedip lemah.

“Ada satu kemungkinan…” gumamnya.

Ia mulai menulis ulang teori yang pernah ia tinggalkan: resonansi emosional sebagai jembatan dimensi. Suatu konsep absurd yang tidak pernah diakui jurnal manapun. Tapi setelah lima malam bersama Keira, ia yakin teori itu lebih nyata dari apapun.

Raka percaya bahwa hubungan mereka—entah bagaimana—menciptakan getaran, resonansi yang menyatukan dua dunia hanya melalui kesadaran mereka berdua.

“Jika cinta bisa memicu stabilitas celah ini…” ia menulis cepat, “maka memperkuatnya bisa membuat portal bertahan lebih lama. Atau bahkan… memungkinkan pertemuan fisik.”

Ia mengetik formula kasar di laptop. Menghubungkan data dari eksperimen minggu lalu, lalu menggabungkannya dengan denyut emosional yang ia rekam dari percakapan mereka.

Detak jantung, pola suara, tekanan nada—semuanya ia masukkan. Ia butuh parameter yang dapat diuji. Tapi satu hal yang ia tahu pasti: Keira hanya muncul saat ia benar-benar menginginkannya, bukan secara logika, tapi melalui perasaan.

Dan saat pikirannya kembali ke Keira, layar itu menyala.

Tiba-tiba.

Seperti cahaya kecil di tengah hutan gelap.

“Raka?” suara Keira terdengar serak, seolah dia juga baru bangun.

“Kau terbangun?” tanya Raka, setengah tak percaya.

“Entah kenapa, aku merasa kamu memanggilku.”

Raka tersenyum. “Mungkin karena aku memang memanggilmu. Tapi bukan dengan suara. Dengan sesuatu yang lebih dalam.”

Keira duduk, rambutnya sedikit kusut. Di baliknya, jendela kamar memperlihatkan langit pagi yang berwarna keperakan. “Aku baru sadar, kita hidup dalam waktu yang tidak sama juga, ya?”

“Sepertinya begitu. Tapi mungkin… itu bukan kebetulan.”

Keira menatapnya lekat. “Apa kamu menemukan sesuatu?”

Raka mengangguk. “Mungkin ini terdengar gila. Tapi aku sedang membangun teori bahwa kita bisa memperkuat celah ini dengan emosi.”

“Emosi?”

“Lebih tepatnya… cinta.”

Keira tertawa kecil. “Kamu benar-benar ilmuwan paling aneh yang pernah kutemui.”

“Tapi kau menyukaiku.”

Keira menunduk, pipinya merona samar. “Sayangnya, iya.”

Suasana menjadi hangat lagi. Tapi hanya sebentar. Karena Keira lalu berkata, “Raka, tadi siang… seseorang dari Departemen Penjaga Dimensi datang ke rumahku. Mereka bilang celah ini tidak stabil, dan bisa mengganggu keseimbangan realitas.”

“Apa yang akan mereka lakukan?”

“Mereka memberiku peringatan. Katanya, jika aku terus berkomunikasi, aku bisa mengalami disosiasi realitas. Mereka mengancam akan memutus jaringan—apa pun itu—yang menghubungkanku denganmu.”

Raka merasakan darahnya dingin. “Tidak. Aku tidak bisa kehilangan kamu. Lagi.”

Keira menatapnya dalam-dalam. “Aku juga tidak mau kehilanganmu.”

Raka berdiri dan berjalan mondar-mandir di ruangannya. Ia tahu waktunya terbatas. Setiap hari yang mereka lewati membawa mereka lebih dekat pada akhir. Tapi kali ini, ia tidak akan hanya menunggu nasib. Ia ingin melawan, walau harus menabrak batas sains.

“Aku butuh satu hal darimu, Keira,” kata Raka setelah diam cukup lama.

“Apa?”

“Aku butuh kamu mencatat semua yang kamu rasakan setiap kali layar ini terbuka. Detak jantung, mimpi sebelum terbangun, bahkan aroma yang kamu cium. Mungkin itu bisa membantuku menemukan pola pembuka celah ini.”

Keira mengangguk. “Aku akan lakukan.”

Dan tepat sebelum layar padam, Keira berbisik, “Raka… jika pada akhirnya kamu tidak berhasil… tolong jangan benci aku karena telah membuatmu jatuh cinta pada seseorang dari dunia yang bukan milikmu.”

Raka menggigit bibirnya. “Aku tidak akan pernah membencimu. Aku akan benci dunia ini, yang tak pernah memberi kita kesempatan.”

Layar padam.

Ruangan kembali hening.

Raka duduk diam. Matanya menatap kosong ke arah tempat layar tadi menyala.

Malam kedua usai. Delapan hari tersisa.

Dan dunia mereka masih berjauhan. Tapi sekarang… mereka mulai mencari cara untuk menjembatani dua kehidupan yang seharusnya tak pernah bersinggungan.

Bab 3: Delapan Frekuensi Sebelum Lenyap

Pagi datang tanpa suara. Di luar jendela laboratorium, langit mendung menggantung seperti luka yang belum sembuh. Raka belum tidur semalam. Kopi instan dingin di atas meja, kabel berserakan, dan tumpukan data memenuhi layar laptop. Namun matanya terus menatap satu titik di tengah ruangan—tempat layar biru biasa muncul. Hari ini adalah hari ketiga.

Delapan hari tersisa.

Ia membuka buku catatan Keira yang baru saja dikirim lewat data sinkron antardimensi. Entah bagaimana, sistem layar itu juga memungkinkan mereka saling bertukar data digital dalam bentuk sederhana. File kecil, padat, tanpa suara, tanpa gambar. Tapi isinya sangat berarti bagi Raka.

Hari ke-1: layar menyala tepat pukul 22.31 waktu duniaku. Aku baru saja selesai menangis karena mimpi tentangmu. Aku melihat kita makan malam di bawah pohon besar dengan lentera kaca.

Hari ke-2: aku merasa jantungku berdetak terlalu cepat sejak sore. Rasanya seperti tahu kamu akan datang.

Raka membaca setiap baris dengan saksama. Ia mulai membuat grafik: waktu kemunculan layar, emosi dominan Keira saat itu, dan data dari alat pengukur radiasi mini yang ia tanam di lab. Ia menyadari satu hal mengejutkan—setiap kali Keira mengalami emosi ekstrem, celah dimensi itu menjadi lebih kuat.

Emosi, pikirnya. Seolah dunia ini tidak lagi berdasar pada hukum Newton, tapi pada sesuatu yang lebih… manusiawi.

Raka menyalakan alat pemindai dimensi yang ia rakit dari barang-barang sisa. Mesin itu mengeluarkan suara seperti dengungan lebah. Frekuensinya meningkat, dan layar biru mulai tampak samar.

“Keira,” bisiknya, berharap.

Cahaya muncul. Tidak secerah biasanya, tapi cukup untuk menampakkan wajah Keira yang kelelahan.

“Kamu memanggilku?” suaranya serak.

“Aku menciptakan resonansi buatan,” kata Raka cepat. “Frekuensi emosional ditambah gelombang elektromagnetik pada spektrum rendah. Aku pikir kita bisa membuat portal lebih lama terbuka.”

Keira tidak menjawab langsung. Ia hanya menatapnya.

“Ada apa?” tanya Raka.

“Aku… mimpi buruk tadi malam.”

Raka diam, menunggu.

“Aku bermimpi kau datang ke duniaku,” ucap Keira pelan. “Tapi kamu tidak bisa bernapas. Semakin lama kamu tinggal di sini, tubuhmu mulai larut. Seolah dunia ini menolak keberadaanmu.”

Raka menatapnya dalam-dalam. “Mungkin itu bukan mimpi. Mungkin itu peringatan.”

“Peringatan bahwa kita memang tak seharusnya bersatu?”

“Tidak,” kata Raka cepat. “Peringatan bahwa waktu kita sedikit, jadi kita harus mempercepat langkah.”

Keira terdiam sejenak, lalu mengangguk. “Apa yang bisa kulakukan?”

Raka menunjuk file baru di layar. “Kirimkan padaku rekaman suara jantungmu saat kamu merindukanku. Aku akan gabungkan dengan rekaman suara detak jam di kamarku. Mungkin dengan menyatukan dua ritme, kita bisa menyelaraskan waktu kita.”

Keira tertawa kecil. “Kamu selalu berpikir dengan cara paling romantis dan paling teknis sekaligus.”

Raka ikut tertawa. Tapi dalam tawanya, ada getaran getir. Ia tahu ia sedang berpacu dengan waktu—dan bukan waktu yang bisa dimanipulasi. Ini waktu eksistensial, waktu yang menolak cinta yang salah jalur semesta.

“Keira, jika semuanya gagal, aku ingin kamu tahu satu hal.”

“Apa?”

“Bahwa aku tidak menyesal telah mengenalmu. Walau hanya dalam layar.”

Mata Keira berkaca-kaca. “Dan jika semua ini harus berakhir, aku ingin akhir itu penuh dengan kita, bukan penyesalan.”

Mereka saling menatap, menahan tangis, menahan kenyataan. Tidak ada sentuhan, tidak ada pelukan. Hanya cahaya yang memudar perlahan, memberi tahu bahwa waktu mereka hari ini telah habis.

Sebelum layar padam, Keira sempat berkata, “Raka, aku dengar sesuatu dari pusat dimensi. Mereka akan mencoba menutup celah ini lebih cepat. Mungkin hanya tinggal lima hari.”

Dan lalu layar itu mati. Seperti napas yang ditarik paksa dari paru-paru.

Raka terduduk. Kepalanya tertunduk. Lima hari.

Ia menatap tumpukan grafik dan teori yang belum selesai. Mesin yang terus berdengung. Dan layar yang sekarang hanya udara kosong.

Delapan hari telah menjadi lima. Dan dunia tidak pernah ingin mereka bersatu. Tapi Raka bersumpah, ia akan melawan kenyataan itu dengan satu hal yang lebih keras dari logika:

Cinta yang tak tahu caranya menyerah.

Bab 4: Lima Hari Sebelum Kehampaan

Raka tak lagi tahu seperti apa rasanya hidup tanpa Keira. Lima hari lalu, ia adalah ilmuwan kesepian yang tenggelam dalam teori yang dianggap gagal. Sekarang, setiap detik hidupnya hanya berisi satu tujuan: menyatukan dua dunia yang tidak pernah seharusnya bertemu.

Laboratorium kini tampak seperti medan perang. Kabel menjuntai dari langit-langit, layar monitor penuh simulasi gelombang paralel, dan rekaman suara jantung Keira diputar terus menerus dengan ritme jam tua milik ayah Raka. Semuanya ia susun dalam pola yang rumit, mencari irama sempurna untuk menyeimbangkan resonansi dimensi.

Namun malam ini, layar biru tak kunjung menyala.

Raka duduk diam di lantai dingin. Detak jam terlalu keras di telinganya. Ia menunggu, seperti seseorang menanti panggilan dari orang yang sedang sakit parah—penuh harap, tapi tahu harapan bisa saja mengkhianati.

Lima belas menit. Tiga puluh menit. Satu jam.

Layar tetap gelap.

“Kau tidak datang malam ini, Keira?” bisiknya pelan.

Ia memejamkan mata, berusaha membayangkan suara Keira, tawa lembutnya, tatapan matanya yang selalu terasa seperti rumah. Tapi imajinasi tak mampu menggantikan kehadiran. Ia tetap sendiri.

Tiba-tiba, suara notifikasi dari mesin pemindai dimensi menyentak kesadarannya. Layar menyala—redup, goyah, seperti sedang berjuang untuk tetap hidup. Dan wajah Keira muncul. Tapi berbeda.

Mata Keira bengkak. Rambutnya acak-acakan. Suaranya parau.

“Raka…”

“Keira, apa yang terjadi?”

“Aku… diperingatkan. Mereka akan menutup celah ini malam ini. Bukan lima hari lagi. Aku harus memilih untuk memutus komunikasi, atau mereka akan menghapus ingatanku tentang kamu.”

Dunia Raka berhenti. Jantungnya mencelos.

“Apa? Tidak! Kau tidak bisa biarkan mereka melakukannya.”

“Aku tidak ingin melupakamu,” ujar Keira, menahan air mata. “Tapi jika aku tetap membuka layar ini… mereka bilang duniaku bisa runtuh. Realitasnya retak.”

“Biarkan runtuh!” Raka berdiri, suara gemetar. “Apa artinya dunia tanpa kamu? Apa artinya semua ini kalau kita menyerah?”

Keira menatapnya. Air matanya jatuh perlahan.

“Aku juga tidak tahu,” katanya pelan. “Aku juga takut, Raka. Tapi aku lebih takut hidup tanpa kenangan tentangmu.”

Layar bergetar. Gambarnya kabur. Waktu mereka nyaris habis.

“Aku akan datang padamu,” kata Raka tiba-tiba. “Aku tak tahu bagaimana, tapi aku akan menyeberang. Aku akan meretas batas dimensi ini. Tunggu aku.”

“Raka, itu mustahil—”

“Tidak. Tidak ada yang mustahil jika cinta bisa membuka celah ini. Maka cinta juga bisa jadi jembatannya.”

Keira mencoba tersenyum di tengah tangisnya. “Kalau begitu, cepatlah. Karena aku tak tahu berapa lama lagi aku bisa mengingat siapa kamu.”

Layar bergetar hebat, dan dalam kedipan cahaya terakhir, Keira berbisik:

“Aku mencintaimu. Bahkan jika kelak aku tak bisa mengingatmu, bagian terdalam jiwaku akan tetap mengenalmu.”

Dan layar itu padam. Untuk pertama kalinya, tidak dengan redup perlahan. Tapi seperti ditarik paksa, seperti diputus oleh tangan yang tidak terlihat.

Raka menatap layar kosong itu. Dunia kembali gelap. Tapi sekarang, gelapnya terasa seperti kehilangan langit.

Ia menoleh ke mesin pemindai. Tangannya bergerak cepat, mengetik ulang algoritma, menyesuaikan gelombang, membangun program pendar transdimensi yang belum pernah dicoba manusia. Tak ada waktu untuk teori. Hanya ada tindakan.

“Kalau dunia ini menolakku datang padamu,” gumamnya, “maka aku akan membuat dunia baru tempat kita bisa bertemu.”

Tak ada jaminan ia akan selamat. Tak ada kepastian bahwa tubuhnya bisa melewati realitas tanpa hancur. Tapi ada satu hal yang ia yakin:

Jika Keira akan melupakan segalanya, maka ia harus jadi satu-satunya yang mengingat segalanya.

Malam itu, Raka menyalakan mesin perambat dimensi. Ruangan bergetar, cahaya menyilaukan, dan waktu mulai melengkung. Ia berdiri di tengah lingkaran resonansi, menggenggam foto kecil Keira yang ia cetak dari tangkapan layar.

“Sampai jumpa di dunia yang tidak pernah dibuat untuk kita.”

Dan tubuhnya menghilang dalam cahaya.

Tak ada yang tahu apakah ia berhasil. Tapi di tempat lain—di dunia yang lain—seorang gadis bernama Keira terbangun dengan air mata di pipinya.

Dan hati yang terasa kosong, tanpa tahu mengapa.

Bab 5: Dunia Tanpa Nama

Langit di atas Keira berwarna merah muda samar, seolah fajar sedang ragu untuk menyingsing. Tapi yang membuatnya terbangun bukanlah cahaya pagi, melainkan sesuatu yang jauh lebih hening—keheningan yang ganjil, seperti dunia telah kehilangan nada dasarnya.

Ia duduk di atas ranjang. Kepalanya terasa berat. Ada sesuatu yang mengganggu pikirannya sejak ia membuka mata, sesuatu yang ia tahu penting… tapi sulit ia ingat.

Ia melangkah pelan ke cermin. Matanya bengkak, meski ia tak tahu sebabnya. Hatinya sesak. Tapi ketika mencoba mengingat, pikirannya seperti menghadapi kabut tebal. Ada lubang besar dalam ingatan yang tak bisa ia isi.

Ia menyentuh dada kirinya. “Kenapa aku merasa seperti… kehilangan seseorang?”

Seketika, layar biru di sudut kamar yang biasanya menyala tiap malam, kini hanya berupa permukaan kosong. Ia mengusapnya dengan jari, tapi tak ada pantulan cahaya, tak ada suara, tak ada siapa-siapa.

Keira menatap layar itu lama. Lalu menggeleng. “Mungkin hanya mimpi,” bisiknya, berusaha meyakinkan diri. Tapi bahkan suaranya terdengar hampa.

Sementara itu, di dimensi yang lain, tubuh Raka jatuh ke atas tanah berlumpur. Napasnya terengah, paru-parunya seolah menolak udara yang ada. Ia memuntahkan darah, lalu terbatuk keras, menggenggam dada yang terasa terbakar.

Warna langit di sekitarnya asing. Matahari terlihat lebih besar. Pohon-pohon menjulang, namun daun-daunnya bergerak lambat, seolah waktu di dunia ini mengalir berbeda.

Raka memaksakan diri berdiri. Mesinnya hancur, terbakar sebagian. Ia tidak tahu di mana tepatnya ia berada. Tapi satu hal ia tahu pasti.

“Aku berhasil…” desisnya.

Tangannya menggenggam erat foto Keira yang nyaris hangus.

Ia menatap sekeliling. Tidak ada tanda-tanda kehidupan. Tidak ada manusia, tidak ada suara. Hanya alam yang sunyi.

Namun jantungnya tetap membawa tujuan. Ia harus menemukan Keira. Meski tubuhnya terasa sekarat, ia berjalan.

Satu langkah.

Dua langkah.

Lalu ambruk.


Di dunia Keira, seseorang mengetuk pintu rumahnya. Ia membuka, dan menemukan seorang pria tua mengenakan jas gelap berdiri di sana.

“Maaf mengganggu. Kami dari Departemen Stabilisasi Realitas.”

Keira menatapnya bingung. “Ada apa?”

“Kami mendeteksi adanya getaran dimensi yang tidak biasa. Apakah Anda merasakan sesuatu aneh belakangan ini?”

Keira memegang pelipisnya. “Saya… saya merasa kehilangan seseorang, tapi saya tidak tahu siapa.”

Pria itu menatapnya lama. “Jika suatu hari Anda mengingatnya, tolong hubungi kami.”

Ia menyerahkan kartu kecil, lalu pergi. Keira menatap kartu itu. Di bawah logo aneh yang belum pernah ia lihat, tertulis dua kata:

Unit Paralel

Dan di bawahnya, dengan tinta samar:

Raka — Protokol Lintas Batas

Nama itu membuat dadanya berdebar, meski pikirannya belum bisa mengaitkannya dengan apa pun.

Raka.

Nama itu seperti gema dari mimpi yang belum selesai.


Sementara itu, di dunia yang tak dikenal, Raka terbangun di tepi sungai kecil. Seseorang telah menarik tubuhnya keluar dari lumpur. Ia mendapati dirinya bersandar pada pohon besar, dan ada seorang perempuan muda dengan rambut perak duduk di seberangnya, memandangi langit.

“Kamu dari dunia yang salah,” ujar perempuan itu, tanpa menoleh.

Raka menatapnya lemah. “Kamu siapa?”

“Aku Penjaga Sisa. Penjaga dunia-dunia yang tertinggal, yang tidak terpakai, yang hanya jadi limbah semesta.”

“Keira,” gumam Raka. “Aku datang untuk Keira.”

Perempuan itu menghela napas. “Kamu menabrak batasan realitas untuk seorang yang kini mungkin tidak lagi mengingatmu.”

“Aku tidak peduli.”

“Kamu akan hancur jika bertahan di sini. Tubuhmu tidak diciptakan untuk dunia ini.”

“Aku hanya ingin tahu… apakah dia masih bisa merasakan aku?”

Perempuan itu menatapnya. “Dia tidak ingat namamu. Tapi jiwanya masih menggenggam bayangmu. Itu yang membuatnya menangis setiap malam.”

Raka menutup matanya. Ada kelegaan yang menyakitkan. “Kalau begitu… bawa aku ke tempat terdekat dengannya.”

“Apa kamu siap jika dia tak mengenalmu? Jika dia melihatmu dan bertanya, ‘siapa kamu?’”

Raka menelan ludah. “Asal aku bisa melihatnya… aku tidak butuh ia mengingat. Aku hanya ingin berada di dunia yang sama.”

Perempuan itu berdiri. “Kalau begitu, ikut aku. Tapi ingat… di sini, cinta tidak menyelamatkan. Ia hanya membuat luka lebih nyata.”

Langit mulai berubah warna. Tanah retak pelan, dan dimensi menyesuaikan diri untuk menampung satu anomali terakhir: seseorang yang tidak berasal dari sini, tapi menolak kembali, demi sesuatu yang bahkan tak lagi bisa ia miliki sepenuhnya.

Raka tersenyum getir.

Karena baginya, berada di dunia Keira meski hanya sebagai orang asing—lebih baik daripada hidup dalam dunia di mana Keira tak pernah ada.

Bab 6: Mata yang Tidak Lagi Mengenal

Raka berdiri di tepi kota yang asing, tubuhnya dibalut jaket yang sudah robek di beberapa bagian, wajahnya pucat, dan matanya kosong namun penuh keyakinan. Kota ini mirip dengan tempat asalnya, tapi semuanya sedikit berbeda. Jalanan lebih sunyi, cahaya matahari lebih pudar, dan orang-orang berjalan seperti bayangan yang tidak sadar akan keberadaannya.

Perempuan berambut perak—Penjaga Sisa—berjalan di depannya. Tak banyak bicara, namun setiap langkahnya terasa seperti membawa Raka semakin dekat pada takdir yang tidak pasti. Mereka melewati bangunan tinggi yang sunyi, taman yang tak berbunga, dan deretan jendela yang tak satupun terbuka.

“Kita hampir sampai,” katanya tanpa menoleh.

Raka mengangguk, meski tubuhnya mulai limbung. Udara di dunia ini tetap menolak keberadaannya. Nafasnya pendek, namun hatinya memaksa untuk terus berdetak.

Akhirnya mereka tiba di sebuah rumah sederhana berwarna biru pucat. Rumah itu tampak akrab di mata Raka, meski dengan perbedaan kecil. Ia tahu ini… tempat Keira tinggal.

“Dia tinggal di sini,” kata Penjaga Sisa. “Tapi ingat, kamu adalah hantu di matanya. Ia tidak akan mengingatmu. Jangan paksakan apapun.”

Raka hanya berkata, “Cukup bagiku melihatnya hidup.”

Perempuan itu menghilang begitu saja, seperti kabut yang terbawa angin.

Raka berdiri di luar pagar, tangannya menggenggam erat foto Keira yang nyaris lusuh. Ia menatap jendela kamar di lantai dua. Tirainya bergerak pelan. Lalu seseorang muncul di sana.

Keira.

Wajahnya tidak berubah. Cantik, teduh, tapi kali ini… matanya tampak kosong. Tanpa cahaya pengenalan. Ia menatap keluar, ke arah Raka, tapi hanya seperti orang asing yang melihat orang asing lainnya.

Raka mengangkat tangannya pelan, mencoba menyapa.

Keira mengernyit sedikit, lalu membuka jendela.

“Maaf, ada yang bisa saya bantu?”

Raka terdiam. Suara itu… masih suara yang sama. Tapi kini tidak membawa rasa apa-apa. Seolah cinta mereka dulu hanya dongeng yang dibacakan dalam mimpi orang lain.

“Aku… hanya lewat,” jawab Raka pelan.

Keira mengangguk, lalu tersenyum sopan. “Baiklah. Hati-hati ya.”

Dan jendela ditutup kembali.

Raka tetap berdiri di sana. Udara mulai menipis, dan detak jantungnya kacau. Ia duduk di trotoar, memandangi rumah itu lama. Tangannya mengusap foto Keira, lalu meletakkannya di saku dalam jaket.

Ia tahu, tak akan ada pertemuan kembali seperti dulu. Tak ada pelukan. Tak ada kata rindu. Tapi di dunia ini, Keira hidup. Itu cukup baginya.

Beberapa jam kemudian, Keira keluar rumah membawa tas belanja. Ia berjalan melewati Raka, tanpa menoleh. Tapi saat ia hendak menyeberang jalan, ia terdiam sejenak.

Langkahnya terhenti.

Ia menoleh. Memandang pria asing yang duduk di trotoar, yang wajahnya seperti pernah ada di dalam mimpinya yang tak pernah selesai.

“Maaf,” katanya. “Kita… pernah bertemu sebelumnya?”

Raka menoleh pelan. Ia tahu jawaban yang seharusnya.

Namun ia memilih tersenyum tipis. “Tidak. Tapi… mungkin, di kehidupan yang berbeda.”

Keira mengangguk pelan, bingung. “Entah kenapa, saya merasa sedih melihatmu.”

“Saya juga,” jawab Raka pelan. “Tapi tidak semua kesedihan buruk.”

Keira tersenyum kecil, lalu melanjutkan langkahnya.

Dan Raka hanya bisa menatap punggung itu menjauh.

Celah di dadanya semakin besar, tapi ia tidak menyesal. Ia telah menepati janjinya. Ia datang ke dunia Keira. Ia melihatnya hidup. Ia menjaga dari kejauhan, meski hanya sebagai bayangan tanpa nama.

Dan di dunia di mana cinta mereka tidak pernah dilahirkan, Raka tetap jatuh cinta.

Untuk yang terakhir kalinya.

Bab 7: Waktu yang Tidak Pernah Mencatat Namaku

Malam jatuh dengan pelan di kota asing itu. Langit berubah menjadi biru tua yang kelam, tanpa bintang, tanpa bulan—seolah waktu di dunia ini tak pernah benar-benar peduli pada keindahan. Raka berjalan menyusuri trotoar kosong, tubuhnya mulai melemah. Napasnya pendek, kulitnya dingin, dan setiap langkah terasa seperti perlawanan terakhir dari tubuh yang mulai ditolak oleh realitas.

Namun pikirannya hanya tertuju pada satu hal: Keira.

Setelah pertemuan tadi siang—yang hanya berlangsung beberapa detik namun terasa lebih menyakitkan dari perpisahan mana pun—Raka tak bisa berhenti memutar ulang ekspresi wajah Keira. Ekspresi yang asing. Wajah yang tak mengenalnya, namun… untuk sesaat, matanya berkabut seperti ada luka yang tak diketahui asalnya.

Ia kembali ke depan rumah biru itu. Duduk di bawah pohon yang daunnya berguguran pelan. Di dalam sakunya, ia menyimpan sebuah pena kecil yang dibuat dari logam sisa alat resonansi. Ia telah menulis ratusan catatan. Tapi kini, ia hanya ingin menulis satu kalimat terakhir.

Dengan tangan gemetar, ia menuliskannya di balik foto Keira yang sudah menguning di tepinya:

Aku tidak meminta untuk dikenang. Tapi jika suatu hari kamu menangis dan tidak tahu alasannya, mungkin itu karena aku pernah mencintaimu di dunia ini.

Ia menatap tulisan itu lama, lalu memejamkan mata. Angin malam mulai menusuk. Tubuhnya menggigil. Ia bersandar di batang pohon, dan dalam diam, ia mulai mendengar sesuatu yang tidak berasal dari dunia luar—detak pelan. Detak yang dulu ia gabungkan dengan irama jantung Keira. Detak yang kini mulai melemah.

Sementara itu, di dalam rumah, Keira berdiri di depan cermin kamar. Dadanya terasa sesak lagi. Dan seperti malam-malam sebelumnya, ia tidak tahu kenapa. Ia membuka laci kecil di mejanya, mengeluarkan sebuah buku catatan tua—buku yang ia temukan seminggu lalu di antara tumpukan barang lama yang bahkan ia tak tahu pernah memilikinya.

Di halaman pertama, tertulis satu kata: “Resonansi”.

Ia membalik halamannya. Ada puluhan catatan tentang emosi, waktu, layar, cinta. Semuanya ditulis dengan tangan yang tidak ia kenali, namun terasa begitu akrab.

Dan di halaman terakhir, tertulis:

“Jika suatu hari aku tiba di duniamu, mungkin aku hanya akan menjadi asing. Tapi aku pernah menjadi rumah.”

Tangannya gemetar. Air matanya jatuh. Ia tak tahu siapa yang menulis semua ini. Tapi jiwanya merasa berduka, seolah baru saja kehilangan seseorang yang sangat ia cintai.

Lalu tiba-tiba, tubuhnya bergerak sendiri. Kakinya melangkah cepat keluar kamar, menuruni tangga, membuka pintu depan rumah.

Di bawah pohon, ia melihat seseorang.

Pria itu duduk bersandar dengan mata tertutup, wajahnya pucat, dan di tangannya tergenggam foto usang. Ia berlari menghampiri. Jantungnya berdetak keras.

“Hey! Kamu!” teriaknya panik. “Kamu masih hidup?”

Pria itu perlahan membuka mata, menatapnya dengan lemah.

Keira menatap wajahnya. Dan untuk sesaat—satu detik yang mengalahkan waktu—ia melihat sesuatu yang menghancurkan seluruh dinding ingatannya.

Senyuman itu.

Senyuman yang membuat seluruh kesedihan yang tak ia mengerti selama ini, tiba-tiba menemukan alasan.

“Raka…” bisiknya nyaris tak terdengar.

Raka menatapnya dalam senyum lemah. “Akhirnya kamu memanggilku dengan nama yang benar.”

Keira menutup mulutnya dengan tangan, tubuhnya gemetar. “Kamu… kamu nyata?”

“Selalu. Tapi dunia ini memutus jalur kita.”

“Kenapa kamu tidak pergi?”

“Karena aku lebih memilih mati di dunia yang ada kamu… daripada hidup di dunia di mana kamu tak pernah mengenalku.”

Air mata Keira pecah. Ia memeluk tubuh Raka yang mulai dingin, memaksa untuk tetap sadar. “Kau tidak boleh pergi. Kau sudah datang jauh-jauh. Kau tidak boleh pergi begitu saja!”

Raka menatap wajahnya dengan damai. “Aku senang akhirnya kamu ingat.”

“Tolong… jangan mati…”

Raka mengangkat tangannya pelan, menyentuh pipi Keira dengan lembut. “Kalau aku pergi… ingat satu hal. Aku tidak pernah ingin kamu sedih.”

Detak di dadanya melemah.

Lalu hilang.

Dan di pelukan Keira, untuk kedua kalinya dalam dua dunia yang berbeda, Raka berhenti bernapas.

Namun kali ini… ia tidak pergi sebagai orang asing.

Ia pergi sebagai seseorang yang dicintai kembali. Walau hanya di detik terakhir.

Bab 8: Di Antara Dua Dunia yang Tidak Saling Menunggu

Langit pagi tampak muram. Awan-awan menggantung rendah seperti tirai berkabung yang belum diturunkan. Keira duduk diam di samping makam tanpa nama di bawah pohon besar. Di atas pusara sederhana itu, hanya ada sebuah foto lusuh dan satu kalimat yang ditulis tangan:

Aku pernah mencintaimu di dunia ini, meski dunia ini tidak mencintaiku kembali.

Keira mengusap pipinya yang masih basah. Sudah tiga hari sejak ia memeluk Raka untuk terakhir kalinya. Tubuhnya tak lagi gemetar seperti waktu itu, tapi hatinya belum juga tenang. Ada terlalu banyak yang ingin ia tanyakan, namun tak ada waktu yang tersisa untuk menjawabnya.

Seluruh kota sempat terguncang saat sistem realitas mendeteksi keberadaan tubuh asing—Raka—di dunia mereka. Tapi Keira tidak membiarkan siapa pun menyentuhnya. Ia bersumpah akan melindungi pria itu, bahkan ketika hanya jasadnya yang tersisa.

Kini, Keira hanya punya fragmen-fragmen kenangan yang perlahan kembali. Percakapan lewat layar biru. Tawa di malam sunyi. Janji-janji yang tak pernah sempat ditepati. Dan cinta yang datang dari dunia lain, membawa luka, lalu mati dalam pelukan.

Ia membuka buku catatan Raka yang ia temukan di saku jaketnya. Lembar terakhirnya masih hangat oleh tangisan malam-malam sebelumnya:

Aku tahu dunia ini bukan untukku. Tapi aku harap, setidaknya, aku bisa menjadi sedikit kenangan yang membuat duniamu tidak terlalu sepi.

Keira memeluk buku itu erat.

Lalu, tanpa suara, layar biru menyala di udara. Tepat di hadapannya. Keira terlonjak. Ia berdiri pelan, menatap layar itu dengan campuran takut dan rindu.

Dan dari balik cahaya samar, muncul sosok perempuan berambut perak. Penjaga Sisa.

“Kau mengingatnya,” ucap sang Penjaga, datar.

Keira mengangguk. “Terlambat. Tapi iya.”

“Tidak ada cinta yang benar-benar terlambat. Hanya semesta yang tak cukup luas untuk menampungnya.”

Keira menatap mata sang Penjaga. “Kenapa kau membiarkannya mati di sini?”

“Karena ia memilih untuk datang sendiri. Ia tahu risikonya. Tapi ia tidak peduli. Dan sekarang, aku datang bukan untuk menjemputnya… tapi untuk menawarkan satu hal padamu.”

“Hal apa?”

“Celah dimensi itu belum sepenuhnya tertutup. Ada jalur sempit yang hanya bisa dilalui sekali. Tapi bukan untuk pergi. Untuk kembali.”

Keira membeku. “Kembali?”

“Kau bisa kembali ke duniamu. Dunia tempat kalian saling mengenal dari awal. Dunia tempat Raka masih hidup… tapi tidak memiliki memori tentangmu.”

Keira menunduk. “Lalu apa artinya? Jika dia tak ingat aku?”

Sang Penjaga tersenyum tipis. “Cinta sejati bukan tentang diingat. Tapi tentang memilih jatuh cinta… lagi.”

Keira diam. Lalu menatap pusara Raka. Hatinya bergetar.

“Apa aku akan kehilangan segalanya di sini?”

“Ya. Tak akan ada yang mengenalmu di sana. Tak akan ada siapa-siapa yang mengerti asalmu. Tapi dia akan ada. Nafasnya. Suaranya. Jiwanya.”

Keira menutup mata. Mencoba membayangkan dunia itu. Membayangkan versi dirinya yang tak tahu apa-apa, dan versi Raka yang memulai dari kosong. Apakah ia sanggup mencintai lagi dari awal, tanpa kenangan yang menyatukan?

Tapi kemudian ia sadar—mereka sudah pernah saling mencintai… bahkan tanpa pernah saling bersentuhan.

Keira mengangguk.

“Aku ingin ke sana.”

Sang Penjaga menjulurkan tangan. “Maka berjalanlah ke ujung cahaya ini. Saat kamu membuka mata nanti… segalanya akan berbeda. Tapi hatimu akan tahu ke mana harus kembali.”

Keira menatap layar biru yang kini semakin terang. Ia menatap pusara Raka untuk terakhir kalinya. “Terima kasih karena datang ke duniaku,” bisiknya. “Kini biar aku yang datang ke duniamu.”

Dan ia melangkah ke dalam cahaya itu.


Sementara itu, di dunia lain—dunia tempat semuanya belum terjadi—seorang pemuda bernama Raka duduk di perpustakaan kampusnya. Ia menatap kosong ke jendela, entah kenapa merasa hatinya berat.

Lalu pintu perpustakaan terbuka.

Dan seorang gadis dengan rambut acak, mata sendu, dan buku di tangan melangkah masuk.

Raka menoleh. Pandangan mereka bertemu.

Mata Keira sedikit membesar.

Dan Raka, tanpa tahu mengapa, berdiri perlahan dan tersenyum, seolah mengenal gadis itu sejak lama.

“Maaf,” kata Raka, “kita pernah bertemu sebelumnya?”

Keira menatapnya.

“Belum,” jawabnya pelan, “tapi… mungkin ini saatnya kita saling mengenal.”

Dan waktu pun berjalan kembali.

Untuk cinta yang memilih dilahirkan kembali. Di dunia yang akhirnya mau memberi mereka kesempatan.

Bab 9: Saat Kita Tak Lagi Asing

Kampus itu tak berubah. Lorong-lorong panjang dengan cahaya kuning pucat, rak-rak buku tinggi, dan suara langkah kaki yang berpantul pelan di lantai keramik. Raka berjalan pelan menyusuri perpustakaan, namun pikirannya tidak ada di tempat ini. Sejak pagi, hatinya diliputi rasa aneh—seperti rindu yang tidak memiliki alasan, dan kehilangan yang tak punya nama.

Di tangannya, ia membawa buku tua tentang “Teori Resonansi Dimensi Paralel.” Ia tidak tahu kenapa tertarik membacanya. Ia bahkan tak percaya penuh pada konsep semacam itu. Tapi sesuatu di dalam dirinya merasa… terdorong.

Lalu ia melihatnya.

Gadis itu duduk di sudut ruang baca, sendirian, dengan kacamata yang tergeser ke ujung hidung dan rambutnya dikuncir asal-asalan. Ia tampak begitu biasa. Tapi bagi Raka, dunia menjadi sunyi ketika mata mereka bertemu.

Dan Keira—meski tidak tahu kenapa—merasa ingin menangis.

“Maaf,” kata Raka sambil melangkah mendekat. “Kita pernah… bertemu sebelumnya?”

Keira menutup bukunya perlahan. Jantungnya berdegup terlalu keras. “Belum. Tapi… rasanya seperti pernah.”

Raka tersenyum kecil. “Aku juga merasa begitu. Padahal aku cukup yakin aku akan ingat jika pernah bertemu seseorang seperti kamu.”

Keira menahan senyumnya. “Mungkin kita bertemu di mimpi.”

Raka duduk di hadapannya, masih memandangi wajah gadis itu seperti sedang mencoba mengingat sesuatu yang belum pernah terjadi. “Apa kamu percaya… bahwa beberapa jiwa memang ditakdirkan untuk saling mengenal, bahkan jika dunia tidak pernah mempertemukan mereka dengan cara biasa?”

Keira menatap matanya. “Aku tidak tahu. Tapi kalau memang benar begitu… aku rasa ini bukan pertama kalinya kita bicara seperti ini.”

Suasana hening. Tapi bukan hening yang canggung. Melainkan hening yang dalam, seolah dua semesta sedang mencoba menyesuaikan getarannya kembali.

“Namaku Raka,” katanya sambil mengulurkan tangan.

Keira menatap tangan itu, lalu menyambutnya. “Keira.”

Ketika tangan mereka bersentuhan, Raka menahan napas. Ada sesuatu yang mengalir dalam dirinya. Sebuah kilasan. Cahaya biru samar. Sebuah layar. Dan tatapan yang penuh rindu. Ia mengedipkan mata cepat, dan bayangan itu lenyap.

Tapi dadanya tetap bergetar.

“Kamu baik-baik saja?” tanya Keira pelan.

“Ya… hanya saja…” Ia terdiam sejenak. “Apa kamu pernah merasa… mencintai seseorang bahkan sebelum kamu mengenalnya?”

Keira menatapnya dalam.

Dan untuk pertama kalinya sejak datang ke dunia ini, ia berkata dengan yakin, “Pernah.”


Hari-hari berikutnya berjalan seperti aliran sungai yang sudah mengenal jalannya. Raka dan Keira semakin sering bertemu. Di ruang baca, di kantin kampus, bahkan di taman kampus tempat daun-daun berguguran. Tak ada layar biru, tak ada suara dari dimensi lain. Tapi cinta mereka tumbuh kembali—tanpa terburu-buru, tanpa harus tahu apa yang dulu pernah terjadi.

Namun setiap kali mereka bersama, dunia seakan lebih terang.

Suatu malam, saat mereka duduk di atap gedung kampus, Keira menatap bintang yang berserakan.

“Kalau aku bilang… aku berasal dari dunia lain, kamu bakal percaya?”

Raka tertawa kecil. “Kalau orang lain yang bilang, mungkin tidak. Tapi kalau kamu… mungkin iya.”

“Kenapa?”

“Karena kalau cinta memang bisa menembus ruang dan waktu, maka tidak ada alasan untuk tidak percaya pada keajaiban.”

Keira menoleh padanya, senyum tipis di wajahnya. “Kalau begitu… mungkin aku memang datang ke dunia ini hanya untuk mengenalmu kembali.”

Raka menatap mata itu. Dan ia merasa tak lagi ragu. Meski ingatan mereka telah dihapus, cinta itu menemukan jalannya. Tak peduli seberapa banyak dunia mencoba memisahkan, mereka tetap kembali.

Bukan karena ditakdirkan.

Tapi karena mereka memilih untuk menemukan satu sama lain—lagi dan lagi.

Dan malam itu, untuk pertama kalinya di dunia yang baru, mereka saling menggenggam tangan bukan sebagai orang asing, tapi sebagai dua jiwa yang akhirnya kembali ke tempat yang mereka sebut rumah:

Satu sama lain.

Bab 10: Rumah yang Selalu Kita Temukan

Hari itu hujan turun perlahan. Butirannya kecil, lembut, seolah langit sedang menghapus luka dengan cara yang paling sunyi. Di halaman belakang perpustakaan kampus, Raka dan Keira duduk di bawah payung besar, diam tapi tak saling menjauh. Waktu berjalan pelan, dan dunia di sekitar mereka seperti tidak penting.

Raka menatap langit. “Aneh, ya. Rasanya seperti… aku pernah berada di tempat yang sama, dalam waktu yang berbeda.”

Keira tersenyum kecil. “Mungkin karena kamu memang pernah. Atau mungkin, jiwamu hanya sedang mengingat.”

“Kadang aku bermimpi tentangmu,” lanjut Raka, “tapi dalam versi yang tak bisa kujelaskan. Ada cahaya biru… layar… dan suara yang membuatku ingin menangis meski aku tidak tahu kenapa.”

Keira menunduk. Tangan kirinya meremas perlahan jemari Raka. “Mimpi itu bukan kebetulan.”

Raka menoleh, menatap wajah Keira yang kini menatapnya dalam.

“Aku ingin ceritakan sesuatu,” ucap Keira, perlahan. “Dan aku tidak tahu apakah kamu akan percaya atau tidak.”

“Aku akan percaya,” jawab Raka cepat, tanpa ragu.

Keira menarik napas dalam.

“Aku berasal dari dunia lain. Dunia di mana kita dulu saling mencintai. Tapi dunia itu tidak mengizinkan kita bersama. Kau datang mencariku. Melawan dimensi. Dan… kau mati dalam pelukanku.”

Raka menahan napas.

“Aku diberi kesempatan untuk datang ke dunia ini. Dunia tempat kamu masih hidup, tapi tidak mengenalku. Aku memilih untuk memulai dari awal, tanpa kenangan, tanpa jaminan kamu akan mencintaiku lagi. Tapi aku percaya… cinta sejati selalu menemukan jalannya.”

Hening.

Raka menatap Keira, dan di balik matanya, sesuatu perlahan bergerak. Cahaya samar, kilasan perasaan, dan luka yang tak pernah ia mengerti—semuanya mulai menyatu. Dadanya sesak. Tapi bukan karena sakit. Karena sesuatu akhirnya pulang.

“Aku ingat…,” bisik Raka.

Air mata Keira jatuh, begitu lembutnya hingga hampir tak terlihat oleh hujan.

“Aku tidak tahu bagaimana, tapi aku ingat semuanya. Malam di balik layar itu. Hari terakhir kita. Kamu… kamu menggenggamku dan menangis sambil memohon agar aku tetap hidup…”

“Dan kau bilang, ‘kalau aku pergi, ingat satu hal… aku tidak pernah ingin kamu sedih.’” Keira menyelesaikan kalimatnya dengan suara gemetar.

Raka menarik Keira dalam pelukannya. Hujan tak lagi mereka rasakan. Dunia di sekitar mereka memudar.

“Jadi… kita benar-benar kembali,” kata Raka.

“Bukan kembali,” bisik Keira. “Kita terlahir ulang.”

Dalam pelukan itu, mereka tahu: cinta mereka tidak pernah dimulai dari awal, karena ia tidak pernah benar-benar berakhir. Dunia boleh berulang. Kenangan boleh hilang. Tapi hati… hati tetap menyimpan jejak yang bahkan dimensi pun tak bisa hapus.

Hari-hari setelah itu berjalan seperti hidup yang dipinjamkan untuk kedua kalinya. Mereka bukan lagi Raka dan Keira yang dulu, tapi mereka membawa semua rasa dari versi sebelumnya. Mereka menulis ulang takdir, tidak dengan melawan dunia, tapi dengan memilih satu sama lain—setiap hari.

Di suatu malam, Keira menulis kalimat terakhir di buku catatan lamanya:

Bahkan jika aku dilahirkan di seribu dunia yang berbeda, aku akan selalu jatuh cinta padamu di setiap versinya.

Dan Raka, dari jendela kamarnya, menatap bintang dan membisikkan satu janji dalam diam:

Aku akan menemukanmu, lagi dan lagi, sampai dunia tidak bisa membedakan antara aku dan kamu.

Karena cinta mereka tidak lagi milik satu dimensi.

Melainkan milik semua dunia yang pernah, sedang, dan akan ada.

Dan begitulah akhirnya.

Atau mungkin…
hanya awal dari segalanya.

TAMAT.

Novel ini ditulis oleh Evi Fauzi, Penulis dari Novel Singkat  . Baca juga novel romantis, petualangan dan fiksi ilmiah lainnya.

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Novel Terbaru

  • Terraformers of Solitude (Para Terraformer Kesunyian)
  • Novel Singkat: Cinta di Ujung Sajadah
  • Novel Singkat: Lantai 38 – Antara Merger Perusahaan, Rumah Mewah
  • Senja di Balkon Penthouse – Novel Singkat 7 Bab
  • Novel Pendek: Istri Kontrak Sang Sultan

Arsip

  • December 2025
  • August 2025
  • July 2025
  • June 2025
  • May 2025
  • April 2025
  • March 2025
  • February 2025
  • January 2025

Kategori

  • Fiksi Ilmiah
  • Petualangan
  • Romansa

Tentang Kami

Tentang Kami

aksi cinta dan kehilangan cinta dan pengorbanan Cinta dan Takdir cinta lintas dimensi cinta pertama cinta segitiga cinta sejati Cinta Terlarang cinta yang terlupakan dunia paralel eksperimen genetika Eksperimen Rahasia identitas ganda Ilmuwan kehilangan kisah cinta kisah cinta emosional kisah cinta menyedihkan kisah cinta sedih kisah cinta tragis konspirasi Misteri novel emosional novel fiksi ilmiah Novel Romantis pengkhianatan Pengorbanan Pengorbanan Cinta penjaga waktu perjalanan waktu Petualangan petualangan emosional realitas paralel reinkarnasi romansa Romansa Cinta romansa tragis Romantis Romantis gelap romantis tragis teknologi canggih thriller thriller psikologis Thriller Waktu

Genre Favorit

  • Fiksi Ilmiah
  • Petualangan
  • Romansa
©2026 Baca Novel Singkat Di sini | Design: Newspaperly WordPress Theme