Arla, seorang ilustrator buku anak-anak yang terbiasa hidup dalam kesendirian, tak pernah berani benar-benar mencintai. Ia percaya dirinya adalah kutukan—setiap orang yang mencintainya selalu kehilangan sesuatu yang berharga.
Keyakinan itu kembali teruji saat ia bertemu Dion, seorang psikolog muda yang penuh semangat. Tawa dan kebersamaan mereka menjadi cahaya baru dalam hidup Arla, namun bersamaan dengan itu, hidup Dion mulai hancur perlahan: ibunya meninggal, sahabatnya menghilang, dan kliniknya disabotase.
Ketakutan Arla berubah menjadi keyakinan. Ia memutuskan pergi dan menyakiti Dion dengan kata-kata yang tajam demi “menyelamatkan” pria itu. Namun kepergian Arla justru membuat Dion tenggelam dalam kehancuran yang lebih dalam—hingga nyaris kehilangan nyawanya.
Di tengah usaha menyembuhkan luka masing-masing, mereka menemukan potongan masa lalu yang telah lama terkubur: kebakaran masa kecil yang mempertemukan mereka, trauma yang membentuk mereka, dan cinta yang tak pernah selesai.
Bab 1 – Pertemuan yang Terlambat Dikenal
Langit sore mendung saat Arla berdiri di pojok galeri seni kecil di tengah kota. Jemarinya meremas tali tas yang digantungkan di bahu, dan matanya menatap diam lukisan buatannya yang dipajang di dinding paling ujung. Lukisan itu abu-abu seluruhnya, hanya garis samar wajah tanpa mata dan tanpa mulut, seperti sosok yang ingin bicara tapi tak punya suara.
Ia tak berharap siapa pun memperhatikan lukisan itu. Tapi suara seseorang di sampingnya membuatnya menoleh.
“Lukisan ini… rasanya seperti diam yang menyakitkan,” ucap seorang pria.
Arla hanya menoleh singkat. Pria itu mengenakan kemeja putih dengan lengan tergulung dan celana bahan gelap. Rambutnya berantakan, seperti habis menggaruk kepala berkali-kali karena terlalu banyak berpikir. Tapi sorot matanya tenang, seolah mengerti rasa yang tak pernah Arla ucapkan.
“Kamu pembuatnya?” tanyanya.
Arla mengangguk pelan.
“Aku Dion,” katanya, menyodorkan tangan.
Arla sempat ragu, lalu membalas jabatannya. “Arla.”
“Kamu selalu menggambar wajah tanpa suara?”
Arla menoleh lagi pada lukisan. “Hanya ketika aku tidak tahu harus bicara ke siapa.”
Dion tertawa kecil. Bukan tawa yang keras atau sok akrab, tapi tawa yang hangat, membuat dada Arla terasa aneh. Dion tidak memuji lukisan itu seperti pengunjung lainnya. Ia memahaminya.
Mereka berbincang sedikit. Dion ternyata seorang psikolog muda yang membuka praktik sendiri, dan ia mengaku datang ke galeri hanya untuk mengisi waktu kosong setelah sesi terapi terakhirnya hari ini dibatalkan. Arla hanya mengangguk. Ia tak pernah nyaman bicara banyak.
Tapi entah kenapa, mereka akhirnya duduk di kafe kecil dekat galeri. Dion memesankan teh hangat untuk Arla, dan dirinya sendiri memesan kopi hitam.
“Kalau kamu bukan ilustrator, kamu mau jadi apa?” tanya Dion tiba-tiba.
Arla menatap keluar jendela. “Aku nggak tahu. Aku nggak pernah punya rencana jauh-jauh.”
“Kamu hidup dengan spontan?”
“Aku hidup dengan bertahan.”
Dion tak membalas. Ia hanya menatap Arla lebih lama dari seharusnya, tapi bukan dengan rasa kasihan. Lebih seperti… seseorang yang sedang membaca buku favoritnya, yang hanya bisa dipahami dengan diam.
Untuk pertama kalinya sejak lama, Arla tertawa saat Dion bercerita tentang pasiennya yang membawa boneka tiap sesi terapi dan menganggap boneka itu suaminya.
“Serius? Kamu nggak takut?” tanya Arla sambil menahan tawa.
“Aku lebih takut kalau dia bawa bonekanya dan bilang itu anak kami,” jawab Dion.
Tawa Arla pecah. Dan saat itu terjadi, hujan turun pelan. Langit menggigilkan kota, dan dari kejauhan suara sirine ambulans melengking. Tapi keduanya terlalu larut dalam percakapan untuk menyadari apa pun.
Malam itu, Arla pulang dengan kepala yang lebih ringan. Ia menatap langit dari jendela kamarnya, lalu menatap tangannya sendiri yang tadi menggenggam cangkir teh. Ada bekas hangat di sana, yang entah dari uap cangkir atau sentuhan kata-kata Dion.
Ia membuka buku sketsanya dan mulai menggambar sesuatu yang baru. Masih wajah, masih kosong, tapi kali ini ada senyum samar di garis bibirnya.
Keesokan harinya, berita muncul di layar televisi kecil milik tetangganya: Seorang wanita lansia ditemukan meninggal mendadak di rumahnya, diduga karena serangan jantung.
Arla tidak mengenali namanya. Tapi saat membuka ponselnya, ada pesan dari Dion.
I’m sorry if I’ll be slow to respond. My mom passed away last night.
Arla menatap layar cukup lama, hingga air matanya mengalir tanpa suara. Ia belum tahu kenapa jantungnya terasa seakan remuk. Tapi di sudut pikirannya yang paling dalam, ada bisikan kecil yang membuatnya sesak:
Tawa pertamaku adalah awal dari luka orang lain.
Bab 2 – Tawa Pertama yang Membawa Bencana
Sudah seminggu sejak Arla terakhir mendengar kabar dari Dion. Pesan singkatnya tentang kematian sang ibu masih tertinggal di kotak masuk, belum terhapus, belum terjawab. Arla menatapnya setiap malam, jari-jarinya menggantung di atas layar, tapi tak satu pun kata berhasil ia kirimkan.
Bukannya tak ingin. Ia hanya takut.
Takut Dion akan menghubungkannya dengan semua yang terjadi. Takut Dion sadar seperti dirinya—bahwa setiap kebahagiaan bersamanya selalu berakhir menjadi duka.
Di hari ketujuh, Dion tiba-tiba muncul di depan pintu apartemen kecil Arla. Basah kuyup, tanpa payung, dengan mata sembab namun masih memaksakan senyum.
“Aku butuh tempat yang tenang,” katanya lirih. “Bolehkah?”
Arla tak menjawab, hanya membuka pintu lebih lebar. Dion masuk, duduk di lantai, dan bersandar ke dinding seperti seseorang yang baru saja kehilangan pondasi hidupnya.
“Aku bahkan nggak bisa bilang selamat tinggal,” gumamnya. “Dia meninggal dalam tidur. Nggak ada tanda. Nggak ada perpisahan.”
Arla duduk di depannya, menatap lantai, menunggu Dion bicara lagi.
“Aku pikir aku cukup kuat menghadapi kehilangan. Aku psikolog, Arla. Tapi ternyata… kehilangan tetap menampar keras.”
Ia tertawa kecil setelah mengucapkan itu, dan Arla tersenyum, getir.
“Kamu nggak harus kuat malam ini,” ucapnya. “Nggak harus jadi siapa-siapa. Cukup jadi kamu.”
Untuk sesaat, mereka hanya saling diam. Tapi keheningan itu terasa hangat, bukan menghakimi. Dion akhirnya tertidur di sofa, dan Arla hanya duduk di kursi, menatap wajahnya yang damai. Ia merasa bersalah karena merasa nyaman melihat Dion ada di sana.
Pagi harinya, Dion menuliskan catatan kecil di kertas sobekan dari sketsa Arla.
Aku nggak tahu kenapa, tapi berada di sini menyelamatkanku semalam. Terima kasih.
Dari hari itu, Dion lebih sering mampir. Kadang hanya sebentar, membawa dua cup kopi dan bercerita soal pasiennya. Kadang hanya duduk diam, menatap gambar-gambar di dinding studio kecil Arla.
Dan perlahan, mereka kembali tertawa. Tawa kecil di sela kisah lucu pasien, lelucon tidak penting, atau sekadar hal-hal receh seperti kentang goreng yang bentuknya menyerupai wajah anjing.
Suatu sore, Dion mengajak Arla ke kliniknya. Tempatnya sederhana, dengan jendela besar dan tanaman kecil di rak dinding. Ia mengenalkan Arla pada stafnya, termasuk sahabat lamanya, Raka, yang membantu mengelola operasional klinik.
“Raka itu seperti kakakku sendiri,” kata Dion sambil menepuk bahu sahabatnya. “Dia orang pertama yang tahu aku mau buka praktik ini. Orang pertama juga yang percaya aku bisa.”
Arla hanya tersenyum, merasa asing di antara kehangatan mereka yang begitu kuat. Ia menatap Raka diam-diam. Pria itu tinggi, berkacamata, dan punya sorot mata curiga yang sulit disembunyikan. Seolah tahu Arla menyimpan sesuatu.
Sepulang dari klinik, Arla merasa resah. Perutnya bergejolak aneh, seperti firasat buruk yang sulit diredam.
Dua hari kemudian, Dion tak membalas pesannya.
Tiga hari kemudian, berita kembali muncul di layar: Seorang pria dewasa dilaporkan hilang dalam perjalanan pulang dari tempat kerja. Kendaraan ditemukan di pinggir jalan tol, kosong, tanpa jejak.
Arla tak perlu menebak.
Ia membuka berita lengkapnya, dan nama yang tertera di sana membuat jantungnya berhenti sejenak: Raka Pratama.
Dion menelepon malam itu. Suaranya gemetar.
“Aku… nggak tahu harus bicara sama siapa lagi,” katanya. “Raka… dia hilang. Polisi belum tahu apa-apa. Mereka bilang bisa aja dia kabur. Tapi itu bukan Raka.”
Arla menggigit bibir bawahnya. Dalam hati, ia ingin menjerit: “Itu salahku.”
Tapi ia tak bicara.
Dion mulai menangis di ujung telepon. Tangis yang teredam, ditahan, seperti laki-laki yang sudah terlalu lelah kehilangan.
“Kenapa semuanya terasa seperti dihukum, ya, Arla? Setiap kali aku merasa bahagia… sesuatu diambil dariku.”
Air mata Arla jatuh pelan. Ia tak bisa menahan lagi.
Malam itu, ia menatap lukisan baru yang digambarnya beberapa hari lalu. Wajah Dion, samar, dikelilingi oleh bayangan hitam seperti kabut. Matanya belum selesai digambar. Bibirnya hanya berupa garis datar.
Dan untuk pertama kalinya, Arla menulis di bawah lukisan itu sebuah kalimat:
“Jangan jatuh cinta padaku. Aku adalah awal dari kehilangan.”
Bab 3 – Luka yang Selalu Datang Setelah Cinta
Sudah dua minggu sejak Raka menghilang, dan Arla bisa melihat bagaimana Dion perlahan berubah. Senyumnya semakin jarang muncul, dan suara tawanya—yang dulu ringan seperti angin pagi—sekarang berat dan pecah di tengah jalan.
Ia tetap datang ke apartemen Arla, tapi tidak lagi membawa kopi. Ia hanya duduk di sofa dengan tubuh membungkuk, pandangan kosong, dan kata-kata yang tak selesai.
“Aku udah kehilangan banyak hal, Arla,” gumam Dion, suatu malam. “Dan setiap kali aku coba bahagia, sesuatu pergi. Kamu percaya karma?”
Arla tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap cangkir tehnya, lalu menjawab lirih, “Aku lebih percaya pola.”
Dion menoleh padanya. “Pola?”
“Hal-hal buruk nggak datang tanpa jejak. Kadang… kita cuma terlalu ingin bahagia sampai nggak lihat apa yang sedang kita hancurkan.”
Dion terdiam cukup lama. Ia mengangguk, lalu memejamkan mata, seolah mencoba mengusir suara-suara di kepalanya.
Malam itu, Arla kembali bermimpi. Ia berjalan di lorong rumah kosong, dan dari balik pintu, ia mendengar suara tangisan—bukan tangis sedih, tapi tangis penuh penyesalan. Saat ia membuka pintu itu, ia melihat Raka berdiri dengan tubuh berlumuran darah.
“Kamu yang bawa aku ke sini,” katanya dengan suara bergetar. “Dia percaya padamu. Dan kamu… kamu biarkan semuanya hancur.”
Arla terbangun dengan tubuh berkeringat. Nafasnya terengah, dan ia langsung menatap lukisan Dion yang masih tergantung di dinding. Kini, wajah itu punya mata. Tapi mata itu penuh luka.
Keesokan harinya, Arla pergi ke rumah ibunya yang sudah lama tak ia kunjungi. Rumah kecil di pinggiran kota itu masih tampak sama, sepi dan penuh aroma kayu tua.
Ibunya menyambutnya dengan pelukan, tapi Arla hanya berdiri kaku. Ia tak datang untuk pelukan. Ia datang untuk jawaban.
“Bu,” ucap Arla pelan di ruang tengah. “Dulu… pernah nggak ada orang yang dekat sama aku, terus tiba-tiba kehilangan sesuatu?”
Ibunya menatapnya dengan ragu. “Kenapa kamu tanya begitu?”
“Aku cuma… ngerasa setiap kali aku dekat sama seseorang, sesuatu buruk terjadi sama mereka.”
Ibunya terdiam cukup lama. Lalu berkata, “Kamu pernah punya teman dekat waktu SMP. Namanya Dini. Kalian selalu bersama.”
Arla mengangguk pelan. Nama itu terdengar familiar, tapi samar.
“Suatu hari, kamu cerita ke Ibu kalau Dini bilang ingin jadi kakakmu. Beberapa hari kemudian, dia pindah ke luar negeri karena ayahnya dipindahtugaskan. Kamu nangis berhari-hari.”
Arla menunduk. “Itu bukan hal buruk.”
“Lalu kamu punya pacar pertama waktu SMA. Namanya Bayu. Ingat?”
Jantung Arla berdetak lebih cepat. Ia mengangguk pelan.
“Setelah tiga bulan kalian dekat, Bayu pindah sekolah. Karena ibunya jatuh sakit parah dan harus tinggal di kampung halaman.”
Arla mulai melihat pola itu. Bukan kematian, bukan kekerasan, tapi selalu… kehilangan.
“Dan waktu kuliah,” lanjut ibunya, “ada dosen yang sangat menyukai karyamu. Dia menawarkan beasiswa. Tapi tiba-tiba dia mengundurkan diri karena masalah keluarga.”
Arla tak sanggup mendengarnya lagi. Ia bangkit, berpamitan, dan meninggalkan rumah itu dengan kepala penuh bayangan.
Di perjalanan pulang, ponselnya berdering. Dion menelepon. Suaranya terdengar panik.
“Arla, tolong… aku butuh kamu sekarang. Klinikku… disabotase. Komputer dihancurkan, dokumen-dokumen hilang. Mereka bilang ini mungkin ulah mantan pasienku.”
Arla menahan napas. Tiga kali. Tiga peristiwa. Setiap kali ia tertawa bersama Dion, sesuatu hilang dari pria itu.
Kali ini, tempat kerja yang Dion bangun dengan susah payah selama dua tahun… lenyap dalam satu malam.
Dan siapa yang ada di sisinya setiap kali hal itu terjadi?
Arla.
Ia berdiri di tengah trotoar yang basah, menatap langit yang penuh awan gelap. Tangannya menggenggam ponsel erat, tapi tubuhnya gemetar.
Dion masih berbicara di seberang, memintanya datang. Tapi Arla hanya menjawab pelan, “Maaf, Dion. Malam ini… aku nggak bisa ke mana-mana.”
Ia menutup telepon, lalu menangis di tengah jalan. Dunia tak melihatnya. Hujan turun perlahan, menyembunyikan air mata yang mengalir deras.
Karena untuk pertama kalinya, Arla benar-benar yakin—
Cintanya adalah luka yang tidak bisa disembuhkan.
Bab 4 – Jejak Masa Lalu yang Tak Ingin Diingat
Arla mengunci diri di studio kecilnya selama tiga hari penuh. Tirai ditutup rapat, ponsel dimatikan, dan lukisan-lukisan ditelungkupkan menghadap dinding. Ia tak mau melihat apa pun yang mengingatkannya pada Dion—terutama matanya.
Ia membuka kotak kayu tua yang sudah lama tersimpan di bawah tempat tidur. Di dalamnya ada tumpukan buku catatan, surat-surat yang tak pernah dikirimkan, dan beberapa foto lama yang mulai menguning.
Di salah satu foto, Arla kecil berdiri di depan sekolah dasar, mengenakan seragam putih-merah dan membawa boneka lusuh di tangannya. Di belakangnya, ada seorang anak perempuan lain yang tersenyum lebar—Dini.
Arla menarik napas dalam-dalam. Ia benar-benar lupa bahwa Dini pernah ada dalam hidupnya. Tapi kini, wajah gadis kecil itu datang kembali dalam kilatan memori—suara tawa mereka saat bermain di halaman belakang, janji-janji kekanak-kanakan bahwa mereka akan jadi sahabat selamanya.
Tapi Dini hilang. Bukan karena pertengkaran. Bukan karena jarak. Tapi karena Arla mulai menyayangi.
Arla membuka buku catatan tua berisi tulisan tangannya di masa SMP. Di halaman tengah, ada satu kalimat yang membuat darahnya dingin:
“Setiap kali aku mencintai, mereka pergi. Mungkin aku terbuat dari kehilangan.”
Ia menutup buku itu dengan gemetar. Ingatan demi ingatan datang bertubi-tubi seperti badai. Bayu yang tiba-tiba menjauh. Dosen favoritnya yang menghilang tanpa kabar. Sahabat di kampus yang pernah berkata, “Arla, aku ngerasa nggak bisa deket sama kamu terlalu lama. Selalu ada hal aneh terjadi.”
Dan kini… Dion.
Arla duduk memeluk lututnya, tubuhnya gemetar. Ia ingin menyangkal semua itu. Ingin percaya bahwa semua hanya kebetulan. Tapi keyakinan itu tak punya tempat lagi ketika semuanya terasa begitu teratur, begitu rapi dalam polanya: kehadiran, kehangatan, lalu kehancuran.
Malam itu, Arla mendatangi tempat yang paling ia benci: gedung kampus lamanya. Ia pernah kuliah seni di sana sebelum akhirnya berhenti di tahun ketiga. Di perpustakaan bawah tanah, ia pernah menjalani sesi terapi dengan dosen pembimbing yang juga seorang psikolog.
Ia mengetuk pintu ruangan lama, dan mendapati seorang wanita tua membuka pintu. Ia masih ingat Arla.
“Masuklah,” katanya. “Aku kira kamu sudah benar-benar menghilang dari dunia ini.”
Arla duduk di sofa kecil, menatap meja yang masih dipenuhi buku-buku tebal dan lampu baca klasik.
“Aku ingin tahu sesuatu, Bu,” ucapnya pelan. “Apakah waktu itu… ada yang salah dengan aku?”
Psikolog itu menatap Arla lama. “Arla, kamu selalu anak yang peka. Terlalu peka. Kamu menyerap perasaan orang lain, dan menyimpannya dalam-dalam.”
“Aku merasa… setiap kali aku mencintai seseorang, sesuatu buruk terjadi. Bukan karena mereka jahat. Tapi karena aku… karena aku yang mencintai.”
Wanita itu menarik napas panjang. “Kamu pernah bilang hal itu dulu, waktu terapi. Kamu punya trauma kehilangan yang sangat dalam. Waktu kecil, kamu melihat ayahmu pergi meninggalkan ibumu. Dan sejak itu, kamu percaya bahwa siapa pun yang kamu sayangi akan pergi.”
Arla menggigit bibirnya.
“Ketakutan itu, Arla… bisa menjadi nubuatan yang kamu ciptakan sendiri. Kamu percaya kamu kutukan, lalu kamu menjauh, lalu orang-orang itu benar-benar pergi. Lalu kamu yakin: ‘lihat, aku memang kutukan’. Padahal kamu yang mengusir mereka.”
Arla menggeleng. “Tapi Raka hilang. Klinik Dion hancur. Ibunya meninggal. Semua itu bukan karena aku menjauh. Semua itu terjadi… justru saat aku ada di dekatnya.”
Wanita itu terdiam sejenak. “Mungkin bukan tentang menjauh atau mendekat, Arla. Tapi tentang keyakinanmu sendiri. Kalau kamu terus percaya kamu membawa luka, kamu akan menarik luka itu. Alam bawah sadarmu akan menciptakan skenario itu… untuk membenarkan ketakutanmu.”
Arla merasa lelah. Penjelasan itu logis—terlalu logis untuk menjelaskan sesuatu yang terasa seperti kutukan.
Sebelum pamit, wanita itu menyentuh bahunya dan berkata, “Arla, bukan cinta yang membawa bencana. Tapi ketakutan yang kamu simpan di dalam cinta itulah yang menghancurkan segalanya.”
Arla berjalan pulang dengan kepala penuh suara. Hujan turun ringan, menari di atas aspal. Di tengah perjalanan, ia berhenti di halte bus, duduk diam, dan membuka ponselnya.
Ada satu pesan masuk dari Dion, dikirim kemarin malam:
Aku tahu kamu sedang menjauh lagi. Tapi Arla, kalau memang aku harus kehilangan semuanya… biarlah. Asal jangan kamu.
Air mata Arla jatuh seketika. Ia tak membalas pesan itu. Ia hanya menatap hujan dan berbisik pada dirinya sendiri:
“Tapi kamu akan kehilanganku juga, Dion. Karena aku terlalu takut menjadi alasan kamu hancur.”
Bab 5 – Aku Adalah Kutukan dalam Hidupmu
Sudah lima hari Arla tak membalas pesan Dion. Ia membaca semuanya—setiap kalimat, setiap kata penuh cemas dan rindu. Tapi ia tak mampu menekan tombol “balas”. Ia tak sanggup memberi harapan kepada seseorang yang mungkin akan hancur karena cintanya.
Di dalam studio, Arla melukis tanpa henti. Wajah Dion muncul di setiap kanvas, tapi tak satu pun lukisan selesai. Mata Dion selalu kabur, seolah tak bisa ia gambar karena terlalu nyata. Terlalu menyakitkan.
Pada hari keenam, Dion datang.
Ia berdiri di depan pintu apartemen dengan mata lelah dan tubuh yang tampak menyusut karena kesedihan. Arla melihatnya dari jendela. Dan untuk sesaat, ia ragu—membuka pintu atau membiarkannya berdiri di sana bersama luka-luka yang Arla tinggalkan?
Tapi Dion mengetuk pelan. Lalu bicara.
“Kalau kamu nggak buka pintunya malam ini… aku mungkin akan berhenti mencoba.”
Hening. Lalu, suara kunci diputar.
Pintu terbuka perlahan. Dion berdiri di ambang, membawa sebuah payung kecil dan kantong plastik berisi dua kotak makanan.
“Aku tahu kamu nggak keluar,” katanya. “Jadi aku bawain nasi padang kesukaanmu. Yang pake rendang dua.”
Arla menunduk, matanya mulai basah. Tapi Dion hanya tersenyum kecil dan masuk tanpa diminta.
Di dalam, mereka duduk bersisian tanpa banyak bicara. Makan tanpa suara. Hanya suara sendok menyentuh kotak plastik dan napas yang ditahan agar tak gemetar.
Setelah makan selesai, Dion meletakkan kotaknya di meja, lalu menatap Arla dalam-dalam.
“Ada yang ingin aku tanyakan,” ucapnya. “Dan tolong… jangan bohong.”
Arla menahan napas.
“Kamu percaya kamu adalah kutukan dalam hidupku, ya?”
Pertanyaan itu menghantam seperti palu. Arla tak bisa mengelak. Ia hanya menunduk, bibirnya bergetar, dan jawabannya meluncur lirih:
“Iya.”
Dion menarik napas panjang. “Kenapa kamu nggak bilang?”
“Karena aku takut kamu percaya. Takut kamu akan pergi seperti yang lain. Tapi kamu malah bertahan, Dion. Kamu malah tetap ada. Dan itu yang paling menakutkan… karena berarti kamu akan kehilangan lebih banyak lagi.”
Dion menggeleng pelan. “Arla, aku kehilangan banyak hal memang. Tapi bukan karena kamu. Hidup memang kejam. Aku tahu itu. Tapi kamu… kamu bukan kutukan.”
Arla menatapnya dengan mata memerah. “Setiap kali kamu bahagia bersamaku, selalu ada yang hilang darimu. Ibumu, Raka, klinikmu. Aku melihat semuanya. Dan satu-satunya benang merahnya adalah… aku.”
Dion mendekat, memegang tangan Arla dengan lembut.
“Aku bisa kehilangan dunia ini, Arla. Tapi aku nggak bisa kehilangan kamu tanpa hancur.”
Tangis Arla pecah. Ia menutup wajah dengan tangan, menggigil di hadapan pria yang tak pernah berhenti mencintainya meski hidupnya hancur perlahan.
“Aku nggak mau jadi alasan kamu hancur, Dion. Aku lebih baik jadi alasan kamu selamat. Meskipun harus menyakitimu. Meskipun aku harus jadi orang jahat di ceritamu.”
Dion memeluknya erat. Diam. Lalu berkata lirih di telinga Arla, “Kalau kamu benar-benar ingin aku selamat… jangan tinggalkan aku. Karena tanpamu, aku bukan utuh. Aku cuma serpihan yang tidak tahu arah pulang.”
Malam itu mereka tertidur di sofa yang sama. Bukan dalam pelukan romantis, tapi dalam keheningan yang rapuh. Dalam napas yang tak stabil dan pikiran yang saling menahan satu sama lain untuk tidak runtuh.
Tapi jauh di lubuk hati Arla, satu keputusan mulai tumbuh.
Cinta kadang bukan soal memiliki, tapi melepaskan sebelum dunia benar-benar mengambilnya.
Bab 6 – Hari Saat Aku Harus Menyakitimu
Arla tak tidur semalaman. Ia duduk di samping Dion yang tertidur di sofa, wajahnya tenang, damai, seperti pria yang akhirnya menemukan pelabuhan setelah karam berulang kali. Dan justru itu yang membuat dada Arla sesak.
Karena ia tahu: kebahagiaan ini hanya akan membawa kehancuran baru.
Tangannya menyentuh rambut Dion pelan. Wajah pria itu sudah terlalu sering terluka karena hidup—dan sekarang luka-luka itu tumbuh karena dia, Arla, yang terlalu lama bertahan.
Pagi menjelang dengan cahaya muram dari jendela yang berembun. Arla bangkit, membuat dua cangkir kopi, dan membiarkan aroma itu membangunkan Dion perlahan.
Dion membuka matanya, tersenyum. “Kopi buatanmu adalah alarm terbaik.”
Arla duduk di seberangnya. Ia tidak tersenyum.
Dion menatapnya lebih lama. “Ada apa?”
“Aku mau bicara,” ucap Arla.
Dion mengangguk, menunggu.
Arla menatap ke luar jendela. “Aku nggak bisa terus kayak gini, Dion.”
Dion menegakkan tubuh. “Kamu masih takut?”
“Bukan cuma takut. Aku sudah yakin.”
“Yakin… apa?”
“Yakin kalau aku memang bawa kehancuran ke hidupmu. Kita ketawa, sesuatu hilang. Kita bahagia, sesuatu hancur. Aku bukan penyembuhmu, Dion. Aku penyakit yang bikin kamu semakin patah tiap hari.”
Dion menggeleng cepat. “Kamu bukan—”
“Dengar dulu.” Arla menahan napas. “Aku tahu kamu mencintaiku. Tapi cinta kamu nggak cukup untuk melawan apa pun ini. Kamu kehilangan semua karena aku. Ibumu, Raka, tempat kerja yang kamu bangun dari nol.”
Dion menatapnya dengan mata berkaca. “Kamu pikir semua itu salah kamu?”
“Bukan cuma pikir. Aku tahu.”
“Jadi apa maumu, Arla?”
Arla menggigit bibir. Luka yang akan ia ciptakan ini akan lebih dalam dari semua kehilangan sebelumnya. Tapi harus terjadi. Harus sekarang.
“Aku mau kita berhenti.”
Dion membeku.
“Aku mau kita nggak ketemu lagi. Nggak bicara. Nggak saling cari. Aku nggak mau jadi alasan kamu mati perlahan.”
Dion tertawa kecil, getir. “Kamu pikir aku akan baik-baik saja setelah ini?”
“Ya. Karena kamu akan hidup. Kamu masih bisa sembuh. Masih bisa bangkit. Tapi kalau aku tetap di sini… kamu akan habis.”
Dion bangkit, berjalan menjauh, lalu kembali berdiri di depan Arla. “Kalau ini soal kutukan atau karma… biar aku yang tanggung. Biar aku yang hancur. Asal bukan kamu yang pergi.”
Air mata Arla jatuh. Ia berdiri, mendekat, menatap mata Dion lama sekali.
“Maaf.” Suaranya nyaris tak terdengar. “Aku harus menyakitimu. Supaya dunia berhenti menyakitimu karena aku.”
Dan sebelum Dion sempat menjawab, Arla membuka pintu.
“Pergilah, Dion. Jangan kembali.”
Dion tak bergerak. Tubuhnya gemetar. Tapi matanya perlahan mulai basah, lalu pecah menjadi isak. Ia menatap Arla seperti seseorang yang melihat dunia terakhirnya runtuh.
“Aku nggak akan baik-baik saja,” bisiknya. “Tapi aku akan pergi. Karena kamu memintanya.”
Langkah Dion menjauh dari apartemen itu seperti detik jam yang terdengar lebih keras dari biasanya. Saat pintu tertutup kembali, Arla jatuh terduduk.
Menangis. Menggigil.
Karena hari ini, ia telah menyakiti pria yang paling ia cintai.
Dan luka itu… adalah luka yang akan terus tinggal.
Karena tak semua luka bisa diobati—apalagi luka yang sengaja diciptakan demi melindungi.
Bab 7 – Dunia Tanpa Arla, Dunia Tanpa Warna
Hari-hari setelah kepergian Dion terasa seperti musim hujan yang tak kunjung reda. Bukan hanya bagi Arla, tapi juga bagi Dion, yang perlahan menghilang dari semua tempat yang pernah menjadi bagian dari dirinya.
Klinik itu kini tutup permanen. Papan nama dicopot, tirai jendela dibiarkan kusut, dan tanaman hias yang dulu selalu disiram Dion kini mati perlahan. Teman-temannya mencoba menghubungi, tapi tak satu pun pesan dijawab. Dion menghilang, secara fisik dan batin.
Arla tahu semua itu dari jauh. Ia tak lagi berani menyentuh ponsel, tapi ia tak bisa memaksa hatinya untuk tidak mencari tahu. Melalui teman Dion yang diam-diam ia ikuti di media sosial, Arla melihat kabar tentang pria itu sedikit demi sedikit: Dion tak lagi hadir di komunitas terapi, tak lagi datang ke acara sosial, dan wajahnya menghilang dari semua tempat yang dulu terasa seperti rumah.
Dunia Dion perlahan memudar, dan Arla tahu—ia penyebabnya.
Sementara itu, Arla kembali menggambar. Tapi kali ini, setiap lukisan yang ia buat hanya terdiri dari dua warna: abu-abu dan hitam. Tak ada lagi garis wajah Dion, tak ada mata atau senyuman samar. Hanya bayangan kosong yang tak punya ujung.
Suatu malam, Arla menerima panggilan dari nomor tak dikenal. Ia biarkan berdering beberapa kali sebelum akhirnya menjawab.
“Arla?”
Suara di seberang membuat tubuhnya kaku. Itu suara seorang wanita—samar, tapi penuh tekanan.
“Saya Rena. Adik sepupu Dion. Maaf ganggu malam-malam. Tapi kamu orang terakhir yang mungkin tahu di mana dia.”
Arla menahan napas. “Kenapa?”
“Dia menghilang. Udah tiga hari ini. Teman-temannya juga nggak tahu. Dia nggak tinggal di apartemennya lagi. Barang-barangnya ditinggal semua. Kami takut terjadi sesuatu…”
Arla menutup telepon itu dengan tangan gemetar.
Kepalanya penuh bayangan buruk. Apa yang sudah ia lakukan? Ia pikir meninggalkan Dion akan menyelamatkan hidup pria itu. Tapi ternyata, keputusan itu justru menciptakan kehampaan yang lebih gelap dari semua luka sebelumnya.
Malam itu, Arla kembali ke tempat yang tak pernah ia datangi lagi sejak Dion pergi: apartemen Dion.
Tangannya mengetuk pintu kosong. Tidak ada jawaban. Ia nekat meminta bantuan petugas bangunan untuk membuka pintu, dan saat itu terbuka… ruangan itu hampa. Bau apek menggantung di udara. Tak ada kasur, tak ada lampu, hanya tumpukan kertas di lantai dan satu lukisan yang belum selesai—lukisan wajah Arla.
Ia menangis di tengah ruangan kosong itu. Dunia Dion benar-benar telah kehilangan warna. Dan warna itu… adalah dirinya.
Keesokan harinya, Arla mencoba menghubungi semua orang yang mungkin tahu keberadaan Dion—teman kampusnya, kolega klinik, bahkan mantan pasien yang pernah disebut Dion. Tapi tak ada satu pun yang tahu. Semua hanya memberi satu kalimat yang sama:
“Dia berubah sejak kamu pergi.”
Arla berjalan pulang seperti mayat hidup. Hujan turun deras. Ia tak peduli. Rambutnya basah, jaketnya menempel ke tubuh, dan pikirannya menjerit tanpa suara.
Ia masuk ke dalam studio, mengganti bajunya, dan menatap cermin lama-lama. Di sana, ia melihat seseorang yang bukan dirinya. Seseorang yang mencoba mencintai dengan cara salah. Seseorang yang menyelamatkan dengan cara menyakiti.
Malam itu, ia menulis surat. Bukan untuk Dion, tapi untuk dirinya sendiri.
Aku bukan kutukan. Aku hanya terlalu percaya bahwa cinta harus dijauhkan untuk bisa bertahan. Tapi ternyata, menjauh bukanlah bentuk perlindungan. Itu pembiaran. Dan sekarang, dunia tempatmu hidup tanpa aku… adalah dunia yang semakin mati.
Ia melipat surat itu, menaruhnya di bawah bantal, lalu tidur sambil memeluk bantal kosong yang masih menyimpan bau Dion.
Dan di tengah malam yang paling sunyi, Arla bermimpi.
Dion berdiri di tepi danau gelap, mengenakan pakaian lusuh dan wajahnya penuh luka. Ia menatap Arla dan berkata dengan suara nyaris hilang:
“Kamu nggak menyelamatkanku, Arla. Kamu membiarkanku tenggelam tanpa pelampung.”
Arla terbangun sambil menjerit.
Dan saat itu ia tahu, apa pun yang terjadi, ia harus menemukan Dion. Sebelum dunia pria itu betul-betul kehilangan segalanya—termasuk alasan untuk hidup.
Bab 8 – Mimpi Tentang Masa Depan yang Mati
Sudah seminggu sejak Arla mulai mencari Dion. Ia menyusuri kembali jejak-jejak yang pernah mereka tapaki bersama—kedai kopi tempat pertama kali mereka tertawa, galeri tempat mereka bertemu, bahkan halte tua tempat mereka pernah duduk diam dalam hujan.
Tapi tak satu pun dari tempat itu menyimpan jejak Dion.
Arla merasa seperti mengejar bayangan—seseorang yang perlahan larut ke dalam kabut, makin jauh, makin tak terjangkau.
Dan malam-malamnya pun berubah menjadi mimpi yang menghantui.
Dalam tidurnya, Arla berulang kali melihat Dion duduk sendiri di kamar kosong, dikelilingi kegelapan yang terus menyempit. Pria itu tak bicara, hanya menatap dinding dengan mata kosong dan tangan gemetar.
Lalu, dalam satu mimpi yang terasa nyata seperti kenyataan, Arla melihat sesuatu yang jauh lebih buruk.
Dion tergeletak di lantai kamar mandi. Botol obat berserakan, napasnya lambat, dan bibirnya biru. Arla berlari padanya dalam mimpi itu, mengguncang tubuh Dion sambil menangis, tapi tubuh itu tetap dingin, tak bergerak.
Dion menatapnya dengan mata separuh terbuka, dan sebelum segalanya gelap, ia berbisik:
“Aku tidak kuat tanpamu. Tapi aku tahu… kamu lebih damai tanpaku.”
Arla terbangun sambil berteriak. Keringat membasahi tubuhnya, dan ia memeluk dirinya sendiri sambil terisak.
Mimpi itu lebih dari sekadar bunga tidur. Mimpi itu adalah peringatan.
Ia mengambil ponselnya dan mulai mencari lagi—kali ini dengan panik. Ia menelusuri forum daring, rumah sakit, bahkan menghubungi kantor polisi, berharap ada laporan tentang seseorang bernama Dion yang masuk dengan kondisi darurat.
Jawaban datang dari tempat yang tak ia duga.
Salah satu rumah sakit jiwa kecil di pinggiran kota mengonfirmasi: seorang pria dengan nama Dion Alastra masuk tiga hari lalu. Ditemukan oleh petugas jalan tol dalam kondisi hampir tidak sadarkan diri.
Arla langsung berangkat ke sana. Hujan turun sepanjang perjalanan, dan jalanan kabur oleh air mata yang tak kunjung ia usap. Jantungnya berdetak tak karuan. Separuh dirinya berharap Dion baik-baik saja. Separuh lainnya takut menemukan Dion tak lagi seperti dulu.
Saat ia tiba di rumah sakit, perawat menuntunnya ke ruang observasi. Dion belum diizinkan menerima pengunjung, tapi setelah melihat tatapan mata Arla—mata yang dipenuhi luka yang sama—perawat itu mengangguk dan membiarkannya masuk.
Ruangan itu putih dan hampa. Dion duduk di ranjang, mengenakan pakaian pasien. Tubuhnya kurus, wajahnya pucat, dan matanya menatap kosong ke arah jendela.
Saat mendengar langkah kaki, ia menoleh perlahan. Mata mereka bertemu. Tak ada kejutan, tak ada senyum. Hanya diam yang berat, menggantung di antara dua hati yang patah.
Arla berjalan mendekat, duduk di tepi ranjang.
“Aku mimpi kamu mati,” ucapnya pelan.
Dion tidak menjawab.
Arla menatap tangannya yang kurus dan penuh bekas infus. “Kamu tahu, Dion? Aku pikir menyakitimu akan menyelamatkanmu. Tapi ternyata aku cuma mengganti luka luar jadi luka dalam.”
Dion mengedip pelan. “Aku juga mimpi kamu datang. Tapi aku pikir itu cuma ilusi terakhir sebelum semuanya habis.”
Arla menggenggam tangannya. Hangat—masih hidup.
“Aku nggak tahu kenapa semua ini terjadi,” lanjutnya. “Aku nggak tahu kenapa hidupmu selalu hancur sejak bersamaku. Tapi yang aku tahu… meninggalkanmu tidak pernah jadi penyembuhan. Itu justru luka yang lebih dalam dari semua kehilangan.”
Dion menatapnya lama. Lalu berkata, “Aku nggak butuh penjelasan. Aku cuma butuh kamu.”
Air mata Arla jatuh tanpa ia sadari. Tangannya menggenggam lebih erat. “Aku di sini. Dan kali ini… aku nggak akan pergi.”
Dion tidak tersenyum. Tapi sorot matanya berubah. Ada sedikit cahaya di sana—samar, tapi hidup.
Mereka duduk dalam diam, saling menggenggam seperti dua orang yang akhirnya bertemu setelah tersesat dalam mimpi buruk yang terlalu panjang.
Dan dalam hati Arla, ia tahu: luka ini belum sembuh. Tapi mungkin, kali ini mereka bisa sembuh bersama.
Tanpa saling menyakiti.
Tanpa bersembunyi di balik alasan untuk melindungi.
Karena mencintai seseorang tidak selalu tentang menjaga dari luka. Tapi tentang bersedia terluka bersama.
Bab 9 – Rahasia yang Dikubur Dalam Ingatan
Dion dipindahkan ke ruang rawat biasa seminggu kemudian. Ia mulai bisa makan sendiri, sesekali bercanda singkat dengan perawat, dan menghabiskan waktu dengan membaca buku psikologi yang dulu ia tulis namun tak pernah diterbitkan.
Arla hampir selalu di sana. Duduk di pojok ruangan dengan sketsa di tangan, menggambar sambil menatap Dion dari kejauhan. Mereka belum bicara banyak. Belum menyentuh semua luka yang tersembunyi di balik kata “maaf” dan “aku kembali.” Tapi ada kehadiran. Dan kehadiran, untuk sekarang, cukup.
Namun malam itu, saat hujan mengguyur jendela dan listrik sempat padam selama beberapa detik, Dion bicara pelan, nyaris seperti berbicara pada dirinya sendiri.
“Arla… kamu pernah lupa sesuatu dari masa kecilmu?”
Arla menoleh, meletakkan pensil. “Maksudmu?”
“Aku bermimpi tentang kamu waktu kecil. Kita berdiri di halaman sebuah rumah yang terbakar. Kamu menangis. Aku juga. Tapi kita masih saling menggenggam tangan.”
Arla menggigit bibir. Gambar itu terdengar asing—tapi anehnya, terasa nyata.
“Aku nggak ingat pernah ketemu kamu sebelum galeri itu,” katanya pelan.
Dion memejamkan mata, seperti mencari potongan yang hilang. “Aku rasa… kita pernah kenal. Mungkin cuma sebentar. Mungkin waktu kita kecil. Tapi sesuatu terjadi. Sesuatu besar.”
Arla berdiri perlahan, menghampiri jendela. Di luar sana, petir menyambar jauh, membelah langit seperti rahasia yang ingin diteriakkan.
“Kamu tahu,” gumamnya, “ibuku pernah cerita… aku sempat dibawa ke psikolog waktu kecil. Setelah ayahku pergi, aku katanya berubah. Menutup diri. Gambar-gambarku penuh api dan kabut hitam. Tapi aku nggak ingat kenapa. Semuanya kabur.”
Dion menatap langit-langit kamar. “Aku juga kehilangan sebagian ingatanku soal masa kecil. Tapi belakangan, sejak kamu pergi, semuanya muncul lagi. Dan aku ingat satu hal jelas: seorang anak perempuan menangis di depan rumah yang terbakar. Ia bilang… ‘Setiap orang yang aku sayangi selalu pergi. Mungkin aku harus berhenti sayang siapa pun.’”
Arla gemetar. Kalimat itu—ia pernah menulisnya di buku harian, bahkan jauh sebelum bertemu Dion. Tapi ia selalu mengira itu suara batinnya sendiri, bukan memori yang disimpan terlalu dalam.
“Dion… kamu yakin itu aku?”
Dion mengangguk pelan. “Dan aku adalah anak laki-laki yang berlari kembali ke rumah itu, meskipun orang dewasa menarikku pergi. Aku bilang, ‘Dia teman pertamaku. Aku harus selamatkan dia.’”
Air mata Arla jatuh tanpa suara. Jantungnya terasa remuk. Bagaimana mungkin mereka lupa? Bagaimana mungkin kenangan sekuat itu bisa terhapus?
Malam itu, mereka berbicara tanpa henti. Menyusun ulang potongan masa lalu yang tercerai-berai seperti puzle tua. Rumah tempat mereka pernah tinggal sementara saat orang tua mereka bekerja di luar kota. Malam ketika kebakaran besar terjadi akibat korsleting listrik. Dan trauma yang terkubur dalam-dalam oleh sistem pertahanan otak mereka sendiri.
“Arla,” kata Dion lirih. “Mungkin semua ini bukan kutukan. Mungkin ini jejak luka lama yang belum selesai kita pahami. Trauma yang hidup dalam cinta kita.”
Arla mengangguk. “Dan mungkin… itu alasan kenapa hidup kita saling bersinggungan lagi. Karena kita nggak bisa sembuh kalau nggak saling temukan.”
Dion tersenyum kecil. “Kita adalah luka yang sama… mencari obat dalam pelukan yang pernah kita lupakan.”
Untuk pertama kalinya sejak lama, Arla merasakan pelukan Dion bukan sebagai ketakutan baru, tapi sebagai rumah. Rumah yang terbakar dulu, kini berdiri kembalibukan dari kayu, tapi dari keberanian untuk mengingat.
Karena kadang, yang menyelamatkan bukan melupakan masa lalu… tapi berani kembali padanya.
Bab 10 – Luka yang Tetap Cinta, Meski Harus Menyakitkan
Dion diperbolehkan pulang dua minggu setelah masa pemulihan terakhir. Rumah lamanya sudah kosong, penuh debu dan kenangan buruk yang menggantung di dinding. Ia memutuskan pindah ke tempat yang lebih kecil, lebih tenang—sebuah rumah kontrakan di pinggiran kota, di mana suara mobil jarang terdengar dan angin sore masih membawa bau tanah.
Arla membantunya membereskan barang. Tidak banyak yang tersisa dari hidup Dion selain tumpukan buku, beberapa baju, dan satu lukisan belum selesai: potret wajah Arla yang hanya digambarkan setengah, berhenti di bagian mata.
“Mungkin aku bisa selesaikan sekarang,” kata Dion, menatap lukisan itu dengan lembut.
Arla duduk di kursi dekat jendela. “Kamu yakin?”
“Belum. Tapi aku nggak mau menunggu terlalu lama lagi.”
Mereka hidup berdampingan seperti dua jiwa yang masih belajar bernapas. Tidak ada pengakuan cinta yang berlebihan, tidak ada janji manis seperti masa lalu. Yang ada hanyalah saling diam, saling hadir, dan sesekali menyentuh luka lama dengan hati-hati.
Suatu malam, ketika hujan turun pelan dan lampu temaram menyinari ruangan kecil mereka, Arla berbicara pelan.
“Aku tahu kita nggak sembuh sepenuhnya. Kadang aku masih takut. Kadang aku bangun dengan mimpi kamu hilang.”
Dion menatapnya. “Aku juga. Kadang aku masih berharap kamu pergi sebelum aku jatuh lebih dalam lagi. Tapi saat aku benar-benar kehilanganmu… aku tahu, kepergianmu jauh lebih menyakitkan daripada ketakutan itu.”
Arla tersenyum pahit. “Aku mencintaimu, Dion. Tapi aku mencintaimu dengan cara yang salah terlalu lama. Aku pikir dengan menyakitimu, aku menyelamatkanmu.”
“Kamu salah. Tapi aku pun terlalu percaya bahwa aku kuat menanggung semuanya sendiri.”
Mereka saling mendekat, duduk di lantai, bersandar pada dinding yang dingin.
“Luka kita nggak akan hilang,” kata Dion. “Tapi sekarang aku tahu… cinta bukan soal siapa yang menyembuhkan siapa. Tapi siapa yang tetap tinggal meski sama-sama luka.”
Arla menyandarkan kepala di bahunya. “Dan kita tetap tinggal.”
Dion menggenggam tangan Arla.
Hari-hari berikutnya mereka lalui dengan lambat, tapi penuh makna. Dion kembali membuka sesi terapi kecil di rumah. Bukan klinik megah, hanya ruang baca dengan dua kursi dan aroma teh melati.
Arla kembali menggambar untuk buku anak-anak. Tapi kali ini, ia menggambar karakter yang tidak hanya tertawa, tapi juga menangis. Tidak hanya sempurna, tapi juga rapuh.
Di akhir minggu, mereka menyelesaikan lukisan yang tertunda itu bersama. Dion menyempurnakan bagian mata, dan Arla menambahkan garis lembut di bawahnyaair mata kecil yang tidak jatuh, hanya menggantung, seperti cinta yang tetap tinggal meski pernah menyakitkan.
Dan di bawah lukisan itu, mereka menulis satu kalimat:
“Kita tetap cinta, meski luka tak pernah pergi.”
Karena pada akhirnya, kisah mereka bukan tentang siapa yang menyelamatkan siapa.
Tapi tentang dua orang yang terluka, yang memilih saling peluk—bukan untuk sembuh seketika,
tapi untuk belajar bahwa cinta sejati bukanlah cinta yang sempurna…
melainkan cinta yang tetap tinggal,
meski tahu bahwa rasa sakit tak bisa dihindari.
TAMAT.
Novel ini ditulis oleh Evi Fauzi, Penulis dari Novel Singkat. Baca juga novel romantis, petualangan dan fiksi ilmiah lainnya.